NOISY GIRL

NOISY GIRL
TERSENYUM


__ADS_3

Karin terbangun dengan perut keroncongan, gadis itu mengerjap bingung, sepertinya ini sudah malam, setelah beranjak duduk dan memperhatikan sekeliling, ternyata dia berada di kamarnya, kamar di rumah besar sang papi.


 


 


"Kok aku di sini?" Gumamnya, yang dia ingat saat dirinya dipaksa masuk ke dalam mobil, kemudian mulut dan hidungnya dibekap setelah itu tidak sadarkan diri.


 


 


Gadis itu membuka pintu, dan berlari menuruni anak tangga dengan membawa tas punggungnya.


 


 


"Mau kemana kamu?"


 


 


Sebuah suara yang membuat Karin terkejut berhasil juga membuat gadis itu menoleh takut, sang papi menghampirinya dengan wajah tidak ramah.


 


 


"Aku mau pulang," ucap Karin sedikit bergetar, selain takut dia juga sangat lapar.


 


 


"Kamu pikir ini rumah siapa?" Hendrik berucap tenang, yang tidak berefek menenangkan untuk gadis remaja yang adalah putrinya itu.


 


 


"Ru, Rumah Papi."


 


 


"Mulai saat ini, kamu tinggal di sini, dan jangan berpikir untuk kabur. Karena orang suruhan saya akan terus mengawasi kamu selama dua puluh empat jam kalo perlu."


 


 


Gadis berponi yang semula menunduk dalam, memberanikan diri untuk mendongak, memeberikan tatapan kepenolakan pada pria berwajah dingin yang adalah papi kandungnya.


 


 


"Aku nggak mau, aku mau pulang! Rumah aku bukan di sini," ucapnya kemudian melangkah pergi.


 


 


Hendrik mencengkram lengan gadis itu kemudian menariknya. "Berani kamu menentang saya?"


 


 


"Papi jahat, aku benci sama papi, aku nggak mau ikut papi!" Teriak Karin yang kemudian mendapat tamparan di pipi yang membuat ia tersungkur jatuh ke lantai.


 


 


"Mas!"


 


 


Seorang wanita yang adalah istri sang papi menghampiri Karin dan membantu gadis itu berdiri. "Keterlaluan kamu, Mas. Dia itu anak kamu," omelnya, kemudian memeriksa sudut bibir gadis remaja dalam rangkulannya yang sedikit berdarah.


 


 


Karin menangis, mami tolongin Kariin, batinnya.


 


 


"Sekali lagi Jangan pernah kamu berpikir bisa pergi dari rumah ini, dan jangan lagi berhubungan dengan adik si Justin itu," ancam Hendrik, mendekat dan mencengkran kedua pipi putrinya dengan satu tangan, membuat sudut bibirnya yang terasa perih semakin menjalar. "Karena saya bisa melakukan apa saja, yang mungkin akan membuat kamu tidak akan bisa menemukan pemuda itu di manapun," imbuhnya yang semakin membuat Karin gemetar, air matanya tumpah ruah membasahi pipi.


 


 


Dan saat sang papi melepaskan cengkramannya kemudian pergi, dia jatuh terduduk di lantai sulit berdiri.


 


 


Yang dia tau, sang papi tidak pernah main-main dengan ancamannya.


 


 


"Karin," panggil wanita bernama Naya yang adalah ibu tirinya, "lebih baik kamu turuti dulu kemauan papi kamu, karena kamu sendiri tau sifat Mas Hendrik yang buruk, dia tidak suka penolakan, apalagi ditentang. Sabar dulu ya," imbuhnya, kemudian memeluk gadis itu dengan sayang, Karin terus sesenggukan.


 


 


Naya menuntun Karin naik menuju kamarnya setelah menyuruh bibi asisten rumah tangga di sana membawakan air dingin juga makanan. Wanita yang usianya setara dengan sang mami mendudukkan Karin di sudut ranjang, dan membantu mengompres memar di pipinya.


 


 


"Makasih, Tante," ucap Karin yang membuat Naya tersenyum.


 


 


"Kamu boleh kok manggil saya mami," ucapnya. "Meskipun saya ini cuma mami tiri kamu, tapi kamu dengan Kalila itu bersaudara."


 


 


Karin tersenyum kecil, kemudian mengangguk. Dan ucapan terimakasih kembali ia lontarkan pada wanita yang menyuruhnya memanggil mami itu setelah selesai mengompres pipinya.


 


 


Tidak lupa Naya juga menyuruh gadis itu memakan makanannya yang ia taruh di atas meja sebelum beranjak menutup pintu kemudian pergi.


 


 


Karin kembali menangis, meratapi nasibnya yang kenapa harus semenyedihkan ini, maminya dipenjara, dan sang papi tidak peduli, satu-satunya yang membuat Karin merasa berharga adalah tinggal di keluarga Mbak Nena, tapi bahkan meskipun bisa, dia tidak mungkin berani ke sana lagi. Ancaman sang papi sering kali membuatnya ngeri.


 


 


Dering ponsel di dalam tas sekolah membuatnya sedikit terlonjak, Karin mengambil benda itu dan membaca nama kontak yang tertera di layar ponselnya.


 


 


"Bang Ar," ucap Karin lirih setelah menempelkan benda persegi itu pada telinganya, dan dia tidak bisa untuk tidak menangis.


 


 


Dan respon abangnya itu amat tidak terduga.


 


 


"Lo udah makan, Dek?" Tanya suara di seberang telepon.


 


 


Karin sesaat tertegun, pertanyaan yang tidak penting untuk situasi sekarang ini, tapi entah kenapa dia malah terharu.


 


 


"Karin nggak mau makan, Karin mau abang." Gadis itu kembali tersedu, menekuk lutut duduk di lantai dan memeluknya dengan satu tangan. "Karin takut," imbuhnya yang membuat seseorang di seberang sana semakin terdiam.


 


 


"Jangan takut, Dek. Ada abang."


 


 


Suara lembut sang abang di seberang teleponnya sedikit membuatnya merasa tenang. "Abang di mana?" Tanyanya.


 


 


"Di sini."


 


 


"Karin pengen peluk."


 


 


Gadis itu tau, tidak ada yang lebih muluk dari permintaannya saat ini, hal mustahil yang berharap bisa ia dapatkan segera.


 


 


Dan putusnya sambungan telepon karena hpnya kehabisan daya membuat gadis itu kembali meratapi kesendirian nya.


 


 


Sesaat kemudian, ketukan di pintu balkon membuatnya sedikit terlonjak, gadis itu beranjak mendekat dan membukanya. Terkejut melihat sang abang berdiri di depan sana.


 


 


"Hay." Ardi berucap santai, menutupi kenyataan bahwa dirinya baru saja memanjat atap rumah orang yang bisa saja membunuhnya jika ketauan.


 


 


Karin menarik abangnya itu masuk, kemudian memperhatikan sekeliling yang mungkin ada orang suruhan sang papi di bawah sana, juga masih bingung bagaimana cara pemuda itu bisa sampai di atas sini. Balkon kecil yang biasa dulu ia gunakan untuk membaca buku.


 


 


"Abang ngapain ke sini?" Tanya Karin setelah menutup pintu.


 


 


Ardi berdecak, "tadi siapa yang pengen peluk, kan gue jadi nekat buat manjat," ucapnya setengah bercanda, merentangkan tangan dan memeluk gadis di hadapannya.


 


 


Namun Karin mendorong pemuda itu menjauh, "pulang, Bang. Nanti ketauan papi," ucapnya khawatir.

__ADS_1


 


 


Ardi melengos, "gue nggak takut," ucapnya kemudian mengedarkan pandangannya menyapu kamar Karin yang tampak sedikit lebih luas dari kamar gadis itu di rumahnya. Boneka di sana pun terlihat lebih banyak. Ardi duduk di sudut ranjang, "kamar lo bagus juga," ucapnya.


 


 


Setelah mengunci pintu kamar, Karin menghampiri abangnya, "buruan pergi, nanti ketauan papi," pintanya sekali lagi.


 


 


Ardi sesaat terdiam, menatap gadis di hadapannya yang sedikit berbeda, dia baru sadar. "Pipi lo kenapa?" Tanyanya, beranjak berdiri.


 


 


Karin mundur satu langkah, menutupi pipi yang mendapat tamparan sang papi saat marah tadi. "Nggak apa-apa," jawabnya.


 


 


"Kenapa, Dek?" Ardi mendesak, nada suaranya yang  meninggi membuat gadis di hadapannya sedikit terlonjak, kemudian terisak.


 


 


Ardi reflek memeluk gadis itu, meminta maaf kemudian mencium puncak kepalanya, tidak bermaksud membuatnya ketakutan.


 


 


Tanpa pemuda itu tau gadis di pelukannya menangis bukan karena itu, melainkan terharu. Ternyata masih ada yang peduli akan keadaannya.


 


 


"Pasti papi lo kan." Ardi menebak, kedua tangannya ia letakan di pundak gadis itu yang menunduk diam, masih sedikit sesenggukan.


 


 


Dan ketika Ardi beranjak pergi menghampiri pintu, Karin amat terkejut, "jangan, Bang," cegahnya, memeluk tubuh pemuda itu dari belakang, membuat langkahnya terhenti.


 


 


"Gue cuman mau papi lo tau, kalo ada yang bakal marah saat dia mukul lo seenaknya."


 


 


"Nggak, Bang. Karin nggak mau abang kenapa-napa, Karin nggak akan bisa maafin diri sendiri kalo sampe abang kenapa-napa." Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya, berharap sang abang akan menuruti perkataannya.


 


 


Ardi melepaskan pelukan Karin, berbalik menghadap gadis itu, tatapannya yang teduh menggambarkan bahwa dirinya ikut terluka.


 


 


"Sakit, Dek?" Tanya Ardi, menyentuh sudut bibir Karin yang sedikit membiru dengan ibu jarinya.


 


 


Karin mengangguk kecil, "lumayan," ucapnya. Dan kemudian sedikit gugup saat pemuda di hadapannya mencondongkan kepala, mencium sudut bibirnya sedikit agak lama, hanya menempelkan saja tidak seperti biasa, mungkin maksudnya untuk mengurangi rasa sakit, meski tidak mempan, tapi gadis itu terharu juga.


 


 


Ardi memundurkan kepala, menatap gadis di hadapannya iba, "sabar ya, Dek, nanti abang jemput pulang," ujarnya sembari mengusap kepala gadis di hadapannya yang kembali membuat Karin nyaris meneteskan air mata, namun ia tahan.


 


 


Karin mengangguk, meski tidak yakin tapi setidaknya dia berusaha untuk percaya, "abang kok tau ini kamar Karin?" Tanyanya.


 


 


"Kan waktu itu lo pernah unjukin," jawab Ardi, menoleh pada makanan di nampan yang tampak belum tersentuh, "lo belum makan ya?"


 


 


Karin menggeleng, "nggak laper," dustanya.


 


 


Ardi mengambil nampan berisi makanan dari atas meja, kemudian menaruhnya di lantai, dia sendiri bersila dan menyuruh gadis itu duduk di hadapannya, "gue suapin ya," ucapnya.


 


 


Karin yang sudah ikut duduk di lantai menghadap pemuda itu jadi tertegun, namun kemudian mengangguk. Kembali meneteskan air mata saat satu sendok makanan berhasil masuk ke dalam mulutnya, entah kenapa hari ini dia jadi cengeng sekali.


 


 


Ardi menghapus jejak airmata di pipi gadis itu dengan ibu jari, "jangan nangis, gue pasti bisa bawa lo keluar dari sini," yakinnya. "Lo percya kan sama gue," imbuhnya kemudian.


 


 


Karin mengangguk kecil, mengambil sendok dari tangan abangnya kemudian mulai makan sendiri. "Buat saat ini, abang adalah orang ke dua yang paling Karin percaya selain diri Karin sendiri," ucapnya di sela mengunyah. "Bahkan di saat bayangan Karin sendiri pergi, Karin percaya abang bakalan tetap ada buat Karin," tambahnya lagi.


 


 


 


 


Pemuda itu mengambil segelas air minum  dari atas nampan, kemudian menyodorkannya pada Karin.


 


 


Setelah minum, Karin menggeser bekas makanannya menjauh, dan berkata sudah kenyang saat sang abang menyuruh untuk menghabiskannya


 


 


"Lo tau nggak, di dunia ini ada satu hal yang sangat mudah dilakukan meskipun lo nggak ingin?" Tanya Ardi, memulai obrolan dengan masih duduk bersila di hadapan gadis itu.


 


 


Karin mengerutkan dahi, "apa? Tanyanya.


 


 


"Tersenyum," jawab Ardi yang seketika membuat Karin sontak tersenyum. "Gue udah pernah bilang belum kalo senyum lo itu cantik?" Tanyanya kemudian.


 


 


Karin menggeleng, "belum pernah," jawabnya yakin.


 


 


"Yaudah kalo gitu sekarang gue bilang."


 


 


"Apa?"


 


 


"Anak setan, ternyata lo cantik banget kalo lagi senyum."


 


 


Karin jadi tertawa, "abang tau nggak di dunia ini ada satu hal yang sangat sulit di lakukan meskipun ingin?" Tanyanya balik.


 


 


"Apa tuh?"


 


 


"Nabok pipi abang."


 


 


Kini giliran Ardi yang tertawa pelan, "tabok niih," ujarnya sembari menyodorkan pipi. "Tapi pake bibir," tambahnya lagi.


 


 


Mereka kembali tertawa, bercanda seolah lupa bahwa pemuda itu tengah menyelinap, mengunjungi seorang tawanan. Dan ketukan di pintu menyadarkan keduanya dari hal itu.


 


 


Mati lah!


 


 


Mereka yang panik kemudian cepat berdiri, dari luar kamar, sang papi berteriak memanggil namanya dan menyuruh membuka pintu.


 


 


"Bentar Pi!" Balas Karin, dengan panik menyuruh abangnya bersembunyi, dan saat tidak menemukan tempat yang pas, dia jdi pusing sendiri, tidak mungkin gadis itu menyembunyikan sang abang di kamar mandi, bisa ketauan.


 


 


Ardi memutuskan untuk bersembunyi di balkon, dan berpesan untuk jaga diri sebelum gadis itu menutup pintunya.


 


 


Karin berusaha untuk tenang, menyalakan televisi kemudian beranjak membuka pintu.


 


 


"Lama sekali si!" Bentak Hendrik yang membuat gadis remaja di hadapannya sedikit terlonjak.


 


 

__ADS_1


"Tadi aku di kamar mandi," jawab Karin bohong.


 


 


Hendrik yang curiga dengan cepat memasuki kamar putrinya, kemudian langsung membuka kamar mandi, dan menutupnya kembali saat tidak menemukan yang ia cari.


 


 


"Tadi saya dengar ada suara orang lain di sini," ucapnya.


 


 


Karin dengan takut menoleh ke arah televisi. "mungkin suara tv," ucapnya.


 


 


Hendrik tidak percaya, pria itu melangkah ke pintu balkon yang membuat Karin sontak menahan napas, "jangan, Pi," cegahnya, berdiri menghalangi pintu, dan sang papi semakin curiga.


 


 


"Kamu mau minggir atau saya harus paksa," ancamnya.


 


 


Karin beringsut menjauh, dan memejamkan mata saat sang papi membuka pintu balkon kemudian keluar, namun saat pria itu kembali masuk dan menutup pintu, dia jadi bingung. Kemana abangnya?


 


 


"Tidak ada apa-apa, kenapa kamu harus takut?" Tanya Hendrik, nadanya tampak kesal.


 


 


Karin menoleh gugup ke arah pintu, memikirkan alasan. "Aku nggak sengaja ngerusakin handle pintu, takut papi marah," ucapnya.


 


 


Hendrik menoleh pada handle pintu yang memang sedikit longgar, "nanti saya suruh orang buat memperbaiki," ucapnya, kemudian mengangkat tangan hendak menyentuh kepala putrinya, namun gadis itu malah mengernyit takut, membuat Hendrik mengurunkan niatnya, dan kembali pergi meninggalkan putrinya sendiri.


 


 


Karin berlari ke luar balkon, mencari Ardi, gadis itu menoleh ke arah pepohonan besar di sebelah bangunan rumahnya, persis di bawah kamar ini, pasti sang abang memanjat lewat sana, dia jadi tertawa sendiri.


 


 


***


 


 


Ardi pulang ke rumah dengan sedikit tetpincang, yang kemudian membuat sang ibu jadi panik.


 


 


"Kamu kemana aja sih, Ar. Pulang-pulang jadi begini kamu jatoh lagi?" Tanyanya beruntun.


 


 


Ardi mendudukan dirinya di sofa, memeriksa kakinya yang sedikit terkilir, "nggak papa, Bu," ucapnya meyakinkan.


 


 


Marlina duduk di sebelah putranya, memeriksa bagian kaki. "Kamu jatoh lagi?"


 


 


"Enggak, eh iya," jawab Ardi plin-plan.


 


 


"Jatoh apa enggak?"


 


 


"Jatoh tapi bukan dari motor."


 


 


"Terus jatoh dari mana?"


 


 


"Genteng."


 


 


Marlina mengerutkan dahi, "siapa si yang malem-malem nyuruh kamu benerin genteng?" Tanyanya semakin ngaco.


 


 


Ardi menghela napas, "mending ibu tolong ambilin aku minum deh, aus nih," pintanya yang di iyakan oleh sang ibu sebelum beranjak ke dapur.


 


 


"Manjat atap rumah siapa kamu?" Justin yang muncul tiba-tiba membuat Ardi menoleh.


 


 


"Atap rumah kediaman Hendrik Gunawan," jawab Ardi dramatis.


 


 


Justin tertawa mendengus, kemudian duduk di sofa menghadap pemuda itu. "Berani juga," pujinya setengah meledek.


 


 


Ardi membuka jaket, dan menaruhnya di sofa, tidak menanggapi ucapan abangnya.


 


 


"Jangan diulangi, bahaya." Justin berucap lagi, menasihati sang adik agar tidak mempersulit keadaan nantinya. Biar bagaimana, caranya itu adalah salah.


 


 


Ardi mengangguk, dan saat abangnya itu menanyakan kabar Karin, dia menceritakan lebam di pipi gadis itu yang membuat raut Justin mengeras.


 


 


"Besok sepulang kuliah, kamu saya tunggu di kantor," ucap Justin.


 


 


"Ngapain?"


 


 


"Kita susun rencana."


 


 


***iklan***


 


 


Netizen: thor, kira-kira rencananya apaan ya?


 


 


Author: Haduuuuh, punya kepala pusing, nggak punya kepala sereem. Rencananya pikirin besok aja.


 


 


Netizen: jan lama lama thor, ntar rencana jadi wacana, kaya acara bukber yang ditunda sampe lebaran.


 


 


Author: ya kali.


 


 


 


 



Karin: Ya Allah, gerakanlah hati netizen buat kasih kanjeng ribet poin yang banyak. Amiin.



Ardi: demi kamu, genteng pun aku panjat.


Nb: buat yang kemaren kecewa nggak ada visual Justin Nena.


 


Mbak Nena



Bang Entin



 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2