
"Tante, anaknya aku cubit boleh nggak? Ngobrolnya sama aku tapi ngomongin tunangannya mulu." Ardi mengadu pada wanita yang duduk di sofa tunggal di hadapannya, Carla yang tampak sibuk membuka-buka majalah di pangkuannya kemudian mendongakkan kepala.
Karin tertawa, dan malah dia yang mencubit lengan Ardi hingga mengaduh. Gadis itu memang sengaja menceritakan perihal sang tunangan yang dia ketahui dari sang mami, dia sengaja memanas-manasi.
"Heran, kalian tuh sebenernya berantem terus kenapa bisa jadi saling suka sih." Carla menyilangkan kaki, menaruh majalah ke atas meja.
Kedua pasangan di hadapannya itu saling melempar pandangan, kemudian sama - sama mengangkat bahu.
"Ini jadinya tunangan Karin mau dateng apa nggak, Tan, aku nungguin loh." Ardi menegakkan tubuhnya.
"Nggak tau belum dikabarin lagi ini."
"Nggak on time, Tan, keseriusannya masih diragukan."
Carla mengangguk, "Tante juga sebenernya kurang setuju sih, soalnya kelihatannya masih labil."
"Harus dipikirkan baik-baik, Tan, takutnya itu orang nggak serius."
Carla mengangguk-angguk, "menurut kamu, lamaran orang itu harusnya diterima apa nggak?"
"Jangan, Tan, ngak usah, mendingan juga Tante terima lamaran aku."
Entah kenapa Karin tampak menahan senyum, gadis itu sepertinya sudah tau sesuatu.
Carla beranjak berdiri. "Kalian itu sama aja," ucapnya kemudian melangkah pergi.
Ardi mengerutkan dahi, kemudian menoleh pada gadis di sebelahnya. "Dek, bantuin abang buat yakinin mami kamu, dong."
Karin tertawa pelan, "usaha dong, Bang, masa gitu aja nyerah."
***
Di perjalanan, Jino tampak ribut menanyakan mau ke mana mereka jalan-jalan, bocah itu memang selalu ingin tahu akan sesuatu.
"Berisik," omel Nino sang abang, "tungguin aja sih, nanti juga nyampe, " imbuhnya, kemudian kembali fokus pada ponsel di tangannya.
Jino memberenggut, anak itu mengguncang lengan sang oma yang nyaris tertidur di kursinya. Berada di dalam mobil selalu saja membuat wanita paruh baya itu jadi mengantuk.
"Apa sayang?" Tanya Marlina setengah sadar. "Nanya mami kamu aja, oma juga nggak tau," jawabnya saat sang cucu mengutarakan pertanyaan yang ingin dia tau.
"Mi, mau kemana si." Jino yang mencondongkan tubuhnya pada sang mami membuat wanita yang duduk di samping kemudi itu kemudian menoleh.
"Mau ke rumah Tante Karin. Sayang."
"Mau ngapain?" Malah Marlina yang bertanya, sejak wanita itu disuruh merapikan diri karena akan berkunjung ke rumah seseorang, di tidak menanyakan mau kemana, dia pikir mau ke rumah Juan seperti biasa.
Nena menatap lekat sang ibu yang sepertinya sudah sepenuhnya terjaga, "gini ya, Bu, waktu Pak Hendrik mengajukan permintaan maminya Karin dibebaskan, Mas Justin meminta syarat berupa restu untuk Ardi meminang putrinya."
Marlina mengerjap dua kali, kemudian mengangguk, "oh," gumamnya, sembari mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan sang menantu di hadapannya itu. "Eh, gimana-gimana?"
Nena menghela napas, menoleh pada sang suami yang tampak sibuk mengemudi, namun kemudian pria itu menoleh sekilas. "Jadi aku lamarin Karin buat Ardi, Bu," ucap Justin setelah kembali menatap jalanan.
Marlina reflek menutup mulutnya dengan sebelah tangan, merasa tidak percaya, namun dia juga ikut senang, tapi, "gimana dong, jadi yang kemaren ibu doin jelek-jelek buat tunangan Karin itu buat siapa?"
__ADS_1
Mengingat itu Nena jadi tertawa, "ya buat anak bungsu ibu," ucapnya menggoda.
Marlina tampak menyesal, "Ya Allah ibu nyumpain anak sendiri," ucapnya penuh penyesalan.
"Makanya ibu jangan suka doain yang jelek-jelek, jadi berbalik sendiri kan." Nena menasihati, masih berusaha menahan tawa, dan Justin sudah cekikikan di tempatnya.
Nino melirik orang dewasa di sekitarnya itu dengan bosan, anak itu berdecak sebal.
Sedangkan Jino tampak lebih kepo dari sebelumnya, anak itu kembali menanyakan pertanyaan baru, seputar apa yang menjadi pembahasan antara mereka yang tampak begitu seru, sebagai anak kecil yang dalan fase ingin tahu, dia begitu amat penasaran.
"Gimana dong Nena, mana kemaren ibu doain biar tunangan Karin kena kadas, kurap kutu air."
Nena tidak bisa menahan tawa, wanita itu membungkam mulutnya sendiri.
"Gimana ini masa anak ibu ganteng-ganteng panuan, nggak elit banget dong." Marlina semakin menyesal, ditunjukkan dari nada suaranya yang seperti ingin menangis, dan Nena sudah menangis karena tertawa.
***
"Katanya duduk-duduk lebih dari dua belas jam sehari, dapat meningkatkan resiko kematian, biar nggak cepet mati, gimana kalo kita jalan-jalan." Ajak Ardi saat mereka sudah beralih duduk di sofa ruang keluarga.
"Jalan kemana?" Tanya Karin.
"Ya jalan-jalan aja ngapain di sini."
"Aku lagi nungguin tunangan aku, Bang."
Suara bel di pintu membuat keduanya menoleh, dan entah datang dari mana Carla yang tiba-tiba muncul menyongsong kedatangan tamunya dengan amat bahagia.
Ardi tidak ikut berdiri, pemuda itu malah menyandarkan tubuhnya pada sofa, entah sampai kapanpun dia tidak akan pernah siap untuk hal semacam ini. "Yaudah, aku tunggu di sini ya," ucapnya lemah, "sana kamu samperin tunangan kamu," imbuhnya tidak berdaya.
Karin tersenyum, kemudian mengangguk, lalu beranjak ke ruang tamu, dia mendengar sang mami tampak mengobrol dengan seseorang, gadis itu sedikit melongok di balik tangga, mengintip siapa yang berkunjung ke rumahnya, kemudian dia tersenyum senang dan kembali menghampiri abangnya.
Melihat gadis itu amat bahagia membuat Ardi semakin sedih saja.
Karin tidak bisa untuk tidak tersenyum, gadis itu melirik sang abang yang tampak keki di tempatnya. "Kenapa sih, Bang?" Tanyanya.
"Seneng banget kamu?"
Karin tertawa pelan, "iya dong karena ternyata tunangan aku tuh ganteng banget," godanya kemudian.
Ardi semakin terlihat merana, bersamaan dengan itu seorang bocah yang dia kenali suaranya terdengar memanggil nama.
"Om Ardi!" Jino berlari kemudian menubruk sang om dan naik ke pangkuannya.
Ardi tertegun, masih belum bisa mengerti dengan situasi sekarang ini. "Jino?" Tanyanya bingung. "Ngapain?" Ulangnya sekali lagi.
"Main," jawab bocah itu polos, "sama mami, papi, oma, sama Bang Nino," jelasnya.
Ardi mengerutkan dahi, kemudian menoleh pada gadis di sebelahnya yang tampak menahan tawa. "Dek?" Tanyanya, hanya satu kata dan mewakili semua pertanyaan yang bercokol di kepala pemuda itu.
__ADS_1
Karin mengangguk, "iya, Bang, tunangan aku ternyata abang, aku juga baru tau sih tadi siang," ucapnya hati-hati.
Ardi memejamkan mata, mengingat betapa bodoh sikapnya selama ini, pemuda itu memeluk Jino yang masih duduk di pangkuannya, kemudian mengerang panjang.
Dia lega, tapi kesal juga. Selama ini hatinya dipermainkan ternyata.
"Bang, jangan marah." Karin menyentuh lengan pemud itu dan membuatnya menoleh.
"Om Ardi kenapa?" Tanya Jino yang membuat sang om beralih menoleh padanya.
Ardi menggeleng, "Nggak apa-apa sayang, hanya saja om ngerasa jadi kamu sekarang," balasnya.
"Hah? Kenapa, Om?" Tanya bocah itu semakin bingung.
Ardi menggeleng, "kalo om mau pukulin papi kamu boleh nggak?"
Jino menggeleng, "jangan, Om, kata mami nggak boleh berantem," ocehnya.
"Nggak apa-apa, nanti om cariin papi baru buat kamu."
"Nggak mau," rengek bocah itu.
Ardi kembali memeluknya, selain kepolosan anak di pangkuannya, dia juga punya alasan lain untuk tertawa, tentu saja karena bahagia, ternyata gadis yang saat ini tersenyum ke arahnya itu tidak akan kemana-mana.
Pemuda itu kembali mengulang ingatan, mengaitkan beberapa kejanggalan sikap sang abang, juga kata-kata yang sering pria itu lontrkan.
Tidak ada yang sia-sia dari sebuah usaha yang kamu telah berhasil mendapatkannya.
Pesaing yang harus kamu takuti di dunia ini adalah diri kamu sendiri.
Selain beberapa kalimat yang ia dengar dari sang abang waktu itu, yang paling membekas adalah celetukan Mbak Nena.
Bilangin kalo kamu udah mulai gatel-gatel, nanti aku siapin salep obat kurap.
Sialaaaaaan.
**iklan**
Netizen: kenapa dipotong thor, kan gue mau liat Ardi ngamuk sama abangnya.
Author: ya lagian ngapain lo nongol.
Netizen: jadi salah gue nih.
Author: besok aja ngamuknya udah jam 7.30 nih, hari sabtu. Ngirim jam segini upnya jam berapa ya.
AN: makasih buat kalian yang udah ngasih poin, aku nggak nyangka sampai bisa sejauh ini huhuhu. Tambahin lagi ya. Semangaat.
Salam santuy, tetaplah haha hihi walau harga sembako mahal sekali. 🤣🤣
__ADS_1