NOISY GIRL

NOISY GIRL
TAMU


__ADS_3

Carla tampak gelisah, mondar mandir di dapurnya bingung harus melakukan apa, adik almarhum mantan mertuanya mengabarkan akan berkunjung, dan dari nada yang terdengar, sepertinya wanita tua itu amat meremehkan keadaan keluarganya.


 


 


"Kenapa sih, Mi?" Karin bertanya saat akan mengambilkan air minum untuk suaminya.


 


 


Carla menoleh, melihat putrinya yang tampak rapi dengan baju yang jarang sekali ia kenakan, kekhawatirannya teralihkan oleh sebuah pertanyaan. "Kamu mau kemana, tumben pagi-pagi udah rapi?"


 


 


Karin melirik penampilannya sendiri, sebenarnya bukannya rapi, hanya saja dirinya yang biasa memakai kaus sederhana, kini tampak berbeda dengan kaus kerah panjang yang menutupi lehernya, jika bukan karena bekas kebrutalan sang suami sebelum kabur malam tadi, dia juga malas memakai baju berkerah tinggi seperti ini. "Oh, Bang Ar mau ngajak aku liat apartemen pemberian suami Mbak Nena," kilahnya.


 


 


Carla kemudian mengangguk, teringat kembali dengan masalah di depan mata, dia jadi tidak tertarik dengan cerita putrinya, wanita itu meraih tangan Karin, dengan tatapan yang terlihat panik dia berkata, "Oma Rosita mau berkunjung ke sini, sekarang dia lagi di perjalanan, kita harus gimana?"


 


 


Karin tertegun, Oma Rosita adalah adik dari Oma Larasati, wanita yang tidak suka akan sang mami terlebih lagi dirinya yang adalah pewaris utama Larasati Hotel, tentu kedatangannya bukanlah hal yang menyenangkan untuk menyiapkan penyambutan. Belum sempat Karin menanggapi, suara bel di pintu membuat keduanya membeku.


 


 


Carla semakin panik, meletakkan gelas yang dipegang putrinya dan sedikit merapikan pakaian perempuan itu. "Kamu udah cantik, semenyakitkan apapun ucapan Oma Rosita nanti, jangan terpengaruh ya sayang," ucapnya, daripada memperhatikan penampilannya sendiri, dia lebih mementingkan kesiapan sang putri.


 


 


"Karin takut, Mi."


 


 


Carla menggeleng, "Nggak ada yang perlu ditakutkan, jawab jika memang dia bertanya, dan diam saja jika dia mengabaikan kamu."


 


 


Karin mengangguk, dan mendapat usapan lembut di pipinya perempuan itu kemudian tersenyum. Carla dengan tergesa menghampiri pintu, dan putrinya mengikuti di belakang.


 


 


"Selamat datang Tante Rosita," sambut Carla saat membuka pintu dan mendapati tamunya berdiri dengan tatapan yang membuatnya ngeri di hadapannya itu, Carla berusaha tersenyum.


 


 


Wanita setengah tua bernama Rosita itu sedikit menurunkan kacamatanya, menelisik penampilan Carla juga putrinya dari ujung kaki hingga kepala, kemudian mendongak, melangkah masuk tanpa dipinta.


 


 


"Oma tunggu," panggil wanita muda seumuran Karin setelah keluar dari mobil, dia berlari kecil. "Hay Tante Carla," sapanya, kemudian menoleh pada Karin namun tidak mengucapkan apa-apa, gadis itu malah mengibaskan rambut panjangnya.


 


 


Karin mengerjap kesal, orang ini dia ingat sekali, gadis yang usianya lebih muda satu tahun dengannya itu senang sekali mencari gara-gara saat mereka sama-sam belia. Dan sepertinya Sekarang pun semakin menyebalkan saja.


 


 


"Kamu...." Carla tampak mengingat.


 


 


"Syerly, Tante. Cucu kesayangannya Oma Rosi," ucapnya.


 


 


Carla ber oh tanpa suara kemudian menyuruh tamunya itu masuk, lalu menawarkan minum apa.


 


 


"Tidak usah, saya tidak akan lama." Rosita berucap sembari mengedarkan pandangannya pada furnitur ruang tamu di sekitar ruangan itu, lalu dengan gerakan elegan menghampiri sofa dan mendudukinya. "Kamu Karin, Kan?" Tanyanya, melontarkan tatapan meremehkan pada gadis muda yang berdiri menghadapnya.


 


 


Karin menoleh sesaat pada sang mami, kemudian kembali menatap orang yang menanyakan jati dirinya. "Iya, Oma," jawabnya.


 


 


Gadis bernama Syerli ikut duduk di sebelah sang oma, melipat kakinya kemudian menopang dagu. "Denger-denger kamu sudah menikah, mana suami kamu?" Tanyanya. Dan sebelum mendapat jawaban, gadis itu mengimbuhkan kalimatnya. "Aku nggak dateng maaf ya, soalnya aku baru lulus kuliah di luar Negri."


 


 


Karin menahan diri untuk berdecih, dan mengalihkannya dengan senyum terpaksa. "Iya, nggak apa-apa," ucapnya berpura-pura.


 


 


"Yaudah Karin, mendingan kamu panggil suami kamu." Carla memberi usul sembari menyentuh pundak Karin, "kenalin sama Oma Rosita," Imbuhnya.


 


 


Wanita bernama Rosita tampak melirik acuh, namun tidak melontarkan penolakan, tampaknya wanita itu juga begitu penasaran, seperti apa suami dari cucu kesayangan almarhumah kakak perempuannya itu.


 


 


Karin mengiyakan, kemudian pamit undur diri untuk memanggil suaminya, meninggalkan sang mami yang tampak kembali membujuk tamunya untuk dibuatkan minuman apa saja.


 


 


Karin menutup pintu kamarnya dengan perlahan, menatap suaminya yang masih bergelung di balik selimut, pria itu masih demam. "Abang," panggilnya dengan mengusapkan tangan ke pipi pria itu.


 


 


"Hmm." Ardi mengerang pelan, membuka matanya perlahan, kepala yang terasa pusing  dan sedikit berat membuatnya menyipitkan mata. "Kenapa?" Tanyanya saat mendapati sang istri yang tampak gelisah tidak seperti biasanya.


 


 


Karin sedikit ragu, lalu menceritakan perihal kedua tamu yang menyambangi rumahnya, tidak lupa juga memberi gambaran tentang sifat-sifat keduanya.


 


 


"Terus mereka mau ketemu aku?" Tanya Ardi setelah beranjak duduk, menatap sang istri yang terlihat gugup. "Kenapa kamu setakut itu?"


 


 


Karin menipiskan bibirnya, kemudian berkata, "aku takut mereka nggak suka sama kamu."


 


 


Ardi tertawa pelan, "itu nggak akan merubah apapun, Dek. Papi kamu sendiri bahkan nggak suka sama aku."


 


 


Mendapat usapan di pipi, Karin terenyuh, hatinya semangat lagi, dia lebih percaya diri kali ini. "Aku takut kamu tersinggung sama sikap Oma Rosita, biar bagaimana pun dia masih keluarga aku."


 


 


"Kamu nggak takut dia yang bakal tersinggung karena aku?" Ardi tampak mengingatkan.


 


 

__ADS_1


Karin tertawa pelan, "aku malah berharap begitu. Pokoknya kamu jangan manis-manis sama Syerly, dia genit soalnya."


 


 


Ardi menjawel dagu Karin yang duduk di tepi ranjang, "cemburu?" Godanya. Dan mendapati perempuan itu mengangguk Ardi jadi tertawa. Tumben sekali sang istri secepat itu mengakui perasaannya.


 


 


"Pokoknya abang kalo sama dia harus pasang mode bon cabe level lima, pedes banget kalo bisa." Karin yang tampak berapi-api kembali mengundang tawa sang suami. "Tapi kalo sama Oma Rosita, kamu diem aja, cukup jawab aja kalo ditanya, dia orangnya susah dibaca suasana hatinya."


 


 


"Yaudah. Aku mandi dulu. "


 


 


"Nggak usah, kelamaan. Cuci muka aja sama ganti baju." Karin memberi usul.


 


 


"Dih, bau dong akunya."


 


 


Karin tidak menanggapi, dia sibuk dengan isi lemari sang suami, mengambil kaus lengan panjang juga celana yang biasa dikenakan pria itu.


 


 


Selepas mencuci wajah dan mengenakan pakaian, istrinya itu menyemprotkan minyak wangi. "Jangan banyak-banyak dong, emang mau kondangan," protes Ardi.


 


 


"Biar nggak ketauan nggak mandi, Bang."


 


 


"Kebiasaan kamu jangan dipake buat aku."


 


 


"Enak aja." Karin jadi sewot sendiri, namun kemudian tersenyum, setelah itu keduanya tampak tertegun.


 


 


"Jangan takut sama makhluk," ucap Ardi, dan membuat istrinya itu menatapnya penuh arti. "kita semua sama, jangan pernah merasa takut sama mereka," ucapnya menguatkan.


 


 


Keduanya menuruni tangga dengan Karin yang berjalan lebih dulu, perempuan itu sesekali menoleh pada sang suami di belakangnya.


 


 


Mereka menghampiri wanita bernama Rosita yang tampak berdiri mengamati bingkai foto yang terpasang di meja. Syerli yang semula duduk di sofa kemudian beranjak berdiri, menghampiri omanya.


 


 


Rosita berbalik, sama seperti yang ia lakukan sebelumnya, wanita itu sedikit menurunkan kacamatanya, menilai penampilan Ardi dari ujung ibu jari sampai rambut kepala.


 


 


Melihat itu Ardi jadi berpikir, pantas istrinya itu berusaha membuatnya terlihat rapi. "Salam, Oma," sapanya, maju satu langkah berniat menyalami, namun gerakan mengangkat telapak tangan membuatnya berhenti. Jiwa pencaci maki di dalam dadanya memaksa untuk menghela napas, dan pria itu mendapat usapan dari sang istri di lengannya


 


 


"Omaa, ganteng banget." Syerli berbisik yang masih bisa terdengar semuanya. Dan mendapat pelototan dari wanita yang dipanggilnya oma.


 


 


 


 


Carla yang baru datang dengan meletakkan dua gelas minuman kemudian menoleh, memberi isyarat pada putrinya untuk diam saja.


 


 


Tapi Karin tampak tidak terima, "suami aku lagi sakit, Oma," ucapnya.


 


 


Rosita tampak mendecih, "orang malas memang selalu punya alasan untuk menutupi kemalasannya," ucap wanita itu tajam.


 


 


Ardi terdiam, nenek ini ternyata tau, bahwa dirinya memang kaum rebahan, bukannya tersinggung, dia malah ingin tertawa.


 


 


"Kerja apa kamu?" Tanya Rosita.


 


 


"Pekerjaan saya, membuka pekerjaan untuk orang lain." Ardi menjawab dengan tenang, kemudian tersenyum. Dan hal itu malah membuat Karin sedikit tegang, kira-kira seperti apa tanggapan omanya.


 


 


Wanita itu berdecih sinis, "omong kosong," tukasnya. "Orang malas sepertimu, mana bisa jadi pemimpin," Imbuhnya dengan nada meremehkan.


 


 


"Dia lagi sakit, Oma," bela Karin tidak terima. Dan Ardi menyentuh pundaknya, memberi isyarat agar tidak menanggapi apa-apa, percuma.


 


 


"Jadi ini suami pilihan kamu, saya sudah banyak mendengar tentang kalian, dan jangan berharap kalian akan diterima di keluarga besar Gunawan." Rosita berucap lagi.


 


 


Ardi melihat sang istri  tampak terhenyak ditempatnya, seperti ingin menangis, dan mami mertua yang terlihat sama kalutnya berusaha untuk menghibur. Ardi jadi begitu gemas untuk melontarkan kalimatnya.


 


 


"Maaf ya, Oma." Ardi yang angkat suara membuat wanita yang bersangkutan kemudian memberi tatapan meremehkan.


 


 


Karin sempat takut, menatap sang suami dengan khawatir, begitu juga dengan mami mertuanya. Keduanya tau, berdebat dengan orang sekelas Rosita, hanya akan semakin menyakiti perasaan mereka.


 


 


Ardi memasukkan kedua tangannya pada saku celana, kemudian melangkah mendekati wanita tua bernama Rosita. "Saya sedang demam mungkin anda tidak percaya, dan terlebih lagi kabar merebaknya wabah mematikan virus covid-19 membuat sebagian orang menerapkan sistim lockdown, untuk menghindari penyebaran, anda berkeliaran di sini tidak takut terkena virus corona?" Ardi berucap semakin mendekat, membahas wabah mengkhawatirkan yang sedang viral di mana-mana, dan tanpa mereka sadari keduanya beringsut mundur.


 


 


"Hentikan!" Hardik Rosita, "berhenti mendekati saya," imbuhnya sedikit waspada.


 


 


Ardi berpura-pura terbatuk, dan hal itu membuat  perempuan di hadapannya  semakin terlihat ngeri. Namun Syerli yang terlanjur tertarik dengan suami dari saudaranya itu tampak tidak peduli, dia malah mendekati.

__ADS_1


 


 


"Hay, namaku Syerly," ucapnya memperkenalkan diri, kemudian mengulurkan tangan.


 


 


Ardi melirik tidak suka, daripada membalas jabatan gadis itu, dia lebih memilih bersidekap. "Tuan rumah dilarang berinteraksi dengan orang asing, terlebih lagi yang baru pulang dari luar Negri."


 


 


Syerly membuka mulutnya secelah, terhenyak tidak percaya. Selama ini belum pernah dia mendapat penolakan sedemikian rupa.


 


 


"Lancang kamu!" Hardik Rosita, wanita itu terlihat murka. "Ayo kita pergi dari sini," ajaknya pada sang cucu yang terlihat masih tidak terima.


 


 


Di hadapan Carla wanita itu menghentikan langkah, "urusanku dengan kamu belum tersampaikan, aku akan menemuimu lain waktu," ucapnya kemudian melangkah pergi dengan sang cucu yang mengikutinya di belakang.


 


 


Carla terduduk lemas di sofa, dan Karin mencoba untuk menghiburnya. "Berurusan dengan Rosita adalah hal pertama yang mami hindari di dunia ini," ucapnya lirih, raut wajahnya tampak kalut.


 


 


Namun Ardi tidak merasa menyesal, yang dia lakukan sudah benar.


 


 


"Mami jangan khawatir, Oma nggak akan macam-macam." Karin menghibur sang mami dengan mengusap pundaknya.


 


 


Carla menoleh, menyentuh lengan putrinya. "Kamu liat tadi ekspresi Oma Rosita? Syok berat kayaknya," ucap Carla, kemudian tertawa.


 


 


Ardi jadi ngeri, mami mertuanya itu tampak puas sekali. Dan masih sesekali tertawa wanita itu mengangkat nampan berisi minuman yang belum disentuh tamunya, kemudian ia bawa.


 


 


Karin yang juga ikut merasa aneh melihat reaksi maminya jadi bingung sendiri, perempuan itu beranjak berdiri, dan saat sang suami mendekatinya, dia reflek menghindar.


 


 


"Kenapa si?" Tanya Ardi.


 


 


"Ayo kita berobat, Bang," bujuk Karin.


 


 


Ardi berdecak, viralnya virus corona membuat sedikit demam jadi lebih waspada, "aku kena virus," ucap Ardi.


 


 


Karin menggeleng, "jangan ngomong gitu, Bang," omelnya.


 


 


Ardi tertawa pelan, "virus candu baru obatnya apa?" Godanya.


 


 


Karin berdecih, "serius ih."


 


 


Ardi merangkul pundak sang istri, meletakkan dagu di puncak kepalanya. "Kita mulai lockdown dari diri kita sendiri, jangan kemana-mana kita di kamar aja."


 


 


Kalimatnya itu mendapat sikutan di perut dari sang istri, "kamu belum mandi, mandi dulu sana," ucap Karin mengingatkan.


 


 


"Mandi tuh males kalo nggak wajib."


 


 


 


 


***iklan***


 


 


Netizen: lockdown itu apa sih thor. 🤔


 


 


Author: ya semacam dikarantina gak boleh kemana-mana. Kalo kata Google mah gitu. Kalo ada yang lebih paham boleh lah dijelasin di kolom komentar. 😅😅


 


 


Netizen: bilang aja libur thor ribet amat. 🙄


 


 


Author: kebijakan lockdown ini membuat kaum Rebahan jadi berhayal dapet gaji dari pemerintah.


 


 


Netizen: gue daftar kalo gitu 😂 sejak ada isyu corona pilek dikit jadi mikirin hidup thor. 🤧


 


 


Author: berdoa aja semoga cepet ilang virusnya. Kalo lu mati gue debat sama siapa. 😒


 


 


Netizen: gaenak bahasanya 😑


 


 


Author: yang penting poinnya kenceng. 😂


 


 


Semangat ya mulungnya, jangan kalah sama corona, Noisy Girl mau viral juga 😂


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2