
"Hay Nino, udah mandi belum?" Justin menggerak-gerakan tangan putranya gemas. "Kamu kok nggak tidur si, adek Jino tidur tuh, kamu tidur dong gantian, kan papi juga mau main sama mami."
"Mandi dulu, Mas," ucap Nena saat melihat sang suami yang baru pulang dari kantor malah merebahkan diri di atas kasur. Mengajak putranya berbicara, mana salah nama pula. "Itu Jino, bukan Nino tau," tambahnya lagi, kemudian duduk di antara mereka.
Justin memperhatikan wajah putranya yang tengah tengkurap, dan satu lagi terlentang memejamkan mata, "mukanya sama," ucapnya kemudian beranjak duduk, bersila di hadapan sang istri kemudian tersenyum.
"Kamu tuh kaya Ardi deh, nggak bisa bedain Jino sama Nino."
Justin kembali menoleh pada putranya, "bedanya di mana si?" Tanyanya yang kemudian membuat Nena ikut memperhatikan kedua anak laki-lakinya itu, memang belum terlalu terlihat perbedaannya tapi, "ya pokoknya beda lah."
Justin jadi tertawa, mencubit pipi sang istri yang tampak sedikit berisi. "Tidurin dong Jinonya, aku kangen."
Nena melengos sebal, "mana bisa, dia tuh baru bangun, nanti kalo dia tidur, gantian deh Nino yang bangun," ucapnya menjelaskan kebiasaan anak kembarnya itu yang sebenarnya Justin juga sudah tau.
"Terus waktu buat akunya kapan doong," rengek Justin, memeluk sang istri dari samping.
Nena menghela napa, kemudian menoleh pada sang suami yang wajahnya begitu dekat, namun dia jadi teringat sesuatu. "Masalah Karin gimana, Mas. Kasian dia kalo harus ikut papinya."
Justin sesaat terdiam, menaruh dagunya di pundak sang istri kemudian berpikir. "Aku malah lebih kasian sama Ardi."
"Ardi kenapa?" Tanya Nena.
Justin menegakkan duduknya, kemudian menceritakan tentang betapa kacaunya pemuda itu saat dia beri pilihan. "Padahal meskipun Ardi memilih tetap kuliah disini, aku bakalan tetep mengusahakan Karin kembali ke rumah ini."
"Jadi maksud Mas ngasih pilihan itu buat apa?"
"Biar dia punya alasan, susah buat aku bujuk dia kuliah di LA," ucap Justin, tangannya sibuk menarik dasi yang sudah mengendur di lehernya hingga terlepas.
Nena mengambil benda itu dari tangan sang suami, "kenapa nggak biarin aja sih Mas, Ardi biar kuliah di sini, toh sama aja kan, Dosen di sini juga banyak yang lulusan luar Negri, bagus-bagus pasti."
"Masalahnya, dia bisa fokus apa nggak? Ditinggal sepi sebentar aja sarapannya spesial, gimana kalo dia sering ada kesempatan berdua, anak kita bisa cepet dapet sepupu."
Nena sontak tertawa, "emangnya Ardi udah bisa," ucapnya meremehkan.
Justin berdecak pelan, "adek kamu itu udah gede sayaang," ucapnya.
Nena sesaat terdiam, dia merasa baru kemarin anak itu merengek minta dibelikan mainan, dan sekarang tau-tau mainannya sudah ganti selera.
"Nggak kerasa ya, Mas. Waktu cepet banget berlalu, padahal baru kemaren aku sering ninggalin Ardi di pasar, ngumpet dan anak itu pasti kelimpungan, nggak tau arah jalan pulang," kenangnya sambil melamun, "nanti kalo dia di luar negri sendirian, apa nggak bakal sering nyasar, aku kok khawatir ya, nanti kalo dia sakit gimana, Mas?"
Justin tertawa pelan, menyentuh kening sang istri dengan telunjuknya, membuat wanita itu terbangun dari lamunan. "Ardi anak yang pintar, dia pasti cepat beradaptasi, lagian di sana ada saudaranya William."
"Aku kok nggak yakin sama saudaranya William, Williamnya aja begitu."
"Ya nggak apa-apa, biar sekalian di sana nanti dia belajar sama saudaranya William," ucap Justin menggerakan kedua alisnya menggoda.
Nena reflek memukul lengan suaminya, "kamu tuh sama banget tau sama Ardi, nggak jauh beda, apalagi mesumnya," ucap Nena kesal.
__ADS_1
"Apaan, pinteran dia lah, belum-apa-apa udah sejauh itu, aku dulu mana pernah gitu sama kamu, mau dicium aja kabur."
Nena jadi tertawa, ingat kejadian di apartemen suaminya saat dulu pria itu mengungkapkan perasaannya. "emang dulu kamu beneran mau nyium aku?" Tanyanya.
Justin melengos, "ya iyalah, kamunya lari gitu aku jadi trauma, besok-besok nggak berani lagi."
Nena baru sadar, dulu sebelum menikah, suaminya ini memang belum pernah sekalipun kurang ajar.
"Bingung juga gimana caranya William bisa dapet ciuman pertama." Justin kembali mengungkit, masa lalu sang istri yang sampai sekarang masih menjadi misteri.
"Kamu masih penasaran?"
"Iya."
Nena berdecak, pandangannya mengawang, membuka memory beberapa tahun yang lalu saat dia masih Sma, "jadi dulu itu pas kelas renang, aku yang nggak bisa berenang ini tenggelem, nyaris pingsan. William nolongin aku terus ngasih napas buatan gitu, dan aku anggep itu ciuman pertama."
Justin menahan tawa, siapa yang menyangka, wanita secantik Nena tidak pernah pacaran sebelumnya,"kamu nggak punya mantan?"
Nena menggeleng, "nggak sempat mikir ke situ, Mas, pas sekolah sama kuliah pikiran aku dipenuhi sama rumus dan ambisi nilai bagus, dan pas udah kerja dan ayah jatuh sakit, di otak aku cuman gimana caranya biar Ardi nggak putus sekolah, dan ayah tetap bisa berobat. Mana sempet aku pacaran coba."
Justin jadi salut, kemudian mengusap kepala sang istri dengan lembut. Pantas saja sampai sekarang istrinya ini jarang sekali peka dengan godaannya, namun dia malah semakin cinta.
"Tapi kamu pernah cerita, Ardi ganti-ganti pacar terus di sekolah, kamu nggak marah?"
"Bedanya?"
"Ya beda aja kelakuannya."
Justin jadi ingat sesuatu. "Boleh juga nanti kita coba sarapan-ala-ala mereka di dapur," godanya yang membuat sang istri mengernyit geli.
"Idih, ngapain, kurang kerjaan."
Justin tertawa, tuh kan istrinya ini sejak dulu sampai sekarang punya anak dua, sulit sekali diajak bermesraan, tapi entah kenapa pria itu malah suka, saat melihat pipinya memerah dan tingkahnya berubah dia merasa jatuh cinta lagi seperti pertemunnya yang pertama.
Dia sampai bosan, bosan kenapa tidak pernah merasa bosan selalu jatuh cinta pada wanita yang sama.
Justin mengecup bibir sang istri cepat, membuat wanita itu mengerjap.
"Mandi dulu sana," Omel Nena, namun sang suami tidak menggubris perintahnya, malah mendorong wanita itu hingga merebahkan diri di atas kasur. "Jino liatin kita tau."
Setengah menindih tubuh sang istri, Justin menoleh pada putranya yang tampak membulatkan mata, "nggak ngerti juga dianya, tenang aja."
"Ih, enggak, nanti otak dia mesum kaya kamu."
__ADS_1
"Dia itu masih balita sayang, mana ngerti maminya mau diapain," bisiknya dekat telinga, kemudian menempelkan bibir di ceruk leher wanita itu, dan sukses membuat putranya menangis.
"Tuh, kan, dia itu peka, Mas."
Justin mengangkat kepala, menoleh pada putranya yang mencebikkan bibir menggemaskan, namun pria itu malah menjatuhkan tubuhnya lemas. Sejak sikembar lahir, perhatian sang istri jadi terbagi, haruskan dia merasa cemburu. Tapi masa iya cemburu pada anak sendiri.
"Mas Justin, beraaat," keluh Nena, mendorong dada suaminya menjauh tapi tidak bisa. "Jino tolongin mami," pintanya pada sang anak yang semakin keras menangis, hingga membangunkan saudaranya yang lain. Dan tangisan si kembar jadi bersahut-sahutan.
Justin menjambak rambut kepalanya frustrasi. "Ya Allah, Tuhaan. Iya, iya, iyaaa," keluhnya kemudian beranjak ke kamar mandi.
"Mas Justin jangan mandi dulu, bantuin aku bikinin susu," pinta Nena. Dan pria itu pun berbelok ke sudut kamar, beranjak ke pantry meracik dua botol susu untuk putra kembarnya.
Dan ketukan di pintu membuat keduanya menoleh, Nena menuruni ranjang, menggendong salah satu putranya beranjak ke pintu.
"Kenapa nangis, ibu bantu bikinin susu, ya," ucap Marlina saat pintu terbuka.
"Nggak usah, Bu. Udah dibikinin kok sama, Mas Justin."
"Ooh, Na. Adek kamu kemana ya, kok belum pulang?"
"Ardi?"
"Iya, perasaan ibu nggak enak, takut kenapa-napa." Marlina tau tentang Karin yang dipaksa pulang oleh papinya, dan hal itu saja sudah membuatnya khawatir, ditambah lagi sampai selarut ini putranya juga tidak pulang-pulang.
Tidak pernah sebelumnya pemuda itu pergi tanpa pamit, dan pulang larut tanpa memberi kabar.
Nena menoleh pada sang suami yang menghampirinya dengan menggendong putranya yang menangis di atas kasur, satu botol susu diberikan pada wanita itu.
"Ibu tenang aja, Ardi nggak bakalan kenap-napa." Justin mencoba menenangkan.
Dan saat sang Ibu memutuskan kembali menunggu di ruang tv, Nena menutup pintu menghampiri Justin yang lebih dulu beranjak ke kasur.
"Kira-kira Ardi kemana ya, Mas?"
Justin mengangkat bahu. "Mungkin ke rumah teman-temannya."
*iklan*
Author: buat yg kangen aja.
Netizen: aku kangen sama anak setan thoor
Author : sabar, tunggu besok ya. Jan lupa poinnya ditambahin biar nggak ngenes-ngenes amat gue nyusun konflik nya.
__ADS_1