
Ardi turun dari mobil, dan mengerutkan dahi saat menyadari pria yang ia kenal sebagai papi Karin itu membawanya ke tempat yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Njiir, kenapa ni om-om bawa gue ke hotel ya? Pikir Ardi yang mau tidak mau mengikuti langkah pria itu memasuki lobby.
"Ini hotel keluarga saya, yang sekarang menjadi atas nama Karin." Hendrik berucap dengan menoleh sekilas, dan saat seseorang menghampirinya dan mengajak berbicra, Ardi menyempatkan diri untuk mengedarkan pandangannya.
Larasati hotel, Ardi membaca nama tempat itu dalam hati. Anak setan tajir melintir gila, gumamnya.
Dan saat panggilan dari papi Karin membuatnya sedikit terkejut, ia mengalihkannya dengan sebuah anggukan, kemudian mengikuti pria itu ke arah belakang hotel yg ternyata sebuah taman, kolam renang dan restoran.
"Nak...?" Hendrik tampak mengingat-ingat.
"Ardian, Om," jawab Ardi cepat. Karena seingatnya, dia belum pernah berkenalan.
"Nak, Dian–"
"Ardi aja, Om," ralatnya.
Hendrik mengangkat alis, kemudian mengangguk acuh. "Nak Ardi, mau makan apa? Pesan saja," tawarnya.
Ardi mengangguk sekilas, tersenyum pada pelayan yang sejak dia duduk tadi sudah menyambut kedatangan mereka. "Minum aja, Mas," ucapnya dan saat sang pelayan bertanya minum apa, dia menjawab terserah.
Pemuda itu mendengar pria berwajah tidak ramah di hadapannya memesan dua cangkir kopi, yang kemudian ia beri anggukan saat diminta persetujuan.
Ardi mencondongkan tubuhnya, melipat satu tangannya ke atas meja. "Om bilang mau bicara sama saya, lalu mengajak saya ke sini, mau bicara apa?" Tanyanya, tidak ingin berlama-lama.
Hendrik mengangguk, "saya begitu sulit menemui kakak kamu. Jadi saya pikir bertemu denganmu saja sudah cukup, toh kalian sama."
Sejauh obrolan ini, sebenarnya Ardi tidak mengerti, tapi dia malas untuk menanyakan maksudnya.
"Saya ingin kamu membujuk putri saya untuk pulang."
Ardi sudah menduga hal ini, pemuda itu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menghela napas.
"Saya lihat-lihat, kamu dan putri saya cukup akrap, ada hubungan apa kalian?" Tanya Hendrik. Nadanya tampak menyudutkan.
Sebagai Adik Justin, mungkin Ardi tidak sadar, bahwa pemuda itu juga sedikit banyaknya memiliki sifat yang sama dengan sang abang. Tidak mudah terpancing dan selalu bisa bersikap tenang.
Ardi tersenyum, mengulurkan tangan untuk memainkan cangkir kopi di atas meja yang baru saja diantarkan. "mungkin hubungan kami bisa dibilang sebatas rasa kemanusiaan," ucapnya, kemudian mengalihkan tatapan matanya dari cangkir ke pria di hadapannya.
Hendrik tampak diam, kemudian tersenyum miring. Dia merasa tersindir, kesannya selama ini dia tidak memanusiakan putrinya.
"Keluarga saya tidak bisa melakukan bujukan apa-apa, jika putri om sendiri yang memilih untuk tetap tinggal. Mungkin dia punya alasan."
Hendrik mencondongkan tubuhnya, menaruh kedua tangan di atas meja, "katakan saja, dia akan terpenuhi jika pulang ke rumah, apapun yang ia inginkan bisa ia dapatkan dengan mudah." Pria itu berusaha meyakinkan. "Bahkan semua ini dan seluruh harta yang saya miliki adalah atas nama Karin," ucapnya dengan menggerak-gerakan kedua tangan untuk menggambarkan betapa banyaknya yang bisa dia berikan. Tapi sayang, Ardi sudah tau kebenarannya.
"Kenapa tidak om saja yang membujuk Karin, om kan papi kandungnya?"
Hendrik menghela napas, mengurut pangkal hidungnya sekilas, entah apa maksudnya. "Saya sudah mencoba, bahkan berkali-kali mendatangi rumah kamu juga. Tapi mungkin hanya kalian yang bisa membujuk anak itu untuk kembali ke rumah saya."
Ardi memperhatikan saat pria di hadapannya itu meminum sedikit kopinya, kemudian menyuruh dia untuk melakukan hal yang sama. "Saya terlalu memikirkan masa depan Karin, bahkan untuk jodoh saja sudah saya pilihkan, sebagai seorang ayah apa salah jika saya ingin putri saya kembali, agar saya bisa tau kegiatannya, dan apa saja yang dia lakukan?" Tanyanya, yang tentu saja tidak membutuhkan jawaban.
Ardi tertegun, cangkir kopi yang sudah menempel di bibirnya ia turunkan lagi, kemudian menghela napas dan berpikir. "Maaf, om, jika om pikir saya bisa membantu rencana, om. Om salah, saya nggak bisa," tukasnya.
Hendrik tiba-tiba tertawa, meski pelan tapi hal itu berhasil membuat Ardi merasa harus waspada.
Dan lelaki itu tentu merasa heran, bagaimana bisa pria semuda ini mengetahui apa yang ia rencanakan.
"Ok, sepertinya kamu sudah bisa membaca maksud saya," tutur Hendrik, kembali mencondongkan tubuhnya. Kali ini dia tidak lagi berpura-pura. "Begini Nak Ardi, saya bisa memberikan berapapun uang yang Kamu mau, asalkan kamu bisa membuat putri saya kembali, hanya itu saja," ucapnya.
Ardi melengos, merasa muak, pemuda itu beranjak berdiri. "Maaf Om. saya harus segera pergi," ucapnya memberi alasan.
Hendrik ikut berdiri. "Mari kita bekerja sama, saya bisa memenuhi apapun yang kamu minta," ucapnya yang membuat langkah Ardi kemudian terhenti.
"Apapun?" Ardi bertanya, memberikan kesan seolah tertarik yang membuat pria di hadapannya itu merasa menang.
Pria berwajah dingin itu menganggukan kepala, senyumnya tampak menantang. "Apapun," ulangnya.
"Jika yang saya mau adalah putri om, apa Om juga akan bersedia memberikannya?" tanya Ardi, dengan sisa nyali yang dia miliki.
Pria di hadapannya kembali tertawa, "putri saya tidak mungkin sebodoh itu mencari pasangan, untuk sebuah keluarga sekelas kami, pernikahan adalah sayap untuk melebarkan perusahaan. Orang yang ingin saya jodohkan adalah anak dari pemilik perusahaan besar. Dan kamu bisa apa?" Remehnya.
Ardi tertawa menang. "Sayangnya putri om memang sebodoh itu," tuturnya yang membut Hendrik terdiam. "Om pernah jadi anak kecil kan? Tau dong lagu balonku?" Tanyanya kemudian. "Anggap saja Karin itu balom hijau yang om gagal pegang erat-erat, yang meletus dan hanya menjadi penyesalan," tutur Ardi, kemudian pamit pergi.
__ADS_1
Hendrik tidak menanggapi. Dari raut wajahnya yang memang tidak pernah ramah, pria itu terlihat marah.
"Saya tidak akan pernah mengizinkan putri saya berhubungan dengan kamu!" Teriak pria di belakangnya yang membuat Ardi menghentikan langkah, kemudian membalikkan tubuhnya. "Kamu tidak akan bisa memberikan putri saya apa-apa," tambahnya kemudian, nadanya meremehkan.
Ardi yang masih bisa mengendalikan dirinya untuk tetap bersikap tenang kemudian berkata, "saya masih muda, Om," ucapnya. "Ibarat sebuah produk, saya ini masih bahan, bahan berkualitas super. Dan jika nanti saya bisa lebih sukses dari semua kandidat calon menantu om yang hanya mengandalkan nama orangtuanya. Mungkin om akan menolak untuk percaya." Ardi sedikit menundukan kepala, memberikan penghormatan sebelum akhirnya berbalik dan benar-benar pergi.
Dia sempat melihat pria dihadapannya itu mengepalkan tinjunya.
Dan yang dapat Ardi pahami, hidupnya di kemudian hari, tidak bisa sesantai ini.
***
Ardi duduk di salah satu bangku penjual makanan di kantin biru. Pemuda itu masih memikirkan percakapannya dengan papi Karin setengah jam yang lalu.
Dia ternyata memang tidak sepercaya diri itu, menantang pria sesombong papi Karin untuk menjadi orang sukses. Rasa emosi membuatnya kelepasan berbicara terlalu berani.
"Abang udah lama?" Pertanyaan dari gadis yang sejak tadi namanya berputar-putar di kepala membuat pemuda itu mendongak.
"Nggak," jawabnya.
Karin duduk di kursi seberang meja, mereka saling berhadapan, "mau makan apa?" Tanyanya.
"Soto aja," jawab Ardi yang membuat gadis di hadapannya itu mengerutkan dahi.
"Mau makan soto tapi duduknya di sini, ini stand mi ayam, Bang."
Ardi menoleh pada gerobak berwarna biru di belakang Karin, "eh iya," ucapnya. "Yaudah makan mi ayam aja nggak apa-apa."
Karin tertawa pelan, "abang kenapa si, kayaknya lagi banyak pikiran?" Tanyanya curiga.
Belum sempat Ardi menjawab, karin mendapat pesan di hpnya yang membut perhatianny teralihkan.
"Mau pesen apa, Mas?" Tanya bapak menjual mi.
Setelah mengatakan pesanannya sendiri, Ardi menoleh pada Karin yng tampak sibuk dengan benda di tangannya.
"Samain aja, Pak," ucap Ardi, saat si bapak menunggu pesanan berikutnya. "Tapi jangan pake daun bawang, mi nya mateng banget, pake bakso yang kecil-kecil aja, terus kuahnya aga dibanyakin," tambahnya dengan menyebutkan kebiasaan gadis itu saat memesan bagiannya.
Saat bapak penjual mi mengiyakan pesanan Ardi, dan beranjak pergi, pemuda itu mengangguk sekilas, kemudian mengulurkan tangan dan merebut hp dari gadis di hadapannya.
"Eh, Abang." Karin memekik terkejut, "bentar lagi, Bang. Tanggung lagi seru banget," tambahnya dengan berusaha kembali merebut benda di tangan pemuda itu.
"Terus ngobrol sama gue menurut lo kurang seru?"
Karin tertegun. Tumben sekali abangnya ini baperan banget, biasanya juga cuek aja. Pikirnya.
Ardi membaca sekilas tulisan di layar hp gadis itu yang katanya seru. Kemudian memasukkannya ke dalam saku kemejanya sendiri.
Karin jadi memberenggut kesal, padahal dia sedang membalas komentar-komentar Netizen tentang apa yang harus ia tulis di episode lanjutan untuk ceritanya besok.
"Gue mau ngomong," ucap Ardi, bersamaan dengan itu dua mangkuk mi pesanannya yang diletakan di atas meja membuat kalimatnya terhenti.
"Ngomong apa?" Tanya Karin dengan tangan yang sibuk mengduk makanan di hadapannya.
"Tadi gue ketemu papi lo, dia ngajakin gue ngobrol."
Karin menghentikan gerakan tangannya, sesaat terdiam, lalu kemudian mendongak. "Terus?" Tanyanya.
Ardi menceritakan tentang papi Karin yang menunjukan harta benda milik keluarga, yang akan menjadi hak milik gadis itu, dan menyuruhnya untuk membujuk dia pulang. Tentu saja tidak dengan membeberkan bahwa pria yang adalah papinya itu mengajak Ardi kerja sama. Karena hal itu pasti akan membuat gadis remaja di hadapannya merasa benar-benar tidak diinginkan.
"Dan abang ke sini buat bujuk Karin biar mau pulang?" Tanyanya.
"Ngapain," ucap Ardi. "Nggak usah gue bujuk juga kalo lo mau pulang pasti udah pergi dari rumah."
Karin tampak mengangguk. "Terus?" Tuntutnya, gadis itu penasaran apa yang mereka bicarakan sehingga abangnya bisa semurung ini.
"Gue bilang sama papi lo kalo gue sayang sama lo."
Ardi menyodorkan segelas air minum saat gadis di hadapannya itu tersedak dan batuk-batuk.
"Abang berani ngomong kaya gitu sama papi Karin?" Tanya gadis itu saat batuknya mulai reda.
"Kenapa gue harus takut." Ardi berucap, dan setelah itu menyuapkan mi ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Terus gimana tanggapan papi?" Tanya Karin semakin penasaran.
Ardi menelan makanan di mulutnya, "ya dimaki-maki lah gue," jawabnya.
Entah kenapa Karin malah ingin tertawa, "Lagian abang tuh berani banget, udah tau papi karin orangnya nggak bisa dibercandain."
Ardi berdecak acuh, "Orang gue nggak bercanda," ucapnya yang membuat Karin terdiam, semakin diam saat pemuda itu melanjutkan kalimatnya. "Tapi katanya lo udah dijodohin sama anak rekan bisnisnya."
"oh, itu."
Ardi yang memasukkan satu sendok mi ke dalam mulutnya jadi mengerutkan dahi, "kok lo nggak kaget?" Tanyanya.
"Karin udah tau kok, sejak kecil emang papi tuh suka banget jodoh-jodohin, Kalila anaknya yang sekarang baru kelas empat sd aja udah ada calonnya."
"Terus kenapa lo nggak bilang sama gue?"
"Biar apa?"
"Biar gue nggak sebucin sekarang lah, seenggaknya kan kalo gue tau lo udah dijodohin gue bisa jaga hati gue biar tetep beku."
"Dijodohin kan belum berarti nantinya berjodoh, lagian Karin nggak mau," ucap gadis itu, kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
Ardi menatap gadis di hadapannya dengan sedikit ragu, "yakin lo nggak mau? anak orang kaya, mungkin ganteng juga."
Karin tertawa mendengus. "Di mata Karin, nggak ada yang lebih ganteng dari abang," ucapnya, sebucin itu memang.
Jika biasanya Ardi akan tertawa, tapi untuk kali ini entah kenapa pemuda itu tidak bisa menemukan kalimat yang terlontar barusan lucunya di mana.
"Ganteng doang, nggak punya duit abang, Dek."
Karin tertegun, entah kenapa mendengar itu hatinya terasa nyeri. "Bang Ar?" Panggilnya pelan.
"Hn?" Ardi bergumam, menatap gadis itu dengan masih meminum es teh di gelasnya.
"Kita berjuang bareng, yuk," ucap Karin, dari nadanya, dan cara menatap pemuda di hadapannya, gadis itu tampak serius.
Ardi tersenyum, "nggak usah," balasnya.
"Kenapa?" Tanya Karin.
"Lo cukup doain aja, biar gue yang berjuang sendiri buat ngumpulin modal."
"Modal apa, Bang?"
"Modal judi."
"Abang!" Karin jadi mengomel, pasalnya dia tidak sedang bercanda sekarang.
"Nyaingin orang pilihan papi lo mah, gue ngerampok atm Bang Justin dulu," tutur Ardi, nadanya mungkin bercanda, tapi maknanya membuat sesak isi dada. "Kendaraannya sport gitu, belum ngegas udah ketikung motor abang, Dek."
"Karin nggak suka abang ngomong kaya gitu, kesannya abang tuh nyerah, nggak mau perjuangin hubungan kita," ucap Karin, kemudian beranjak berdiri dan melangkah pergi.
Ardi ikut berdiri, "Karin!" Serunya yang tidak juga mendapat tanggapan, pemuda itu kembali duduk, memikirkan kalimat barusan yang gadis itu ucapkan.
Semakin dewasa hidupnya semakin rumit saja, pikir Ardi.
Baru kali ini dia merasa ketampanannya tidak banyak berguna.
***iklan***
Netizen: Bang Ar galau berat ya thor. Ganteng doang nggak punya duit, mubajirr. Jual diri aja bang Ar.
Author: Buset dah, pedesnya tulisan netizen bikin pedes omongan tetangga turun level.
Netizen: tulisan gue lebih pedes dari omongan tetangga dong thoor. Wkwkwk.
Ardi: Di mangatoon udah ada sistim vote ya. Semangat ya kumpulin poinnya. Komen hebohnya doong, biar gue nggak galau-galau amat ini njiiir. Anak setan gue ngambek.
Karin: Kayaknya Aku nggak sanggup kalo up tiap hari, ngetiknya kapan istirahatnya kapan. Mohon dimaklum ya, soalnya kanjeng juga banyak kerjaan huhuhu. Makasih votenya. Diusahain sehari update sehari nggak.
__ADS_1