NOISY GIRL

NOISY GIRL
DUNIA AGUNG 3


__ADS_3

Siang ini, Agung tengah memeriksa data penjualan bulan kemarin di laptopnya ketika suara kegaduhan dari arah depan akhirnya membuat pemuda itu mendongak.


 


 


"Kalo nggak percaya tanya aja sama Agung." Edo yang semula berdebat dengan sang istri sejak memasuki Cafe yang masih amat sepi, duduk di sofa sebelah Agung dan menepuk pundak sahabatnya itu. "Jelasin Gung, kenapa kemaren malem gue mabuk."


 


 


Agung mengerjap bingung pada Edo, kemudian menoleh pada Nadia yang masih berdiri dengan melipat lengannya di depan dada. "Ya lo kan minum, makanya mabuk," ucapnya setelah kembali menoleh pada sahabatnya.


 


 


"Tuh kan, kamu tuh sekarang mulai kaya gitu, aku nggak suka." Nadia yang menghampiri suaminya itu kemudian memukul pundak pria itu.


 


 


"Enggak, Yang, astagaa!"


 


 


Agung tertawa, mendorong Edo yang terus saja menghimpit tubuhnya karena menghindari pukulan sang istri. "Udah, Nat, emang gue yang salah. Suami lo cuma ikut-ikutan."


 


 


"Tuh kan aku bilang juga apa." Edo menimpali.


 


 


"Ya terus kenapa kamu ikut-ikutan, orang lagi salah bukan dibenerin malah ikut kaya gitu." Nadia mengomel, perempuan itu sempat mendengarkan penjelasan sang suami tentang masalah Agung sebelumnya. "Kamu juga, kalo ada masalah tuh omongin, jangan kaya gitu."


 


 


"Ngapa gue jadi ikut diomelin si, gue nggak ngajak cuma nawarin." Agung jadi protes.


 


 


"Kalo salah nggak usah cari pembelaan, nggak ada satupun kalimat yang membenarkan kalo kalian ada masalah larinya ke minuman." Nadia terus mengomel. Mendapati sang suami pulang dengan bau alkohol yang menyengat di tubuhnya perempuan itu teramat marah.


 


 


Agung tersenyum,"iya, iya gue minta maaf, emang gue yang bawa minuman itu, Edo cuma—," ucapan pria itu menggantung, mendapati kekasihnya sudah berdiri di hadapan mereka, dia jadi terdiam.


 


 


"Kak Agung aku bener-bener kecewa." Alya yang masih berdiri ditempatnya tidak berniat untuk mendekat, gadis itu malah berbalik pergi.


 


 


Edo menyikut lengan Agung yang masih duduk terdiam, membuat pria itu tersadar kemudian beranjak dari duduknya dan menyusul Alya yang terlihat marah.


 


 


"Liaa," panggil Agung lembut, terus mengekori gadis itu melangkah menuju ke arah pintu keluar Cafe, mendapati kekasihnya itu tidak menanggapi, Agung meraih lengan Alya, membuat gadis itu berhenti kemudian menoleh. "Liaaa?" Tanyanya hati-hati saat menatap kedua bola mata gadis di hadapannya itu yang tampak berkaca-kaca.


 


 


"Kak Agung kenapa minum?" Tanya Alya, airmatanya mulai jatuh.


 


 


Agung tertegun, "haus," jawabnya asal.


 


 


Alya berdecak, menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangan. "Kenapa Kak Agung mabuk-mabukan?"


 


 


Agung masih diam, mau menjawab mabuk beneran tapi pasti gadis di hadapannya itu semakin marah, dan pemuda itu pun jadi bingung.


 


 


"Jawab, Kak!" Alya sedikit menaikkan nada suara, dan pemuda di hadapannya itu terhenyak di tempatnya.


 


 


"Maaf." Hanya kalimat itu yang kemudian terlontar dari bibir Agung.


 


 


Dengan kesal Alya membuang muka, hingga sentuhan tangan pemuda itu di lengannya kembali membuat dirinya menoleh. "Kenapa Kak Agung kaya gitu?"


 


 


Agung mengangkat tangnnya untuk menghapus bekas air mata di pipi gdis itu. "Maaf, Liaaa," ulangnya.


 


 


"Aku nggak suka."


 


 


Pemuda di hadapannya itu mengangguk, "janji nggak gitu lagi," ucapnya, namun gadis di hadapannya itu masih memberenggut.


 


 


"Aku pikir Ka Agung tuh beda, tapi ternyata sama aja. Ka Agung bener-bener bikin aku kecewa." Alya sedikit mendorong tubuh pemuda itu, membuat pegangan tangan pada lengannya terlepas.


 


 


Agung tertegun, diam saja saat melihat kekasihnya itu melangkah pergi. Dulu saat dirinya belum bisa terima sang ayah yang melepas tanggung jawab begitu saja, dia pernah lebih rusak daripada ini, lebih salah dari hanya sekedar minum-minum, bahkan terlalu buruk masa lalunya, pemuda itu menolak untuk bernostalgia.


 


 


Agung menunduk. Kepergian Alya mungkin adalah keputusan gadis itu yang paling benar, dirinya memang tidak sebaik yang siapapun kira, hanya produk broken home yang menolak gagal di mata dunia.


 


 

__ADS_1


Pemuda itu mengusap wajahnya gusar, kemudian berbalik untuk menyelesaikan tugasnya yang belum selesai, hingga tarikan di lengan membuat dirinya merasa kebingungan.


 


 


"Kak Agung tolong umpetin aku!" Alya menarik lengan pemuda yang masih berstatus kekasihnya itu masuk ke area coffee bar, tempat biasa Agung menekuni kegiatannya, gadis itu bersembunyi di kolong meja.


 


 


Agung jadi bingung, melongok ke dalam kolong tempat gadis itu melarikan diri entah dari sipa. "Ada apa si?" Tanyanya.


 


 


Alya mendorong pemuda itu untuk tidak menghiraukannya, "ada Kak Aldo di depan," begitu katanya.


 


 


Agung mengerutkan dahi, untuk apa Aldo berkunjung ke tempat ini, dan saat dirinya mendongakkan pandangan ke arah pintu cafe, dia benar-benar melihat pria yang mendapat predikat paling sombong dari yang pernah ia temui selama ini, tengah menatapnya penuh arti.


 


 


Saat tatapannya dengan Agung saling bertemu, Aldo tertegun, dia tersenyum meremehkan kemudian menghampiri meja bar."Jadi, kamu kerja di sini?" Sapanya.


 


 


"Hn?" Agung mengangkat alis, melirik pada kolong meja di hadapannya, di mana adik dari pria sombong itu tengah bersembunyi di sana, pemuda itu masih belum  bisa menguasai diri setelah keterkejutannya menghadapi kelakuan kekasihnya.


 


 


"Di mana Irfan?" Aldo bertanya.


 


 


Reflek Agung mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya ke atas, memberitahu bahwa orang yang dia cari sedang berada di sana. "Mau ku antar," tawarnya.


 


 


Aldo melengos, "Nggak usah," balasnya sembari memperhatikan penampilan Agung dengan apron yang masih melekat di tubuhnya. "Kamu kerja keras menjadi karyawan teladan bertahun-tahun sekalipun, tidak akan membuat kamu mampu untuk merasa pantas bersanding dengan adik saya," ucapnya memberi peringatan.


 


 


Sejenak Agung tertegun, namun kemudian tersenyum dan mengangguk, "iya, Bang," balasnya yang membuat Aldo terlihat jengkel.


 


 


Alya merasa geram dengan kalimat merendahkan yang terlontar dari mulut abangnya yang berpendidikan, gadis itu hendak keluar, namun sebuah telapak tangan menahannya untuk tetap diam.


 


 


Agung memberi isyarat agar dirinya tetap ditempat, dan Alya menggeleng, dia berusaha menerobos keluar hingga pemuda yang berdiri di hadapannya menahan gadis itu dengan kedua kakinya.


 


 


Perdebatan itu tentu membuat Aldo merasa curiga, namun pria itu tampak tidak peduli. "Kerja yang bener," ucapnya kemudian melangkah pergi ke arah tangga.


 


 


 


 


"Masih marah?" Tanya Agung.


 


 


Alya menggeleng, "harusnya Kak Agung yang marah, Kak Aldo bener-bener keterlaluan," ucapnya.


 


 


Agung mengulas senyum, mengusap puncak kepala gadis yang masih duduk di bawah kolong mejanya, pemuda itu mengulurkan tangan. "Ayo keluar, udah aman, kamu mau aku anterin pulang nggak?" Tawarnya.


 


 


Dengan masih merapatkan bibir, Alya menatap telapak tangan yang menengadah ke arahnya, kemudian beralih pada wajah tampan sang kekasih yang masih tersenyum di hadapannya. "Tapi aku tetep nggak suka kalo Kak Agung minum-minum," ungkapnya dengan suara lirih.


 


 


Agung tertegun, tatapannya menerawang ke masa lalu, pemuda itu kemudian ikut duduk, mereka saling berhadapan. "Kamu percaya nggak, dulu bahkan aku lebih rusak dari ini, ya mungkin setelah ini kamu akan berpikir ulang untuk melanjutkan hubungan kita, aku sih nggak masalah."


 


 


Alya mengerutkan dahi bingung. "Maksud kakak rusak gimana?" Tanyanya.


 


 


Agung menelan ludah, dia memang harus menceritakan sedikit kisah hidupnya agar menjadi pertimbangan untuk gadis itu.


 


 


Dia menceritakan betapa dulu hidupnya tak tentu arah, hingga kemudian bertemu dengan Ipang si anak orang kaya, kisah mereka kurang lebih sama, bedanya, Ipang ditinggalkan oleh ibunya dan dia ditinggalkan oleh sang papa, dan bedanya lagi, meskipun begitu, Ipang lebih beruntung karena ditakdirkan menjadi anak orang kaya.


 


 


Dan kalimat yang tidak bisa ia percaya bisa muncul dari seorang Ipang nyatanya berhasil menyadarkan dirinya. Dia bilang, kita boleh saja lahir dari keluarga yang berantakan, tapi tunjukkan pada dunia bahwa masa depan kita sudah tertata.


 


 


"Hidup dalam keluarga yang tidak utuh itu  susah, merasa kehilangan separuh jiwa itu pasti, dan merasa dunia ini tidak adil kurasa wajar." Agung mengarahkan pandangan pada Alya yang masih terdiam di tempatnya, "tapi balik lagi ke diri kita masing-masing, aku percaya setiap manusia diberikan kesempatan yang sama, untuk berubah, memperbaiki diri, dan lebih sukses kedepannya."


 


 


"Dan Kak Agung adalah contohnya." Alya menimpali.


 


 


Agung tertawa pelan, "Nggak juga," sangkalnya. "Banyak di luar sana yang lebih bisa menggambarkan kesuksesan dalam bentuk nyata, aku belum apa-apa."


 


 


Alya tersenyum, mendengar penuturan itu dia semakin kagum. "Kak Agung bikin Lia makin sayang," ucapnya senang.

__ADS_1


 


 


Agung mengerutkan dahi, senyumnya tampak ditahan, "kamu nggak mau pikir ulang buat terus berjuang?"


 


 


"Mana bisa pikir ulang, aku udah love mentok-mentok sama kakak," ucapnya yang membuat Agung jadi tertawa.


 


 


Gadis itu beranjak keluar dari kolong, salah memperhitungkan tinggi meja di atasnya membuat kepalanya terkatup dan jatuh menubruk kekasihnya.


 


 


"Waah, boss maaf nih, nggak ada peringatan dilarang masuk si."


 


 


Beberapa Karyawan yang baru datang membuat keduanya jadi kelabakan. Agung beranjak dari duduknya, kemudian membantu sang kekasih untuk berdiri, "kalian jangan mikir aneh-aneh, cuma sedikit kecelakaan," ucapnya memberi peringatan, yang ditanggapi cekikikan oleh para karyawannya.


 


 


Setelah Agung melepaskan apron dari tubuhnya, mereka melangkah pergi dengan terus bergandengan.


 


 


"Sakit nggak?" Agung mengusap kepala gadis di sebelahmya sambil berjalan menuju parkiran.


 


 


"Sedikit, Kak Agung, masih agak nyut-nyutan." Alya menjawab jujur.


 


 


Agung kemudian tertawa, "makanya hati-hati," ucapnya.


 


Belum sempat Alya menanggapi, seseorang yang memanggil namanya membuat mereka kemudian menoleh.


 


"Kamu berani bohongin kakak, kamu bilang ada urusan penting tapi malah nemuin karyawan Irfan diam-diam." Aldo yang melihat sang adik dari arah dalam dan langsung berlari mengejar gadis itu, kemudian mengomel panjang lebar.


 


"Cukup Kak Aldo, Kak Agung ini bukan Karyawan Ipang," ucap Alya kesal.


 


Aldo tidak mau tau, dengan perasaan yang kesal dia menarik lengan gadis itu sedikit kasar. Bersamaan dengan itu, Ardi dan istrinya yang baru saja datang membuat perhatian mereka teralihkan.


 


"Kak Aldo," sapa Ardi yang ternyata mengenali pria itu.


 


Aldo sesaat terdiam, tampak mengingat-ingat, "Ardian," ucapnya tidak percaya.


 


"Iya," balas Ardi dengan menjabat tangan, mereka sering bertemu saat pria itu masih kuliah di luar Negri, kebetulan tempat kuliah mereka sama, dan Aldo adalah kakak tingkatnya di sana.


 


 


Ardi sedikit bingung dengan, situasi yang dia lihat saat ini, dan ketika Alya mengenalkan bahwa Aldo itu kakak kandungnya, dia baru mengerti. "Kamu harus coba menu di Cafe ini, semuanya enak," ucap Ardi, kemudian menepuk pundak Agung yang berdiri di sebelahnya. "Apalagi kopi racikan Agung, dia pemilik sekaligus barista di Cafe ini, keren kan?"


 


 


Aldo seketika terdiam, dia mengerjap tidak percaya, menoleh pada Agung yang tampak biasa saja, dan kemudian beralih pada sang adik yang masih menunjukkan kekesalannya. "Apah??"


 


 


***iklan***


 


 


Author: ada satu netizen yang bilang gini. Thor ayolah nulis cerita baru, gue udah bosen. 😌 Yakalo bosen mah gausah dibaca ya Sakimin, lu scroll scroll aja trus like komen next vote 1000, gausah repot repot komen panjang mengungkapkan keresahan, kan gue jadi terharu 😌


 


 


Netizen: Gue sih nggak bosen thor sama ceritanya, cuman bosen sama lu. Ada nggak sih yg ceritanya sama tapi penulisnya bukan lu gitu 🤔🤣


 


 


Author: 😑 eh lu punya jidat belom pernah ngerasain dijepret pake karet ban dalem ya 😒


 


 


Netizen: mau bilang gak punya jidat tapi takut lu kepikiran 😌


 


Author: lo gue end. 😑


 


Netizen: poin gue nolnya empat btw. 😏


 


Author: ok fix kita baikan 🤗


 


 


Netizen: tapi udah vote tetangga biar dapet hadiah. 🤣


 


 


Author: 😭😭 pen ngirim surat yasin tapi rangnya blom meninggal.


 


 


Jan lupa vote komennya ya, like juga jan lupa kalo gak mau dianggap jempolnya copot. 🤣


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2