NOISY GIRL

NOISY GIRL
MALAM


__ADS_3

Adelina yang menolak dibawa ke rumah sakit karena merasa sudah tidak apa-apa memilih untuk pulang ke villa, di sana teman-teman sang abang dengan bergantian menanyakan keadaannya.


"Kamu tuh kenapa sih? Agung mengomel pada gadis yang duduk di tepi ranjang dengan handuk kecil yang menutupi rambut basahnya.


Adelina yang cemberut kemudian menjawab, "tadi tuh ada anak kecil main bola, eh bolanya kebawa ombak, terus aku kejar, sampe akhirnya baru sadar pas aku udah ditengah."


"Bodoh banget kamu," omel Agung dengan sedikit memberi jitakan pada gadis di hadapannya.


"Atuh ih sakit A, iya Nina emang bodoh," balas gadis itu dengan wajah yang terlihat kesal.


Agung sedikit tersenyum, meraih handuk kecil di kepala sang adik kemudian membantu mengeringkan rambutnya. "Jangan gitu lagi, kamu bikin aa takut," ucapnya sambil berdiri.


Adelina merangkulkan kedua tangannya pada pinggang sang abang yang berdiri di hadapannya, "maaf A, udah bikin aa repot," ucapnya.


Agung melepaskan pelukan gadis itu, kemudian sedikit berjongkok, "kamu baik-baik aja juga aa udah seneng," ucapnya sembari mengacak rambut sang adik di hadapannya.


Gadis itu tersenyum, belum sempat menanggapi, kedatangan seseorang yang memilih berdiri di ambang pintu membuat keduanya menoleh.


Perlahan Agung beranjak berdiri, kemudian menepuk puncak kepala adiknya dengan lembut, "aa keluar dulu," ucapnya yang kemudian mendapat anggukan dari gadis itu.


Aldo melangkah masuk saat Agung beranjak pergi, keduanya saling berpapasan, dan yang tidak pernah pria itu duga, Agung menepuk pundaknya dua kali sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.


Pria yang merasa senang itu menghampiri Adelina dengan tersenyum, kemudian menarik satu kursi di depan meja rias dan ia letakkan di depan gadis itu untuk ia duduki.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Adelina.


Aldo menggeleng, "Nggak apa-apa," ucapnya yang membuat gadis itu mengerutkan dahi. "Kamu beneran nggak mau berobat?" Tanya pria itu.


Adelina yang menggeleng kemudian berterimakasih, karena yang dia dengar dari teman-temannya pria itu lah yang telah menolongnya.


"Enggak, kamu ditolongin sama petugas pantai kok," sangkal pemuda itu.


Sesaat keduanya saling diam, Aldo mengangkat tangannya untuk meyelipkan rambut Adelina ke belakang telinga. Kemudian tersenyum.


"Aku takut banget tadi," ucap Aldo.


Adelina ikut tersenyum, "maaf udah bikin Kak Aldo khawatir," ujarnya.


"Yang khawatir bukan aku, tapi abang kamu, hampir-hampir nangis dia," canda pria itu.


"Beneran?" Adelina bertanya tidak percaya, "nanti aku bilangin A Agung nih, kamu ngomong gitu," tunjuknya pada hidung pria di hadapannya yang refleks menghindar. Keduanya kemudian saling bercanda.


***


Mereka yang merasa betah beberapa hari berlibur di Bali nyatanya harus pulang besok pagi, selama di sana tempat yang mereka kunjungi tidak pernah membuat kecewa, begitu indah hingga membuat betah berlama-lama.


Malam ini ditutup dengan acara barbeque yang diusulkan oleh pasangan Ardi Karin, kata mereka malam terakhir di tempat ini tidak boleh kita lewati.


"Bang Ipang nyanyi lah," usul Karin, acara seperti ini mengingatkannya saat dulu dia masih remaja, suasananya mungkin tetap sama, hanya saja statusnya dengan Ardi yang kini sudah berbeda.

__ADS_1


Ardi yang memegang piring berisi daging panggang di tangan kanannya ikut menanggapi, "iya nih, biar rame," ucapnya, "buat perpisahan."


Ipang meletakkan piring di atas meja bunda di hadapannya, mereka berada di tengah taman belakang villa yang cukup luas untuk menjalankan acara, "nyanyi gimana gitarnya aja nggak ada," ucap pria itu.


Edo yang baru datang dari dalam Villa karena mengambil baju hangat untuk istrinya ikut menimpali, "pake kecrekan mau Pang, ntar gue cariin botol kasih batu," selorohnya setelah ikut duduk di hadapan pria itu.


"Etolong ya profesi lama jangan dibawa-bawa."


Kalimat itu membuat Lisa di sebelahnya jadi tertawa, "jadi inget malam tahun baru beberapa tahun yang lalu ya, pas kumpul di rumah Ardi, sayang Heny nggak bisa ikut," sindirnya yang membuat kekasihnya itu menoleh keki.


"Eh dulu lo gencar banget ya, Pang, deketin Heny." Agung ikut memanas-manasi.


Adelina yang duduk di sebelahnya kemudian bertanya. "Heny siapa sih, A?"


"Heny itu cewek yang Ipang suka, tapi sayang dianya nggak suka sama Ipang." Alya yang menjawab pertanyaan calon adik iparnya itu, yang kemudian mendapat sikutan dari kekasihnya.


"Lo semua kenapa jadi mojokin gue si? Jadi horor begini suasananya," ucap Ipang sembari melirikan matanya pada Lisa yang raut wajahnya sedikit berbeda.


Aldo yang merupakan sepupu pemuda itu yang juga tau sepak terjang saudaranya dalam mengejar perempuan ikut menambah-nambahkan. "Dia mah cintanya gampang luntur, liat yang baru juga pasti kabur," hasuynya yang membuat wajah Lisa semakin seram saja.


Lisa beranjak berdiri, "aku masuk dulu ya, mau ke kamar mandi," ucapnya memberi alasan, kemudian melangkah pergi.


"Eh, Yang!" Ipang ikut berdiri, kemudian menoleh geram pada teman-temannya yang malah cekikikan. "Gara-gara kalian ini sialaaan," omelnya, lalu berlari menyusul kekasihnya.


"Kamu kenapa si?" Ipang meraih tangan Lisa yang terus melangkah saat mereka sudah masuk ke dalam villa. "Mereka nggak usah didengerin, biasanya juga kamu nggak kaya gini," imbuhnya saat gadis di hadapannya itu menghentikan langkah.


Lisa berbalik, menarik tangannya hingga genggaman pria itu kemudian terlepas. "Aku capek, Pang. Capek terus denger tentang kamu yang mereka bilang sebagai pecinta perempuan," ucapnya lirih.


Lisa melirik ke belakang kekasihnya, teman-teman mereka tampak berkumpul di sana, perempuan itu sedikit menahan senyum.


Ipang yang curiga kemudian mengerutkan dahi, menolehkan tatapannya ke belakang, arah di mana gadis itu terus memandang, dan diapun terkejut.


"Happy brith Day!!" Seru teman-temannya dengan begitu keras.


Lagu selamat ulang tahun yang mereka lantunkan membuat Ipang memejamkan mata, jujur dia tidak menyangka, masih kesal tapi juga teramat senang, pria itu menoleh pada kekasihnya yang tertawa, tatapannya tampak mengancam. "awas kamu ya," ujarnya.


Alya yang membawa kue di tangannya kemudian mendekat, "met ultah ya sepupu gue, duh kasian banget dikerjain," ucapnya kemudian tertawa.


Aldo yang juga mendekat menepuk pundak saudaranya itu, "Selamat menjadi tua, cepet nikah," ujarnya.


"Wah nggak tau diri, lo aja masih sendiri, tuaan lo woy," balas Ipang yang membuat sepupunya itu tertawa.


"Yaudah tiup itu lilinnya meleleh." Edo mengingatkan.


"Oke siap-siap lo pada pulang ya, lilinnya gue tiup nih."


"Lo kira pesugihan."


Ipang tertawa, menoleh pada Lisa di sebelahnya, "sebelum ditiup boleh ngajuin permintaan nggak?" Tanyanya.

__ADS_1


"Harus dong, ucapin dalam hati Bang Ipang." Karin menanggapi.


"Gue nggak mau ngucapin dalem hati," ucapnya dengan menoleh pada Lisa dan saling berhadapan. "Nggak tau berapa bulan lagi, pokoknya tahun ini kita nikah," ucap pria itu yang mendapat surakan dari teman-temannya. "Kamu mau kan?" tanyanya.


"Tolak-tolak!" Seruan dari Edo mendapat tendangan di kaki dari Agung yang terlihat geram, namun keduanya kemudian tertawa.


Lisa yang diam saja membuat suasana menjadi hening, melihat itu Alya jadi berkomentar, "buruan jawab Kak, pegel nih tangan aku megangin kue," desaknya.


Lisa berdehem, raut wajahnya tampak menyesal, "maaf Pang," lirih perempuan itu yang membuat pria di hadapannya berubah lemas. "Aku mau kok," imbuhnya yang kemudian mendapat surakan dari mereka.


"Yaelah lama banget tiup lilin doang." Ardi yang mencondongkan kepala ke arah kue kemudian meniupnya, namun yang mati bukan hanya lilin tapi seluruh lampu di villa itu, diiringi dengan pekikan para perempuan karena terkejut, suasana pun berubah gelap.


"Lo sih Ar, pake ditiup jadi gelap kan," omel Edo yang berusaha mencari korek di saku jaketnya. Benda itu perasaan sudah ia simpan di dalam saku setelah menyalakan lilin untuk kue tadi, tapi malah tidak ketemu, "Yang, koreknya tadi mana?" tanyanya pada sang istri yang menggandeng lengannya.


"Ih, aku nggak tau, kamu yang naro," jawab Nadia.


Sesaat kemudian, cahaya terang dari arah dapur membuat mereka merasa lega, si bapak penjaga villa membawa lilin dan menyuruh semuanya untuk tenang saja. Tidak terlalu lama, suasana berubah terang.


"Nah gini lan enak keliatan jeleknya," seloroh Ipang yang membuat Lisa memanyunkan bibirnya.


Agung tampak kehilangan seseorang. "Nina mana?" Tanyanya.


Mereka yang juga baru menyadari tentang kepergian gadis itu ikut mengedarkan pandangannya.


"Aldo juga nggak ada, mungkin mereka berdua keluar villa kali," ucap Karin.


Agung yang tidak senang kemudian berdecak, pria itu hendak melangkah keluar saat sang kekasih menahan lengan kanannya. "Biarin mereka berdua dulu, kakak Aku nggak mungkin ngapa-ngapain adek kamu kok," bujuknya.


Ipang yang meraih tangan Lisa untuk mengajak pergi bersama menyempatkan diri untuk menepuk pundak sahabatnya, "Gue sepupunya, dari kecil gue tau dia, meskipun emang orangnya keras, tapi dia baik kok. Apalagi kalo udah sayang sama orang, sama kaya Alya yang selalu diperlakukan istimewa, lo tenang aja," ucapnya.


"Yaudah lah, Gung, biarin aja dulu." Ardi menambahkan, "mau lo pisahin kaya apa juga kalo emang mereka berjodoh terus mau gimana?"


Agung terdiam, ucapan teman-temannya memang ada benarnya. Dia malah merasa kejam sekarang, belum sempat menanggapi, rengekan Alya membuat mereka kemudian tersadar.


"Kuenya mau diapain nih, pegel banget tangan aku tau."


***iklan***


Author: kemaren nggak dikasih iklan pengen tau aja reaksi kalian gimana, ternyata limaratus komentar isinya nanyain iklan semua, gue nulis novel woy bukan nulis iklan 🀧


Netizen: ya soalnya kan biasanya gue nongol thor, fans gue lebih banyak dari pada buronan Mitoha ya ternyata. πŸ˜‚


Author: Tapi gue seneng si, iklan gue ini kan berupa author note yang kalo ada di cerita tetangga pasti kalian melewatinya, wkwkwk , tapi di lapak gue malah ditungguin. Warbiasah. πŸ˜†


Netizen: eh tapi ada satu komentar yang bilang. Aduh bahagianya aku iklannya nggak ada. Itu termasuk haters gue apa bukan thor πŸ€”


Author: sok banget lo pen punya haters, nggak usah diparkirin lah yang kek gitu mah suka suka dia aja biarin.


Netizen: Pikiriiin Julehaa.

__ADS_1


Authir: Yaudah si gausah dipikirin typonya πŸ˜† mendingan juga minta vote ama like yang banyak biar aku semangat. Buat info aku mau bikin cerita Bang Bule moga kalian pada ngikutin ya. Tapi nanti nabung chapter dulu biar bisa update tiap hari lapak bang bulenya. Ditunggu yaaa πŸ€—πŸ€—


Salam haha hihi minta dukungannya ya manteman, vote dikit gak apa apa yg penting Iklas. Puasa puasa dapet pahala πŸ˜†


__ADS_2