
Karin melirik Ardi yang terlihat duduk tenang di kursi tunggu sebelahnya, dia sedikit gugup dengan tanggapan sang mami saat mereka hanya datang berdua, apalagi biasanya Ardi selalu menunggu di mobil tidak pernah mau ikut. Mungkin pernah sekali pemuda itu ikut saat kunjungan pertama, setelah itu tidak lagi.
Saat maminya muncul dengan diantarkan oleh satu petugas, Karin reflek berdiri, gadis itu memeluk sang mami dan mendapatkan ciuman bertubi-tubi.
"Mami sehat kan?" Tanya Karin.
Carla yang selalu bahagia melihat putrinya itu tersenyum, "kamu sendiri gimana, sehat?"
Karin mengangguk cepat, tangan keduanya masih saling merangkul tanpa mau terlepas, "kangen, Miii," rengeknya.
Carla kembali mendaratkan ciuman di wajah putrinya itu, "mami juga kangen banget sama kamu," balasnya
Ardi ikut berdiri, menghampiri keduanya saat rangkulan mereka terlepas. "Apa kabar, Tante?" sapanya, setelah mencium punggung tangan wanita itu.
Carla tersenyum, mengusap lengan Ardi 0sekilas, "baik, makasih ya, kamu udah mau nganterin anak tante ke sini."
Ardi mengangguk, "maaf ibu sama mbak Nena nggak bisa ikut, soalnya tadi ada acara di kantor Bang Justin."
Carla mengangguk maklum, "nggak apa-apa, salam buat Bu Marlina, makasih buat kiriman-kiriman makanannya."
Ardi kembali mengangguk, namun tidak menanggapi, pemuda itu terus memperhatikan interaksi ibu dan anak di hadapannya.
Saat membuka makanan yang Karin bawa, dan sedikit bercanda, juga obrolan-obrolan penghilang rindu mengalir dengan sendu di antara keduanya.
Karin menceritakan banyak hal, termasuk dirinya yang disekap di rumah sang papi, soal hak waris, semua ia ceritakan kecuali pukulan di punggu Ardi dari Hendrik, pemuda itu melarangnya.
"Tapi kamu nggak diapa-apain kan sama Mas Hendrik?"
Karin tersenyum, "nggak Mi," balasnya.
Carla mendesah lega, jika terjadi apa-apa pada putrinya dia pasti tidak akan diam saja, wanita itu rela kehilangan apapun di dunia ini, tapi tidak dengan kebahagiaan putrinya. "Kamu baik-baik ya, harus pinter jaga diri, anak mami cantik pasti banyak yang lirik," ucapnya dengan terus membelai kepala Karin, merapikan rambutnya.
Ardi mengusap tengkuknya canggung, pemuda yang masih berdiri itu melirik pada Karin yang juga meliriknya. Entah kenapa dia merasa banyak berdosa pada gadia itu.
"jangan sering-sering ke luar rumah, di luar bahaya, kamu di rumah aja." Carla kembali memberikan nasihat, wanita itu tidak pernah tahu bahwa anak gadisnya itu lebih berbahaya jika terus berada di rumah, apalagi jika hanya berdua dengan abang angkatnya. Dan Ardi semakin tidak enak saja.
Satu petugas menghampiri mereka, membuat Carla juga Karin beranjak berdiri, jam kunjungan telah habis.
Carla menepuk pelan lengan Ardi. "Tante titip anak tante ya, tante percaya sama kamu," ucap Carla.
Ardi yang mampu menyembunyikan rasa gugupnya kemudian mengangguk.
"Ajarin dia kalo nggak ngerti, soalnya dia anaknya lugu, tante khawatir kalo di rumah dia nggak bisa jaga sikap."
Lugu? Ya lugu sih, tapi pinter mancing, pemuda itu melirik Karin yang tampak menahan senyum, "Iya, Tan, itu juga udah aku ajarin," balasnya kemudian.
Carla memeluk putrinya sekali lagi sebelum beranjak pergi.
Karin yang sedari tadi merasa geli jadi tertawa sendiri, membuat Ardi menoleh.
"Kenapa?" Tanya pemuda itu.
Karin sedikit mencondongkan tubuhnya untuk berbisik, "ajarin apa, Bang?"
Ardi berdecak, merasa tersindir kemudian melangkah pergi, dan Karin setengah berlari mengejar pemuda itu.
Ardi mencebikkan bibir saat gadis yang mampu menyusul, merangkulkan kedua tangan di lengannya. Mereka sudah berada di parkiran.
Lugu apanya, terkadang melihat kelakuan gadis itu dia merasa dosanya imbang sekarang.
"Mau ke mana?" Tanya Ardi saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Serius, Bang?" Tanya Karin masih tidak percaya.
Ardi mengacak rambut kepala gadis yang duduk di sebelahnya, "bener, Sayang," balasnya.
Karin sempat menahan napas, mungkin wajahnyapun sudah memerah, pasalnya, sang abang jarang sekali memanggilnya sayang.
"Karin mau es cream, Bang. Pizza sama minumannya juga kalo boleh," ucapnya sedikit ragu.
"Boleh."
"Tapi Karim es creamnya mau dua. Beli yang box juga buat stok di rumah, eh tapi jangan deh, besok juga masih bisa pergi ke sana lagi kan, Bang?"
"Hn?" Ardi tampak kelabakan, "i, iya, Dek," jawabnya tidak yakin. "Stok yang banyak aja sekarang."
Karin mengerutka dahi, "kenapa? Emang besok abang mau ke mana?"
Hening, selain deru mesin mobil, suara yang tirsisa di dalam kendaraan itu hanya hembusan napas dan detak jantungnya sendiri. Ardi menghentikan kendaraan yang ia kemudikan di salah satu pusat perbelanjaan, dan saat mengajak gadis di sampingnya untuk turun. Dia menolak.
"Pertanyaan Karin belum dijawab," ucap gadis itu.
"Apa?"
"Besok abang nggak bisa ngajak Karin ke sini lagi?"
"Ya nggak bisa lah, kan besok lo sekolah."
"Pulang sekolah?"
__ADS_1
"Belajar."
"Kan belajarnya udah di sekolah."
Ardi jadi tertawa, berdebat dengan penulis dia selalu saja kalah, "Kanjeng Ribeet," ucapnya gemas, mencubit hidung mancung gadis itu dengan jarinya. "Ayo buruan mau turun nggak, apa mau pulang lagi nih?"
"Turun."
Karin menghabiskan waktu sore itu bersama abangnya, bermain time zone, membeli makanan apapun yang dia mau, nonton film, beli buku novel, tidak pernah sang abang sebaik ini sebelumnya, dan dia amat bahagia.
"Mau?" Karin menyodorkan es cream cone pada abangnya, dan pemuda itu menggeleng.
"Buat lo aja," ucapnya, kemudian menaruh boneka beruang besar yang ia bawa di lantai dan mendudukinya.
"Ih, abang jangan didudukin," omel Karin.
Dengan masih menduduki boneka gadis itu, dia menyandarkan punggungnya pada dinding. "Capek abang, Dek," keluhnya yang membuat Karin tertawa.
"Abang payah ah, padahal Karin pengen main ke sini setiap hari."
Ardi berdecak, "tekor gue."
Karin jadi tertawa, "yaudah sekarang abang mau minta apa, Karin beliin."
"Emang lo punya duit."
"Yee, banyakan juga duit Karin sama duit abang mah."
"Sombong amat." Ardi yang berlagak kesal melipat tangannya di depan dada.
Karin kembali tertawa. "Abang mau apa?"
"Jam tangan Seiko."
Karin mengerjap terkejut, "Mahal, Bang."
Ardi beranjak berdiri, boneka gadis itu iya bawa dengan tangan kiri sedang tangan satu lagi ia gunakan untuk merangkul leher Karin, membawanya ke toko jam yang paling terkenal di tempat itu.
"Kan pacar gue kaya raya," goda Ardi.
"Kemahalan, Baaaang."
***
Dengan memeluk boneka beruang besar miliknya, Karin memasuki rumah dengan sang abang yang berjalan di belakangnya, pemuda itu sesekali menarik rambut gadis itu hingga membuatnya kesal.
"Dari sekian banyak barang, kenapa harus jam tangan?" Tanya Karin.
Ardi yang baru selesai mengunci pintu kemudian menyusul gadis itu, "biar gue inget waktu kalo lagi berduaan sama lo," jawabnya.
"Abang serius, ih."
"Itu kan serius," jawab Ardi menduduki sofa untuk membuka sepatu. Dan gadis itu melakukan hal yang sama. "Tapi yang terpenting, biar pas gue liat waktu, bisa langsung inget sama lo."
Karin tertawa pelan, "Abang kaya jauh aja. Kita kan masih satu rumah."
Ardi sempat diam sesaat, namun kemudian mengulas senyum. Menyuruh gadis itu untuk segera pergi ke kamarnya.
"Abang ngapain ngikutin?"
"Mau banget ya lo, gue ikutin?" Goda Ardi saat gadis di hadapannya itu mengerutkan dahi. "Gue mau balikin kunci mobil."
Karin ber oh tanpa suara, kemudian kembali melangkah. Dan mereka bertemu Justin yang tampak sibuk dengan laptopnya duduk di ruang tv.
Ardi meletakkan kunci mobil di atas meja, membuat pria itu menoleh sekilas. "Ibu mana, Bang?" Tanyanya.
"Sudah tidur, mungkin capek," jawab Justin kemudian tanpa menoleh dia memberikan sebuah amplop pada sang adik. "Tiket pesawat paling pagi sesuai permintaan kamu," ucapnya yang entah kenapa tidak langsung di terima oleh pemuda itu.
Suara benda jatuh membuat Justin menoleh, melihat ke arah Karin yang berdiri dengan barang bawaannya tergeletak di lantai.
"Emang Abang mau ke mana?" Tanya gadis itu.
Ardi yang terlihat gugup menoleh pada Justin, mengambil amplop yang pria itu berikan. "Makasih, Bang," balasnya. Bukan untuk tiket pesawat di tangannya, melainkan untuk memulai perpecahan, makasih.
"Kamu belum bilang?" Tanya Justin.
Ardi menggeleng di hadapan abang nya, kemudian menolehkan kepala pada gadis yang masih berdiri dengan bola mata yang mulai berkaca-kaca.
"Abang mau ke mana?" Ulang Karin lirih, suaranya sedikit bergetar.
Ardi tidak menoleh saat pria di sebelahnya itu menepuk pundaknya pelan, dan sebelum Justin melangkah pergi dengan barang-barang yang sudah ia rapikan, pria itu memberi pesan. "Jangan takut untuk memulai," ucapnya, kemudian benar-benar beranjak pergi.
Kesal deng pertanyaannya yang tidak juga mendapat jawaban, Karin melangkah pergi ke kamarnya, air mata yang mulai jatuh ia usap kasar dengan punggung tangan.
Ardi beranjak mengejar, meraih lengan gadis itu hingga langkahnya kemudian terhenti, "Dek, maafin gue."
"Abang mau ke mana?" Karin bertanya untuk kesekian kalinya, menatap pemuda yang berdiri di hadapannya itu dengan sendu, perlahan bayangan sang abang kabur terhalang air mata yang mulai bercucuran tanpa bisa ia tahan. "Kemana, Bang!" Teriaknya pecah, isakannya kian membuncah.
__ADS_1
Ardi membawa gadis itu ke dalam pelukannya, perlahan kausnya yang terasa basah menggambarkan betapa dalam gadis itu terluka, dan itu karena dirinya. "Maaf, Dek, gue harus pergi," ucapnya lirih, seiring guncangan pundak gadis itu yang semakin menguat, pemuda itupun mengeratkan dekapannya.
Karin mendorong pemuda yang memeluk nya itu hingga terlepas, "Abang mau ninggalin Karin? Abang tega ninggalin Karin?"
"Cuman sebentar, Dek."
"Sebentar?" ulang Karin, isak yang membuat dadanya sesak seketika menghentikan kalimatnya. "Kita hidup di dunia nyata, Bang. Ini bukan kisah novel yang seberapapun lamanya waktu bisa ditulis dengan beberapa tahun kemudian. Abang pasti lama," omelnya tidak terima.
Ardi menggeleng, kembali hendak meraih lengan Karin yang langsung ditepis oleh gadis itu. "Dengerin dulu, Dek."
"Nggak!" Bentaknya, "Karin kecewa sama Abang, ngapain Karin kembali ke rumah ini kalo abang akhirnya pergi. Ngapain!!"
Ardi terdiam, bingung harus bagaimana menjelaskannya, sebuah kalimat yang ia rancang dari jauh-jauh hari terasa lenyap, dan yang tersisa hanya.... "Maaf," ucapnya lirih, "Gue minta maaf," ulang nya sekali lagi.
Karin mengusap kasar matanya yang basah dengan punggung tangan kiri, berbalik pergi dan berlari ke arah kamarnya tanpa berkata apa-apa.
Ardi menyusul gadis itu, dan sebuah bantingan pintu di hadapannya membuat ia mengerjap, menghentikan langkah dan mengetuk benda itu.
"Dek, gue bisa jelasin." Ardi menempelkan keningnya pada pintu. Menghela napas, dia memang sudah menduga reaksi gadis itu akan seperti apa, tapi menghadapinya secara langsung ternyata semenyakitkan ini. "Gue masuk ya," izin nya, kemudian membuka benda yang tidak dikunci itu dan melangkah perlahan ke dalamnya.
Ardi melihat Karin duduk di lantai dengan menekuk lutut nya dan menyembunyikan wajahnya di sana, pemuda itu duduk di sebelah sang adik, menyandarkan punggungnya pada kaki kasur, menoleh ke samping di mana isakan gadis itu membuat bahu nya bergetar naik turun, perlahan dia menyentuhnya.
Pemuda itu menghela napas ketika sentuhan pertama di pundak gadis itu ditepis tanpa ampun, dia mencoba lagi meletakkan tangannya pada kepala Karin dan kemudian disingkirkan lagi, akhirnya Ardi hanya memilih untuk menghela napas, berat, amat berat hingga rasanya begitu sesak.
"Gue juga nggak mau, Dek, kaya gini," ucapnya lirih, "jauh dari keluarga, jauh dari lo, jauh dari temen-temen gue, cuman biar gue nggak dipandang rendah sama papi lo, biar gue pantes sama lo."
Ardi menyentuh pundak gadis itu, membuatnya mendongak, dari wajahnya yang terlihat kusut dengan mata yang mulai sembab, pemuda itu tau, banyak kalimat yang ingin gadisnya utarakan, namun yang keluar dari mulut Karin hanya.
"Kapan abang berangkat nya?"
"Subuh."
Gadis di hadapannya itu terlihat menahan tangis, isakan yang juga tertahan membuat hati Ardi begitu sakit.
Karin berdehem, menetralkan surany yang mungkin sedikit bergetar. "Yaudah ati-ati," ucapnya, beranjak naik ke atas kasur dan masuk ke dalam selimut.
Ardi yang ikut berdiri menghampiri gadis itu, menyentuh pundak nya, "Dek?"
"Karin pengen sendiri, Bang, biarin Karin sendiri," tolak gadis itu, selain menurutinya dan berbalik untuk melangkah pergi, apa lagi yang bisa dia lakukan. "Bang?"
Dan panggilan dari gadis itu membuat langkahnya terhenti di ambang pintu, kemudian menoleh.
"Waktu abang pergi nanti, tolong jangan bangunin Karin," ucap gadis itu tanpa menoleh.
Mendengar itu, Ardi menahan napas, kelopak matanya yang mengerjap cepat, menggambarkan bahwa dirinya amat terluka, namun yang bisa ia lakukan hanya mengangguk, meski gadis itu mungkin tidak dapat mengetahuinya, seperti perasaannya yang begitu dalam, mungkin dia juga tidak tau. "Iya," ucapnya lirih, kemudian pergi.
Ardi membuka kamarnya, dan ternyata sang ibu berada di sana tengah merapikan barang-barang yang akan dia bawa, wanita itu menoleh, tersenyum. "Kamu udah makan," dan malah itu yang dia tanyakan. Dan dia hanya mengangguk.
Sikap sang ibu yang lebih bisa menerima kepergiannya, entah kenapa malah lebih membuat Ardi tidak bisa menahan airmata. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun, dan pemuda itu memilih naik ke atas kasur dan bersiap untuk tidur.
Namun usapan di kepala dari wanita yang duduk di belakangnya itu berhasil membuat bahunya berguncang. Ardi berbalik, memeluk sang ibu dan menangis tersedu-sedu, sampai kapanpun, di hadapan wanita itu dia tidak bisa menyembunyikan kelemahannya.
Marlina tidak bisa berbuat apa-apa, selain terus mengusap bahu putranya, dan membiarkan anak bujangnya itu menangis di pangkuannya, kalimat yang ia lontarkan hanya, "kamu kuat Ar, berjuang sedikit nggak apa-apa, ibu yakin kamu bisa." Dan tangis pemuda itu semakin pecah.
***
Karin masih menata hatinya, berpikir jernih dengan apa yang akan dia lakukan berikutnya, dia tau waktu yang ia miliki bersama sang abang tidak lagi banyak, namun hatinya yang terkoyak belum siap menghadapi kenyataan.
Membiarkan kamarnya tetap gelap membuat gadis itu merasa tenang, isak tangis yang berusaha dengan kuat ia hentikan tak dapat lagi tertangkap oleh cahaya, dia terus meyakinkan bahwa dirinya akan baik baik saja.
Terkadang dia berpikir. Kisah hidupnya yang begitu nelangsa membuat ia merasa telah menjadi pemeran utama dalam sebuah drama. Dia hanya ingin bahagia.
Suara pintu terbuka membuat matanya yang terpejam kemudian membuka, tidak lama. Sebuah pelukan dari belakang ia rasakan mengikat tubuhnya, gadis itu kembali terisak, menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan hembusan napas seseorang di ujung kepalanya membuat hatinya berubah tenang.
Karin berbalik, sedikit cahaya dari jendela yang masuk ke dalam kamarnya menampakkan sebuah bayangan wajah sang abang, meski samar pemuda itu tampak tersenyum. "Bang," ucapnya lirih dengan merengkuh tubuh pemuda itu.
"Abang pergi nggak akan lama, Dek, tolong jangan berpaling."
Pelukan Karin semakin erat. Begitupun dengan rengkuhan sang abang di tubuhnya, waktu yang tersisa untuk mereka hanya tinggal beberapa, jam, menit, detik, semua terasa bergerak begitu cepat.
Aku milikmu malam ini, kan memeluk mu sampai pagi, tapi nanti bila kupergi, tunggu aku di sini (Pongki Barata, Aku Milikmu)
***iklan***
Author: kadang lama gak update bukannya gw yg nggak ngirim naskah, riview nya ampe 24 jam ya ampuun.
Netizen: Sedih gue thor.
Author: Bang Ar nya pergi ya?
Netizen: bukan, sedih kenapa gue nggak pernah nongol.
Author :nggak penting banget anj*rr 😑
Ardi: Abang pergi dulu, Dek.
__ADS_1
Karin:Janga balik dulu bang sebelum poinnya banyak.