
"Kalo Bang Ar nggak ada aku cari kemana ya Bang Ipang?" Karin bertanya sembari mengikuti pemuda berjaket gelap itu ke arah pintu kaca.
Ipang menoleh, kemudian tersenyum. "Nggak mungkin nggak ada sih, mobilnya aja ada," ucapnya sembari menunjuk mobil Ardi yang terparkir di samping Cafe.
Karin menoleh, "eh iya," ucapnya ikut melangkah saat pemuda di hadapannya itu membuka pintu.
Ipang mengernyit, aroma menyengat yang ia kenali membuat pemuda itu merasa curiga, dengan cepat dirinya beranjak ke sofa.
"Bau apa sih, Bang Ipang?" Karin yang mengikuti pemuda itu di belakang ikut menutup hidung dengan menyilangkan jari telunjuknya.
Ipang tidak menanggapi, pemuda itu semakin cepat mengarahkan langkahnya menuju sofa tempat mereka berkumpul. Hal pertama yang dia lihat adalah botol-botol bekas minuman yang berserakan di atas meja, dan ketiga sahabatnya tampak terkapar di atas sofa.
"Wah, pesta mereka, nggak ngajak-ngajak gue sialaaan."
Mendengar komentar yang keluar dari mulut pria di sebelahnya, Karin yang sebenarnya masih syok langsung menabok lengan Ipang dengan tas yang ia bawa. "Bang Ipang kenapa jadi kaya gini sih mereka!" Omelnya.
Ipang yang reflek mengelus lengannya, kemudian mengaduh, "Gue nggak tau, kan gue juga baru dateng," keluhnya.
Karin menghambur ke arah sofa di mana suaminya terkapar di sana, "Bang Aar!" Serunya sembari meraih wajah sang suami.
Ardi tersenyum, menyentuh tangan Karin yang masih menempel di pipinya, "Hay," ucap pria itu, kemudian tersungkur ke pangkuan perempuan yang entah dia sadar atau tidak, itu adalah istrinya.
Karin memejamkan mata, dia kecewa. "Bang Ar kenapa jadi kaya gini sih, aku nggak suka, " ucapnya kembali menarik sang suami untuk menegakkan duduknya, dan pria itu beralih menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan mata yang masih tidak mau terbuka.
"Aku nggak apa-apa," ucap Ardi tidak jelas, pria itu membuka matanya, tatapan yang terlihat begitu sayu membuat Karin ingin menangis.
"Kenapa kamu mabuk kaya gini sih, Bang?" Karin menarik lengan baju suaminya itu dengan gemas.
Ardi tertawa, "kamu siapa? Jangan sentuh-sentuh, aku punya istri," ocehnya dengan menunjuk-nunjuk hidung perempuan di hadapannya yang adalah istrinya sendiri.
Karin berdecak, seumur hidup dia mengenal Ardi, baru kali ini dirinya menyaksikan saat pria itu tengah mabuk, dan entah kenapa mendengar ocehan suaminya, perempuan itu malah ingin tertawa. "Aku istri kamu, Bang!" Karin beralih menabok lengan suaminya, berharap pria itu akan sadar, bagaimana mungkin pria yang setiap hari meminta candu itu tidak mengakui bahwa dia adalah istrinya. Keterlaluan.
Ardi kembali tertawa, "istriku itu cantik, dia cand—,"
"Abaaang!" Karin membungkam mulut pria yang terus mengoceh di hadapannya itu, kemudian menoleh pada Ipang yang tengah memeriksa Edo yang keadaannya tampak sama, Ipang mengernyit saat pria mabuk itu terus mengoceh di depan wajahnya. "Bang Ipang, Aku bawa Bang Ar pulang aja deh."
Ipang yang masih fokus pada Edo kemudian menoleh, "Mau gue anterin nggak?" Tawarnya.
Setelah mengambil kunci mobil suaminya yang tergeletak di atas meja, Karin menggeleng, "Nggak usah Bang Ipang, aku aja yang nyetir," ucapnya, kemudian mengambil lengan sang suami dan ia sampirkan ke pundaknya, susah payah perempuan itu berdiri dan melangkah keluar dengan menuntun Ardi yang tampak sempoyongan.
Ipang sempat ikut berdiri saat perempuan itu sedikit kesusahan mengimbangi berat tubuh suaminya. Namun Karin memberi isyarat dengan tangannya, meyakinkan pemuda itu bahwa dirinya pasti bisa.
Setelah kepergian Karin, Ipang beralih pada Edo yang tersungkur di sofa, pria itu mengoceh entah apa. "Do! Lo gimana mau balik?" Ipang mengguncang pundak pria itu, kemudian membantu menegakkan tubuhnya.
"Hn?" Edo memicingkan mata, "gue nggak balik, Nadia nggak di rumah," celotehnya.
__ADS_1
"Lah ngapa? Lo pisah ranjang?" Ipang bertanya dengan kembali mengguncang pundak sahabatnya, namun pria itu tidak menanggapi, malah kembali merebahkan diri di atas sofa, dan sepertinya mulai tertidur.
Ipang menggelengkan kepala, beralih pada Agung yang juga tersungkur di atas sofa, tangannya yang menjuntai ke lantai masih menggenggam botol minuman yang tandas isinya. "Gue nggak habis pikir, orang kaya lo bisa se gila ini." Ipang mengoceh dengan mengambil botol di tangan Agung, perlahan pemuda itu terbangun.
"Balikin." Agung berucap dengan sesekali menahan cegukan di tenggorokannya, pemuda itu tampak kacau.
Ipang tertegun, belum pernah dia melihat sahabat yang paling dekat dengannya itu terlihat kalut. Tatapannya yang memang kosong tampak menyiratkan sesuatu." Lo kenapa jadi kaya gini?" Tanyanya.
Sejak melihat keadaan teman-temannya seperti itu sesungguhnya Ipang sangat kecewa, hanya di depan Karin saja pemuda itu tidak mau memperlihatkannya. "Bilang, Gung? Lo orang yang paling nentang perbuatan kaya gini."
Agung sempat tertawa, namun kemudian meraung. Meski tidak mengeluarkan air mata, pemuda itu tampak seperti orang menangis. "Gue emang orang susah, tapi bahkan kepala lo sekarang gue bisa beli!"
Ipang terkesiap, dia benar-benar tidak tau dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya, "siapa yang bikin lo jadi kaya gini, Gung? Bilang sama gue siapa!" bentaknya.
Agung yang tampak kesulitan untuk menegakkan duduknya kembali tersungkur ke lengan sofa, menjatuhkan kepalanya di sana, dan dia kemudian tertawa. "Bahkan kesombongan lo," jeda, cegukan di tenggorokannya membuat pemuda itu sulit meluapkan kata-kata. "Gue bisa beli!" lanjutnya.
Ipang mengguncang pundak sahabatnya, menarik pemuda itu untuk duduk dan menatap dirinya. "Lo udah ketemu sama Aldo?"
Agung terdiam, mendengar nama itu, raut wajahnya berubah keras, matanya yang sayu tampak terlihat tajam. "Bilang sama orang itu," ucapnya dengan sesekali terjeda. "Orang yang menyombongkan harta orang tuanya, bilang! Bilangin sama dia!"
"Apa yang dia bilang sampe lo jadi kaya gini?" Desak Ipang.
Agung tidak menanggapi, pemuda itu kembali tersungkur ke atas sofa, dan kembali mengoceh meluapkan isi hatinya yang membuat Ipang semakin merasa iba.
****
Karin yang berusaha membantu suaminya berjalan malah didorong oleh pria itu hingga rangkulannya terlepas, mereka masih berada di halaman depan Cafe milik Agung.
"Jangan sentuh-sentuh gue, guee bilangiiin sekali lagi, guee udah punya istri." Ardi berucap pelan khas orang mabuk, pria itu selalu menegaskan statusnya pada wanita yang membantu dirinya berjalan.
Karin menghela napas, namun kemudian tertawa juga, dan saat melihat pria itu nyaris tersungkur dia kembali menyentuh lengannya untuk membantu menjaga keseimbangan.
"Jangan sentu!" Ardi kembali mengomel, "Nggak berlaku untuk umum. Guee bukan fasilitas Negara," imbuhnya.
"Iyaaa-iya!" Karin mengomel, "Abang liat aku!" pintanya, kemudian menangkup wajah pria di hadapannya dengan kedua tangan. "ini aku Kariiin istri Bang Aar," ucapnya menegaskan.
Pria itu memejamkan matanya sedikit agak lama, kemudian membuka, dia tersenyum. "Kariiin, anak setan guee," ucap Ardi, matanya mengerjap sayu.
Karin tertegun, melepaskan tangannya dari wajah sang suami dan menatap pria itu penuh arti. "Bang Ar?"
Ardi kembali tersenyum, kemudian mengangkat tangannya untuk menyentuh puncak kepala perempuan di hadapannya itu, "kamu tinggi sekarang, besok abang anterin sekolah," ucapnya semakin ngaco.
"Aku udah nggak sekolah, Bang, aku udah kerja."
Ardi menggeleng, tatapannya yang sayu tampak menyiratkan kepenolakan. "Aku nggak suka Karin yang kerja, aku nggak suuuka."
__ADS_1
Karin sedikit terhenyak di tempatnya, perempuan itu seolah mendapat pengakuan jujur dari seseorang tentang dirinya, "Bang Ar!" Serunya saat melihat pria itu nyaris tersungkur, dengan susah payah Karin kembali memapah Ardi menuju mobil dan mendudukkannya di kursi penumpang, dia memasangkan sabuk pengaman.
Di mobil Ardi terus mengoceh tentang ketidak sukaannya saat Karin memilih terus bekerja dan sedikit mengabaikan dia sebagai sang suami, pria itu mengungkapkan keluh kesahnya, hingga kemudian tertidur.
Sesampainya di apartemen, Karin yang membangunkan sang suami kembali memapahnya untuk berdiri dan berjalan menuju kamar. Setelah membaringkan suaminya ke atas ranjang, dia menyiapkan baskom berisi air hangat untuk membersihkan pria itu.
Perlahan, Karin mengusap wajah sang suami dengan handuk hangat di tangannya, "kalo abang nggak suka aku kerja bilang dong, jangan diem aja," gumamnya.
Pria di hadapannya itu masih memejamkan mata, hingga saat sang istri mengganti bajunya, dia tetap tidak mau terjaga.
Karin menarik selimut untuk menutupi tubuh sang suami, namun pria itu tiba-tiba membuka matanya. "Bang Aar?"
Ardi tersenyum, "Hay," ucapnya.
"Kamu udah sadar belum sih?" Karin bertanya, jika memang suaminya itu masih dalam pengaruh alkohol, dia enggan mengajaknya berbicara.
"Edo bilang Nadia hamil," ucap Ardi pelan.
"Oyah?" Karin ikut senang.
Ardi menganggukkan kepala dengan lemah, beranjak memiringkan tubuhnya menghadap sang istri yang berjongkok di samping ranjang. "Aku juga mau," ungkapnya yang membuat Karin terdiam. "Aku mau yang kaya Nino, Pinter, lucu, aku juga mau yang kaya Jino pi–," ucapannya terputus karena menguap, dan kemudian pria itu kembali terlelap.
Karin merapikan selimut sang suami, alih-alih membaringkan diri di sebelahnya, perempuan itu malah beranjak ke sofa yang berada di sudut kamar.
Dia berbaring di sana, merapikan selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri, sesaat perempuan itu merenung, dia bingung dengan ungkapan sang suami yang ia yakini adalah kalimat yang keluar dari lubuk hatinya, pria itu benar-benar menginginkan mereka cepat punya momongan, sedangkan sang papi malah menyuruh dirinya untuk menuntut ilmu lebih dalam, dia semakin bingung dengan apa yang harus dia putuskan sebagai pilihan.
***iklan***
Author: Gue suka bingung sama jumlah like yang kadang dikit kadang banyak, di balik like yang nggak stabil itu, gue yakin pasti ada jempol yang nggak bertanggung jawab buat konsisten, tapi gue sih nggak mau soudzon ya, siapa tau jempol kalian copot iya kan, jadi gue maklumin aja lah. 😌
Netizen: Kalo bingung pegangan thor. 😂
Author : Bingung semi kesel, klik jempol nggak sesulit mikirin alur ya Samirin. Tinggal klik, tuh klik yaelah 😒 kaga bayar kagaaa, nggak bikin lecet, gatel-gatel apalagi jatuh miskin. Kagaaa.
Netizen: Widih sabar thor jan ngegas, tabung ijo lagi langka efek corona 😂
Authir: terserah. 😑
__ADS_1