NOISY GIRL

NOISY GIRL
KACAU


__ADS_3

"Dek, dengerin dulu." Ardi menarik lengan Karin, membuat gadis yang hendak membuka pintu kamarnya itu menghentikan langkah dan menoleh. "Kamu maunya aku gimana? Yaudah aku turutin, nggak usah lah nerusin kuliah-kuliah. Biar kamu nanti punya suami yang bego nggak bisa apa-apa."


 


 


Karin tertegun, melihat pemuda di hadapannya yang begitu frustrasi, entah kenapa dia merasa egois, apa selama ini dirinya sudah begitu banyak menuntut. Gadis itu menelan ludah, rasa gusar itu tiba-tiba singgah."Kejar aja cita-cita kamu, nggak usah pikirin aku, Bang," ucapnya kemudian membuka pintu.


 


 


Ardi menahan benda itu untuk terbuka dengan tangan kanannya, tatapannya lekat menatap gadis itu yang terlihat tidak bersemangat. "Seandainya waktu bisa diulang, aku pasti milih balik lagi pada masa dimana semuanya belum serumit ini, dan melarang hati aku buat jatuh cinta sama kamu."


 


 


Karin kembali tertegun, mulutnya terbuka secelah, ada beberapa kalimat yang ingin dia ucapkan, dan entah kenapa terasa berat.


 


 


"Udah terlanjur, Dek, udah terlanjur abang harus berjuang, dapetin kamu bukan perkara kamunya mau apa enggak, tapi aku yang harus mikir, pantes apa enggak."


 


 


Gadis di hadapannya itu maju satu langkah. Memeluk tubuhnya erat, dan meneruskan perjuangan yang baru setengah jalan, pemuda itu merasa lebih berat.


 


 


"Kembali ditinggal sama abang tuh rasanya kaya diterpa angin kencang, terus ditembak berkali-kali, sesakit itu, Bang. Tapi aku udah biasa."


 


 


Ardi membiarkan gadis itu memeluknya, tanpa memberikan pelukan balik pun rasanya dia sudah amat berat. Dan hingga Karin melepaskan rengkuhannya, di situ dia merasa kehilangan.


 


 


***


 


 


Kembali menjalani rutinitas di Negri orang membuat pemuda itu mengerti, sebaik-baiknya tempat singgah adalah dimana ia bisa menemukan apa saja.


 


 


Dan jika suatu saat dia harus kembali, setidaknya dia sudah mendapatkan segalanya.


 


 


Kisah ini harus dilewati dengan sedikit pahit, terbiasa hidup sendiri membuatnya lupa akan kabar orang sekitar. Dia sudah terbiasa dengan tidak mendapat kabar.


 


 


*


Karin yang masuk ke duania kuliah, membagi waktu sudah kian susah, gadis itu sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan untuk cita-citanya yang selama ini ia sepakati, harus rela ditukarkan dengan kembalinya orang yang dia sayangi.


 


 


"Saya bisa menjadi jaminan, dan memberikan berapapun uang tebusan agar mami kamu bisa kembali."


 


 


Karin tertegun, tawaran seperti ini dari sang papi tentu bukan tanpa maksud dan tujuan, kali ini gadis itu kembali dihadapkan dengan sebuah pilihan.


 


 


"Iya, pi, aku mau." Dan Karin memilih kalimat itu untuk dijadikan jawaban.


 


 


**


 


 


Marlina tidak kuasa menahan air matanya saat Karin berpamitan untuk tinggal dengan sang mami yang sudah dibebaskan. "Sering main ke sini ya," ucapnya saat pelukan dari gadis itu ia lepaskan.


 


 


Jino yang menangis karena sang tante membawa koper tidak mau melepaskan pelukannya. Membuat Nena kewalahan menenangkan putra keduanya itu.


 


 


Berbeda dengan Jino yang terang-terangan menolak kepergian sang tante, Nino tampak lebih tenang, namun anak itu tidak mau didekati, diajak bersalaman ataupun dipeluk sekalipun, dia menolaknya. Salah satu dari si kembar berubah lebih dingin dari sebelumnya.


 


 


Justin menepuk pundak Karin pelan, kemudian mengangguk, semua keputusan ada di tangan gadis itu, tinggal dengan Carla mungkin keputusan yang terbaik, setidaknya dia tidak terlalu khawatir gadis itu disakiti oleh papinya.


 


 


Nena memeluk gadis yang sudah dianggapnya adik itu dengan erat. "Jangan lupa kabarin Ardi, terakhir dia bilang kamu susah dihubungi," ucapnya saat pelukan mereka terlepas


 


 


Karin terdiam sesaat, "iya, Mbak, aku sibuk terus, jadi jarang megang hp."


 


 


Nena mengangguk, "jaga diri baik-baik, nurut sama mami kamu ya."


 


 


"Iya, Mbak Nena."


 


 


Kepergian Karin saat ini terasa berat, lebih berat dari saat dia berpamitan untuk menghuni apartemen baru yang diberikan papi gadis itu, karena nyatanya dia masih sering pulang. Namun kali ini sudah ada ibunya, gadis itu mungkin tidak akan ke rumah ini untuk kembali tinggal.


 


 


***


 


 


Ardi semakin gusar, kekasihnya tidak juga memberi kabar, terakhir nomor yang ia dapat dari teman-temannya ternyata tidak bisa dihubungi.


 


 


Melalui hari-harinya tanpa berita mengenai gadis itu memaksa Ardi untuk berpikiran positif, ini hanya masalah waktu, dan mungkin gadis itu hanya ingin sendiri dulu, saat ia pulang nanti semuanya akan kembali. Kembali baik-baik saja seperti sebelumnya. Begitu harapannya.


 


 


Waktu berjalan begitu cepat. Banyak yang berubah dari suasana sekitar juga bangunan setempat, nyaris semua yang pernah ia jumpai tampak berubah kecuali beberapa kenangan yang dulu pernah singgah.


 


 


Ada keraguan saat ia akan mengetuk pintu bangunan rumah di hadapannya, entah kenapa, sesuatu seperti menyuruhnya mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang akan terjadi.


 


 


Saat abangnya itu memberikan alamat ini, dari tingkahnya seolah ingin mengatakan suatu hal, namun dia menyuruh untuk mencari tahu sendiri, dan apapun yang terjadi, pesannya hanya satu. Pulang.


 


 

__ADS_1


Ardi mendongakkan kepala dari sepasang sepatunya, pemuda itu sudah menekan bel sebanyak dua kali, dan seseorang yang muncul di balik pintu tersebut terlihat amat terkejut.


 


 


"Hay!" Sapa pemuda itu, ada banyak ungkapan rasa rindu yang tergambar dari lengkungan bibirnya, dan gadis di hadapannya itu malah terdiam seribu bahasa.


 


 


"Karin, siapa yang datang?" Tanya Carla, wanita itu melongok pada tamu yang masih berdiri di depan pintu. "Eh, Nak Ardi," ucap Carla, menoleh canggung pada Karin yang balik menatapnya.


 


 


"Malam, Tante." Ardi mencium punggung tangan wanita itu dengan ujung hidungnya, dan melangkah maju saat siempunya rumah menyuruhnya untuk masuk.


 


 


"Maaf ya, Nak Ardi, agak berantakan soalnya tadi abis kedatangan tamu." Carla berucap sembari merapikan gelas-gelas di meja ruang tamu.


 


 


Ardi mengangguk, "Nggak apa-apa, Tante," ucapnya kemudian menoleh pada Karin yang masih terlihat memperhatikan gerakan ibunya.


 


 


"Yaudah mami istirahat dulu yah, bikinin minum buat Ardi," pesan Carla pada putrinya, kemudian menoleh pada Ardi dengan tersenyum, "tante ke kamar dulu ya, kalian lanjutin aja."


 


 


Ardi mengangguk, setelah mami dari gadis di hadapannya itu menghilang di balik tangga menuju lantai dua, pemuda itu menoleh pada Karin yang juga tampak menatapnya. "Apa kabar?" Tanyanya.


 


 


Karin mengerjap gugup, "baik, Bang. Ayo duduk."


 


 


Ardi menggeleng, "aku ke sini bukan mau numpang duduk," ucapnya, kemudian mendekat.


 


 


Karin yang sedikit gusar merasa salah tingkah juga, "kalo gitu mau minum apa biar aku bikinin," ucapnya, kemudian berbalik hendak ke dapur.


 


 


Ardi meraih tangan gadis di hadapannya, menariknya lembut agar sedikit mendekat, "jangan pergi, aku ke sini bukan mau minta minum, tapi cari kamu, dulu aku mungkin pergi, tapi nggak menghilang, dan kenapa malah jadi kamu yang menghilang, Dek." Ardi mengeratkan gengaman tangannya pada jemari gadis itu. "Abang rindu, Dek," ucapnya.


 


 


Tanpa terasa, air mata Karin menetes begitu saja, dia tidak kuasa menolak saat pemuda di hadapannya itu membawa jemarinya untuk dia cium, namun pemuda itu malah tertegun.


 


 


Saat Ardi mendekatkan tangan gadis itu ke bibirnya, sebuah cincin yang melingkar di sana membuat pemuda itu kemudian bertanya. "Kamu-"


 


 


Karin menarik tangannya untuk menutupi isakan yang tertahan di dalam mulut, gadis itu mengangguk cepat, "iya, Bang, aku udah tunangan," ucapnya di sela isak.


 


 


Ardi tertawa pelan, menolak untuk percaya, "kamu, boong kan, Dek?" Tanyanya sedikit bergetar.


 


 


Karin menggeleng, isak tangisnya semakin kuat, dia dapat merasakan kesakitan yang sama seperti yang terpancar pada sorot kecewa dari kedua bola mata pemuda itu. "maaf, Bang," ucapnya lirih, "maafin aku," imbuhnya sekali lagi.


 


 


 


 


"Bang!" Karin memeluk Ardi dari belakang, membenamkan wajahnya di balik punggung sang abang, tangisnya yang tanpa reda membuat jaket yang dikenakan pemuda itu menjadi basah.


 


 


Ardi berbalik saat pelukan gadis yang kini resmi menjadi mantan kekasihnya itu kemudian terlepas, meski tidak terlihat mengeluarkan air mata, tapi raut wajahnya yang teramat kacau menggambarkan betapa pemuda itu sangat kecewa.


 


 


"Kenapa jadi kaya gini sih, Dek, sia-sia perjuangan abang di Negri orang," ucap Ardi lirih, napasnya kian sesak.


 


 


Karin menangkup wajah pemuda itu dengan kedua telapak tangan, mengarahkannya untuk saling bersitatap, sorot matanya yang tampak kosong membuat dirinya semakin merasa amat bersalah."Abang pasti dapet perempuan yang lebih baik dari aku."


 


 


Ardi menggeleng, "Abang maunya kamu, Dek."


 


 


Karin semakin tersedu, memeluk pemuda itu dengan erat, meleburkan rasa kecewa pada dirinya yang juga terluka. "Ini bukan kemauan aku, hati aku cuma buat, Abang."


 


 


***


 


 


Ardi mengendarai motornya dengan diselimuti rasa kecewa, pesan sang abang untuk pulang mengarahkan kendaraan pemuda itu  sampai juga di halaman rumahnya.


 


 


Sesampainya di kamar, pemuda itu berteriak marah, mengundang seisi rumah untuk datang menghampirinya.


 


 


Pintu yang terbuka lebar membuat Nena juga sang ibu dapat melihat ketika pemuda itu menghancurkan barang-barangnya.


 


 


Nena kemudian mendekat, berusaha menenangkan sang adik yang tampak kesetanan, wanita itu menarik tubuh Ardi hingga menghadap pada dirinya.


 


 


"Kamu kenapa, Ar? Kenapa?"


 


 


Ardi menggeleng, tatapannya yang kosong membuat wanita di hadapannya itu menjadi takut, "percuma, Mbak, percuma, sia-sia, semua nggak berguna!!!" Teriaknya kemudian kembali menghancurkan barang-barang di hadapannya. Membuat Nena terlonjak mundur.


 


 


Pemuda itu beralih pada bingkai foto yang tersangkut rapi pada dinding kamarnya, potret Karin yang tersenyum manis tidak dapat menghentikan tinju pemuda itu mendarat di Sana. Darah yang mengalir membuat Marlina berteriak histeris, wanita itu menarik sang putra ke dalam dekapannya.


 


 


"Istigfar, Ar, ini ibu, kamu nggak boleh kaya gini."


 

__ADS_1


 


Di dalam pelukan sang ibu pemuda itu kembali menggeleng, "Sia-sia, Bu, semua usaha aku nggak berguna, buat apa!? Buat apa aku mendapatkan segalanya kalau tujuan aku untuk itu semua ternyata sia-sia. Buat apa!!" Teriaknya penuh kecewa, melepaskan pelukan sang ibu kemudian kembali meraih bingkai foto untuk dia lempar ke mana saja.


 


 


Nena menghampiri sang ibu untuk membawanya menjauh, kemudian menyuruh asisten rumah tangganya mengajak si kembar yang menonton di luar pintu untuk kembali ke kamarnya.


 


 


"Om Ardi kenapa, Mi?" Tanya Jino, salah satu dari si kembar yang kini sudah menginjak usia taman kanak-kanak.


 


 


"Nggak apa-apa, sayang, kamu sama Bang Nino ke kamar dulu ya," ucap Nena, yang di iyakan oleh ke dua putranya.


 


 


Wanita itu menelepon sang suami dan merasa lega saat pria itu sudah berada di perjalanan pulang.


 


 


Marlina terus menangis, di sebelahnya, Nena berusaha menenangkan wanita itu, dan membiarkan saja sang adik melakukan apa saja yang dia mau.


 


 


Untuk kali ini, Nena merasa Ardi sudah di ujung batas kecewa, belum pernah selama ini dia melihat pemuda itu lepas kendali dan nyaris gila, semua barang-barang di kamarnya ia hancurkan tanpa sisa.


 


 


Kedatangan Justin membuat sang istri menoleh, tanpa penjelasan apapun, pria itu tau dengan apa yang telah terjadi di keluarganya.


 


 


"Mas, biarin aja Ardi sendiri dulu, biarin dia melakukan apa yang dia mau, aku takut kalian malah kenapa-napa." Nena berucap dengan menggenggam lengan suaminya.


 


 


Justin menoleh pada sang adik yang tampak membongkar isi laci, dan membuang apa saja yang berada di dalamnya, pemuda itu tampak mencari sesuatu.


 


 


Tidak menemukan apapun, Ardi beralih pada lampu tidur di atas meja, membuatnya terjatuh kemudian menendangnya.


 


 


Pemuda itu kembali pada bingkai foto  di sana, meraih benda itu dan ia arahkan pada kaca jendela, namun tangan seseorang tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya.


 


 


Justin tidak berkata apa-apa, hanya tatapan tajamnya yang kemudian mampu membuat nyalang di kedua bola mata pemuda itu kian meredup.


 


 


Dengan perlahan, Ardi menurunkan tangan yang bersiap melempar kaca, membiarkan saja sang abang mengambil benda di tangannya untuk kembali diletakkan di atas meja.


 


 


Tubuh Ardi melemas, mundur beberapa langkah dan terduduk di ranjang yang bantal juga spreinya sudah berhamburan kemana-mana. "Sia-sia, Bang," ucapnya lemah.


 


 


Justin mendekat, menyentuh pundak pemuda itu hingga membuatnya kemudian mendongak, dari tatapannya yang kian mengendur, dia tau pemuda di hadapannya ini tengah hancur.


 


 


"Apa dengan cara meleburkan seisi rumah ini semua akan kembali?" Tanya Justin yang tidak mendapat jawaban dari pemuda itu. "Tidak ada yang sia-sia dari sebuah usaha yang kamu sudah berhasil mendapatkannya."


 


 


Ardi menggeleng, "Buat apa? Buat apa kalau tujuan aku meraih semua itu ternyata malah nggak bisa aku miliki, Karin udah jadi milik orang lain, Bang. Dan semua yang aku perjuangin buat dia berakhir nggak berguna."


 


 


Justin sedikit membungkuk, meraih dagu sang adik hingga pemuda itu mendongak, membuat Justin mampu menatap kedalaman matanya yang terluka. "Dengerin abang, Dek," ucapnya serius. "Kalo kamu benar sayang sama dia, kejar, jangan malah menghancurkan harapan kamu sendiri seperti ini,


 


 


Dia cuma tunangan Ar, bukan menikah, bahkan kamu sendiri tau, janur kuning yang melengkung untuk kakak kamu saja bisa aku gagalkan meskipun kata sah sudah berada di ujung lidah. Kesempatan kamu masih panjang."


 


 


Ardi tertegun, apa yang dikatakan abangnya itu memang benar, dia terlalu larut dalam perasaan kecewa, tidak bisa berpikir untuk menjalankan rencana berikutnya.


 


 


"Hati Karin sudah ada di tangan kamu, tinggal kalahkan pasangannya, dan luluhkan hati papinya, kamu pasti bisa."


 


 


Ardi pikir semua perjuangannya memantaskan diri hingga pergi ke luar Negri adalah usaha terakhir untuk mendapatkan kebahagiannya, dia tidak pernah menyangka, sebuah tantangan berikutnya sudah menunggu di depan mata.


 


 


"Kamu harus bangkit, tinggal satu langkah, dan jika kamu berhasil mendapatkan semuanya, aku akan memberi restu untuk kalian bisa menikah. Itu janji abang buat semua perjuangan kamu, Dek."


 


 


**Iklan**


 


 


Netizen: sejak kecanduan kisah Ardi Karin panggilan 'abang' jadi istimewa thor, bahkan gue manggil abang tukang bakso aja berasa banget mesranya. Abang, baksonya seporsi, jangan pake mangkok ya.


 


 


Author: etunggu-tunggu, gimana dah? Jangan pake mangkok emang mau diraup.


 


 


Netizen: ya pokoknya jadi halu banget dah thor. Apalagi kalo kang baksonya nyautin. Iya Dek, jangan ngutang lagi yak.


 


 


Author: pengen ketawa tapi takut dosa, gimana yak.


 



Ardi: tolong tambahin dong poinnya biar kuat ini abang mau nikung Adek Karin.



Karin: Semangat ya ngumpulin poinnya, biar abang bisa nikung terus kita bisa nikah.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2