NOISY GIRL

NOISY GIRL
TAMU BULANAN


__ADS_3

Buronan Mitoha..


 


 


Irfani A: keluar lah, bete ini..


 


 


Agung N: Kemana?


 


 


Irfani A: Kemana kek, yang jauh, pake helm.


 


 


Edoardo D: Enakan juga di rumah.


 


 


Irfani A: Iya deh, yang punya bini.


 


 


Agung N: nyusul, Pang.


 


 


Irfani A: lo dulu Gung. Tuaan.


 


 


Agung N: Sialaan.


 


 


Edoardo D: Si Ardi nggak ada suaranya ini.


 


 


Irfani A: lagi program dia.


 


 


Agung N: program apaan.


 


 


Ardian R: Paan si.


 


 


Irfani A: kumpul lah, lama nggak ngumpul, sejak lo berdua punya bini gue jadi jarang diperhatiin ini.


 


 


Edoardo D: monmaap bentar, maksudnya gimana ya.


 


 


Irfani A: Aku cemburu.


 


 


Agung N: yang atas gue nggak kenal.


 


 


Ardian R: idih.


 


 


Edoardo D: ngumpul di mana ujan begini, kalo panas gue mau.


 


 


Irfani A: emang manusia itu suka ngga tau diri ya.


 


 


Ardian R: ngapa emang Bang.


 


 


Irfani A: giliran dikasih ujan minta panas, dikasih panas minta ujan. Ntar lama-lama dikasih ujan air panas nih.


 


 


Agung N: kalo dikasih ujan air panas mereka pada minta kopi.


 


 


Ardian R: haha kang kopi sa ae.


 


 


Agung N: malem ngumpul di Cafe lah, dah lama lu nggak pada nongol.


 


 


Edoardo D: baru kemaren lusa kesono juga.


 


 


Ardian R: eh udah halal mah beda, nongkrongnya ditunda, yang dirumah lebih menggoda.


 


 


Agung N: jadi pengen nyusul.


 


 


Irfani A: hmm songong, biarin gue doain si Karin dateng bulan.


 


 


Edoardo D: haha jahatnya.


 


 


Ardian R: haaa kaga bakalan.


 


 


Ardi tertawa sendiri, meletakan ponselnya di atas kasur dan mencoba memejamkan mata. Siang ini hujan, dan dia tidak berniat kemana-mana.


 


 

__ADS_1


"Katanya mau main ke rumah ibu?" Karin duduk di tepi ranjang, mengguncang tubuh suaminya yang menutupi sebagian wajah dengan satu lengan.


 


 


Ardi menoleh, "ujan begini males banget mau keluar," ucapnya, beranjak mendekat dan melingkarkan lengannya di pinggang perempuan itu. "Mending juga ngulang candu, iya kan?" Godanya.


 


 


Karin tertawa pelan, mendorong wajah sang suami dengan perlahan, "aku dateng bulan," ucapnya kemudian.


 


 


Bak petir di siang bolong, ada angin juga hujan, wajar sih di luar memang mendung. "eh, gimana, Dek?" Tanyanya memastikan.


 


 


"Aku menstruasi, Bang Ar." Karin kembali menjelaskan.


 


 


Astaga, penganiayaan macam apa yang telah dialami oleh sahabatnya hingga doa pemuda cabull itu begitu langsung terkabul, sialaaan. "Kamu ng'prank kan, Dek? April mop ya?"


 


 


Karin mengerutkan dahi, "Apa sih, ini emang jadwal aku dateng bulan, Bang."


 


 


Ardi yang merasa kecewa merebahkan tubuhnya ke atas kasur, mengerang kesal yang malah membuat istrinya itu tertawa.


 


 


"Puasa dulu ya, Abang." Goda Karin, raut wajahnya tampak puas sekali.


 


 


Suaminya itu berdecak, "awas sana jangan deket-deket," ucapnya sembari mendorong  sang istri yang entah kenapa begitu gencar menggodanya kali ini.


 


 


"Seminggu ya, Bang. Ingetin pokoknya aku nggak mau dibangunin tengah malem lagi." Karin berucap senang.


 


 


Ardi melontarkan tatapan keki, dan sang istri malah semakin gencar mencolek-colek dagunya dan terlihat bahagia sekali, pria itu tau malam ini dirinya akan tersiksa sampai pagi.


 


 


***


 


 


Setelah semalam Ardi bernegosiasi dengan sang abang untuk mengundur cuti bulan madu menjadi minggu depan, pagi ini pria itu bersiap berangkat ke kantor dengan pakaian yang rapi.


 


 


Karin membantu memasangkan dasi, perempuan itu sudah menyiapkan sarapan untuk laki-laki kesayangan yang pagi ini wajahnya terlihat kusut. "Yakin kamu mau masuk kerja?" Tanyanya dengan kedua tangan masih menempel di dada suaminya. Hari ini perempuan itu terlihat cantik sekali.


 


 


"Cuti bulan madu yang cuma seminggu, dan selama itu kamu yang nggak bisa aku sentuh lalu buat apa," ucap Ardi.


 


 


Karin jadi tertawa, begitu geli hingga harus melingkar kan lengannya pada tubuh pria itu untuk berpegangan. "Yaudah kalo gitu aku juga mau kerja, semalem udah bilang sama papi cutinya minggu depan aja," ucapnya.


 


 


 


 


"Lemes banget si, suami aku."


 


 


Teguran sang istri membuatnya mengerjap tersadar, namun pria itu hanya melengos kemudian berdecak. "Kalo udahan bilangin aku ya," pintanya.


 


 


Setelah kembali tertawa, Karin kemudian mengangguk, "udah lebih dari lima kali sepagian ini kamu ngasih pesan yang sama buat aku, Bang," ucapnya.


 


 


"Biar nggak lupa," Ardi yang belum mau tersenyum pagi ini kembali melontarkan kalimatnya.


 


 


Karin mengusap bahu sang suami, membuat pria yang semula fokus memasang kancing di lengannya itu kemudian menoleh. "Nggak sampe seminggu kok, biasanya cuma beberapa hari," ucapnya yang membuat sudut bibir pria dihadapannya  sedikit terangkat. "Senyum dong, Bang Ar."


 


 


Mendengar permintaan sang istri, dengan terpaksa pria itu melebarkan bibirnya, memamerkan deretan giginya yang putih bersih. "Nggak ada candu nggak seru," keluhnya.


 


 


Karin berdecak sebal, "kaya Netizen kamu, Bang."


 


 


"Biarin."


 


 


Perempuan itu menggelengkan kepala, suaminya  ternyata begitu manja, dan saat dia mengambil jarak untuk beranjak, Ardi menangkap tubuhnya.


 


 


"Candu aja, boleh nggak?" Tanyanya.


 


 


Karin tersenyum geli, kemudian mengangguk, dan saat penyatuan bibir sang suami yang begitu menggebu, membuatnya kehabisan napas, dia memukul lengannya.


 


 


Pria itu tidak merespon pukulannya, malah semakin menekan punggungnya agar jarak di antara mereka semakin rapat, tanpa sekat juga rehat. Dia benar-benar akan mati kehabisan oksigen jika terus seperti ini. "Abaaang!"


 


 


"Gakuna Abang, Dek."


 


 


Kaga ada "dan mereka melakukannya ya," monmaap lagi kedatangan tamu 😂


 


 


***

__ADS_1


 


 


Di kantor, kedatangan Ardi yang tidak terduga membuat karyawan yang tengah asik berbincang ria dan ngopi-ngopi menjadi sasaran empuk omelan pria itu yang memang tengah naik darah.


 


 


Bagaimana tidak. Kabar cutinya si bos membuat sebagian karyawan di sana kelewat bahagia, merasa bebas untuk melakukan apa saja, namun pria berwajah dingin itu tiba-tiba malah muncul, habis lah sudah kopi tumpah-tumpah disembunyikan ke bawah meja, dan ternyata tetap kena omel juga.


 


 


"Gila, si bos hari ini level pedesnya nambah," keluh salah satu karyawan yang baru saja menghadap atasannya untuk memberikan laporan, dan pria berkacamata itu keluar dengan map yang isinya berantakan.


 


 


"Iya, gue aja yang imut-imut begini masih kena omel juga," karyawan perempuan yang duduk di sebelah kubikel pria itu ikut berkomentar.


 


 


"Dari baru dateng pun dia marah-marah, udah kaya yang nggak dapet jatah dari bininya," imbuh salah satu temannya yang bertubuh tambun.


 


 


"Bisa jadi tuh, ingetin dah sekarang tanggal berapa, jadwal pms Ibu Karina nih gue rasa."


 


 


"Lah, bininya yang pms ngapa dia yang uring-uringan coba."


 


 


"Ya namanya juga pengantin baru."


 


 


"Enak ya jadi bos, dia mana tau, rasanya pengen balik ngomelin tapi nggak bisa."


 


 


"Mau dipecat lo."


 


 


Munculnya Dimas yang adalah asisten khusus atasannya membuat sebagian dari mereka langsung diam, sebagian lagi yang masih mengoceh langsung mendapat sikutan.


 


 


"Lanjutkan pekerjaan kalian, jangan sampai ada kesalahan," Ucap Dimas, pria yang paling kenyang mendapat omelan dari bos mudanya itu kemudian melangkah pergi, namun kemudian berbalik lagi, "inget, jangan sampai ada kesalahan," camnya dengan raut serius.


 


 


Mereka kembali bernapas lega saat pria jangkung itu akhirnya pergi juga. "Kasian Pak Dimas, dia kan yang paling deket sama bos, pasti udah dicucimukain tuh sama Pak Ardian."


 


 


"Ya liat aja tampangnya kusut gitu, tapi bener sih Sekretaris Hanna aja tadi kaya mau nangis."


 


 


"Udah, udah mendingan sekarang kita lanjutin kerja, ntar kalo udah reda juga si bos mah baik lagi." Salah satu karyawan paling lama bekerja di sana ikut berkomentar, bos mudanya memang biasanya selalu baik, hanya saja bisa menjadi lebih dingin pada saat-saat yang tidak dapat ditentukan, terlebih jika itu menyangkut pekerjaan.


 


 


"Jumadi!"


 


 


"Eh, saya."


 


 


"Lo dipanggil ngadep pimpinan noh, buruan si bos lagi siaga satu jangan sampe dia nunggu lama, bahaya."


 


 


"Mamp*s, susunan laporan gue belum kelar, gimana ini."


 


 


"Rip Jumadi."


 


 


"Rip Jumadi dua."


 


 


"Rip Jumadi tiga."


------


Ayo dong yang belum masuk grup chat masih 150 member lagi nih. Biar abis kelar tamu bulanan dapet candu baru Bang Ar nya 😂😂😂 makasih vote kalian yang luar biasa, jan lupa tambahin ya semangat 😂


***iklan***


 


 


Netizen: Salfok thor sama Jumadi, nama bapak gua itu. 😂


 


 


Author: Lah bapak lu kemaren bukannya Junaedi. 🙄


 


 


Netizen: Udah diganti thor. 🤣


 


 


Author:  bisa diganti begitu ya 😂


 


 


Netizen: Ya bisa lah orang bapak gue boleh dapet dari hadiah kinder Joy. 😂


 


 


Author: anak durhaka 😌 begini nih kalo dapet anak hasil donload pake wifi tethringan.


 


 


Netizen: ngapa emang thor. 😂


 


 


Author: kurangajharr 😌


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2