NOISY GIRL

NOISY GIRL
KAIRAN


__ADS_3

"Bagaimana saksi, Sah?"


Kairan menoleh pada sang paman yang menjadi saksi untuk acara pernikahannya saat ini. Dia berharap pria itu akan menggagalkan acara dan membawanya pergi dari sana.


Dan harapannya itu ternyata sia-sia. Setelah kata sah meluncur dari saksi lain, pria itu ternyata ikut mengesahkannya juga.


"Alhamdulillah." Pak penghulu memimpin doa, saat dirinya kini sudah resmi menjadi seorang suami, untuk gadis belia yang baru saja kehilangan kedua orangtuanya.


Saat Pak penghulu menyuruh gadis yang baru ia nikahi untuk mencium punggung tangannya, Kairan menoleh.


Gadis itu mengerjap gugup, meraih tangan Kairan saat pria itu mengulurkannya.


Mereka belum saling kenal beberapa minggu yang lalu, hingga kejadian naas yang merenggut nyawa kedua orangtua gadis itu, mengharuskan Kairan menikahinya sebagai penebus kelalaian sang papa.


Ini tidak benar, Kairan masih tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi. Dia berharap Tuhan akan merevisi takdirnya saat ini.


***


Satu per satu mobil dengan brand ternama berhenti di depan lobi sebuah gedung tinggi. Doorman membukakan pintu, membantu penumpang untuk turun dari mobil. Dua orang wanita berseragam abu-abu selutut menyambut tamu dengan senyum tulus merekah. Menunjukkan ke arah mana  para tamu itu harus pergi.


Di sepanjang koridor utama, sudah dipenuhi oleh papan bunga berisi ucapan selamat atas pembukaan perdananya. Banner sambutan selamat datang pun menggantung di atas pintu utama ballroom , tempat digelarnya acara pembukaan gedung tersebut.


Hampir semua kursi sudah terisi penuh oleh tamu undangan. Seorang pria berdiri di tengah podium, dengan background sebuah layar besar yang menampilkan foto gedung hotel dari bagian depan. Sebagai MC, pria bersetelan hitam itu memandu jalannya acara.


"Kepada Founder new shappire Hotel , Bapak Kairan Rahaditya, waktu dan tempat kami persilakan."


Saat itulah, semua mata tertuju pada pemilik perusahaan yang masih cukup muda, tetapi kegigihannya dalam mengurus perusahaan sudah bisa diperhitungkan.


Berbekal ilmu dari mengurus perusahaan milik Sang Mama, kini ia bisa mendirikan perusahaan sendiri. Dengan masih berada di bidang yang sama. Perhotelan.


Berdiri di balik mimbar yang berada di bagian kiri podium, Kairan memperkenalkan diri dan juga posisinya pada perusahaan. Pembawaan yang tenang, tegas, dan tahu apa yang akan disampaikan membuat semua pasang mata enggan berpaling dan fokus padanya.


Di hadapan direksi, investor, karyawan dan tamu undangan, ia mengucapkan banyak terima kasih serta menunjukkan slide demi slide visi misi dan target marketing  perusahaan.


"... atas semua yang terlibat dalam pembangunan perusahaan ini, saya ucapkan terima kasih. Saya berharap apa yang sedang kita usahakan ini akan mendapat jalan kesuksesan dari niat-niat baik kita semua.


Saya sebagai founder yang bergerak di sektor pariwisata ini meresmikan pembukaan new shappire hotel untuk umum."


Kairan menutup kalimatnya dengan menekan sebuah tombol. Dengung alarm seiring dengan confetti popper yang menyemburkan kertas warna-warni di atas panggung menjadi tanda peresmian gedung tersebut. Para tamu undangan berdiri dan memberi tepuk tangan. Kairan melangkah ke tengah gedung, membungkuk, membalas hormat atas respon para tamunya.


Turun dari podium, para kolega sudah menyambutnya. Berebut ingin mengucap selamat dan doa atas pencapaian barunya. Selesai menyalami mereka, Kairan beralih pada keluarganya.


"Selamat ya, Sayang." Sang mama memeluk Kairan dengan bangga.


"Kamu keren, papi bangga." Ardi, sang papi yang selalu mendukung pria itu juga memberi pelukan hangat untuk putranya.


Selain mereka berdua, sang kakak yang sudah lebih dulu terjun di dunia bisnis juga ikut memberikan selamat pada dirinya, mereka ikut berbahagia atas semua pencapaiannya.


"Kamu mau ikut pulang sama kita nggak?" Arka memberi penawaran pada sang adik, saat acara itu sudah selesai.


Kairan menolak, dia ingin menghadiri undangan teman-temannya untuk merayakan kelancaran malam ini. Sebagian dari mereka memang ikut andil menanam saham di sana.


Pria itu lalu mengantarkan keluarganya keluar dari gedung, melambaikan tangan saat mobil yang mereka tumpangi keluar dari area.


Dia menaiki mobilnya sendiri, menuju club malam milik salah satu sahabatnya untuk menghadiri pesta yang disiapkan oleh mereka.


"Selamaaat, udah jadi pengusaha sekarang." Julian memindahkan cairan dari botol di tangannya ke dalam gelas, menyambut kedatangan sahabatnya.


"Anak orang kaya iya, ganteng udah dari lahir, cari duit sendiri bisa. Tinggal ayangnya yang nggak ada." Gema, salah satu temannya yang sudah berkeluarga tampak menyindir, ikut mengisi gelas kosongnya dengan minuman yang sama.


"Kairan bukan ceweknya dimana-mana ya?" sambut yang lain, teman kuliah pria itu yang banyak tahu kisah cintanya sejak dulu.


"Serius dong, Kai. Kan gue udah nikah, cari pacar gih." Sena, sepupu kesayanganya itu ikut bersuara, Kairan memang pernah melakukan kesepakatan bodoh dengan berjanji tidak akan menikahi siapapun jika perempuan itu belum menemukan pasangannya. Mungkin karena hal itu juga, dia seringkali menyia-nyiakan siapapun wanita yang mendekatinya.


"Jangan ikut minum, Sayang." Pria di sebelah Sena melarang, saat perempuan itu meminta Julian mengisi gelas kosongnya juga.


"Sedikit aja." Sena memohon, namun pria itu dengan tegas menggeleng.


"Kamu minum teh manis aja."


Kairan tertawa saat Sena terlihat menggerutu, tapi perempuan itu tetap saja menuruti permintaan Ansel yang adalah suaminya. "Bumil dilarang minum sembarangan," tukasnya.


"Ayo kita bersulang." Julian berseru dengan mengacungkan gelas berisi cairan pekat di tangannya.


Mereka yang ada di sana ikut mendekat, mengacungkan gelas yang dipegang masing-masing dengan isian sama kecuali gelas Sena.


"Buat pertemanan kita." Seru pria bernama Bara. Ditanggapi dengan ucapan setuju dari gema di sebelahnya.


"Buat sepupu gue biar cepet dapet jodoh." Sena ikut menambahkan.


"Buat mantan-mantan Kairan yang menyesal dengan kesuksesannya sekarang." Julian tidak mau kalah.


"Untuk usahanya agar semakin maju." Dari semua teman-teman pria itu yang hadir di sana, hanya Ansel yang mengutarakan harapan paling benar.


"Buat gue yang tetap santai meskipun nggak punya pacar." Ucapan Kairan mengundang tawa teman-teman sebayanya yang rata-rata sudah pamer anak dua. Mereka kemudian minum bersama.


Julian menanggapi setelah menandaskan isi gelasnya. "Gue juga santai deh, eh santai nggak si?" Pria itu menyikut lengan Kairan.


Pria itu mengeratkan gelas di tangannya yang nyaris jatuh, kemudian menoleh. "Enggak deh, jodoh gue di mana ya," keluhnya meringis sedih.


"Tenang aja gue temenin," ucap Julian yang juga masih betah sendiri.


"Setidaknya lo punya calon." Kairan meraih botol di atas meja, kembali mengisi gelasnya. Bersamaan dengan itu, Sena diajak suaminya untuk pulang lebih dulu.


"Jangan sampe mabuk, ati-ati bawa mobilnya." Sena berpesan pada sepupunya, sebelum pergi meninggalkan mereka.


"Standar lo jangan ketinggian makanya, temen-temen gue kan banyak." Gema melanjutkan pembahasan.


"Emang maunya yang kaya gimana si?" Julian yang merasa prihatin kemudian bertanya.


"Yang pasti cantik lah ya, nurut sama gue terus masih ori." Dengan santai Kairan menyebutkan kriteria wanita idamannya.


Bara mencibir. "Lo aja bekas jajahan, nyarinya yang masih ori, pacaran aja sama bayi."


Kairan menunjuk temannya dengan mata yang mulai sayu."Biarpun gue brengsek begini, cari calon istri harus yang terbaik lah."


"Berdoa aja, semoga calon istri lo nggak diapa-apain sama pacarnya yang sekarang."


"Entar gue bikin surat terbuka, siapapun yang sekarang lagi sama jodoh gue, ditunggu itikad baiknya." Kalimat itu membuat teman-teman Kairan tertawa.


Pria itu ingin mengisi gelasnya untuk yang ke tiga kali, saat ponsel di saku celananya berdering tanda panggilan masuk. Dari Arka, abangnya. Dia lalu pamit menjauh menghindari kebisingan di tempat itu.


"Apah? Ngapain ke rumah sakit?" Kairan bertanya saat sang kakak menyuruhnya untuk segera ke tempat yang ia sebutkan alamatnya.


Kairan meminta penjelasan untuk apa, dan Arka berkata bahwa ayah mereka tidak sengaja menabrak pengendara bermotor hingga luka parah keadaannya.


Pria itu mematikan sambungan. Setelah berpikir beberapa saat dia lalu berlari menuju mobilnya, nanti akan dia kabari teman-temannya lewat telepon saja.


Belum sempat menyalakan mesin mobil, sebuah pesan muncul dari Kania, adik bungsunya. Mengabarkan berita yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


"Kak Ai, akhirnya bakalan nikah. Udah ada calonnya."

__ADS_1


Apa-apaan! Kairan memang berharap mendapat pasangan, tapi tidak sedadakan ini juga.


"Lo bercanda!" Kairan menghubunginya.


BAB 2


Qiasa tidak pernah menyangka, kepergian sang Bunda untuk mengantar ayahnya berobat ke rumah sakit ternyata tidak akan pernah pulang selamanya.


Dari tetangga yang berada di tempat kejadian, dia mendapat kabar bahwa kedua orangtuanya dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan.


Hasil olah tkp polisi yang ada di sana, kesalahan ada pada keluarganya. Tidak tahu, apa karena si pelaku penabrakan adalah orang kaya, sehingga begitu mudah memutar balikkan fakta, atau memang yang salah adalah bundanya.


Menurut saksi mata, juga cctv yang ada di tempat itu, sang bunda salah menyalakan lampu sein kanan tapi malah berbelok ke kiri.


Hal itu membuat kendaraan yang ia bawa tersenggol badan mobil yang melaju dari arah belakang. Tidak sampai di situ, kendaraan lain yang juga melaju kencang, menggilas tubuh korban hingga luka parah di bagian kepala.


Qiasa tidak mampu membendung airmatanya mendapati sang bunda dinyatakan meninggal dunia setelah beberapa saat mendapat perawatan.


Di sepanjang selasar rumah sakit menuju ruang rawat ayahnya yang masih selamat, perempuan itu terus menangis hingga tidak sengaja menabrak seseorang yang juga sama tergesa.


Perempuan itu jatuh terduduk, tubuhnya yang gemetar terasa begitu lemas dan sulit sekali untuk bangkit, dia kembali menangis.


"Maaf, saya tidak sengaja." Seorang pria membantunya berdiri.


Qiasa lalu berterimakasih, dia sadar bukan sepenuhnya salah pria itu. Dan yang terpenting saat ini dia harus menemui ayahnya untuk memastikan pria paruh baya itu baik-baik saja.


Sesampainya di dalam ruangan, Qiasa menghambur pada ayahnya yang terlihat begitu lemah. Dia tidak kuasa memberitahukan tentang kondisi sang bunda pada pria paruh baya itu. Tapi tatapan pria itu seolah berkata bahwa dia sudah lebih dulu tahu semuanya.


"Bunda, Yah." Qiasa menangis di dada ayahnya. "Ayah jangan tinggalin Qia, cukup Bunda aja yang pergi, nanti Qia sama siapa?" rintihnya.


Sebelum kecelakaan pun, kondisi sang ayah memang cukup memprihatinkan. Beberapa kali dirawat di rumah sakit karena tubuhnya begitu lemah, sulit bagi pria itu untuk bertahan hidup lebih lama.


"Tadii, ayah bertemu Pak Ardi, Nak."


Suara sang ayah terdengar lirih, Qiasa menyuruhnya untuk diam saja dan jangan banyak berbicara. Hal itu akan membuat kondisinya semakin lelah.


Namun pria itu bersikeras ingin bercerita, mengatakan bahwa Pak Ardi adalah orang yang tidak sengaja menyenggol kendaraan yang dibawa sang bunda. Ayahnya ternyata mengenal baik pria itu cukup lama.


"Ayaah meminta diaa, untuk menjaga kamuu," jeda sebentar, napas pria paruh baya itu sedikit tersenggal. Namun tetap bersikeras untuk melanjutkan kalimatnya, "ayaah percayakan diaa agar mencarikaan suami yang baik untuk kaamu."


"Ayaaah." Qiasa menghapus airmatanya.  Daripada harus menikah, dia lebih tidak siap untuk kehilangan ayahnya. "Qia nggak mau nikah, Ayah. Qia juga nggak mau kehilangan ayah."


"Pak Ardii, menawarkan putranyaa yang masih lajang, kamu jangan menolak yaah. Mereka orang baik." Setelah mengutarakan kalimat panjang itu dengan amat pelan, sang ayah terlihat mengernyit. Namun tetap menyuruh Qiasa untuk tidak khawatir pada dirinya.


Bagaimana mungkin perempuan itu tidak khawatir, sampai kapanpun dia tidak siap untuk kehilangan satu-satunya anggota keluarga, yang saat ini dia punya.


"Qia masih sekolah, Yah. Qia belum mau menikah." Qiasa menolak dengan halus permintaan ayahnya.


Dengan pelan Pria itu menggeleng. "Rumah yang kita tempatii sudah bukan milik ayah, kita tidak punya apa-apa lagiih, ayah tidak mau kamu kesulitan nantinya."


Qiasa menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan tangisnya agar tidak pecah. Dia baru mengetahui fakta itu. Jika sudah begini, apa yang bisa dilakukannya?


***


Kairan mendatangi rumah sakit sesuai alamat yang diberikan oleh sang kakak. Sembari membuka ponselnya untuk menghubungi pria itu dia berbelok, tidak sempat menghindar saat seorang perempuan muda tiba-tiba muncul dan menabrak dirinya.


"Maaf," reflek Kairan saat mendapati perempuan itu jatuh terduduk. Sebelumnya dia memang tampak menangis, dan semakin tersedu saat terlihat kesulitan untuk berdiri. Kairan lalu membantunya. Dia meminta maaf sekali lagi.


Setelah berterimakasih, perempuan itu segera pergi. Kairan masih tertegun di tempatnya, dia menduga mungkin keluarganya tengah mendapat musibah.


Entah kenapa Kairan merasa sedikit terenyuh, tatapan putus asa perempuan itu terbayang-bayang di kepalanya.


Dering ponsel di genggaman tangannya  membuat perhatian Kairan teralihkan, panggilan dari sang kakak yang memberi tahu, di mana mereka berada.


Yang pertama dia cari adalah sang papi, pria itu menduduki kursi tunggu yang tersedia di sana, dengan mami yang mengusap pelan punggungnya. Raut wajah mereka terlihat gusar.


"Pi?"


Kehadiran Kairan di sana membuat semuanya menoleh. Sang mami beranjak berdiri, lalu menyuruh Kairan untuk duduk di sebelah suaminya.


"Korbannya meninggal dunia, gimana kalo papi dipenjara?" Ardi berucap lirih, terdengar seperti bergumam pada dirinya sendiri.


"Papi nggak salah, toh penyebab korban meninggal bukan karena papi yang melindasnya." Kairan yang sudah mendengar kronologis kecelakaan, dari sang kakak di sepanjang perjalanan tadi, memberikan kesimpulan.


Ardi menggeleng. Menangkup wajahnya dengan kedua tangan, tampaknya pria itu trauma saat kembali membicarakan kejadian. "Papi yang pertama nyenggol motor dia, Kai. Papi yang salah."


"Itu nggak sengaja, Pi. Bahkan polisi pun tidak bisa menyalahkan papi karena kesalahan korban sendiri." Kairan berusaha menghibur pria itu.


"Kamu tau nggak, siapa korban kecelakaan itu?" Sang mami yang ikut menyimak percakapan mereka kemudian bersuara. Lalu melanjutkan kalimatnya setelah putranya menoleh. "Istrinya Pak Agus. Pak Agus tukang kebun yang sering kita panggil buat bersihin taman. Ternyata dia sakit, makanya jarang keliatan."


Sesaat Kairan terdiam, mengingat sosok Pak Agus yang ibunya ceritakan. Tentu saja mereka mengenalnya, dan akan sulit bagi sang papa untuk tidak merasa bersalah.


"Ini takdir mereka, Mi. Kalo udah jalannya harus kaya gitu kita bisa apa."


Tidak ada tanggapan dari kedua orangtuanya, Kairan lalu mengalihkan tatapannya pada Arka, yang berdiri di sebelah istri dan adik mereka.


"Pak Agus punya satu anak yang masih sma, dia menitipkan anak itu sama papi." Tanpa diminta Arka bercerita, tampaknya Kairan sudah tahu arah pembicaraannya akan kemana.


"Terus, Kalian suruh aku buat nikahin anak itu? Kalo emang papi merasa bersalah, ya enggak harus dinikahin sama aku juga. Diangkat sebagai saudara kan bisa."


"Pak Agus meminta papi untuk menjaga putrinya, dan mencarikan jodoh yang baik untuk gadis itu. Lalu papi pikir, kenapa bukan kamu saja?" Ucap Ardi.


Kairan dapat menangkap maksud sang papi, yang begitu hati-hati mengutarakan usul gilanya. Dan dia menggelengkan kepala. "Kenapa harus aku?"


"Karena hanya kamu anak papi yang belum menikah. Kamu sendiri pernah meminta dicarikan jodoh, kan. Apa salahnya?"


Kairan sulit berkata-kata, sesaat bibirnya yang sempat terbuka justru bingung harus melontarkan kalimat apa. "Aku emang pengen nikah. Ya, tapi bukan sama anak kecil juga."


"Kita belum liat kan anak Pak Agus itu gimana." Arka yang sepertinya mengerti perasaan adiknya saat ini, ikut memberikan solusi. "Menurut aku, kita liat aja dulu, kalo emang Kairan nggak cocok. Kita bisa carikan pria lain, Pak Agus juga Pasti ngerti."


"Masalahnya, nggak ada pria lain yang papi percaya selain Kairan." Ardi menegaskan.


Kairan menghela napas pasrah, sepertinya sang papi memang tidak pernah tahu sepak terjang putranya dengan para wanita. Bisa-bisanya pria itu justru percaya pada dirinya, bahkan Kairan pun merasa tidak percaya pada dirinya sendiri.


***


Nerizen: Pelajaran yang kita ambil dari episode ini adalah, jangan suka nyalain sein kiri belok ke kanan. Dengerin tuh thor.


Author; kok jadi gua si, gue mah suka nyalain sein tapi kaga belok.


Netizen: yang dibelakang motor lu jengkel pasti.


Author: kayaknya


BAB 3


Setelah menemui orangtuanya di rumah sakit, Kairan berkata akan kembali pada teman-temannya saat mereka memutuskan untuk pulang.


Pak Agus mungkin tengah beristirahat, jadi mereka berniat menemui pria paruh baya itu besok saja. Pada dokter yang berjaga di sana, sang papi meminta untuk dikabari jika terjadi apa-apa.


"Jangan malem-malem pulangnya." Karin, maminya itu menyentuh pipi Kairan, menasihati putranya untuk tidak pulang larut malam, yang kemudian diiyakan oleh pria itu.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju bar tempat teman-temanya masih menunggu, Kairan memikirkan permintaan sang papi yang sepertinya sulit ia hindari. Bagaimana jika anak gadis Pak Agus ternyata tidak sesuai dengan kriteria perempuan yang dia cari.


Pada teman-temannya, Kairan menceritakan kejadian itu, mereka yang semula menyimak dengan tegang malah tertawa saat dia berkata akan dijodohkan dengan anak korban yang masih belia.


"Itu namanya doa lo terkabul, bukan bersyukur." Gema menimpali.


Mendengar itu Kairan berdecak sebal. "Ya enggak secepet ini juga," keluhnya. "Masih sma, bisa apa dia?"


"Ya bisa diajarin lah, tenang aja." Julian yang baru bergabung ikut bersuara, pria itu menaruh cemilan ke atas meja. "Lo mau gaya apa, tinggal ngomong. Anak sekarang cepet bisanya."


"Nggak ke situ ya, Panjul." Kairan mengomel.


"Ahaha, lo nggak usah ngerasa jadi korban deh. Jelas-jelas dia yang rugi dapetin lo. Lah diamah masih polos kali."


"Nah bener tuh, kan lo sendiri yang bilang minta cewek yang masih ori, SMA mayan lah apalagi dijaga sama bapaknya. Digrepe aja blom pernah gue rasa." Dengan tertawa, Bara ikut meledek sahabatnya.


"Eh jangan salah, anak SMA sekarang tampilannya ngelebihin ayam kampus. Lo ketemu dijalan nggak pake seragam nanyanya kuliah dimana." Gema yang mulai mengupas kacang di atas meja, mengutarakan pendapatnya. "Banyak juga anak sma yang nggak ori," imbuh pria beristri itu.


"Pengalaman pribadi lo ya." Julian melontarkan dugaan. Mengisi gelas kosong di tangan dengan minuman yang masih tersisa di botolnya.


"Enak aja," sewot Gema.


"Yaudah si, liat aja dulu anaknya kaya gimana. Kali aja cocok." Bara menghibur sahabatnya yang terlihat begitu murung. "Kalo lo nggak mau nggak bakal dipaksa juga, yakin gue."


Julian menepuk pundak Kairan yang duduk di sofa pojok sebelahnya. "Kalo lo nggak mau, entar gue aja yang nikahin dia," ucapnya.


Kairan berdecak. "Iya ambil aja."


Julian menanggapi dengan tawa. "Jangan maksain, Kai. Nikah nggak enak, Gema aja berantem mulu."


"Ngapa jadi gue si. Ya enak nggak enak lah, tergantung pasangannya juga si. Jangankan gue, Bara yang sabar aja sering ribut. Tanyain aja coba." Gema menunjuk temannya yang sama sudah menikah dengan menggerakkan dagu.


"Bener sih tergantung kitanya juga, gue kalo berantem nggak pernah lama. Pagi ribut malem akur lagi, harus dong." Bara mendapat lemparan kulit kacang dari Julian atas kalimatnya.


"Jangan dikira gue nggak paham ya. Bapak Bara."


Kairan diam saja saat teman-temannya sibuk bercanda, hingga salah satu dari mereka mendapat telepon dari istrinya. Gema.


"Iya, Sayang. Aku pulang nih, otw." Gema mematikan ponselnya, menggerutu pada sang istri yang terdengar cerewet sekali. "Nih begini kalo punya bini, Kai. Gue balik deh.


"Enggak juga, bini gue biasa aja." Bara melontarkan pendapatnya.


"Bini gue mah beda, bumbu racik serbaguna aja bisa jadi bumbu racik serba salah di depan dia mah."


Mereka tertawa, bersamaan dengan itu Gema beranjak berdiri dan pergi dari sana.


"Istri itu gimana kita juga si." Bara meletakan gelas kosong di tangannya ke atas meja. "Gue selalu izinin kalo istri gue kumpul sama temen-temennya, dia juga gitu. Saling percaya aja," tuturnya.


Kairan mencerna kalimat itu dengan seksama, setiap pasangan memang berbeda cara menjalankan rumah tangganya. Tapi bagaimana jika ternyata yang ia nikahi benar-benar belia, bahkan dengan Kania sang adik saja, dia lebih sering ribut daripada akurnya.


Kairan tiba-tiba teringat dengan perempuan yang tidak sengaja ditabraknya semalam, dia berharap bisa kembali bertemu dengan dirinya.


***


Hari ini Qiasa tidak masuk sekolah, dia izin pada wali kelasnya dan mengabarkan berita duka atas meninggalnya sang bunda. Mereka tentu ikut berbelasungkawa, ramai grup sekolah berisi kalimat penyemangat untuk dirinya.


"Ayah mau makan apa? Mau Qia kupasin buah nggak?" Qiasa mengusap punggung tangan sang ayah yang sudah mulai keriput. Raut wajah pria paruh baya itu semakin pucat saja. Dia tidak tega melihatnya.


"Nggak usah, Sayaang. Aayah, ngantuk." Dengan lemah, Pak Agus menjawabnya.


"Yaudah, Ayah istirahat aja ya." Qiasa selalu takut jika melihat ayahnya tertidur, dia terlalu khawatir pria itu tidak mau kembali bangun.


Qiasa mendudukkan tubuhnya di sofa. Tempat ini tidak seperti ruangan yang biasa ayahnya tempati saat dirawat. Om Ardi sepertinya memberikan fasilitas yang terbaik untuk ayahnya di rumah sakit ini.


Pagi tadi mereka datang untuk menjenguk ayahnya. Kemudian berkata bahwa sore sepulang kerja, Kairan akan datang menemui Qiasa. Kairan adalah putra mereka yang akan dijodohkan dengan dirinya.


Hal itu membuat Qiasa gugup seharian, sampai lupa makan dan saat ini dia justru kelaparan. Pada suster yang kebetulan datang memeriksa sang ayah, dia izin ke kantin untuk mengisi perutnya.


Tidak banyak pilihan makanan di kantin rumah sakit, Qiasa mengambil sebungkus roti dan lemper isi ayam yang terpajang di atas meja. Minumnya dia pilih air putih saja.


"Kamu yang kemaren nabrak aku kan?" Seorang pria tinggi berpakaian rapi menyapa Qiasa, saat dia mendudukkan dirinya di bangku kantin dan meletakan makanannya di atas meja.


"Bukannya kamu yang nabrak aku?" Qiasa merasa pria itu familiar di matanya. Seperti entah mirip siapa, atau mungkin karena pernah sekali bertabrakan dengan dirinya.


"Kamu mau aku minta maaf lagi?" Pria itu mengangkat alisnya tinggi.


Qiasa menggeleng. "Nggak usah, aku juga salah," balasnya.


"Ngapain di sini? Ada yang sakit?"


"Ayahku." Qiasa tidak ingin mengakrabkan diri dengan orang baru di hadapannya. Untuk itu memilih jawaban singkat agar percakapan mereka tidak bermakna.


"Ooh." Pria itu mengangguk, tampak tengah memikirkan topik lain untuk melebarkan percakapan mereka. Qiasa memilih diam saja.


"Kamu kuliah di mana?"


"Masih sekolah." Dari caranya tersenyum saat berbicara, Qiasa dapat menduga pria itu biasa merayu seorang wanita, dia lalu memutuskan untuk pergi dengan berkata harus kembali menemui ayahnya. Padahal hanya ingin menghindari orang itu saja.


Meski tampan, pria itu tidak masuk ke dalam kriteria calon pasangannya.


***


Kairan membawa buah-buahan untuk menjenguk Pak Agus di rumah sakit, pria itu memeriksa pesan dari sang mami yang mewanti-wanti agar dia bersikap baik pada calon istrinya.


Kairan berdecak sebal saat kata calon istri dipilih oleh maminya untuk menyebutkan perempuan itu. Padahal dia belum tentu setuju.


Saat melewati kantin rumah sakit, Kairan menajamkan pandangannya ketika mengenali seseorang. Perempuan itu, perempuan yang ditabraknya semalam. Dia lalu menghampirinya.


Alih-alih menyapa, Kairan justru kembali membahas masalah tabrakan semalam yang membuat perempuan itu terlihat kesal. Dia bingung harus membahas apa. Lalu memikirkan cara untuk bisa mengobrol lebih lama.


Cantik dan terlihat cerdas adalah kesan kedua yang Kairan dapat tangkap dari pertemuan mereka kali ini. Berbeda dari kerapuhan yang dia tunjukkan semalam. Kairan semakin penasaran.


Perempuan itu beranjak berdiri, lalu merapikan makanan di atas meja. "Aku duluan yah, ayahku sendirian soalnya." Setelah mengutarakan kalimat itu, dia pergi begitu saja.


"Siyal." Kairan mengumpat kesal, namun kemudian tersenyum. Sikap tak acuh perempuan itu mengusik kedamaian hatinya.


Namun entah kenapa, Kairan suka dengan sikap jual mahal perempuan itu. Sangat berbeda dari kebanyakan wanita yang didekatinya.


"Namanya siapa ya, kenapa nggak gue tanya."


***


Author: Apa pelajaran yang dapat ditangkap dari bab ini ges.


Netizen: pokoknya kalo lagi kesel, tepung bumbu serbaguna juga jadi tepung bumbu serba salah di mata gue thor. Bener itu.


Author: ya enggak yang itu juga.


Netizen: gue ingetnya itu.


Anaknya Kanjeng ribet sama agan omes, udah ada 12 bab di K B M a p p jan lupa mampir yaaa. buat yg mau nengokin Kairan aja si, kalo gak mau yaudah gak apa apa, gausah marah marah. wkwkwk

__ADS_1


judulnya KUMANDANG CINTA


__ADS_2