NOISY GIRL

NOISY GIRL
DUNIA AGUNG 2


__ADS_3

"Kak Aldo?" Alia memanggil nama sang kakak yang berdiri melipat lengannya di depan dada, tatapannya terkesan dingin.


 


 


Agung berdiri, keduanya saling mendekat, melihat kecanggungan di antara kekasih dan juga kakak kandungnya, Alya jadi was-was.


 


 


"Jadi kamu yang namanya Agung?"


 


 


Agung mengangguk, "iya, Bang," ujarnya.


 


 


Alya menyeruak di antara keduanya, "Kak Aldo, ini Agung pacar Lia, kenalin," ucapnya, kemudian tersenyum.


 


 


Alya melihat kekasihnya mengulurkan tangan, namun sang kakak tidak menyambutnya dengan senang. Pria itu masih melipat lengannya di depan dada.


 


 


"Kak Aldo jangan gitu ah." Alya merasa tidak enak saat akhirnya Agung menurunkan uluran tangannya.


 


 


"Kamu temennya Irfan kan?" Tanya Aldo, beralih memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


 


 


"Iya, apa kita pernah ketemu sebelumnya?" Agung coba mengingat.


 


 


"Dulu aku kakak kelas kamu, lupa?"


 


 


Agung berpikir, dia memang sempat tau cerita dari Ipang tentang kakak kandung Alya yang sempat satu sekolah dengan mereka, dulu dia kelas satu, dan Aldo yang berada di kelas dua waktu itu tidak lama pindah sekolah, jadi wajar jika Agung mungkin lupa.


 


 


Belum sempat Agung menanggapi, Aldo sudah berucap lagi. "Udah berapa lama kalian berhubungan?"


 


 


Agung menoleh pada kekasihnya yang ikut berdiri di antara mereka, kemudian mengarahkan tatapannya lagi pada pria di hadapannya. "baru bentar, Ban, baru beberapa bulan," jawabnya.


 


 


Aldo mengangguk, "baguslah, cukup mudah buat diakhiri."


 


 


"Kak Aldo!" Alya membentak marah, hingga kakak kandungnya itu menoleh terkejut.


 


 


Agung masih terlihat tenang di tempatnya, tidak terpengaruh juga tidak tersulut emosi, baginya apapun yang terlontar dari seseorang yang sejak awal tidak menyukai dirinya, percuma juga jika dia menyela.


 


 


"Apa sih yang kamu harepin dari anak ini."  Aldo menunjuk kekasih sang adik dengan tangannya. "Dia itu orang susah, bahkan untuk sekolah saja dia mengandalkan beasiswa yang donaturnya adalah keluarga kita. Kamu salah pilih, Dek!"


 


 


Alya sudah menangis, tangannya terus menggenggam lengan Agung yang terlihat biasa saja meski mendapat hinaan sedemikian rupa, gadis itu menggeleng. "Kak Aldo keterlaluan, Lia nggak suka Kakak ngomong gitu," omelnya dengan sesenggukkan.


 


 


Aldo berdecak kesal, adiknya begitu lugu hingga mau diperalat oleh pemuda itu. Begitu pikirnya. "Kamu nggak pantes sama dia Lia, atau perlu aku carikan pemuda yang lebih segalanya buat kamu, pliss Dek, jangan bodoh memilih pasangan."


 


 


Melihat Alya yang terus menangis dengan masih menggenggam erat lengannya, Agung menghela napas. "Cukup, Bang," lerainya, dan saat pria itu melontarkan tatapan meremehkan pada dirinya, Agung kembali berucap. "Kalo memang Abang nggak suka sama saya, saya nggak masalah. Tapi tolong jangan didepan Lia saya dihina-hina, Abang bikin Lia nangis."


 


 


Aldo tertawa meremehkan, "lebih baik dia menangis sekarang, daripada nanti saat dengan bodoh dia memilih kamu sebagai pasangan, kamu punya apa?"


 


 


"Kak Aldo cukup!" Alya memukul lengan kakaknya dengan keras, benci dengan kalimat yang terlontar dari sosok kakak yang selama ini dia hormati keberadaannya. Padahal, dari pendidikannya yang lebih tinggi, pria itu seharusnya lebih bisa menghargai orang lain.


 


 


"Berani kamu mukul kakak, Dek? Demi pemuda ini kamu udah berani melawan aku?"


 

__ADS_1


 


"Lia," ucap Agung, menyentuh lengan gadis itu yang tampak ingin mengamuk lagi pada abangnya. "lebih baik aku pulang dulu," ucapnya.


 


 


Alya menggeleng, gadis itu memberikan kepenolakan untuk permintaan kekasihnya, "Kak Agung nggak boleh pergi, Kak Agung nggak boleh tinggalin aku," ucapnya dengan bergetar, memeluk tubuh pemuda yang beberapa bulan ini selalu membuatnya bahagia.


 


 


"Lia!" Aldo menarik kasar lengan adiknya hingga gadis itu termundur beberapa langkah.


 


 


Agung yang tidak terima melihat itu semua, menahan lengan Aldo agar tidak berlaku kasar pada adiknya. "Cukup, Bang."


 


 


"Berani kamu nyentuh aku!"


 


 


"Hey! Ada apa kalian ribut-ribut!" Seru Pak Azlan yang adalah orang tua dari Aldo dan Alya, pria berkacamata itu tampak bingung mendapati keributan di rumahnya.


 


 


"Pah, kenapa papa biarin Lia berhubungan dengan pemuda ini, pemuda yang asal-usulnya bahkan tidak jelas." Aldo menyongsong sang papa, menyayangkan keputusan pria itu untuk membiarkan adik perempuannya dekat dengan pria sembarangan.


 


 


Pak Azlan membenarkan letak kacamatanya," dia teman Irfan, tidak jelas apanya?" Tanyanya berusaha bijak, meski dia tau, anak sulungnya pasti tidak suka akan hal itu.


 


 


Aldo berdecak semakin kesal, "papa hanya sekedar tau dia teman Irfan kan? Tapi tidak pernah tau asal-usul keluarganya, bahkan ibunya saja ditinggalkan oleh suaminya yang tidak bertanggung jawab, kemungkinan besar Alya akan mendapatkan perlakuan yang sama, kesialan yang begitu juga. Papa tentu tau, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya."


 


 


"Cukup!" Agung angkat suara, baginya tidak peduli jika seluruh dunia memandang dirinya adalah hina, tapi tidak untuk ibu juga ayahnya. "Maaf, Om. Jika kehadiran saya ternyata menimbulkan keributan, saya permisi."


 


 


"Kak Agung!" Alya mencegah kekasihnya untuk melangkah pergi, gadis itu menggeleng, "Kak Agung jangan pergi," pintanya.


 


 


Pak Azlan semakin bingung, dia merasa tidak enak pada Agung yang selama ini dia kenal dengan baik, "kalian hanya perlu waktu untuk berkomunikasi," ucapnya dengan menatap putra pertamanya. "Agar bisa sedikit saling mengenal," Imbuhnya kemudian.


 


 


 


 


"Makasih, Om. Bang Aldo mungkin benar, saya hanya pemuda miskin yang beruntung bisa kenal dengan gadis sebaik dan secantik anak Om, saya mengakui semua yang anak sulung om ucapkan itu adalah benar, kecuali tentang keluarga saya," ucap Agung, meski hatinya teramat sakit, tapi dia terus berusaha mengendalikan tutur katanya.


 


 


"Nak Agung—,"


 


 


"Maaf Om jika saya menyela, saya hanya ingin bilang bahwa keluarga saya tidak sehina yang anak om ketahui, cukup saya dan keluarga saya sendiri yang tau tentang masalah di keluarga kami," tuturnya yang membuat suasana berubah hening, meski Aldo masih menampakkan raut wajah yang keras, tapi pria itu ikut diam. Alya yang memeluk sang mama terus mendapat usapan di lengan oleh wanita paruh baya itu.


 


 


"Saya mungkin terlahir dari keluarga yang susah, tapi saya selalu berusaha untuk tidak melibatkan orang lain dalam kesusahan saya. Saya berusaha berdiri dengan kaki saya sendiri, berjuang dengan seluruh kemampuan yang saya miliki, saya tidak pernah bergantung pada orang lain, termasuk ayah saya sendiri." Jeda sebentar, Agung mencoba menghela napas, mengumpulkan kepingan hatinya yang jatuh berantakan."Dan tidak semua buah yang jatuh itu tidak jauh dari pohonnya, seperti sifat saya yang ternyata jauh dari sang ayah, dan juga Sifat Bang Aldo yang ternyata jauh dari Om Azlan, saya permisi."


 


 


Sampai pemuda itu menyelesaikan kalimatnya. Suasana masih tampak hening, hanya suara sesenggukkan dari Alya yang masih terdengar lirih di pelukan sang ibu, sebelum pergi, Agung menyempatkan diri untuk mencium punggung tangan kedua orang tua dari kekasihnya, dan setelah berpamitan sekali lagi dia benar-benar melangkah keluar.


 


 


Agung setengah berlari menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah besar itu, rumah yang mungkin untuk terakhir kalinya dia bertamu, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara terjatuh dari arah belakang.


 


 


Alya yang mengejarnya sampai depan kehilangan keseimbangan dan terjatuh, gadis itu memanggil kekasihnya dengan terus menangis, selain lututnya yang memar, hatinya tentu mendapat lebam yang lebih parah, terlebih dengan keadaan hati seorang pemuda yang sekarang ini berbalik menghampirinya. "Maafin aku, Kak, tolong jangan pernah tinggalin aku," pintanya.


 


 


Agung membantu gadis itu berdiri, mengusap pipinya yang dibasahi air mata. "Siapa yang mau ninggalin kamu? Aku cuma butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya."


 


 


Alya masih menangis, dan berkali-kali kekasihnya itu menghapus air mata yang mengalir di pipi gadis itu. "Jangan pergi, Kak, Lia mohon."


 


 


Agung membawa gadis itu ke dalam dekapannya, "aku nggak pernah peduli jika seluruh manusia di dunia mungkin nggak suka sama aku, asalkan di antara mereka nggak ada kamu."


 

__ADS_1


 


***iklan***


 


 


Author: Bagi sebagian orang mungkin sistim lock down sama dengan di rumah aja, santai, Rebahan, leyeh leyeh. Tapi bagi sebagiannya lagi justru malah sibuk, misal petugas medis yg gak ikut di rumah aja, karyawan yang teman temannya di phk dan pekerjaan dibebankan pada dirinya, tak terkecuali anak sekolah dan kuliah yang tugas-tugasnya malah makin nambah.


 


 


Dan aku termasuk ke dalam di rumah aja tapi masih sibuk ya. Jadi jangan berpikir aku punya banyak waktu untuk nulis. Semoga kalian bisa sabar buat nunggu. 🤧


 


 


Netizen: ni author pasti kebagian sibuk jualan masker ya 🤔


 


 


Author: Sue 😒 gue udah kasih author note serius malah tanggepan lu gitu.


 


 


Netizen: ah gapenting lah thor, gw lebih mikirin Bang Agung yang dihina begitu, dibilang miskin thor jahat amat si lu. 😌


 


 


Author: dia yg punya Cafe aja dibilang missqueen, apalagi tukang nulis kaya gue ya 😒


 


 


Netizen: gue penasaran, Seberapa missqueennya lu thor 😂


 


 


Author: Kemaren gue ke indomaret pake motor, pas liat ada kang parkirnya, gue belokin ke Alfa. 😌


 


 


Netizen: gue mendingan dong ya, gk peduli ada kang parkir, tapi kalo pas ngasih duit goceng tapi dikembaliin duarebu padahal tarif parkir cuman dua rebu, gue tungguin serebunya sampe sore 😑


 


 


Author: Nah orang-orang kaya lu nih yang kalo masukin duit ke kotak amal, bukannya ikhlas malah minta kembalian. 😂


 


 


Netizen: ya namanya lagi lock down kudu ngirit thor, buat ngakalin gue ampe puasa senen kemis, saurnya senen bukanya kemis. 😌


 


 


Author: mati dah lu 😂 eh tapi dari di rumah aja juga ada bagusnya sih gue jadi Pinter jualan.


 


 


Netizen: Jualan apa thor 🤔


 


 


Author: Jual emas buat makan, tv, kulkas. Besok malah bingung mau apalagi yang dijual saking Pinternya gue usaha. 😌


 


 


Netizen: Jual ginjal aja thor 😂😂


 


 


Author: Sembarangan 😑😑😑


 


 


Segala bentuk iklan bukan promosi apalagi profokasi. Buat hiburan aja, jangan diseriusin apa lagi di aamiin-in 🤧 jangan.


 


 


Tulis di kolom komentar seberapa missqueennya kalian setela sistim di rumah aja diberlakukan. Yg paling kocak gw pasang di ig 😂


 


 


Netizen: kali yg paling kocak dapet hadiah pulsa gitu thor. 😒


 


 


Author: lagi missqueen begini malah bagi bagi in pulsa lu gimana 🤧


 


 


Tetaplah haha hihi walau uang didompet pada lari. Jan lupa like vote ya. Semoga menghibur.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2