
Ardi terbangun dini hari, mengerjapkan matanya pelan, dan mengernyit saat rasa pusing di kepala membuat tangannya reflek memijat bagian pelipis. Pria itu menoleh ke samping dimana biasanya sang istri juga tidur di sana, namun kini tidak ada siapa-siapa.
Ardi menoleh ke sudut kamar, dan istrinya ternyata tidur di sofa, tiba-tiba dia merasa sedih, dia ingat semalam mabuk bersama teman-temannya, dan perempuan itu pasti sangat kecewa.
Setelah menurunkan kedua kakinya dari ranjang, Ardi baru sadar jika pakaiannya suda berganti baju pyama, istrinya itu pasti kerepotan semalam. Dan dia beranjak berdiri, memejamkan mata saat pusing di kepala membuat tubuhnya sedikit oleng, setelah dapat menguasai diri pria itu menghampiri sang istri untuk memeriksa keadaannya.
Ardi berjongkok di hadapan Karin yang meringkuk menghadap padanya, pria itu mengusap pipi sang istri dan merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya.
Perlahan, dia mengangkat tubuh Karin dan memindahkannya ke atas ranjang, teramat berhati-hati takut istrinya itu akan terganggu, namun nyatanya setelah dirinya ikut merebahkan diri untuk saling berhadapan, perempuan itu terbangun juga.
"Selamat pagi," sapa Ardi, senyumnya menular, meskipun perempuan itu sudah berniat akan marah-marah saat sang suami terbangun nanti, nyatanya dia malah ikut tertawa pelan.
"Bang Ar mindahin aku?" Dan entah kenapa malah pertanyaan itu yang terlontar dari mulutnya.
Ardi mengangguk, kembali merapikan rambut sang istri dan menyelipkannya ke belakang telinga, "maaf ya," ungkapnya.
Karin menghela napas, "Kenapa mabuk-mabukan sih, Bang?" Tanyanya, dia begitu penasaran sejak semalam.
Ardi berdehem, kemudian menceritakan bagaimana mereka bisa mabuk semalam, "kayaknya Agung ada masalah," ucapnya.
Karin mencubit perut sang suami hingga pria itu mengaduh kesakitan, "dan kamu malah nambahin masalah karena ikut mabuk-mabukan," omelnya.
Ardi tertawa, "kasian aku sama Agung kalo suruh abisin sendirian," sangkal pria itu.
"Alah bilang aja kamu juga emang suka," tuduh Karin.
"Nggak Yang, beneran." Ardi menangkap tangan perempuan yang masih berbaring menghadapnya, saat kembali ingin melancarkan cubitan.
"Jangan gitu lagi, Bang, aku nggak suka."
Ardi mengangguk, dan teringat sesuatu dia kemudian merasa malu. "Aku ngapain aja pas mabuk semalem?"
"Emang nggak inget?"
"Lagi mabuk mana inget." Ardi menyangkal.
"Eh ada juga yang mabuk tapi masih inget," ucap Karin tidak mau kalah.
"Jadiii, semalem gimana? Kamu nggak aku Apa-apain kan?"
Karin sejenak berpikir, dia bingung harus darimana dirinya mulai bercerita, "kamu kaya orang gila tau, Bang," ucapnya.
"Masa sih?" Ardi jadi tertawa, "terus? Desaknya tidak sabar. Dan pria itu kembali tertawa saat Karin bilang bahwa dia tidak mengakui perempuan itu sebagai istrinya.
"Sedih akutuh, katanya nggak boleh pegang-pegang kamu bukan fasilitas Negara, dan nggak berlaku untuk umum." Karin terus bercerita.
Ardi yang terus tertawa hanya bisa berucap, "Maaf sayang."
Karin tertawa sejenak, "kamu juga bilang pengen punya anak kaya Jino sama Nino," ucapnya.
"Astaga!" Merasa tidak percaya, Ardi mengarahkan tatapannya ke langit-langit, kemudian kembali menoleh pada istrinya, "Nggak mungkin lah," sangkal pria itu.
"Nggak percaya yaudah," balas Karin pasrah. Perempuan itu menunduk, merasa ada satu lagi yang ingin dia ceritakan, tapi sedikit ragu.
__ADS_1
"Kenapa?" Ardi yang merasa ada yang aneh dengan istrinya kemudian bertanya.
Karin mengarahkan tatapannya pada sang suami yang berbaring menghadapnya, meski ragu dia tentu harus mengatakan tentang itu. "Kamu ternyata selama ini masih nggak suka kalo aku kerja, Bang? Kenapa nggak bilang?" Tanyanya.
Ardi sejenak tertegun, kemudian menelan ludah, dia memang tidak suka perempuan di hadapannya itu terus bekerja, tapi dia juga tidak mau egois dengan terlalu memaksakan kehendaknya terhadap perempuan yang kini menjadi istrinya. Dan melihat wajah cantik Karin berubah murung, dia jadi merasa sedih.
"Jawab dong, Bang."
Ardi menghela napas, membenarkan letak kepalanya agar lebih dekat pada sang istri, kemudian menarik perempuan itu ke dalam dekapannya. "Asal kamu seneng, keinginan aku bukan apa-apa kok," ucapnya, dan mendapati sang istri malah diam saja dia menundukkan pandangannya. "Kenapa?"
"Kalo aku mau kuliah lagi boleh nggak?"
Pertanyaan itu membuat Ardi terdiam seribu bahasa, kalimat yang baru saja ia ucapkan seolah ingin dia tarik kembali, cukup memaksakan diri sebenarnya saat dia melepas sang istri untuk bekerja, dan memikirkan hal lain selain kebutuhannya, sekarang ditambah lagi dengan kuliah. "Nggak!" Tegasnya.
Karin sejenak terdiam, namun kemudian berkata. "Yaudah."
Dan lagi-lagi jawaban tidak terduga istrinya malah membuat Ardi menjadi lemah, dia berpikir akan ada perdebatan panjang setelah ini, namun ternyata perempuan itu malah langsung mengiyakan, dia jadi bingung harus senang atau bagaimana.
Ardi menjauhkan tubuhnya dari sang istri, menatap wajah perempuan itu yang tampak biasa saja, "kamu pengen kuliah lagi?"
Karin menggeleng, "papi yang nyuruh," ucapnya.
"Kenapa? Emang istri aku kurang Pinter?"
Karin menggeleng lagi, namun diam saja, raut wajahnya tampak kebingungan. Perlahan, Ardi menangkup kedua pipi perempuan itu, sedikit mendongakkannya agar mereka saling bertatapan.
"Sekarang aku tanya, kamu kerja buat apa?" Ardi melontarkan tatapan teduh, meyakinkan perempuan itu, bahwa hanya dia tempatnya berkeluh kesah, selain yang maha Kuasa tentunya.
"Biar kamu bisa dikendalikan, iya kan?"
Pertanyaan Ardi membuat Karin semakin bungkam.
"Sebenernya kamu kerja itu apa yang kamu rasain si?" Ardi bertanya lagi.
Karin reflek memeluk sang suami dengan erat, membenamkan kepala di dada bidang pria itu. "Aku capek, Bang," ucapnya yang selama ini Ardi baru sadari, karena dia pikir Karin cukup bahagia dengan apa yang ia jalani.
"Besok aku temuin papi kamu," ucap Ardi yang seketika membuat perempuan di hadapannya itu mendongak, pelukannya ia lepaskan.
"Ngapain?" Tanya Karin.
Ardi menghela napas, "kamu tau nggak, setelah anak perempuan itu menikah, maka tanggung jawabnya sudah berpindah pada sang suami, dan kamu adalah tanggung jawab aku sekarang."
Karin mengerjap pelan, dia tau kalimat yang dilontarkan pria di hadapannya itu adalah benar, tapi dia harus bagaimana, sedangkan sang mami benar-benar mengharapkan dirinya sebagai pewaris utama.
Seolah tau dengan kegundahan sang istri, Ardi kembali berucap, "nanti kita temuin mami kamu juga," ucapnya sembari mengusap pipi Karin dengan lembut.
Perempuan itu menatap suaminya dalam, namun tanpa sedikitpun kalimat yang terlontar dari bibirnya, dia bingung harus berkata apa.
"Kamu tau nggak, surga kamu itu ada sama aku, bukan mami atau papi kamu, jadi yang perlu kamu turutin itu aku, bukan mereka, Sayang."
Karin tersenyum, "aku taunya uang suami itu uang istri, dan uang istri itu uang pribadi," candanya.
__ADS_1
Ardi tertawa, meraup wajah sang istri dengan telapak tangan, "itu doang kamu taunya?"
Karin mengangguk, dan hal itu membuat cubitan sang suami mendarat di hidungnya, "iyaaa, bercanda," sesalnya dengan tertawa.
Ardi membaringkan tubuhnya menghadap langit-langit, mencoba memikirkan rencana apa yang akan dia ambil ke depannya.
"Kamu mau nemuin papi beneran, Bang?"
Pertanyaan sang istri kemudian membuat pria itu menoleh, "Iya, kenapa?"
"Mau ngomong apa?"
"Aku mau menegaskan bahwa kamu itu sudah menjadi tanggung jawab aku, dan bukan hak dia buat ikut ngatur-ngatur kehidupan kamu, karena kita udah punya kehidupan sendiri."
Karin reflek memeluk suaminya itu erat, sesungguhnya dia benar-benar menunggu kalimat itu akan terlontar dari mulut suaminya, dia hanya butuh pembela, atas keputusan apa yang akan dia ambil setelahnya.
Ardi tersenyum, mengusap kepala sang istri dengan penuh kasih sayang. Hingga pelukan ya kembali dilepaskan dan perempuan itu menjauhinya, dia sedikit kebingungan. "Kenapa?" Tanyanya.
"Bau banget kamu, Bang. Mandi sana."
Ardi reflek menghirup aroma tubuhnya sendiri, memang masih bau alkohol, pria itu kemudian menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul empat dini hari, "Belum wajib mandinya, wajibin dulu ayo," ucapnya dengan menarik sang istri untuk mendekat.
Karin meronta, "bau banget kamu, Bang. Aku nggak kuat," tolaknya.
"Eh ada satu lagi yang kamu ternyata belum ngerti, nolak suami itu dosa, nanti kamu dilaknat sama malaikat sampe pagi, mau?" Ardi yang masih mencengkram erat lengan perempuan di hadapannya itu mencoba menakut-nakuti.
Karin menggeleng, "Nggak apa-apa, ini juga udah mau pagi, dilaknatnya sebentar."
"Eh, nggak boleh begitu, siapa coba yang ngajarin." Ardi mulai merapatkan tubuhnya. Menggerayangi leher sang istri dengan bibirnya. Dan perempuan itu terus meronta.
"Asli bau banget abang aku muaal." Karin melepaskan diri, menutup mulutnya dan lari ke kamar mandi, dan perempuan itu benar-benar memuntahkan isi perutnya.
***iklan***
Netizen: Antara kesel nggak dilanjutin candunya apa kesel nggak dilanjutin alesan muntah-muntahnya, jan jangan Karin hamidun thor 😂
Author: kan dibilangin dia enek sama lakinya, ngapa ya 😒
Netizen: Ya sapa tau kan ada maksud terselubung lu kan ngeselin 😏
Author: Gue dapet tegoran dari Netizen, katanya selipin ilmu tentang pernikahan dong thor jangan candu mulu. Set hati gue tersentil, baru sadar ilmu gue cetek. 😭
Netizen: ya terus selama ini ngaku jemaah Mamah Dedeh, emang nggak dapet ilmu. 😒
Author: Ngajinya fokus ama seragam, tas baru sama arisan, ilmunya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, gimana dong. 😭
Netizen: Yaudah lah kan dari awal lu nyuguhinnya cerita komedi, bukan religi, itu netizen maha alim suruh nonton sinetron azab aja mendingan. 😌
Author: Gue minta maaf kalo nggak bisa ngasih tulisan yang berilmu dan bermanfaat, tapi seenggaknya gue udah berusaha buat menghibur dengan pengetahuan yang alakadarnya, kalo salah mohon diinget in. 😌
Jan lupa like, vote ya. Kemaren misuh misuh likenya kelebihan ampe seribu, masa iya gue suruh misuh misuh mulu. Intinya tekan jempol nggak bikin dirimu ketularan corona. Jadi jan khawatir.
Salam haha hihi
__ADS_1