
Sudah sejak siang tadi saat hujan berhenti, mereka sudah pergi ke pantai, bermain air, kejar-kejaran juga berenang. Namun Adelina memilih berjalan kaki menyusuri bibir pantai dengan sesekali menoleh ke belakang, di Sana -jarak beberapa langkah, Aldo tampak seperti mengikutinya.
Saat gadis itu berhenti, pria di belakangnya juga ikut menghentikan langkah, dia berbalik. "Kak Aldo ngapain coba ngikutin aku?" Tanyanya.
Aldo berdehem, tersenyum kemudian kembali melangkah untuk mensejajari gadis itu. "Meskipun kita berjalan di pantai yang sama dan searah, bukan berarti aku ngikutin kamu Adel," ucap Pria itu dengan mencolek hidung gadis di hadapannya.
Adelina mengernyit, "jelas banget Ka Aldo itu ngikutin aku tau, udah lah jangan ngikutin aku terus, emang lupa sama jawaban A Agung tadi pagi?"
Aldo terdiam, ingatannya berputar pada kejadian selepas main game pagi tadi, saat Agung menjawab, "buat permintaan kamu yang pertama, aku udah maafin sejak lama, dan nggak ada permintaan ke dua, perjanjiannya hanya bisa mengajukan satu permintaan," ucap pria itu. Di situ Aldo menyesal, mengapa tidak mengajukan permintaan yang kedua lebih dulu.
"Aku yakin kakak kamu sebenernya setuju, dengan dia diem aja pas kamu satu mobil sama aku tadi sedangkan dia di mobil yang lain, itu menandakan bahwa dia percayain kamu sama aku," ucap Aldo yang membuat Adelina tersenyum mendengus.
"Kalo emang kita nanti jadian, balikan kita pasti bakal rumit, siapa yang kakak ipar siapa coba, bukannya salah satu dari kita harus ngalah?"
Aldo menggeleng, memasukkan kedua tangannya ke saku celana selutut yang ia kenakan. "Hubungan kita mungkin sah-sah aja, toh di luar sana banyak juga yang saudara iparnya saling menikah, mereka yang adik kakak punya satu mertua yang sama, banyak kok," ucapnya.
Adelina menghela napas, menoleh pada rombongan teman-temannya yang asik bermain air. "Aku mau berenang," ucapnya.
Aldo mengerutkan dahi, mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana untuk kemudian mengacak rambut gadis di hadapannya dengan gemas, "ngaco, kamu kan nggak bisa berenang, nggak bakal dibolehin juga sama Agung," ucapnya.
Adelina mencebikkan bibir, "katanya udah dikasih tanggung jawab buat jagain, mana buktinya," tantang gadis itu.
Aldo jadi tertawa, "itukan cuman dugaan aku aja, nggak tentu juga kakak kamu berpikiran hal yang sama," sangkal pemuda itu.
"Kak Aldo takut sama kakak aku ya?" Tanya Adelina setengah meledek, menunjuk wajah pemuda di hadapannya dengan menahan tawa.
Aldo menyingkirkan tangan Adelina dari hadapannya, namun seolah sengaja gadis itu terus menggodanya dengan menunjuk-nunjuk hidung membuat pria itu menjadi kesal, saat mantan kekasihnya itu melancarkan balasan, gadis di hadapannya malah berlari kabur, dan mereka jadi kejar kejaran.
***
Aldo menghampiri Agung yang tampak sibuk dengan ponselnya duduk di kursi malas yang disediakan di pantai itu, dia ikut duduk di bangku panjang yang membuat keduanya saling berhadapan.
Agung sempat mendongak, memberikan tatapan biasa saja, hanya sekilas dan kembali fokus pada ponselnya.
__ADS_1
"Lia itu anaknya manja banget," ucap Aldo dengan pandangan mengarah ke bibir pantai, di sana Alya, Adelina juga teman perempuannya yang lain tampak seru bermain air.
Agung berdehem, namun tidak mengatakan apa-apa, masih tetap fokus ke layar hp yang sebenarnya tidak ada yang menarik di sana.
"Kalo perempuan lain saat marah pasti diem aja, Lia itu beda, dia lebih suka mengomel, meluapkan kekesalannya."
Mendengar itu Agung sedikit tersenyum, yang dikatakan calon kakak iparnya itu adalah benar, hn, kaka ipar? Dia hampir lupa jika pria di hadapannya itu kakak kandung dari kekasihnya, dan selama ini apakah sikapnya yang melarang untuk mendekati adiknya itu sudah keterlaluan, bahkan Aldo sudah tidak melarang hubungannya dengan Alya, padahal dia bisa.
Dan yang menjadi pertanyaan Agung, apakah Aldo akan tetap bersikap sebaik ini jika dia tidak menginginkan Adelina menjadi miliknya? Dia sempat berpikir pria itu menyetujui hubungannya dengan Alya apakah karena ingin mendapatkan hak yang sama terhadap Adelina.
"Nina juga manja," ucap Agung yang membuat pria di hadapannya itu menoleh. "Dia juga sama, kalo marah pasti ngomel, sampe kadang bikin sakit hati," imbuh pria itu.
Aldo tersenyum, kalimat itu seolah menyiratkan pemberitahuan, "tapi dia baik, pengertian, lucu," ucapnya dengan kembali menoleh ke arah pantai.
"Aku belum bisa liat kesungguhan kamu buat Nina," jujur Agung.
Agung diam saja, tapi dari tatapannya yang dapat terbaca, Aldo bisa menyimpulkan jika jawabannya adalah iya.
"Nggak akan Gung, aku memang terlalu khawatir dengan pilihan adikku, tapi menyerahkan dia padamu belum tentu juga aku percaya."
Kalimat dari pria di hadapannya itu membuat Agung memusatkan perhatian, seolah Aldo juga belum sepenuhnya setuju jika dia berhubungan dengan adiknya, lalu apa pria itu mau balas dendam, begitu kah?
"Tapi karena aku bisa melihat Alya bahagia saat denganmu, aku bisa terima."
Agung sedikit terhenyak, kalimat itu menyadarkannya akan sesuatu, saat dulu Nina sering menceritakan tentang kekasihnya yang adalah Aldo, gadis itu terlihat amat bahagia. Apakah berarti saat ini dia telah merenggut kebahagiaan gadis itu.
Keduanya memilih saling diam untuk waktu yang cukup lama, hingga seseorang yang berlari mendekat membuat mereka kompak menoleh.
"Ada apa?" tanya Agung.
__ADS_1
"Adelina Gung!" Dengan napas yang putus-putus, Lisa tampak ingin mengabarkan sesuatu. "Adelina, Adel, kebawa ombak," tukasnya yang membuat kedua pria di hadapannya itu sontak terkejut.
Mereka lantas cepat berlari ke arah pantai, jauh di tengah sana, seorang perempuan tampak timbul tenggelam dan kewalahan.
Dengan panik Agung berlari ke arah laut, namun Ardi dengan cepat menariknya.
"Lo nggak bisa berenang, Gung." Ardi berteriak mengingatkan.
Agung menggeleng, menepis tangan sahabatnya itu dengan kasar, "tapi adek gue dalam bahaya," ucapnya panik, "dia nggak bisa berenang," imbuh pria itu kemudian kembali berlari.
Kali ini tidak hanya Ardi, Ipang ikut mencegah sahabatnya, "ini bahaya Gung, bukannya nyelamatin Adel yang ada lo yang ikut ke bawa ombak," omelnya.
Dilanda kepanikan, mereka tidak ada yang sadar bahwa Aldo sudah berenang menyusul gadis itu. Karin yang datang dengan para penjaga pantai yang juga tergabung dalam tim penyelamat membuat suasana sedikit tenang.
"Tolong beri ruang!" teriak salah satu petugas pantai yang dengan cepat mengusir kerumunan.
Salah satu dari mereka dengan sigap memberikan pertolongan pertama, menekan dada bagian tengah dengan hati-hati saat Adelina yang terkulai lemas sudah dibaringkan di atas pasir.
Agung menghambur pada gadis itu, meraih jemarinya yang dingin untuk ia genggam dengan erat, "aa mohon Nina, bertahan," ucapnya ketakutan.
"Korban kesulitan bernapas," ucap salah satu petugas yang membuat mereka malah semakin panik.
Aldo dengan sigap menggantikan mereka untuk menekan pada bagian dada, masih belum bisa juga dia sedikit menengadahkan kepala gadis itu dan mengangkat dagunya dengan pelan, lalu memberikan napas buatan.
Pria itu memencet hidung Adelina dan dua kali meniupkan udara lewat mulut gadis itu, dan saat melihat dadanya sedikit mengembang saat ia meniupkan udara, dia kembali melakukan gerakan menekan dadanya lagi dengan hati-hati hingga berkali-kali.
Memberikan pertolongan pada korban tenggelam dia sudah pernah mempelajarinya, namun yang tidak pernah ia duga, kemampuannya itu harus dipraktekan pada orang yang dia cinta. "Aku mohon Adel, bangun, bangun Adel," ucapnya dengan khawatir, berkali-kali menyuruh gadis itu untuk terjaga dan membuka mata. "Adel tolong, bangun. Jangan tinggalin aku."
Melihat itu Agung terenyuh, bahkan setakut apapun dirinya kehilangan sang adik, nyatanya dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa, tapi pria di hadapannya itu dengan segala cara terus berusaha agar gadis itu tidak apa-apa.
Suara terbantuk dari Adelina membuat mereka merasa lega, gadis itu memuntahkan cairan air laut yang memenuhi isi perutnya.
__ADS_1