
Karin sedikit terkejut, saat seseorang mengetuk pintu balkon padahal malam sudah larut, gadis itu beranjak ke jendela, sedikit membuka tirainya.
"Bang Ar," gumamnya lirih, meski sang abang tampak berdiri memunggunginya tapi dia kenal dengan punggung dan rambut pemuda itu.
Pintu yang terbuka di belakangnya membuat Ardi berbalik, "Hay," sapanya, tampak lemah dan tidak bersemangat.
"Kamu tuh kebiasaan yah, manjat-manjat rumah orang, kalo jatoh gimana? Kenapa nggak lewat pintu depan, aja sih." Karin mengomel, dan pemuda di hadapannya tampak diam saja, dari dasi yang berantakan juga kancing baju yang hilang satu karena kejadian sore tadi, gadis itu menebak bahwa sang abang belum pulang ke rumahnya.
"Boleh masuk nggak? Dingin banget ini," ucap Ardi lirih.
Karin tertegun sejenak, dia masih sedikit takut dengan sikap pemuda itu sore tadi, tapi membiarkan kekasihnya itu terus berdiri di luar, dia jadi tidak tega, gadis itu membuka pintu balkon lebar-lebar dengan tangannya.
Ardi melangkah masuk, saat melewati gadis itu dia sedikit mencondongkan kepala, dan gadis di hadapannya reflek memundukan tubuhnya.
Pemuda itu tertawa pelan, "takut banget si," godanya, kembali melangkah masuk dan duduk di kasur yang terletak di sana.
"Abang belum pulang ya?"
"Hn?" Setelah sempat memperhatikan isi kamar gadis itu yang tampak berbeda, dia menoleh. "Belum, tadi ketiduran di kantor."
"Sama cewek itu yah," tebak Karin asal.
Ardi tertawa mendengus, "Alya?" Tanyanya.
Merasa tidak suka mendengar nama gadis itu disebutkan dengan begitu akrap oleh pemuda di hadapannya, Karin memilih membuang muka.
Ardi meraih tangan gadis itu, menariknya mendekat, dia yang duduk di ranjang kemudian mendongak saat gadis yang berdiri di hadapannya memberikan tatapan tak terbaca. "Aku kesini mau minta maaf," ucapnya.
Karin mengerjap luluh, di hadapan sang abang dia selalu saja tidak bisa bersikap acuh, dan mengangguk ia jadikan pilihan untuk menanggapi permintaan pemuda itu.
Ardi memejamkan mata, bersamaan dengan tangan lembut menyentuh permukaan pipinya.
"Maafin aku juga ya, Bang, aku nggak sengaja," ucapnya.
Pemuda di hadapannya meraih tangan Karin, "salah abang, Dek, emang pantes ditampar juga," ucapnya, kemudian membawa tangan digenggamannya untuk dia cium.
Karin tertegun, kemudian menarik perhahan tangannya dari pemuda itu. "Udah malem, Bang, abang nggak pulang?" Tanyanya mengingatkan.
Sejenak, Ardi diam saja, pemuda itu menatap wajah gadis di hadapannya dengan lekat, "tadi gimana? Udah ketemu sama tunangan kamu?"
Karin menggeleng, "Nggak jadi, katanya orangnya nggak pulang kerumah, jadi pertemuannya dibatalin."
"Oh," ucap Ardi, kemudian beranjak berdiri, melangkah berkeliling di kamar gadis itu dan mengambil fas foto diatas meja, yang ternyata potret dirinya.
Melihat itu, Karin dengan cepat merebut benda di tangan sang abang dan menyembunyikannya di balik punggung, "Nggak boleh ketawa," omel Karin saat pemuda itu mulai menunjukan deretan gigi putihnya.
__ADS_1
"Kemana boneka kamu, momo, kity, kok nggak ada?" Tanya Ardi.
Karin tertawa pelan, "masih inget aja kamu, Bang," ucapnya, "aku udah nggak main boneka lah, abang," imbuh gadis itu kemudian.
"Ah iya, lupa, kamu udah gede ya." Ardi mencondongkan tubuhnya, menggoda, dan gadis di hadapannya mundur satu langkah.
"Kenapa si, takut banget," protes Ardi, sedikit menahan senyum.
Karin meletakan benda di tangannya ke atas meja, kemudian kembali menatap pemuda di hadapannya, "Nggak apa-apa," katanya.
"Cariin nih, kancing baju ilang satu," goda pemuda itu dengan menyentuh kerah di lehernya.
Karin jadi tertawa, "sukurin, ngeselin banget abisnya."
Ardi kembali duduk di ranjang kemudian merebahkan tubuhnya, di sebelah pemuda itu, Karin kemudian mendudukkan diri. "Pulang, Bang, entar ketauan mami," ucapnya, menarik lengan baju sang abang yang digulung sampai siku.
"Biarin aja emang kenapa?"
"Kenapa, ya nggak boleh lah."
Karin ikut merebahkan dirinya di sebelah sang abang, dan pemuda itu kemudian menoleh, mereka kini berhadapan.
"Candu, Dek," ucap Ardi lirih.
Ardi tersenyum, sejenak memejamkan mata, menahan keinginan untuk menyentuh gadis itu walau sekali saja.
"Aku rindu kita yang dulu, Bang," ucap Karin.
Ardi yang sudah membuka mata kemudian mengangkat kedua alisnya, "apa?" Tanyanya.
"Dulu aku sering main ke kamar abang. Kita sering tidur-tiduran bareng, dan aku nggak diapa-apain."
Ardi memejamkan mata lagi, tertawa pelan, "sekarang kan beda," ucapnya.
"Bedanya apa?"
"Dulu kamu cuma gemesin."
Karin mengerutkan dahi. "Kalo sekarang?" Tanyanya sekali lagi.
"Nafsuin."
"Abang!" Karin resflek menutup mulutnya sendiri, takut sang mami mendengarnya di luar kamar. Gadis itu memukul lengan pemuda yang masih tiduran menghadapnya dengan gemas. "Ngeselin."
__ADS_1
Ardi tertawa, menepuk nepuk pipi gadis di hadapannya, "tidur yuk."
Karin membelalakan mata, "baaang," ancamnya dengan geram.
Ardi tersenyum, "tidur aja, nggak usah ngapa-ngapain," ucapnya.
Karin tidak menanggapi, beralih posisi menjadi terlentang dan menatap langit-langit, gadis itu terus mengoceh tentang perasaannya yang tidak pernah berubah pada pemuda itu. Dan saat menoleh dia malah mendapati sang abang sudah tertidur di tempatnya. "Iiiiiih kesel."
Gadis itu beralih menghadap sang abang, menatap wajah tampannya yang terlihat amat damai.
Mendapati kening pemuda di hadapannya yang berkerut dan gelisah, Karin jadi iba, sebenarnya pemuda itu memikirkan apa sampai ke bawa ke alam mimpi segala.
Karin mengarahkan jarinya untuk mengusap kening pemuda itu, namun kelopak mata di hadapannya malah terbuka.
Tatapannya tidak terbaca, sesaat denting jarum jam dinding lebih mendominasi di antara keduanyan.
****
"Mana gue tau lo pernah sayang, lo aja nggak pernah bilang," ucap Lisa, masih tidak mengerti dengan seseorang yang ternyata ditunangkan oleh dirinya. "Sejak kapan?" Gadis itu bertanya.
"Sejak malam tahun baru di rumah Ardi, gue liat lo beda aja."
Lisa yang kemudian menghentikan langkahnya lalu menoleh. "Lama banget dong," ucapnya yang membuat pemuda itu mengangguk.
Ipang berjalan lebih dulu kemudian menduduki bangku panjang yang menghadap pada danau buatan yang tersedia di tempat itu, sesekali, ia melempar batu.
"Waktu malem taun baru itu, gue liat lo nganterin Heny pulang, dan kata anak anak lo mau nembak dia lagi."
Ipang menoleh, menarik gadis yang msih berdiri itu dan menyuruhnya menduduki bangku " iya," akunya, "Dulu gue ditolak lagi," ucapnya lirih.
Lisa terdiam sejenak, bingung juga harus memulai dari mana, hingga pemuda yang duduk di sebelahnya itu berucap lagi.
"Udahlah jangan bahas Heny. Dia udah bahagia sama yang lain juga."
"Sebenernya gue juga suka si sama lo, cuman karena lo dulu deketinnya Heny, gue jadi nggak berani."
Ipang tersenyum, mengacak rambut gadis di sebelahnya gemas. "Mana gue tau kalo lo pernah sayang, lo juga nggak pernah bilang," sindirnya balik, mengulang kalimat gadis itu yang membuat keduanya jadi tertawa.
***iklan***
Author: ini gue ketiduran, kalo hari selasa muncul, berarti beruntung. Part ini selingan aja, sabar ya. Jangan lupa poinnya ya 😅😅😅
__ADS_1