
Ardi mengetuk pintu kamar Nena, dan beberapa saat kemudian benda itu pun terbuka.
"Apaan?" Tanya Nena dengan menggendong satu putranya.
"Abang mana, kira-kira sore ini mau pergi nggak?"
Nena menoleh ke dalam kamarnya, melongok sang suami yang tertidur selepas menjadi sales dadakan sejak pagi. "Kayaknya enggak. Kenapa emang."
"Minjem mobil abang dong."
"Emang mobil lo kenapa?"
"Ya nggak kenapa-napa, males aja ngeluarinnya dari garasi, mobil abang kan di luar."
"Mau kemana emang?"
Ardi berdecak, ngapa mbaknya jadi kaya wartawan lokal si, tinggal kasih aja susah bener. "mau nemuin calon mertua," candanya yang mendapat adegan pura-pura muntah dari wanita di hadapannya itu. Dan Ardi jadi tertawa.
Nena masuk ke dalam kamar, menaruh putranya di atas ranjang dan mengambilkan kunci mobil untuk sang adik. "Udah besok loh, Ar, lo udah ngomong sama Karin?" Tanya Nena setelah memberikan benda yang ia bawa.
Ardi sesaat terdiam, "iya, ntar juga ngomong, abis jengukin maminya."
Nena tampak mengangguk, "jangan malem-malem lo balik," pesannya.
"Kenapa? Takut kangen ya," goda pemuda itu, dan Nena hanya berdecak sebal. "Baru kemaleman, udah kangen, besok malah gue nggak pulang."
"Aar," tegur Nena lembut, entah kenapa dia merasa sedih, harusnya kan seneng.
Ardi tertawa meledek seperti biasa, melangkah mundur menjauhi wanita itu. "Siap bos ku," ucapnya sebelum menghilang di balik pintu penghubung ruang tamu.
Besok, tidak ada lagi pemuda tengil yang akan membuat dirinya marah-marah, tidak ada lagi yang gencar menggodanya, tidak ada.
Ardi sebenarnya tau kakak ipar yang ia kenal sejah dirinya dilahirkan itu terlihat bersedih, namun dengan membahas hal-hal yang membuat rasa sedih itu semakin dalam, apa untungnya?
"Abang?" Panggil Karin saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Hn?" Gumam Ardi, menoleh sekilas pada gadis di sebelahnya kemudian kembali fokus pada jalanan. Pemuda itu menurunkan kecepatan.
"Kita mau kemana?"
__ADS_1
Ardi tersenyum, "sekarang ikutin gw dulu, abis jengukin mami lo, gue yang ngikut, lo maunya ke mana?"
"Tumben." Karin mencondongkan tubuhnya, mencari kebohongan yang mungkin akan terlihat dari raut wajah sang abang.
"Beneran, Dek, sesekali nggak papa lah gue nurut sama lo, kan lo baru balik."
Karin bertepuk tangan, tersenyum senang, sisa perjalanan sebelum sampai tujuan mereka isi dengan beberapa percakapan.
Ardi menghentikan mobil abangnya itu di depan tempat pemakaman umum, tanpa banyak bertanya, Karin tau pemuda itu hendak ke mana.
"Bunga sama air mawar aja, Bu," ucap Ardi pada penjual bunga tujuh rupa di tempat itu, selain menjajakan bunga yang memang khusus untuk di tabur, tempat ini juga menjual bunga hias, dan pemuda itu membelinya satu tangkai. "Buat lo."
Karin mengerjap terkejut, menerima bunga mawar merah dari abangnya dengan sedikit tertawa, "apaan si," balasnya, salah tingkah, pasalnya pemuda itu mana pernah se romantis ini sebelumnya.
"Pacarnya ya, Neng?" Tanya si ibu penjual bunga.
"Bukan." Ardi yang menjawab, dan hal itu membuat Karin seketika menoleh. "Calon istri," imbuhnya, kemudian pamit pergi dengan menarik gadis di sebelahnya itu setelah mendapat doa langgeng dari si ibu.
"Apaan si, Bang, aneh banget hari ini." Karin kembali tertawa.
Karin ikut berjongkok saat Ardi yang juga berjongkok di sebelahnya mulai menabur bunga pada pusara ayahnya, kemudian pemuda itu tampak memejamkan mata, mungkin berdoa, dan Karin melakukan hal yang sama.
Gadis itu membuka mata, dan mengerutkn dahi mendapati sang abang yang menengadahkan tangan pada dirinya, perlahan Karin menaruh tangan kanannya untuk pemuda itu genggam.
Ardi kembali menoleh pada batu nisan bertuliskan nama sang ayah, pemuda itu tersenyum. "Ayah, ini Karin," ucapnya seolah tengah memperkenalkan gadis itu.
Karin sedikit menahan senyum, "Kan Karin udah sering ikut ke sini, Bang."
Ardi menoleh, "tapi kan belum pernah gue kenalin secara langsung," ucapnya.
Ardi mengeratkan genggaman tangannya pada batu nisan sang ayah, pemuda itu mulai berbicara dalam hati.
'Ayah, mungkin akan lama nanti aku kembali berkunjung ke tempat ini,'
Perlahan Ardi mengusap batu nisan di hadapannya itu dengan telapak tangan, dia ingat, dulu sewaktu dirinya masih kecil pemuda itu selalu diajarkan banyak hal.
Tapi mungkin ada beberapa yang mendiang ayahnya itu luput ajarkan pada putranya, tentang bagaimana cara mengendalikan perasaan, bagaimana cara menyembuhkan luka perpisahan, bagaimana juga mengatakan sebuah kejujuran pada seseorang yang dia sayang.
__ADS_1
Mungkin dia lupa, bahwa putranya kelak akan dewasa. Dan Ardi tidak punya gambaran untuk semua, membuat dia begitu sulit menyusun kata-kata untuk gadis itu.
Aku hanya memanggil mu ayah, di saat aku kehilangan arah, aku hanya mengingat mu ayah, jika aku tlah jauh darimu. (Ayah-seventen)
Karin mengusap pundak sang abang hingga pemuda itu menoleh, meski tidak menangis, tapi dari bola matanya yang sedikit merah, gadis itu tau sang abang begitu merindukan ayahnya.
Ardi tersenyum, meraih tangan gadis itu dari bahunya untuk kemudian ia cium, "udah, yuk, mau ujan," ajaknya.
Dengan sedikit gugup Karin mengangguk, sebelum beranjak gadis itu meletakn mawar merah di tangannya itu pada pusara di hadapannya.
"Itu kan buat lo," ucap Ardi.
"Apa yang udah jadi milik Karin. Terserah Karin dong mau diapain."
Ardi tersenyum kecut, "kaya hati gue yang udah jadi milik lo, terserah lo, Dek mau diapain," ucapnya lirih.
Karin tertegun, perasaannya jadi tidak enak, pemuda di hadapannya itu berkali-kali membuat dia bingung seharian ini. "Bang?" Tegurnya.
"Kalo nanti lo marah sama gue, jangan lama-lama ya," potong Ardi.
"Karin nggak punya alasan buat marah sama abang," balas Karin. Meski tidak paham dengan maksud pemuda di hadapannya itu, di mencoba untuk mengerti.
"Bahkan saat lo marah tanpa alasan pun, gue tetep bakal minta maaf."
"Abang...." Karin sedikit ragu, menatap pemuda di hadapannya yang terlihat sendu. "Kenapa?"
Ardi membuka mulutnya secelah, kalimat perpisahan yang sekian lama ia asah nyatanya sulit menembus keraguan dalam dirinya, dia tidak siap melihat gadis di hadapannya itu kecewa. "Gue mau–"
Karin reflek berdiri, hujan yang tiba-tiba turun dengan deras membuat gadis itu berubah panik. "Ayo, Bang ujan."
Ardi pasrah saja saat gadis itu mengajaknya berlari ke arah mobil, saat mereka sudah berada di dalam kendaraannya, Karin kembali menanyakan apa yang akan abangnya utarakan.
"Nanti aja lah, Dek. Bentar lagi jam kunjungan mami lo abis."
****
Karin: Dikit aja dulu, buat pemanasan 🤣🤣 jan lupa poinnya kencengin.
Ardi: sebenernya part kemaren itu ditaroin iklan sama foto tapi pas diriview, malah ketinggalan, ngedit nya telat.
Semangat ya ngumpulin poinnya.
__ADS_1