NOISY GIRL

NOISY GIRL
TUGAS DADAKAN


__ADS_3

"Emang papi lo kemana?" Tanya Ardi.


 


 


Karin yang menyuapkan daging panggang ke mulutnya itu jadi menoleh, "ke luar Negri," jawabnya setelah menelan makanan di dalam mulut. "nggak tau juga mau ngapain."


 


 


Ardi mengangguk, "kalo gitu nanti lo gue anterin aja," ucapnya yang membuat gadis di hadapannya itu menggeleng cepat.


 


 


"Takutnya papi udah pulang terus ada di rumah, gimana?"


 


 


Ardi menoleh sekilas pada teman-temannya yang duduk agak jauh dari mereka, "palingan juga ditabokin lagi, gue," ucapnya.


 


 


"Abang!" Karin menatap pemuda di hadapannya itu dengan kesal.


 


 


Ardi tertawa pelan, mengcak poni gadis di hadapannya dengan gemas, "Kangen banget gue sama lo," ucapnya, namun tidak mendapatkan tanggapan dari gadis yang fokus makan di hadapannya itu, "hp lo masih disita?" Tanyanya kemudian.


 


 


Karin mengangkat pandangannya dari piring yang ia pangku, duduk berhadapan tanpa meja di hadapannya membuat jarak mereka terlalu dekat, pemuda di hadapannya itu gemar sekali mengacak poninya yang mulai memanjang, menutupi sebagian matanya. "iya."


 


 


"Gue punya sesuatu buat lo," ucap Ardi, beranjak berdiri setelah meletakkan piring di bawah kursi, menarik tangan gadis di hadapannya untuk ikut beranjak.


 


 


Setelah berpamit pergi sebentar pada teman-temannya, dan berpesan untuk menikmati malam ini meski tanpa dirinya sebagai tuan rumah, pemuda itu mengajak Karin masuk menemui ibunya.


 


 


"Kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Marlina saat Karin menemuinya di ruang keluarga, wanita yang tampak serius menyimak acara televisi itu tampak terkejut senang melihat anak gadisnya pulang.


 


 


"Nggak apa-apa, Bu." Karin tertawa pelan saat mendapat ciuman di kedua pipinya dari wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri.


 


 


Ardi ikut tersenyum, dan dering ponsel di saku celananya membuat perhatian pemuda itu teralihkan, "iya, Bang," sapanya pada si penelfon yang ternyata adalah Justin.


 


 


Pemuda itu melirik sebentar pada Karin, kemudian beranjak menjauh mencari tempat sepi. "Gimana caranya?" Tanyanya, saat sang abang tau ada Karin di sana, dan menyuruh pemuda itu untuk memastikan sesuatu.


 


 


Ardi sedikit menjauhkan ponselnya saat seseorang di seberang sana terdengar mengomel, "iya, iya," ucapnya, kemudian mematikan sambungan. "Bawel amat si," rutuknya kesal sendiri.


 


 


"Abang katanya ada sesuatu yang mau ditunjukin." Karin berkata di belakang abangnya, membuat pemuda itu sedikit terlonjak.


 


 


Ardi yang reflek menoleh kemudian tersenyum, "ayo ikut," ucapnya, kemudian melangkah ke kamarnya sendiri.


 


 


Karin memperhatikan sang abang membuka laci, dan mengambil kotak kardus bergambar ponsel dari dalamnya, tunggu. "Ini buat Karin?" Tanyanya saat sang abang memberikan benda itu pada dirinya.


 


 


Ponsel mahal keluaran terbaru itu berhasil membuat gadis di hadapannya tersenyum senang.


 


 


"Makasih abang." Karin reflek memeluk pemuda di hadapannya.


 


 


Ardi yang tidak sempat membalas pelukan gadis itu, meringis sakit saat tangan Karin mengenai punggungnya.


 


 


"Masih sakit ya, Bang?" Tanya gadis itu setelah reflek melepaskan pelukannya.


 


 


Ardi mengangguk, "masih ngilu," jawabnya dengan diselingi tawa pelan.


 


 


"Karin pengen liat dong, luka abang separah apa?" pinta gadis itu dengan polosnya.


 


 


Ardi mengerjap gugup, mundur satu langkah saat gadis di hadapannya itu mulai menarik kausnya. "Nggak usah, Dek," tolaknya.


 


 


"Kenapa? Karin mau liat, Bang," paksa Karin dengan wajah memohon.


 


 


Pemuda itu berdecak pelan, berbalik ke arah pintu dan melangkah pergi.


 


 


Karin menyusul abangnya , gadis itu amat penasaran dengan luka sang abang rasa pacar yang menolak menunjukkan punggungnya.


 


 


Ardi berbalik saat gadis itu berusaha menyingkap bagian belakang kausnya.


 


 


Karin tertawa pelan, namun tiba-tiba sang abang menariknya dan merapatkan ke tembok di sebelah pintu.


 


 


"Lo beneran mau liat?" Tanya Ardi dengan mencengkram kedua pundak gadis itu yang terlihat gugup.


 


 


Karin mengangguk ragu, dan sedikit membuang muka saat sang abang benar-benar melepas kaus yang ia kenakan, tepat di hadapannya.


 


 


"Katanya lo mau liat," ucap Ardi saat gadis yang berstatus pacarnya itu malah menolak menolehkan kepala.


 


 


Karin bergerak gelisah, "Yang Karin mau liat kan punggung abang," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari ubin di bawahnya.


 


 


Ardi tertawa pelan, berbalik memunggungi gadis itu, perlahan, sentuhan tangan di bagian belakang tubuhnya membuat dirinya meremang.


 


 


"Sakit ya, Bang?" Tanya Karin spontan saat pemuda yang menderita lebam  itu  tiba-tiba refleks bergerak, saat punggungnya ia sentuh.


 


 


Pemuda itu menggeleng, "geli," jawabnya dengan menahan senyum.


 


 


"Separah ini ya, Bang. Wajar sih, payung papi sampe rusak," gumamnya merasa ngilu sendiri, dan saat pemuda itu tiba-tiba berbalik, dia jadi terkejut, reflek mundur dan malah menabrak tembok di belakangnya, Karin jadi bingung harus bgaimana. "A, abang badannya boleh juga." Dan sialnya malah kalimat itu yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


 


 


Ardi terkekeh lagi, "mau pegang?"


 


 


"Hah?" Belum sempat Karin merespon, sang abang sudah membawa kedua telapak tangan gadis itu menyentuh dada bidangnya.


 


 


Dengan gugup Karin menatap pemuda di hadapannya takut-takut, "Abang rajin olah raga ya?" Tanyanya, entah itu penting atau tidak.


 


 


Ardi mengangkat alis, "kenapa emang?"


 


 


Karin tersenyum canggung, "ototnya jadi," ucapnya memuji.


 


 


"Udah?" Tanya Ardi yang membuat gadis di hadapannya itu mengerjap bingung.


 


 


"Apanya?"


 


 


"Pegangnya?"


 


 


Karin refleks menarik ke dua tangannya dari dada sang abang, "maaf, Bang."


 


 


"Gantian, ya."


 


 


"Hn?" Belum sempat gadis itu memberikan pertanyaan, pemuda di hadapannya itu sudah menyatukan bibir mereka, melumatnya dengan lembut yang membuat mereka larut.


 


 


Karin memekik tertahan saat sebuah tangan menyentuh perutnya, seperti tersengat aliran listrik, memberi efek kejut hingga membuat jantungnya berdetak dengan ribut, hatinya memanas.


 


 


Bukan tanpa alasan Ardi sedikit menyingkap kaus gadis itu dan meraba perutnya yang rata, beralih ke pingga sebelah kiri dan mengusapnya pelan untuk memastikan sesuatu.


 


 


Anggaplah sambil menyelam minum air, sembari ia menjalankan tugas dari abangnya dia ikut menikmati juga, namun hal itu malah menjadikannya lupa diri, hampir lupa dengan tugas yang abangnya wanti-wanti.


 


 


Ardi melepaskan pagutan bibirnya, dengan napas memburu pemuda itu menatap gadis di hadapannya yang tampak memberikan tatapan sayu, dan dirinya malah semakin bernafsu. Siaaal.


 


 


"Maaf, Dek," sesal Ardi dengan menarik kepala gadis itu merapat ke dadanya sendiri.


 


 


Karin mendongak, "nggak apa-apa, Bang. Karin suka asalkan itu abang."


 


 


Ardi berdecak pelan. "Lo ngundang?" Tanyanya  yang membuat Karin mengerutkan dahi.


 


 


"Maksudnya?"


 


 


 


 


"Keluar, yuk," ajak Ardi setelah melepas ciuman dan kembali mengenakan kausnya.


 


 


Karin mengangguk, setengah berlari menghampiri meja belajar sang abang dan mengambil kotak berisi hp baru yang tadi ia taruh di sana.


 


 


Saat Ardi dan Karin mendatangi ruang tamu, ternyata teman-temannya  sudah berkumpul di situ, tampak seru menonton film bioskop yang ditayangkan pada salah satu stasiun tv, padahal tidak ada sang ibu, mungkin salah satu dari mereka berinisiatif menyalakan sendiri.


 


 


"Nih, ntar anaknya mati dia," ucap Lisa menunjuk layar televisi yang lebarnya hampir menyaingi bioskop itu sendiri.


 


 


"Spoiler lo, Ah." Mita mengomel, kemudian kembali menopang dagu, tampak tegang menonton film hantu di hadapannya itu.


 


 


Karin dan Ardi duduk di antara mereka, melirik Ipang yang tiduran di karpet bermain hp dengan kedua kaki ditekuk, dan Heny bersandar di sana. Edo dan Nadia duduk di sofa. Dan Lisa Heny, juga Mita, duduk di karpet dengan menopang dagu di atas meja pendek di hadapan mereka.


 


 


Tidak lama kemudian asisten rumah tangga sang ibu yang dibantu oleh agung membawa beberapa cangkir berisi coklat panas dan diberikan pada mereka, tontonan seru yang mendadak iklan membuat mereka mengalihkan perhatian.


 


 


"Yah ujannya gede banget, padahal blom pergantian tahun, mubazir dong petasan lo, Pang." Lisa yang menggenggam cangkir dengan ke dua tangannya itu mulai mengeluh.


 


 


Heny menegakkan duduk, mengambil coklat panas bagiannya. "Ya kalo ujan terus, petasan mana bisa nyala, udah nonton aja mendingan, seru juga filmnya."


 


 


"Seru sih, tapi takut," balas Lisa. "Kenapa ya film setan tuh, udah tau serem, bukannya kabur malah disamperin, kesel gue, kan setannya jadi nongol."


 


 


"Namanya juga film," balas Ardi, kemudian menoleh pada Karin di sebelahnya yang tampak sibuk mengotak-atik hp baru.


 


 


"Yang ngeselinnya lagi, udah tau di kolong kasur ada setannya, bukannya ngumpet malah ditengok, copot jantung gue waktu setannya tiba-tiba nongol pas dia noleh." Mita ikut menimpali.


 


 


"Lo semua pada nonton film setan, entar kalo pen kencing pada ditahan saking takutnya, yakin gue." Edo yang mencoba bercanda malah mendapat cubitan dari kekasihnya.


 


 


Mita melengos, "ya kali, Monmaaf ya gue nggak sepenakut cewek lo," ucapnya yang mendapat tendangan pelan dari Nadia di pinggangnya.


 


 


Suara salam dari arah luar membuat perhatian semuanya teralihkan, Nena dan Justin yang baru pulang tampak kerepotan menggendong anak kembarnya.


 


 


"Mbak Nena nggak kehujanan. "Ipang menyapa sok Akrap, karena pemuda itu memang kenal.


 


 


"Enggak dong, "balas Nena ramah, mengulas senyum saat teman-teman adiknya tampak menyapa dengan anggukan, menyikut sang suami di sebelahnya yang tampak diam saja agar ikut memberikan senyuman."Yaudah, mbak masuk dulu ya," imbuhnya kemudian.


 


 

__ADS_1


Justin memanggil asisten pribadi sang istri dan menyerahkan anak dalam gendongannya untuk dibawa ke dalam kamar, pria itu memberikan isyarat pada Ardi untuk mendekat.


 


 


Setelah berpamitan sebentar pada teman-temannya, Ardi beranjak mengikuti sang Abang ke arah ruang makan yang agak jauh dari mereka.


 


 


"Oh jadi itu yang namanya Mbak Nena, alumni Sma lo juga ya?" Tanya Lisa pada Ipang yang sedari tadi sudah duduk bersila. "Cantik banget sumpah, tapi nggak mirip sama Ardi dah."


 


 


"Ya nggak mirip lah, orang sodara kandung Ardi Bang Justin, Bukan Mbak Nena," balas Ipang, kemudian mengambil cangkir berisi cokelat yang sudah dingin dari tangan Heny, yang tidak diprotes oleh gadis itu.


 


 


"Setau gue Ardi dari dulu punyanya kakak perempuan," ucap Nadia.


 


 


Agung yang duduk di sofa mencoba ikut dalam pembahasan, "ya rumit lah, panjang ceritanya."


 


 


"Ya intinya yang saudara sekandung itu Ardi sama Bang Justin." Edo ikut memberi penjelasan.


 


 


"Tapi iya juga sih, mirip mereka berdua tuh, mukanya datar, jutek-jutek gimana gitu," komentar Mita.


 


 


"Tapi ganteeeng." Lisa ikut menambahi.


 


 


"Iyaaaa," ucap Nadia yang mendapat sikutan dari kekasihnya.


 


 


"Gue kalo liat yang ganteng-ganteng suka reflek istigfar tau nggak," ucap Lisa dengan menahan tawa. "Astagfirullah ganteng, Astagfirullah sayang, Astagfirullah bukan sipa-sipaaa."


 


 


"Yhaaaaaaa!"


 


 


Karin ikut tertawa, lucu juga, pikirnya. Lumayan buat referensi tulisan kanjeng Ribet. Gadis itu menoleh ke arah di mana abangnya itu pergi, dia jadi penasaran.


 


 


Di tempat berbeda, Justin yang menduduki kursi di hadapan sang adik yang berdiri di sebelah meja kemudian bertanya. "Gimana? Ada?"


 


 


Ardi mengangguk, "iya, ada bekas jahitan di pinggang sebelah kiri Karin tapi kayaknya udah lama, emangnya kenapa sih, Bang?"


 


 


Tanpa menanggapi pertanyaan adiknya, Justin beranjak berdiri dan menghubungi seseorang lewat ponselnya.


 


 


Namun saat tidak mendapat jawaban dari seseorang di seberang sana, Justin kembali menoleh pada Ardi yang masih tampak penasaran. Tapi pria itu lebih penasaran tentang. "Gimana cara kamu bisa tau hal itu?"


 


 


Ardi mengerjap gugup, "ya Izin lah," ucapnya tidak yakin.


 


 


Justin memberikan tatapan curiga, "tapi dia nggak tau maksud kamu kan?"


 


 


Ardi tampak berpikir, kenapa abangnya ini kepo sekali, pertanyaanya tentang bekas jahitan saja belum dijawab, kenapa banyakan dia yang nanya ya."Nggak, main aman lah pokoknya."


 


 


Tendangan di kaki secara tiba-tiba dari abangnya entah kenapa tidak sempat Ardi hindari, padahal biasanya refleknya selalu berfungsi dengan baik. Tapi jika dihadapkan dengan Justin, gerak tubuhnya berubah lamban seolah ikut menghormati. Sialan sekali bukan.


 


 


Justin mungkin tau apa yang dilakukan adiknya, pria itu berdecak pelan. "Satu minggu lagi, Ar," ucapnya mengingatkan.


 


 


Ardi yang sibuk mengernyit ngilu kemudian menjawab iya dengan sebalnya. Dia ingat satu minggu lagi jatahnya berada di Negara ini sebelum dirinya diasingkan ke Negara tetangga, sesadis itu memang abangnya ini saudara-saudara.


 


 


Siapa suruh coba kasih tugas yang kaya gitu, siapa yang salah si sebenernya. Ardi mengomel dalam hati. Dan saat abangnya itu hendak beranjak pergi, dia kemudian menghadangnya dan memberikan pertanyaan lagi.


 


 


"Jelasin dulu lah, Bang.  Bikin penasaran aja."


 


 


Justin menghela napas, memasukkan kedua tangannya pada saku celana, kemudian mulai bercerita. Dia bilang Karin dulu punya riwayat gagal ginjal, dan gadis itu mendapatkan pendonor yang pas hingga bisa membuatnya hidup dengan normal. Dan saat ini Hendrik dikabarkan menderita sakit ginjal. "Kamu percaya kalo dulu pendonor untuk Karin itu adalah papi kandung nya sendiri," Tanyanya.


 


 


Ardi sejenak tertegun, kemudian menggeleng, "nggak," jawabnya yang memang tidak percaya.


 


 


"Sama, saya juga nggak percaya. Tapi kamu harus ingat, di dunia ini, seseorng yang terlihat buruk belum tentu memastikan bahwa dirinya tidak baik. Kecuali Sang Pencipta, hati seseorang tidak ada yang bisa menduga," ucap Justin kemudian pergi.


 


 


Ardi masih mematung di tempatnya, "apaan si, gue nggak ngerti."


 


 


**iklan**


 


 


Netizen: sama thor gue juga nggak ngerti.


 


 


Author: Yaudah baca aja pesan-pesan di bawah ini.


 


 


Netizen: lah emang lagi nonton kuis di tipi.


 


 


Author: itu bapaknya Karin sakit gara gara dulu donorin ginjalnya buat Karin ya. Bukan kena azab Monmaaf apalagi kena santet online. Ini bukan cerita hidayah ya Netizeeen.


 



Kanjeng ribet: aku menulis apa yang kalian ingin baca, dan berharap kalian akan suka.


 



Kanjeng Rusuh: kalian harus inget ciri khas tulisan Kanjeng ribet, bahwa nggak ada pemeran yang benar-benar antagonis di tulisannya. Semua punya alasan. Dan alasan Kanjeng ribet update hari ini adalah. MAU MINTA TAMBAH POIN 🤣🤣 semangat ya ngumpulin poinnya 😘


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2