NOISY GIRL

NOISY GIRL
PILIHAN 2


__ADS_3

Agung terdiam beberapa saat. Dia terlalu terkejut dengan kedatangan kekasihnya yang teramat tiba-tiba. Biasanya gadis itu akan memberikan kabar dan dia tentu akan menghindar. Tapi kali ini kekasihnya itu sudah berdiri di depan mata, dia harus bagaimana.


 


 


Ipang menyikut lengan Agung saat pemuda itu malah diam saja. "Ajak ngobrol sana," usulnya.


 


 


Agung kembali menoleh pada Alya yang melangkah menghampirinya, dan seruan dari Ardi yang berpamitan akan pulang berhasil mengalihkan perhatian keduanya.


 


 


"Gue balik dulu lah." Ardi yang menyalami satu persatu sahabatnya itu kemudian melangkah pergi menuju sang istri. Pemandangan itu sebenarnya tidak terlalu menarik, tapi entah kenapa Agung seperti enggan mengalihkan perhatiannya pada pasangan itu, tanpa siapapun tau jika sebenarnya pikiran pemuda itu justru melayang entah kemana.


 


 


"Ka Agung kenapa menghindar?"


 


 


Mendengar pertanyaan itu dari gadis yang entah sejak kapan sudah duduk di sebelahnya , Agung jadi menoleh. "Nggak menghindar," balasnya, cukup lirih hingga Alya harus menajamkan pendengarannya, sebuah lagu baru yang dibawakan oleh penyanyi Cafe pun menambah bising, suasana menjelang malam di Cafe itu.


 


 


"Udahlah ajak ke atas, ngobrol di sana enak." Ipang memberi usul, senyumnya tampak jahil.


 


 


Agung beranjak berdiri, menarik tangan kekasihnya untuk kemudian melangkah pergi.


 


 


"Mau kemana?" Tanya Alya saat mereka sudah mulai menaiki anak tangga.


 


 


"Ruangan atas, belum pernah kan?"


 


 


Alya menggeleng, menurut saja saat pemuda itu menariknya ke tempat yang dia sebut ruangan atas, ada banyak pintu di sana, Agung bilang itu gudang penyimpanan stok, dan pemuda itu membuka satu pintu berwarna coklat yang ternyata di dalamnya adalah sebuah kamar.


 


 


Agung sudah melepaskan tangan kekasihnya saat mengambil kunci di saku celana, untuk membuka kamar yang biasa ia atau teman-temannya yang lain beristirahat di Cafe itu.


 


 


Saat melangkah masuk, pemuda itu sadar bahwa sang kekasih tidak lagi mengikutinya. Dia menoleh, mendapati Alya masih berdiri di ambang pintu dia jadi tertawa, "Ayo," ajaknya.


 


 


"Ko ke sini sih?" Alya bertanya curiga.


 


 


Agung terkekeh melihat kepanikan di wajah gadis itu, "Kenapa? Belum pernah diajak ke kamar ya?" Tanyanya menggoda.


 


 


Alya berdecih, dengan terpaksa masuk ke dalam ruangan dan mendahului kekasihnya, melihat pemuda itu berbalik dan menutup pintu, dia sedikit merasa panik. "Kenapa dikunci?"


 


 

__ADS_1


Agung mendekat, "Nggak dikunci, cuma ditutup doang, kalo kamu mau kabur masih bisa kok."


 


 


Alya semakin panik, bukannya dia takut pada Agung, hanya saja sikap pemuda itu yang aneh akhir-akhir ini, membuat dia merasa bahwa dirinya belum cukup mengenali pemuda yang bersttus kekasihnya itu." Kak Agung kenapa sih?"


 


 


Agung tersenyum, berjalan melewati Alya yang memejamkan mata saat pundaknya saling bertabrakan, padahal dia hanya mau membuka pintu balkon yang berada di belakang gadis itu .


 


 


"Kita ngobrol di sini," ucapnya setelah melangkah ke balkon dan menduduki kursi malas di sana.


 


 


Alya mengerjap gugup, gadis itu mengikuti kekasihnya ke arah balkon yang ternyata menyuguhkan pemandangan di belakang Cafe ini, sebuah taman perumahan yang ditanami berbagai jenis bunga di bawah sana, dan pepohonan yang tinggi pun membuat suasana kian sejuk, ditambah lagi lampu-lampu yang sudah mulai dinyalakan benar-benar membuat pemandangan itu semakin terasa menakjubkan, dia jadi menyesal, kenapa tidak dari dulu  menemukan tempat sebagus ini.


 


 


Agung beranjak berdiri, menghampiri Alya yang tampak takjub dengan pemandangan di hadapannya, kedua tangan gadis itu berpegangan pada pagar balkon, dan dia menyandarkan tubuhnya di sana, menghadap kekasihnya.


 


 


Dengan masih tersenyum, Alya menoleh, "aku baru tau di sini bagus banget pemandangannya," ungkap gadis itu.


 


 


Agung mengusap puncak kepala Alya yang berdiri di hadapannya, "seneng banget kamu kayaknya."


 


 


Alya tertegun, "Ka Agung pernah liat nggak, pas ujan turun, eh langitnya malah cerah?" Tanyanya.


 


 


 


 


"Sama kaya hati aku yang sebenernya nangis, tapi masih tetep bisa senyum." Alya berucap murung, namun kemudian mengulas senyum.


 


 


Sesaat Agung terdiam, dia sungguh takut membayangkan gadis itu kecewa saat dirinya mengakhiri hubungan mereka, senyum itu mungkin tidak lagi terlihat nyata.


 


 


"Kamu udah tau kan?"


 


 


Mendengar pertanyaan itu, Alya yang sebelumnya fokus pada pemandangan yang ia lihat kemudian menoleh pada kekasihnya. "Soal Ka Aldo yang ternyata macarin Adelina?" Tanyanya memastikan.


 


 


Agung mengangguk, "maaf, aku nggak bisa memberikan restu untuk mereka berdua, aku nggak bisa," ucapnya, berbalik dan ikut memegang pagar balkon dengan kedua tangannya.


 


 


"Aku ngerti Kak, mengingat perlakuan Kak Aldo terhadap Ka Agung, pasti kakak akan berpikir ulang jika harus merestui hubungan mereka."


 


 


"Seperti halnya Aldo yang ketakutan karena kamu dekat dengan aku yang menurutnya tidak pantas, aku juga ternyata berpikiran seperti itu, aku takut bersama Aldo Adelina tidak akan bahagia meskupun pria itu punya segalanya.

__ADS_1


 


 


Alya sedikit tersinggung, bagaimanapun juga Aldo itu kakak kandungnya, seburuk apapun sifat pria itu, mereka tetaplah bersaudara, tapi kembali lagi pada pribadi abangnya ya mengecewakan, dia pikir perlakuan itu sudah pantas untuk ia  terima .


 


 


"Maaf Lia, aku nggak bermaksud–"


 


 


"Nggak apa-apa Kak Agung, aku ngerti kok." Alya menyela ucapan kekasihnya.


 


 


Ini bagian tersulit bagi Agung, tatapan teduhnya mengunci pandangan gadis itu yang juga mengarah pada dirinya,  kalimat yang ia susun sedemikian rupa malah kabur entah kemana. "Aku harus gimana Lia?" hanya kalimat itu yang ia lontarkan sebagai pertanyaan.


 


 


Alya tertegun, "Kak Agung maunya gimana? Aku nggak suka kakak menghindar, masalah ini secepatnya harus  selesai," ucapnya.


 


 


"Jika aku menolak perasaan Aldo terhadap Adelina, mungkin kakak kamu itu akan melakukan hal yang sama terhadap kita, lalu kita harus apa?"


 


 


Alya mendekat,  memeluk pemuda itu dengan erat, "kita boleh bertengkar sehebat apapun, dan serumit apapun permasahan di antara kita berdua, aku mohon jangan jadikan itu alasan kita untuk tidak lagi bersama."


 


 


Selain membalas pelukan gadis itu, Agung hanya dapat menghela napas berat, meleburkan setiap kalimat yang belum sempat ia ucap, "maaf kalo akhir-akhir ini aku menghindar," ungkapnya.


 


 


Alya melepaskan pelukannya, menatap pemuda itu dengan senyum yang terukir di bibirnya. "Jangan kaya gitu lagi, aku nggak suka."


 


 


Agung mengangguk, memejamkan mata saat gadis di hadapannya itu mengusap kedua pipinya. Dan dengan tangannya, pemuda itu menangkap jemari Alya dan ia letakkan di atas bahu, lalu kedua tangannya meraih pinggang gadis itu .


 


 


Kedekatan ini membuat ia rindu saat bibir mereka saling menyatu. "Boleh cium?" Tanyanya meminta setuju.


 


 


Alya melipat bibirnya ke dalam, dia tidak menggeleng sebagai tanda kepenolakan, pun tidak berani mengangguk karena rasanya begitu malu, baru kali ini seorang laki-laki yang memiliki status istimewa, dan selalu bertanya saat ingin melakukan apa-apa, dan dia hanya tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaannya.


 


 


***iklan***


 


 


Author: monmaaf ini diterusin pake imajinasi masing masing aja ya  😂 semoga dua chapter hari ini rilis semua.


 


 


Netizen: pasti nanti ada yg bilang tumben iklannya dikit.


 


 


Author: Ya karena gua bikin episodenya dua, iklan panjangnya di episode selanjutnya tapi jan lupa like komen ditinggalin ya.

__ADS_1


__ADS_2