NOISY GIRL

NOISY GIRL
CURIGA


__ADS_3

Ardi membelokkan motornya ke arah Cafe milik Agung dan Ipang, kedua temannya itu sudah hampir dua tahun mengelola usaha itu bersama. Tentu saja dengan Ipang yang paling banyak mengeluarkan dananya, Agung bertugas mengelola.


 


 


"Wey, tumben Bang Ceo mampir," ledek Edo yang ternyata juga sudah berada di sana, sofa bundar yang terletak di pojok tempat itu.


 


 


Ardi tidak menanggapi, temannya itu pun tampak sibuk kembali dengan laptopnya, mungkin mengerjakan tugas kantor seperti biasa.


 


 


"Agung mana ya, gue liat di depan nggak ada."


 


 


Edo mengangkat bahu, kemudian kembali fokus pada benda di hadapannya.


 


 


Ardi menyandarkan tubuhnya pada sofa, menengadah dan memejamkan mata, pemuda itu kembali mengingat percakapannya beberapa menit yang lalu dengan Karin.


 


 


"Mau naik apa?"


 


 


"Motor aja, Bang."


 


 


"Kenapa?"


 


 


"Biar cepet."


 


 


Ardi menghela napas, gadis itu benar-benar berubah, apa mungkin perasaannya juga telah berubah. Pemuda itu kembali mengingat kenangannya beberapa tahun yang lalu, tampak sama namun berbeda rasa.


 


 


"Naik apa kita, Dek?"


 


 


"Motor aja, Bang Ar."


 


 


"Kenapa?"


 


 


"Biar bisa jedot-jedotan helm kita."


 


 


"Pas berenti di lampu merah ngusap-ngusap dengkul ya"


 


 


"Haha, nanti kaca spion kiri adepin ke muka Karin ya."


 


 


"Biar apa coba?"


 


 


"Biar abang nggak berpaling liat yang lain."


 


 


Sekarang malah kamu yang berpaling, Dek. Mengingat itu hati Ardi mendadak nyeri, dia masih bertanya-tanya, kepergian gadis itu atas kesalahannya yang mana.


 


 


Ardi menoleh saat seseorang yang baru duduk di sebelahnya kemudian menepuk paha.


 


 


"Ngapa lo?" Tanya Ipang.


 


 


Ardi menegakkan duduknya, kemudian menggeleng. "Agung mana ya, aus ni gue."


 


 


"Lagi keluar, mau minum apa emang, gue aja yang bikinin."


 


 


"Ogah, bikinan lo nggak enak."


 


 


"Sialan!" Umpat Ipang namun kemudian tertawa.


 


 


"Gue nggak liat lo bawa cewek tumben, Pang." Ardi bertanya dengan menopang dagu, bertumpu di atas lutut.


 


 


"Udah tobat."


 


 


Ardi berdecih, mengalihkan tangannya dari dagu untuk menonjok lengan pemuda itu. "Tobat kagetan lo mah," ledeknya.


 

__ADS_1


 


"Gini ya, gue selama ini gonta ganti pasangan tuh bukannya playboy, cuman biar bisa milih aja gitu."


 


 


"Setan emang." Edo yang masih fokus pada pekerjaannya ikut nimbrung dan tertawa.


 


 


"Dan sekarang pilihan lo jatuh ke siapa?" Tanya Ardi.


 


 


"Percuma, gue nggak milih siapa-siapa, yang milih bokap gue." Ipang bersandar pada sofa, mengusap wajahnya gusar.


 


 


"Mending bokap lo suruh nikah lagi aja dah, Pang, biar nggak ngrecokin jodoh lo." Edo memberi saran, menutup laptop di hadapannya. "Sama Ibunya Ardi tuh, kan sama-sama sendiri."


 


 


"Sialan, ngapa jadi bawa-bawa emak gue si." Ardi yang protes menendang kaki Edo hingga mengaduh.


 


 


"Ogah gue punya sodara tiri kaya ni anak." Ipang menunjuk Ardi yng duduk di sebelahnya.


 


 


Ardi mendecih, "apa lagi gue, idih ogah gue punya bokap macam bapak lo."


 


 


Edo tertawa, kedua sahabatnya ini malah jadi berdebat, padahal dia hanya bercanda. "Emang lo dijodoh-jodihin lagi, Pang? Sama siapa sekarang?" Tanyanya.


 


 


Masih bersandar di sofa, Ipang mengerang frustrasi. "Mending kalo di kenalin  doang," ucapnya, kemudian menyodorkan tangan kiri pada mereka, cincin yang tersemat di sana membuat Ardi mengerutkan dahi. "Gue dijodohin beneran, dan nggak tau tunangan gue siapa, bokap cuma bilang, gue harus serius buat nerusin usaha dia."


 


 


***


 


 


"Ya Allah jauhkan lah hambamu dari sariawan di pinggir bibir, makan mi instan pake cabe jadi susah gini." Maya yang tengah merutuk sendiri kemudian dikejutkan oleh kedatangan Karin yang menduduki kursi di hadapannya.


 


 


Tadi pagi Maya tidak melihat temannya datang, dan ternyata gadis itu kesiangan, namun anehnya tidak ada yang berani mengomelinya.


 


 


"Kenapa lo, Rin?" Tanya Maya saat gadis di hadapannya itu terlihat murung.


 


 


"Lo tau nggak, May, perusahaan ini punya siapa?" Tanya Karin serius.


 


 


 


 


"Ya lo tau nggak, Bapak Ardian itu siapa?" Karin jadi gemas sendiri melihat tanggapan temannya.


 


 


"Ya mana gue tau dia bapaknya siapa, bininya siapa juga gue nggak tau, apalagi bapaknya."


 


 


"Iih, Mayaa."


 


 


"Kenapa si?" Maya jadi balik mengomel karena tingkah sahabatnya yang cukup aneh. "Nggak tau lo gue lagi sariawan."


 


 


Karin berdecak kesal. "Bang Ar, May, perusahaan ini milik Bang Ar."


 


 


"Oh," tanggap Maya, mengangguk sekilas, "eh, gimana-gimana?"


 


 


Karin berdecak, "kemaren pas gue dipanggil gue baru tau ternyata dia atasan kita." Karin mulai bercerita, dan temannya tampak mengangguk-anggun di depan sana, gadis itu juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Bang Bule, dan keluarga Justin di lantai bawah.


 


 


"Pantesan, pas tadi lo kesiangan nggak ada yang berani ngomelin, mana pada baik-baikin semua lagi kayaknya, apa lagi si Bu Lusi, gue rasa mereka tau lo ada hubungan deket sama atasannya." Maya mengutarakan dugaannya.


 


 


Karin mengangkat bahu, "barangkali," ucapnya tidak peduli.


 


 


"Yaudah lah, Rin nggak usah dipikirin, eh tapi Hebat juga yah Bang Ar, lo nggak ketemu dia cuma beberapa bulan tapi udah bisa bikin perusahaan." Maya kembali menyuapkan makanannya dengan hati-hati, sariawannya terasa nyeri, mana dipake ghibahin orang lagi. Udah sakit dapet dosa pula.


 


 


"Yang bangun sih Bang Justin, udah cukup lama juga, cuman Bang Ar yang sekarang dipercaya buat mengelola." Karin sedikit memberikan penjelasan. "Gimana dong, May, hati gue ini, ambyar lagi kalo ketemu dia."


 


 


"Yaudah nikmatin aja, lagian lo nggak tau juga tunangan lo siapa, santai aja lah, siapa tau itu cuman akal-akalan papi lo biar lo nggak berhubungan sama Bang Ardi."


 


 


Karin tampak berpikir, iya juga si. Tapi tetep aja, kembali menjalin kisah dengan pemuda itu, hanya akan mengulang luka lama yang sama. Dia tidak bisa bermain-main dengan hati siapapun, termasuk hatinya sendiri, meski harus ia akui, dia ingin kembali seperti dulu lagi.


 

__ADS_1


 


"Udah, lo nggak usah sedih, gimana kalo pulang nanti kita nonton," usul Maya.


 


 


"Nonton apa?"


 


 


"Terserah lo, gue ngikut."


 


 


"Gue pengen nonton film horor deh," ucap Karin, sedikit memundurkan tubuhnya saat makanan pesanan gadis itu disajikan di atas meja.


 


 


"Dih gue nggak demen banget dah," tolak Maya. "Kenapa emang mau nonton film horor, hidup lo aja udah horor banget Rin."


 


 


Sambil mengaduk mi di hadapannya, Karin mencebikkan bibir. "Gue pengen punya alasan lain aja buat merasa takut, selain ketakutan yang gue alami saat ini," ucapnya dramatis.


 


 


"Yaelah Rin, gue tuh kalo nonton film horor suka kebawa mimpi, cuci muka aja gue nggak berani tutup mata saking takutnya, yang lain napah."


 


 


***


 


 


"Selamat Pak Ardian, senang bekerja sama dengan Anda."


 


 


Ardi mengangguk, tersenyum pada pria ber jas rapi di hadapannya, pemuda itu membalas jabatan tangan mereka satu persatu. Dan berterimakasih untuk semua pujian yang mereka berikan atas keberhasilannya kali ini.


 


 


Justin mendekat, mengacak rambut sang adik kemudian tersenyum. "Selamat," ucapnya.


 


 


Ardi mengangguk, "Mereka tuh mandang abang, makanya mau aja kerjasama sama aku," ucapnya merendah.


 


 


Justin tertawa pelan, "tapi kemampuan kamu juga patut dipertimbangkan."


 


 


Ardi tersenyum, "makasih, Bang."


 


 


Justin mengangguk, masih berdiri di hadapan pemuda itu, telapak tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. "Jangan mudah merasa bahwa kamu sudah lebih unggul dari semua orang," ucap Justin, tatapannya lembut mengarah pada pemuda itu. "Karena sesungguhnya, pesaing yang harus kamu waspadai adalah diri kamu sendiri," imbuhnya, kemudian melangkah pergi.


 


 


Ardi tertegun, mengikuti langkah sang abang yang kemudian menghilang di balik pintu, kalimat itu seperti ditujukan untuk satu hal yang berbeda, dan dia tidak tau itu apa.


 


 


***iklan***


 


 


Netizen: ini ngapa updatenya ngaret banget tor, ibarat karet kolor semangat gue jadi kendor.


 


 


Author: ngapa jadi kolor dah. Gue juga gak tau Mang Aton nya lagi ngapa kali, padahal gue kirim hari sabtu.


 


 


Netizen: kurang sajen lu thor.


 


 


Author: kurang poin doang gue 🤣



Jan lupa pada ikut masuk grup ya, nanti aku kabarin kalo udah kirim naskah.


 



Karin: poinnya jan lupa ditambahin.


 



Ardi: komennya jan lupa dikencengin.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2