NOISY GIRL

NOISY GIRL
MARAH


__ADS_3

Justin tertawa saat melihat putranya bisa tengkurap sendiri, pria itu bertepuk tangan, memberi pujian pada salah satu anaknya yang mulai aktif.


 


 


"Pinter banget kamu," ucapnya sembari mengulurkan tangan untuk menggendong, "Jinooo," panggilnya kemudian, membuat bocah yang baru berusia beberapa bulan itu tertawa.


 


 


Justin menoleh pada Nena, wanita itu tampak tersenyum.


 


 


"Tumben kamu bener nyebutin namanya," ledek sang istri yang membuat pria itu malah merasa bangga, akhir-akhir ini satu putranya tampak lebih aktif dari saudaranya yang lain, untuk itu Justin bisa membedakannya sekarang.


 


 


"Jagon Papi nih, Jinoo." Justin kembali memuji sembari mengangkat putranya tinggi-tinggi.


 


 


Nena yang semula sibuk mengganti selimut di ranjang anak kembarnya jadi mendekat, "nggak boleh gitu, Mas, ntar jatoh," omelnya.


 


 


"Dipegangin, Sayang." Justin mencondongkan tubuhnya, menggoda sang istri yang jadi memundurkan kepala, bayi digendongannya ia cium berkali-kali. "Maminya nggak mau dicium, papi cium kamu aja deh."


 


 


Nena tertawa pelan, kemudian teringat sesuatu, "tadi Karin ke sini tau, Mas."


 


 


Justin yang semula fokus bermain dengan bayi di gendongannya kemudian menoleh, "kok bisa?" Tanyanya.


 


 


"Tadi Ardi yang bawa–"


 


 


"Diculik?"


 


 


"Dengerin dulu dong, aku mau cerita." Nena jadi sebal sendiri, kemudian menceritakan tentang Karin yang ternyata dijodohkan dengan teman Ardi. Dan suaminya itu malah tertawa. "Kenapa ketawa sih, Mas?"


 


 


"Si Ardi tuh kisah cintanya pelik juga ya."


 


 


Nena mengangguk, "lebih berat dari perjuangan kamu lah."


 


 


"Beratan perjuangan aku dong, Yang. Aku disuruh jadi wali kamu, pas endingnya malah disuruh jadi saksi lebih, cepet dikit bilang sah juga kamu udah jadi istri orang."


 


 


Nena tertawa, kembali mengingat kisahnya dulu dirinya selalu saja merasa lucu. Wanita itu mengambil Jino dari gendongan sang suami kemudian ia taruh di atas kasur. "Makanya kamu jangan nambah-nambahin, pake nyuruh Ardi kuliah di luar negri, makin pelik aja dong kisah mereka."


 


 


Justin menghela napas, "abisnya kalo nggak gitu nanti mereka kebablasan," ucapnya, kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah si kembar.


 


 


Nena duduk di tepi ranjang, menatap suaminya itu tidak mengerti. "Ardi nggak kaya gitu, Mas."


 


 


Sang suami yang semula menatap langit-langit jadi menoleh. "Nggak gitu gimana, kalo udah sering berdua, siapa yang tau kedepannya bakal jadi apa."


 


 


"Dulu kamu juga sering berdua sama mantan kamu itu, tapi nggak ngapa-ngapain."


 


 


Justin berdecak, "aku kan beda, lagian kalo diperhatiin, Ardi itu lebih agresif dari aku kayaknya."


 

__ADS_1


 


Nena tertawa mendengus, "yaiyalah dia pacarnya sebulan sekali ganti, pengalamannya banyak, tapi buktinya nggak ada orang tua yang datengin kita minta pertanggungjawaban buat anak gadisnya, ya berarti Ardi itu nggak macem-macem."


 


 


"Tapi sama Karin tuh beda, Sayang. Mereka satu rumah."


 


 


"Tinggal nikahin aja sih, Mas."


 


 


Justin reflek mendudukkan dirinya, menyentil kening sang istri hingga mengaduh. "Sembarangan kalo ngomong, makin nggak dihargain dia sama si Hendrik itu."


 


 


Nena berpikir sejenak, yang dikatakan suaminya ada benarnya juga, "gimana Mas rencana kamu buat beli tanah itu?" Tanyanya kemudian.


 


 


"Lumayan sih, separuh dari mereka udah pada setuju, tinggal ibu ngeyakinin yang lain, emang yah ibu-ibu ketemu sama ibu-ibu tuh jadi klop, aku baru tau." Justin takjub sendiri, pasalnya teori itu baru ia sadari.


 


 


"Jadi kamu udah siap nih jadi sales bapperwarenya ibu di kantor."


 


 


Justin beranjak berdiri, menghampiri sang istri kemudian memeluknya. "Itu biar jadi urusan William sama Alvin, aku nggak ikutan."


 


 


"Dih, curangnya." Nena menoleh pada sang suami yang wajahny sudah begitu dekat.


 


 


Justin mencebikkan bibir, seumur-umur belum pernah dia jadi sales, bapperware pula. Jika bukan karena wanita itu adalah ibu kandungnya, orang lain berani bayar berapa.


 


 


"Aku nggak bisa ngerayu wanita lain buat beli bapperware, ngerayu kamu aja dicuekin terus."


 


 


 


 


"Ini sekarang lagi ngerayu, mau nggak?" Justin mulai mencium leher Nena, hingga wanita itu menggeliat geli. Dan ketukan di pintu membuat keduanya menoleh.


 


 


Nena beranjak berdiri, namun Justin menariknya, "biarin aja, pura-pura tidur," bisiknya.


 


 


"Nggak boleh gitu, ah. Takutnya ibu butuh sesuatu," ucap Nena, beranjak menghampiri pintu kemudian ia buka. "Kenapa, Bu?" Tanyanya.


 


 


"Telfonin Ardi, Na, ibu khawatir." Sang ibu yang tampak panik menggenggam tangan putrinya, membuat wanita itu jadi bingung.


 


 


"Kan tadi Ardi nganterin Karin pulang," ucap Nena mengingatkan.


 


 


"Tapi perasaan ibu nggak enak, Na."


 


 


"Udah ibu tenang aja, Ardi pasti nggak apa-apa." Nena mengantarkan sang ibu kembali ke kamarnya, Nena terus meyakinkan bahwa putranya yang ia khawatirkan itu baik-baik saja.


 


 


"Mau kemana, Mas?" Tanya Nena saat membuka pintu kamar dan suaminya itu malah keluar.


 


 


"Ambil minum," ucapnya, menunjukan gelas di tangan kanan. "Di dalem abis," imbuhnya, kemudian melangkah ke dapur.


 

__ADS_1


 


Justin hendak kembali ke kamar saat ketukan di pintu akhirnya membuat langkahnya berbelok.


 


 


Pria itu membuka pintu dan terkejut saat seseorang di balik benda itu malah menubruknya hingga membuat gelas di tangan kanannya jatuh. Suara pecahannya menimbulkan kegaduhan.


 


 


"Ar, Kamu kenapa?" Justin mengguncang tubuh sang adik yang terkulai lemas di bahunya, pemuda itu terlihat pucat. Dan bercak merah di punggungnya membuat Justin curiga.


 


 


Pria itu menarik lepas kaus yang  dikenakan Ardi, dan dengan apa yang dia lihat di hadapannya itu, Justin begitu murka.


 


 


Mendengar kegaduhan yang ditimbulkan oleh pecahan gelas, Marlina  menghampiri sumber suara, dan terkejut mendapati keadaan putranya yang tampak mengenaskan, "astagfirullah," pekiknya, menarik kepala anak bungsunya itu ke dalam pelukannya. "Kamu kenapa?" Tanyanya sesenggukan.


 


 


"Ardi nggak apa-apa, Bu," ucap pemuda itu lirih, nadanya tampak bergetar.


 


 


Justin yang terlihat amat marah meraih kunci mobil dan beranjak menghampiri pintu, sang istri yang sudah berada di sana kemudian menghadangnya.


 


 


"Kamu mau kemana?" Nena menarik lengan suaminya.


 


 


"Aku mau kasih Hendrik Gunawan itu pelajaran, memangnya siapa dia," ucap Justin kesal.


 


 


"Mas." Nena memeluk suaminya itu dari belakang, mencegah pria itu yang kembali ingin melangkah ke luar rumah. Dari raut wajahnya yang tampak murka, dia takut terjadi apa-apa. "Sabar, Mas. Kamu nggak biasanya lepas kendali kaya gini," ucapnya yang membuat sang suami berhenti melangkah.


 


 


"Aku selama ini diem, bukan berarti nggak berani sama dia," geram Justin.


 


 


Nena yang sudah melepaskan rangkulan dari suaminya itu beralih mengusap pundaknya. "Mendingan kita urus Ardi dulu, Mas. Dia lebih butuh bantuan kita."


 


 


Justin menghela napas kesal, setelah meminta sang istri untuk mengambilkan ponselnya, pria itu menghampiri sang adik yang tergolek di sofa dan menggendong pemuda itu di punggung, mengantarkannya ke dalam kamar.


 


 


Nena menyerahkan ponsel Justin, dan pria itu langsung menghubungi dokter keluarganya untuk datang mengobati sang adik.


 


 


Setelah itu menghubungi Alvin juga William, untuk perbuatannya kali ini, Hendrik harus mendapatkan pelajaran.


 


 


 


 


***



 


Jangan lupa klik undian tahun baru ya, itu loh yg aku buletin, kalian bisa dapet banyak bonus termasuk poin. Nanti poinnya sumbangin buat noisy girl wkwkwk, ditunggu loh 😘



Dan dari setiap novel yang kalian kasih ucapan itu kalian bisa dapet bonus poin juga loh. Jangan lupa diambil yaa 😘😘



Bang Ar nya lagi sakit, nggak banyak nongol.



Anak setan lagi di sekap sama bapaknya, nggak bisa kemana-mana.


 


Buat yang kangen sama Buronan mitoha, besok ya insya Allah. Jangan lupa vote poin nya ya saayy. Klik undiannya di mangatoon.


 


 

__ADS_1


__ADS_2