
Malam semakin larut, dan Ardi memilih menunggu istrinya di parkiran alih-alih masuk ke dalam.
"Selamat malam Ketua." Karin menyapa dengan riang, suaminya yang tampak menunduk pada layar hp kemudian mendongak, tersenyum.
"Malam juga Ibu Negara," canda pria itu yang kemudian mengundang tawa.
"Pulang naik apa kita?"
Ardi beranjak berdiri, mengambil helm yang sudah ia sangkutkan pada kaca spion, "naik kuda besi," jawabnya sembari memakaikan benda di tangannya di kepala sang istri.
Karin tersenyum, membiarkan saja pemuda di hadapannya itu memasangkan pelindung kepala yang membuat ia mendongak saat mengaitkan tali pengikat di bawah dagunya. Meski busana sang suami sudah berganti, tapi motor yang ia bawa membuat perempuan itu menebak bahwa suaminya itu tidak pulang ke rumah sang mami. "Abang ke mana aja?" Tanyanya.
Ardi yang sudah naik ke atas motor matic milik mami mertuanya kemudian menoleh. "Dari rumah ibu terus ke Cafe Agung," jawabnya, mencolek dagu sang istri yang membuat perempuan itu kemudian mengerjap. "Takut nyeleweng ya," godanya.
Karin berdecih, "apa sih, orang cuma nanya," sangkalnya, kemudian naik ke atas motor, "Kenapa sih nunggu di sini, kenapa nggak masuk aja?" Tanyanya.
Ardi yang sudah menyalakan mesin motor kemudian sedikit menoleh ke belakang, sang istri sudah menempelkan dagu di pundaknya. "Kalo aku masuk nanti kita nggak jadi pulang," tuturnya.
Karin sedikit menelengkan kepala, "Kenapa?" Tanyanya.
"Banyak kamar soalnya." Kalimat itu mendapat cubitan di pinggangnya. Seiring dengan sang istri yang menjauhkan dagu dari pundak suaminya, Ardi tertawa.
"Ya namanya juga hotel."
Ardi menoleh lagi, "Mau pulang nggak? Apa mau nginep di sini aja? Gratis pasti. Kan ownernya istri sendiri," Imbuhnya dengan nada bercanda.
Karin yang malah merasa tersindir memilih diam saja, tapi raut wajahnya yang cemberut tertangkap kaca spion yang dipandang sang suami, pria itu tersenyum.
"Pegangan, Dek. Abang mau pura-pura ngerem mendadak nih kalo ada polisi tidur, biar nempel."
Karin melingkar kan kedua lengannya pada perut sang suami, menopangkan dagu di pundak pria itu. "Ini udah nempel," ucapnya yang membuat mereka kemudian tertawa.
***
Ardi menghentikan laju kendaraan saat lampu berubah merah, kemudian sedikit menoleh pada perempuan yang menempelkan dagu di pundaknya. "Liatin apaan si?" Pria itu bertanya dengan sedikit menggerakkan bahu.
Karin melirik wajah sang suami yang jaraknya tidak sampai satu jengkal dari ujung hidungnya, kemudian menjawab, "liatin lampu merah."
Ardi ikut mendongak pada angka yang menghitung mundur di atas sana. "Biar apa?" Tanyanya.
"Biar kalo berubah hijau, kita tau."
"Kalo udah warna hijau gimana?"
"Ya kita jalan lah, Bang." Karin jadi sewot sendiri, "apa sih."
Ardi tertawa pelan, melirik kaca spion yang tampak sang istri juga tengah menatapnya. "Buat apa ditunggu kalo akhirnya ditinggalin," keluhnya.
Karin tertawa hingga matanya terpejam, suaminya itu sejak kapan sih jadi sepuitis ini. "Kaya kutipan Cak Lontong ya."
"Hn?" Ardi sedikit menoleh, "yang gimana? Oh yang jangan mau jadi lampu hijau, yang ditunggu hanya untuk ditinggalkan, gitu nggak sih?"
"Nggak gitu kutipannya, Bang." Karin menjitak helm yang dikenakan sang suami, membuat pria itu mengaduh padahal tidak sakit. "Belajarlah ikhlas dari lampu hijau, dia rela ada meskipun akhirnya ditinggal pergi."
"Ogah!" Jawaban spontan itu kembali membuat sang istri mendaratkan jitakan di helmnya.
__ADS_1
Karin kembali tertawa, "ya emang gitu mau gimana?" Tanyanya.
"Yang diliatin lampu merah, yang nongol lampu kuning, eh yang ditinggalin lampu hijau." Ardi tertawa pelan, "yang paling ngenes siapa?"
Karin mengerutkan dahi, entah kenapa pertanyaan itu membuat otaknya reflek berpikir, "lampu hijau ya, kan dia ditinggal," jawabnya.
"Yang paling ngenes yang nungguin," ucapnnya. Karin mencibir, nggak lucu katanya, tapi tertawa juga. Ardi melipat tangannya di dada. "Menunggu sesuatu yang sudah pasti terkadang nggak seru lagi, coba bayangin kalau lampu hijau yang kita tungguin ternyata nggak pernah muncul, jadi plot twist tersendiri," ujarnya sok tau.
Karin tertawa, "emangnya nulis novel ada plot twistnya, yang ada macet, Bang," ucapnya. Belum sempat mendapat tanggapan lampu sudah berubah hijau, namun suaminya itu malah bergeming. "Bang ayo jalan," tegurnya, menoleh pada kendaraan lain yang menyalip mereka, beruntung suasana sedang sepi.
"Abang lagi nungguin lampu hijau," tanggap Ardi.
Karin jadi bingung, "Ngapain?" Tanyanya.
"Kasian kalo langsung ditinggal, padahal baru muncul, say Hay dulu lah."
"Abaaang."
***
Sesampainya di kamar mereka, Ardi memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sepertinya malam ini dia tidak akan tega menyentuh sang istri, bekerja seharian membuat perempuan itu terlihat kelelahan. Dan semoga dia bisa tahan.
Pria itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggangnya. Menghampiri sang istri yang sudah mengganti baju kerjanya dengan piyama, perempuan itu memunggunginya.
"Kamu sakit?" Tanya Ardi saat mendekat, dan ternyata istrinya itu tengah minum obat. Dan entah kenapa dia begitu amat terkejut.
Karin sedikit gugup, kemudian menggeleng, "ini vitamin, dari mami," ucapnya berusaha tenang.
Ardi semakin mendekat, meraih botol kecil dari tangan Karin, kemudian mengamatinya sebentar. Pria itu melirik sang istri dengan diam. "Kalo gitu aku juga mau," ucapnya.
Ardi yang semakin curiga sedikit mencondongkan kepala, menatap istrinya lekat, "kayanya aku dulu pernah bilang, kalo muka kamu tuh kaya novel kebuka, bisa dibaca," ucapnya yang membuat sang istri kemudian menunduk.
"Bukan apa-apa, kok, Bang," ucapnya.
Dan pria itu masih terdiam, menatap istrinya dalam, dia penasaran dengan obat yang masih ia genggam, dan kemudian ia tuangkan banyak-banyak di telapak tangannya.
"Jangan, Bang!" Pekik Karin saat pria di hadapannya itu mengarahkan segenggam obat ke mulutnya.
Ardi mengangkat alis, "Kenapa? Kan kamu bilang ini vitamin," ucapnya, mulai mendesak sang istri untuk jujur.
"Ya tapi nggak sebanyak itu juga minumnya." Karin memberanikan diri menatap mata pria yang penuh curiga di hadapannya. Haruskah dia bercerita.
Tatapan Ardi melembut, dia takut jika sesuatu yang buruk menimpa istrinya. "Dek," desaknya.
"I-itu, obat buat penunda kehamilan, Bang."
Deg!
Keterkejutan pria itu membuatnya termundur satu langkah, tatapannya tampak tidak percaya, entah itu hati, jantung atau paru-paru di dalam dadanya, perasaan seperti ditusuk membuat Ardi sulit bernapas. Mulutnya terbuka secelah, namun tenggorokannya yang tetcekat membuat kalimat yang ingin ia lontarkan kemudian tersendat. Dia kecewa.
"Bang aku bisa jelasin." Karin mencoba membujuk. Menyentuh lengan pria itu yang raut wajahnya berubah dingin, dia takut.
Ardi kembali menatap obat di tangannya yang sedikit bergetar, bayangan percakapan tentang hayalan anak kembar berputar-putar di kepala. Pria itu meraih telapak tangan perempuan di hadapannya, kemudian meletakkan pil yang ia genggam di sana, lalu berbalik.
"Abang, dengerin aku dulu." Karin memeluk pria itu dari belakang, membuat langkahnya terhenti.
__ADS_1
"Dengerin apa? Dengerin penjelasan bahwa kamu nggak mau mengandung anak aku." Ardi berucap lirih, melepaskan rangkulan di tubuhnya kemudian berbalik, istrinya itu sudah menangis.
Karin menggeleng di sela isak yang membuatnya sulit berbicara, "bukan gitu, Bang," ucapnya.
Ardi menelan ludah, kemudian membuang muka, rasa kecewa membuat darahnya naik ke kepala, dan menimbulkan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Perempuan itu kembali memeluk sang suami yang masih bertelanjang dada di hadapannya, dan cengkraman kedua tangan pria itu di lengannya membuat ia terkejut, obat yang masih ia genggampun jatuh berhamburan, dia ketakutan.
Ardi menarik sang istri ke atas ranjang, mendorongnya hingga jatuh terlentang. Kemudian merangkak ke atas tubuhnya yang bergetar karena tangisan.
"Kenapa kamu nangis?" Ardi bertanya dingin, kedua tangannya terus melucuti kancing piyama yang dikenakan sang istri, dan perempuan itu tidak berani mengeluarkan kata-kata. "Kamu udah minum obat kan? Jadi apa yang kamu takutkan."
Karin menggeleng, "Abaaang," lenguhnya saat pria itu dengan kasar mendaratkan ciuman di ceruk lehernya, membuat bercak-bercak merah yang selama ini tidak pernah mendapat izin dari perempuan itu, tapi untuk kali ini hatinya seolah membeku.
Pria itu seperti kehilangan kendali, istrinya yang menangis bergetar, tidak mampu menghentikannya memberikan cumbuan kasar. Ardi terus membuat jejak di tempat-tempat yang ia suka, mengabaikan kenyataan bahwa perempuan itu tidak menyukainya.
Sepanjang pergumulan yang membuat hatinya terluka, Karin terus menangis, namun rasa kecewanya lebih ia tujukan pada dirinya sendiri.
.
Pria itu beranjak dari ranjang, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Karin beranjak duduk, dia masih tersedu saat menatap sang suami keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya dengan lengkap, lalu mengambil kunci motor di atas meja.
"Abang mau kemana?" Dengan cepat Karin menuruni ranjang dengan selimut yang melilit di tubuhnya, mencegah pria itu pergi dengan memberikan pelukan dari belakang dengan satu tangannya.
Ardi yang membalikkan tubuhnya membuat pelukan perempuan itu kemudian terlepas, "sebentar doang kok," ucapnya.
Karin menggeleng, "jangan pergi, Bang. Jangan tinggalin aku sendirian."
Ardi tertegun beberapa saat, kemudian membuang muka, sejujurnya dia merasa tidak tega, tapi menghindar adalah satu-satunya cara pengendalian diri, untuk mencegah hal-hal yang akan membuat perempuan itu sakit hati.
"Aku keluar sebentar, janji nggak akan lama," ucap Ardi lirih, melirik leher perempuan itu yang terdapat bercak-bercak merah di sana, dan dia menyentuhnya. "Besok kamu libur kan, maaf udah melanggar janji buat nggak bikin kaya gini."
Karin mencoba meredakan tangisannya, mendongak saat tangan sang suami menyentuh bagian lehernya, usapan itu beralih pada pipi dan menghapus jejak air mata di sana, kemudian mendaratkan ciuman di bibirnya.
Sesaat perempuan itu terbuai, dan saat pria itu melepaskan ciumannya, dia tidak sempat mengucapkan kata-kata saat suaminya kemudian pergi entah kemana.
Karin jatuh terduduk dengan lemas, dia menangis lagi.
**iklan**
Author: Monmaap ini judulnya salah, bukan candu baru, tapi konflik baru 🤣
Netizen: sengaja sih kayaknya 😒 kenapa dikasih konflik si, bikin kesel.
Author: lah hidup mah emang begitu, nggak semulus jalanan air yang naik ke rumah warga.
Netizen: lah, banjir itumah. 🙄
Author: nah iya lah, jalan tol yang katanya bebas hambatan aja kadang masih macet.
Netizen: ngapa jadi bawa-bawa jalanan si. 😑
Author: yang penting poinnya kenceng 😂
__ADS_1