
Nino membanting tas yang ia bawa ke atas meja, kemudian duduk di kursi dan mengambil roti selai yang disodorkan oleh tantenya.
Bocah itu memberikan tatapan kesal pada pria yang juga menatapnya, "gara-gara Om, aku jadi nggak masuk sekolah," ucapnya, kemudian menggigit roti di tangan dengan tidak bersemangat, padahal dirinya sudah memakai seragam dan begitu rapi, tapi para orang tua di hadapannya itu seperti pura-pura mati saat dirinya mengetuk pintu, sungguh dia teramat kesal sekali.
Ardi masih mengunyah jatah sarapannya dengan perlahan, dari piyama yang dua kancing atasnya tidak dirapikan, juga rambut yang masih acak-acakan, menandakan bahwa pria itu belum membersihkan diri selepas pertempuran. "Yaudah si nggak usah sekolah, lagian baru pertama masuk paling beres-beres aja," usulnya meremehkan, kembali menggigit roti di tangannya yang membuat bocah di hadapannya itu semakin kekesalan.
"Hari ini tuh aku ada pertemuan penting, om nggak tau betapa aku lama menunggu bisa masuk sekolah lagi, tau bakalan kaya gini mendingan aku ikut papi aja ke luar kota."
Ardi berdecih, pertemuan penting katanya, dirinya yang mengundur rapat untuk beberapa jam kemudian juga biasa saja. "Anak kecil, ada pertemuan macam apa? " Tanyanya.
Nino melengos, menoleh pada Karin yang baru saja selesai meracik segelas susu untuk dirinya dan secangkir kopi untuk suaminya. "Ya pokoknya penting. Orang dewasa nggak bakal ngerti."
Ardi tertawa pelan, baru kali ini dia merasa diremehkan sebagai orang yang lebih dewasa dari anak yang bahkan belum ada sampai setengah usianya. "Besok aja sekolahnya," ucapnya memberi usul.
Karin yang sibuk mengoleskan selai pada roti untuk dirinya sendiri jadi bingung, dengan kedua laki-laki yang masih saling melontarkan tatapan sengit di hadapannya, sepertinya jiwa mereka tertukar, bagaimana bisa suaminya itu begitu santai, sedangkan Nino yang gagal sekolah malah terlihat lebih menyesal. "Maafin tante ya, Nino."
Nino melirikkan matanya pad sang tante yang jelas-jelas merasa bersalah, anak itu menghela napas. "Hari ini ada jadwal olah raga, dan digabung dengan kelas sebelah, cuman hari ini aja Tan, dan aku gagal."
Ardi tertawa, "digabung sama siapa si? Dedek gemes ya?" Godanya, dan bocah yang sibuk mengunyah di hadapannya itu memilih diam saja.
Ardi menggelengkan kepala, merasa heran kenapa anak sekarang begitu cepat proses pertumbuhannya, dulu bahkan saat dirinya sudah kelas lima, hal yang membuatnya merasa takut hanya kala menjadi petugas bendera saat upacara, takut jika lagu kebangsaan sudah selesai dan sang merah putih malah belum juga sampai, itu saja sepertinya.
"Anak kecil nggak boleh naksir-naksir." Ardi menyindir.
***
Keesokan harinya Nino yang bersekolah diantar oleh omnya kini dijemput oleh pria itu juga, Nino diam saja saat sang Om melambaikan tangan ke arahnya, laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada badan mobil.
"Eh, Nino Nakula, siapa itu?" Tanya seorang ibu yang tengah menunggu anaknya keluar kelas, ibu yang sering sok akrab padanya saat sering dijemput oleh sang papi kini tampak begitu penasaran dengan pria tampan yang menjemput dirinya.
"Iya, Nino, kenalin dong sama tante." Salah satu temannya ikut bertanya.
Nino berdecak malas, "supir," balasnya.
Mereka yang mendengar itu tampak terkejut, "orang kaya emang beda, supir aja gantengnya kaya oppa Korea, ya ampuun gimana tukang kebunnya."
"Ah, aku penasaran sama scurity di rumahnya."
Mereka jadi heboh. Dan seorang Nino Nakula tentu tidak peduli akan hal itu, dia melangkah pergi menghampiri sang om yang kini melipat tangannya di depan dada.
"Supir?" Ardi bertanya menyindir.
Nino yang sudah memegang pintu mobil kemudian menoleh, "bercanda, Om," ucapnya tanpa ekspresi bersalah, apalagi merasa menyesal. Anak itu hanya menyuguhkan wajah datar untuk alasannya.
Setelah itu keduanya masuk ke dalam mobil, dari kaca spion dalam Ardi melirik pada Nino yang tampak menoleh ke arah luar, tersenyum saat anak perempuan seumuran dirinya melambaikan tangan, sebagai orang dewasa dia hanya mampu menggelengkan kepala.
"Om, aku laper," ucap Nino saat kendaraan yang mereka tumpangi mulai membelah jalan raya.
Ardi menoleh sekilas, "minta makan sama papi kamu sana, masa minta sama supir," sindirnya yang terlihat masih tidak terima dengan pengakuan anak itu didepan ibu teman-temannya.
Nino berdecak, melipat tangannya di dada, persis orang dewasa yang tengah mengawasi anak buahnya. "Baperan banget Om Ardi, kaya ibunya Malin Kundang deh," ucapnya lagi.
Ardi mengerutkan dahi, "Kenapa Ibunya Malin Kundang sih? Dia baper kenapa coba?" Tanyanya sembari membelokkan kemudi untuk mencapai tempat tujuan.
"Ya baperan lah, anaknya aja sampe dikutuk jadi batu," ucap Nino sok tau.
Ardi berdecih, "dia itu kan durhaka, sama kaya kamu juga kalo kurang ajar nanti aku kutuk jadi sendok semen mau?"
Nino melengos, dari sekian banyak jenis kutukan, kenapa pilihan omnya malah sendok semen, memangnya tidak ada yang lebih elit lagi apah. Belum sempat dirinya menanggapi, laju kendaraan yang tiba-tiba berhenti membuat bocah itu keheranan. "Kenapa berhenti di pinggir jalan sih, Om? Aku udah laper nih."
__ADS_1
Ardi menoleh ke belakang, "kamu mau duduk di depan atau aku turunin sekalian di pinggir jalan," ancamnya.
Nino mengerutkan dahi, "Kenapa sih? Aku mau duduk di sini aja enak lega."
"Aku bukan supir ya Nino Nakula, ayo cepat pindah ke depan."
"Ya ampun, Om gitu aja juga."
"Mau pindah ke depan apa mau kelaparan. Mobil ini nggak bakal mau jalan." Ardi kembali mengancam.
Nino berdecak kesal, " oke, oke aku pindah ke depan," ucapnya, dengan terpaksa mengiyakan.
***
Nino tidak bertanya akan kemana, namun saat mobil yang ia tumpangi masuk ke area hotel yang pernah dulu dia dan keluarganya datangi, dia tau ini hotel sang tante, pria itu tentu akan mengajak istrinya makan siang sekalian.
Karin melambaikan tangan saat mendapati sang suami juga keponakannya sudah berdiri di ujung koridor, namun perempuan itu tidak sengaja bertemu dengan klien sang papi yang malah mengajaknya untuk mengobrol.
Ardi yang melihat hal itu sebenarnya ingin menunggu. Namun Nino mengajaknya untuk mendekat. Karin menoleh, begitu juga dengan seseorang yang mengajaknya berbicara, dan melihat orang itu, ingatan Ardi terputar ke masa lama.
"Ardian?"
Karin ikut terkejut, klien sang papi ternyata mengenal suaminya. "Pak Domi kenal suami saya?" Tanyanya.
Pria bernama Domi yang semula mengarahkan tatapan pada Ardi yang terlihat diam saja kemudian menoleh pada Karin karena ucapannya. "Suamimu?"
Ardi menghela napas, dia tau saat seperti ini cepat atau lambat pasti ia dapati, hanya saja kenapa harus dengan situasi sekarang ini.
"Hay, Dodit," sapa Ardi pada pria yang pernah menjadi bagian dari masalalu, kisah terburuk yang menghantui masa remajanya, dan pada wajah itu, dia menolak untuk melupakannya.
Karin yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya bisa diam, dia heran kenapa suaminya itu terlihat begitu seram. "Bang Ar kenal Pak Domi?" Tanyanya sembari melingkar kan tangannya pada lengan pria itu.
"Kami dulu sempat dekat, benar begitu kan, Ardian?"
"Ya, cukup dekat," balas Ardi.
Karin tidak mengerti, kenapa aura kedua pria di sekitarnya ini teramat ngeri, namun perempuan itu berusaha untuk tidak terlalu peduli.
"Aku lapar," Ucap Nino yang kemudian membuat Karin menoleh, perempuan itu terlihat khawatir.
"Kamu duluan aja, aku masih ada urusan sebentar," ucap Ardi sembari menyentuh pundak sang istri. Perempuan itu mengangguk, setelah berpamitan pada pria bernama Dominic itu kemudian ia melangkah pergi bersama keponaknnya.
"Lama yah, kita nggak ketemu." Dominic atau yang biasa disapa Dodit itu berucap setelah istri dari teman lamanya itu menjauh.
Ardi mengangguk tanpa ekspresi, "cukup lama setelah kamu dikeluarkan dari sekolah, selepas mukulin aku," tuturnya.
Dominic tertawa, "hanya masa lalu, kukira kamu sudah lupa, ah iya dengar-dengar kamu sempat trauma juga," ucapnya.
Ardi melengos, dulu dirinya masih terlalu muda, mendapati penganiayaan yang nyaris merenggut nyawanya, bagaimana dia tidak trauma.
Mendapati pria di hadapannya diam saja, Dominic berucap lagi," anak yang tadi itu, Anak kamu?" Tanyanya.
Ardi tidak menanggapi, "kuharap kita tidak lagi punya urusan setelah ini," ucapnya penuh peringatan.
Dan pria di hadapannya itu kembali tertawa, "tidak bisa ya, kalo kita berteman saja?" Tanyanya.
__ADS_1
Ardi menghela napas, setelah berkata terserah, pria itu pamit undur diri untuk menemui istrinya.
"Ardian," panggil Dominic yang membuat pria itu menoleh. "Istrimu, cantik," ucapnya kemudian, senyumannya tampak mengancam.
Ardi terdiam, seperti jalan raya yang selalu diinjak-injak, dia pun dapat memberi luka meskipun tidak harus bergerak. Pria itu bersumpah, tidak akan membiarkan laki-laki di hadapannya itu hidup dengan bahagia, jika terjadi apa-apa dengan keluarganya.
"Hn?" Ardi mencoba ikut tersenyum, "terimakasih," balasnya.
****
Mereka memutuskan untuk makan di Restoran dekat Larasati hotel yang terkenal akan kelezatannya, namun Karin merasa bingung dengan sang suami yang duduk melamun dan hanya mengaduk makanan dengan sendok di tangannya. Selepas mengobrol dengan klien sang papi tadi, wajah suaminya itu terlihat gelisah. "Kenapa, Bang? Ada masalah yah?"
Ardi yang menoleh kemudian menghela napas, dia menggeleng. Malah mengarahkan tatapannya pada Nino dan mengusap kepala anak itu. "Makan yang banyak," ucapnya.
Nino menoleh pada om dan tantenya yang malah kompak menonton dirinya tengah makan, perasaan dia tidak sedang membuat tutorial menyantap hidangan. "Aku mau ke toilet dulu, Om," ucapnya setelah beranjak berdiri.
"Perlu diantar," tawar sang om yang entah kenapa berubah manis, Nino menggeleng.
"Kamu tau nggak kamar mandimya? Di luar loh." Karin yang tidak yakin kemudian bertanya.
"Tau, Tante. Kan aku pernah ke sini waktu itu sama mami." Nino berucap dengan yakin, hingga kedua orang dewasa di hadapannya itu tidak perlu merasa khawatir.
Karin kembali mengajak suaminya mengobrol, mendesak pria itu bercerita tentang kegundahan yang tengah dialaminya.
"Dominic itu, Dodit -orang yang dulu mukulin aku."
Karin tau tentang cerita itu, dan dia kemudian terdiam, selama ini ia mengenal pria yang bernama Dominic itu adalah orang baik, tidak menyangka masa lalunya seburuk itu. "Terus, dia ngancem kamu?"
Sesaat Ardi berpikir, dia tidak mau membuat istrinya itu khawatir, dan pria itu memutuskan untuk menggeleng, "cuma masa lalu, kurasa sekarang dia udah berubah."
Karin menghela napas, dia merasa lega, "tapi kenapa kamu kelihatannya gelisah banget?"
Pria itu menggeleng, "Nggak tau, perasaan aku jadi nggak enak," ucapnya.
"Yaudah minum dulu." Karin mengambil segelas air putih di hadapannya, bersamaan dengan itu kegaduhan dari arah luar Resto yang kini mereka tengah sambangi membuat keduanya menoleh.
Seorang ibu berseragam cleaning service membuka pintu kaca dan berteriak, "ada yang merasa kehilangan seorang anak laki-laki berseragam sekolah dasar? Dia tadi dibawa masuk ke mobil hitam."
Karin sontak berdiri, gelas di tangannya bergetar, terlepas kemudian jatuh ke lantai. "Nino."
***iklan***
Author: jan lupa kasih Bintan lima buat Noisy girl nya ya. 😂
Netizen: Set, kaya kang ojol lu thor minta bintang lima. 😒
Author: abisnya mau Bintang tujuh kaga ada. 😌
Netizen: puyer 16 noh bintang tujuh, pala lu puyeng emang. 🤭
Author: 😂😂
Netizen: itu Nino diculik thor siapa tuh kira-kira yang nyulik, pemeran baru apa Syerli sama Omanya? 🤔
Author: gimana kalo ternyata yang nyulik si Samsul, yang dulu demen sama Nena. Biar jadi plot twist gitu. 😅
Netizen: plot twist yang ngeselin itu thor, nggak ada angin nggak ada ujan tau tau si Samsul nongol kan bikin erosi. 😑
Author: ya abisnya siapa dong yang nyulik 🙄
Netizen: elu yang nulis sarbo'ah, begini nih kalo pentolan sendal rematik dikasih nyawa, ngeselin jasa. 😒
Author: yang penting like komen sama vote dulu yg banyak biar imajinasi akoh lancar 😂
Tetaplah hahahihi walau Corona nggak pergi-pergi. 😂
__ADS_1