NOISY GIRL

NOISY GIRL
TAKUT


__ADS_3

Karin tidak menyangka, sang abang ternyata mengajaknya main ke rumah, gadis itu langsung memeluk ibu Marlina ketika wanita paruh baya itu membuka pintu.


 


 


"Kangen banget ibu sama kamu." Marlina memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah Karin, membuat gadis itu jadi cekikikan.


 


 


Wanita itu mengajak Karin masuk, bertanya banyak hal tentang kabar gadis itu selama beberapa hari ini. "Pusing ibu, Ardi tuh uring-uringan terus nggak ada kamu," adunya yang membuat Karin tertawa.


 


 


Mendengar namanya dibahas Ardi yang hendak beranjak ke dapur jadi menoleh, "paan sih, Bu. Biasa aja si," sangkalnya, yang mendapat cebikkan bibir dari wanita itu.


 


 


"Ah, kamu suka nggak ngaku."


 


 


Ardi melengos, malas menanggapi godaan sang ibu, dan dirinya kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur, mengambil sisa es cream dalam mangkuk kecil yang sempat ia tinggalkan tadi saat Ipang menghubunginya.


 


 


"Karin kemana, Bu?" Tanya Ardi saat kembali dan mendapati sang ibu duduk di sofa ruang tv sendirian.


 


 


"Di kamar Nena, kangen sama si kembar katanya," ucap Marlina setelah mengganti saluran tv, kemudian wanita itu teringat sesuatu. "Eh, gimana ceritanya kamu bisa bawa Karin ke sini, penasaran ibu."


 


 


Ardi menoleh, kemudian mulai  menceritakan tentang papi gadis itu yang menjodohkan Karin dengan seseorang yang adalah teman Ardi.


 


 


Marlina tertawa pelan, dia kenal semua dengan teman putranya itu," padahal gantengan juga anak ibu ya."


 


 


Ardi mencebik, mengaduk mangkuk es cream di tangannya yang mulai mencair. "Sekarang ganteng doang nggak bisa menjamin masa depan Bu, orang kaya Om Hendrik itu nyari mantunya ya yang warisannya nggak bakal habis tujuh turunan," curhatnya tanpa menoleh, menyuapkan satu sendok makanan dingin itu ke dalam mulutnya.


 


 


Marlina menghela napas, menyentuh pundak putranya yang membuat pemuda itu menoleh."Beberapa anak beruntung karena dibesarkan dalam keluarga yang cukup materi, dan sisanya lebih beruntung karena diberi hati dan tulang yang kuat untuk berusaha sendiri," ucapnya menasihati.


 


 


Ardi mengerjap takjub, kemudian tersenyum, "ibu abis nonton mata Najwa ya?" Tebaknya.


 


 


Sang ibu menggeleng, "orang tadi ibu baca status di wa orang," akunya yang membuat  putranya itu melongo.


 


 


"Lah?"


 


 


Ardi kembali menoleh saat sang ibu menepuk pundaknya, "ibu ngantuk, kamu nganterin Karin nya jangan malem-malem, nanti disambit bapaknya."


 


 


"Omongan adalah do'a, Bu. Jan sembarangan napa," keluhnya yang membuat sang ibu tertawa. Kemudian melangkah pergi setelah mengusap kepalanya.


 


 


Ditinggal sendiri, Ardi jadi mengarahkan pandangannya pada tayangan televisi acara lawak yang menurutnya tidak lucu, dan menoleh saat Karin menyapanya dari belakang sofa.


 


 


"Bang, si kembar udah pinter banget, gemes deh Karin," ucap gadis itu, kemudian duduk di sebelah Ardi dan merebut mangkuk es cream dari tangan pemuda itu.


 


 


Ardi diam saja, hanya menoleh dengan sendok es cream yang masih menempel di mulutnya, dan menggigit benda itu saat Karin kembali akan merebutnya.


 


 


"Minjem, Bang." Karin menarik sendok dari gigitan sang abang dengan kuat, setelah terlepas gadis itu mengusapkan sendok yang berhasil pindah ke tangannya pada baju Ardi dengan mengernyit jijik.


 


 


"Sok geli lo," ledek pemuda itu dengan menyapukan telapak tangannya pada wajah gadis di hadapannya yang jadi tertawa.


 


 


Ardi mengambil remot di atas meja, dan mengganti acara televisi saat Karin mengajaknya berbicara.


 


 


"Kata Mbak Nena kalian lagi nyusun rencana buat Karin balik ke sini ya?" Tanya Karin yang membuat Ardi menoleh, gadis itu tampak terlihat senang. Dan melihat abangnya yang malah tertegun, dia jadi bingung.


 


 


"Iya, doain aja, bentar lagi lo gue jemput dari rumah itu."


 


 


Karin tersenyum senang, namun entah kenapa merasa ada yang aneh dari sikap abangnya itu. "Bang Ar nggak seneng ya Karin balik ke rumah ini?" Tanyanya yang seketika membuat Ardi menoleh.


 


 


"Siapa bilang, gue seneng kok, seneng banget malah," ucap Ardi, mencoba ikut tersenyum.


 


 


Karin merasa ada yang janggal, namun berusaha untuk mengbaikannya, mungkin hanya perasaannya saja. Gadis itu kembali tersenyum senang, menyuapkan satu sendok es cream ke mulutnya.


 


 


"Karin nggak sabar Bang, pengen berangkat sekolah bareng abang lagi, pulangnya dijemput, terus kita jalan-jalan deh." Gadis itu terus mengoceh, namun  pemuda di sebelahnya itu malah asik  melamun, "Bang," tegurnya.


 


 


"Hn? Iya, Dek."


 


 


"Abang dengerin Karin nggak si?"


 


 


"Denger, Sayaang."


 


 


"Apa coba?"


 


 


Untuk sesaat Ardi terdiam, tatapannya teduh mengarah pada gadis itu, "berangkat sekolah bareng gue, pulangnya gue jemput, terus kita jalan-jalan," ucapnya lirih, terdengar tidak yakin.


 


 


Meski Karin menyadari ada keraguan dalam nada abangnya, namun,  gadis itu memilih untuk mengabaikannya lagi, dia pun tersenyum.


 


 


Ardi mulai berpikir bagaimana cara dia menjelaskan tentang kepergiannya tanpa membuat gadis itu marah. "Dek, gue mau ngomong, tapi lo bisa janji nggak?"


 


 


Karin yang semula fokus pada mangkuk es cream di tangannya jadi menoleh. "Janji apa?" Tanyanya.


 


 


"Janji kalo lo nggak bakal marah."


 


 


Karin sesaat terdiam, sedikit takut, tatapannya lekat pada sang abang yang terlihat gugup. "Emangnya apa yang bakal bikin Karin marah?" Tanyanya.


 


 


Ardi melipat sebelah kakinya ke atas sofa, duduk menyamping menghadap gadis itu. "Janji dulu, Dek."


 


 


Karin menggeleng, "bilangin dulu abang mau ngomong apa," desaknya.


 


 


Pemuda itu menelan ludah dengan susah payah, entah kenapa hanya mengatakan dia akan pergi saja bisa sampai sesulit ini. Matanya bergerak gusar dan gadis di hadapannya itu tampak menunggu.


 

__ADS_1


 


"Gue mau." Ardi tampak ragu, "kalo seandainya." Pemuda itu mengusap tengkuk lehernya dengan gusar, sungguh lidahnya jadi kelu. "Dek," ucapnya lirih. "Lipstik lo rasa strauberi ya?" Tanyanya mengubah arah, entah kenapa dia merasa bodoh kali ini.


 


 


Karin yang semula terlongo menjilat bibirnya sendiri dengan ujung lidah, sedikit berpikir, mengingat-ingat lebih tepatnya, kemudian mengangguk, "iya, kenapa, Bang?"


 


 


Ardi menghela napas, menjatuhkan keningnya di pundak gadis itu dengan mata terpejam, "nagih," ucapnya pelan.


 


 


Jika kamu mengukir namaku di atas pasir, jangan larang ombak yang datang  menghapuskannya.


 


 


Jika kamu mengukir namaku di atas daun kering, jangan larang  angin yang datang  menerbangkannya.


 


 


Dan jika kamu mengukir namaku di dalam hatimu, jangan larang ujian yang datang melukainya.


 


 


Tulisan Karin dalam akun Kanjeng Ribet terus berputar-putar di kepalanya. Ardi belum siap melihat gadis yang ia sayangi itu terluka, dia tidak tega melihat gadis itu kecewa. Dan ia putuskan untuk mengatakannya nanti saja.


 


 


***


Pukul sepuluh, Ardi mengantarkan Karin pulang, namun hujan deras malam ini membuat mereka berdua terjebak di dalam mobil.


 


 


"Gimana nih, apa gue masuk aja?" Ardi memberi usul saat mereka sudah sampai di depan gerbang tinggi kediaman papi gadis itu.


 


 


Karin menggeleng, menyerongkan tubuhnya menghadap pemuda yang duduk di balik kemudi. "Abang cari mati? Nanti kalo papi Karin liat gimana," omelnya.


 


 


"Abis ujannya gede banget , gue nggak bawa payung, apa gue klaksonin aja nih biar lo dijemput sama satpam lo di dalem?"


 


 


"Jangan, nanti kalo papi keluar gimana? Udah, Karin ujan-ujanan aja deh," ucapnya, bersiap membuka pintu.


 


 


Ardi mencegahnya, menggeleng. "Ntar lo sakit, Dek," larangnya, kemudian menjulurkan tangan untuk menutup kembali pintu yang sempat dibuka oleh gadis itu.


 


 


Karin menghela napas. "Yaudah, tunggu ujannya reda aja deh," ucapnya.


 


 


Ardi menyandarkan punggungnya pada jok mobil, mencoba menjaga jarak dengan gadis itu, hujan deras beserta angin yang dingin di luar sana sepertinya berpengaruh juga pada suhu di dalam mobilnya.


 


 


Pemuda itu mencoba memikirkan hal-hal yang tidak akan membuatnya kehilangan kendali, bayangkan saja, hujan yang seolah tidak mau berhenti di luar sana, dan dia di dalam mobil hanya berdua, romantis sekali bukan. Setan saja enggan menjadi orang ke tiga saking cemburunya.


 


 


"Bang?" Panggil Karin.


 


 


"Hn?" Ardi menoleh.


 


 


"Ngomong dong, sepi nih."


 


 


Ngomong apa? Suasana seperti ini, pembahasan yang terlintas di otaknya hanya seputar menghangtkan diri. Deketin kompor misalnya. "Setel radio aja ya," ucapnya setelah berpikir agak lama.


 


 


"Ok mitra Fm kali ini sebuah lagu diperuntukkan bagi kalian diluar sana yang terjebak hujan deras."


 


 


 


 


"Dingin-dingin gini terus lagi berdua, enaknya dipeluk dong ya."


 


 


Penyiar radio mulai ngaco, Ardi menoleh pada gadis di sebelahnya yang kemudian juga menoleh ke arahnya. "Langsung cari lagu aja ya," ucapnya kembali mengotak atik benda di hadapannya.


 


 


Lagu lama berjudul kesaktianmu dari Winner mengalun dengan aman pada awalnya.


 


 


Tatap matamu membunuh aku di saat dingin malam itu


 


 


Peluk tubuhmu terangi aku disaat malam-malam gelap


 


 


Kesaktianmu membungkam mulutku menjadi lemah tak berdaya


 


 


Ingin ku ulangi dosa yang terindah, yang pernah kita lakukan.


 


 


Njiiir setannya pindah ke radio. Sialaan. Ardi mengerang frustrasi dalam hati, lalu dengan cepat mematikan benda di hadapannya itu.


 


 


"Kenapa, Bang? Lagunya enak kok." Karin merasa heran dengan sikap abangnya yang tampak uring-uringan.


 


 


"Nggak enak, Dek, dihayatinnya." Ardi menjatuhkan keningnya pada kemudi, menoleh pada gadis itu.


 


 


Karin tertawa pelan kemudian berkata. "Yaudah abang aja yang nyanyi buat Karin."


 


 


Ardi menegakkan tubuhnya, berpikir lagu apa yang akan dia lantunkan. "Gue nyanyiin lagu Barat deh buat lo."


 


 


"Asik."


 


 


"Jangan ketawa tapinya."


 


 


"Iya."


 


 


Ardi berdehem, kemudian mulai menyanyi. "Rain rain go away Come again another Day, Karin wants to play rain rain go away."


 


 


Karin tertawa, menonjok lengan pemuda tengil di sebelahnya main-main. "Abang lagu anak kecil iih," keluhnya.


 


 


Ardi yang berusaha menghindari pukulan gadis itu ikut tertawa. "Kan lo emang masih anak-anak," balasnya.


 


 


"Enak aja." Karin jadi kesal, memberi tatapan sengit pada sang abang yang terus meledeknya.


 


 


Gadis itu sedikit menurunkan jaket sang abang yang ia kenakan hingga menampakkan kedua pundaknya yang terbuka, "beneran anak-anak, Bang?" Tanyanya dengan memberikan tatapan yang menggoda.

__ADS_1


 


 


Ardi terdiam, Astagfirullah, sebutnya dalam hati, dan beringsut mundur ketika gadis itu semakin mendekatinya. "Sepi banget, Dek, kita cuma berdua, Mana dingin pula," ucapnya, mendorong kening gadis itu dengan telunjuk.


 


 


"Beneran masih anak-anak nggak," desak gadis itu semakin mendekat.


 


 


"Iya nggak."


 


 


"Apa?"


 


 


"Anak setan."


 


 


Karin jadi tertawa, kembali pada posisinya. "Makanya jangan macem-macem, Bang."


 


 


"Lo yang macem-macem njiirr." Ardi mengumpat kesal, sedikit  mencondongkan kepala dan mengulurkan tangannya untuk merapikan jaket yang merosot dari pundak gadis itu. Dan kecupan kilat di hidung berhasil membuat dirinya membeku.


 


 


Karin tersenyum jahil, kemudian tersadar telah melakukan kesalahan ketika sang abang menariknya ke atas pangkuan pemuda itu. "Bang," pekiknya tertahan saat merasakan wajah Ardi yang terbenam di ceruk lehernya.


 


 


Ardi mengeratkan pelukannya. "Dingin banget, Dek. Sumpah," bisiknya yang membuat Karin menahan napas, bulu bulu di lengannya jadi berdiri.


 


 


Pemuda itu merasa hawa dingin di sekitarnya berganti menjadi rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh dan berujung di kepala, membuatnya sedikit pusing dan semakin mengeratkan pelukannya.


 


 


Kau tikam aku dengan cintamu dan rasanya manis sekali, rasanya manis sekali


Kau beri aku surga dunia dan rasa ingin ku ulangi, rasanya manis sekali.


Dan lagu di dalam mobil seolah terputar lagi.


Karin merasakan pelukan sang abang tiba-tiba mengendur, dan saat dia menatap wajah pemuda itu, pandangannya tampak lurus ke depan, dan Karin terkejut saat ikut menolehkan kepala, gadis itu meloncat turun ke kursinya sendiri.


 


 


"Papi."


Karin jadi panik, merapikan bajunya yang sedikit berantakan. "Gimana nih, Karin turun deh, abis itu abang langsung pergi ya," pintanya dengan menggenggam lengan pemuda itu.


 


 


Ardi menggeleng, "gue nggak spengecut itu, Dek. Dengan gue kabur nilai gue bakal makin buruk di hadapan papi lo."


 


 


"Tapi kan papi taunya Karin jalan sama Bang Ipang."


 


 


"Apa lagi itu, gue nggak bisa bersembunyi di balik nama temen gue sendiri."


 


 


Karin terdiam, rasa takut di hatinya menciut dengan tatapan sang abang yang tampak meyakinkan.


 


 


"Apapun yang bakal terjadi sama gue nanti, gue janji nggak bakal mundur buat memperjuangkan lo kedepannya."


 


 


Karin yang terharu hanya bisa memeluk sang abang dan tergugu, airmatanya luruh, dia takut sang papi akan melakukan sesuatu.


 


 


Ardi melepaskan pelukan gadis itu," jangan takut, Dek, ada abang," ucapnya meyakinkan.


 


 


Karin kembali menoleh pada pintu gerbang yang terbuka lebar, di sana, sang papi tampak berdiri menunggu dengan payung terbuka di tangan kiri untuk melindunginya dari hujan yang mulai mereda, dan satu payung yang masih terikat rapi ia genggam di tangan kanan. Pria itu mungkin berniat menjemputnya.


 


 


"Nggak apa-apa, ayo kita turun."


 


 


**iklan** author VS netizen.


 


 


Author, nulis sambil mikir, berjem-jem, berhati-hari, nyempet-nyempetin di sela kesibukan. Mikirin alur, mikirin kata kata yang pas.


 


 


Netizen, baca sambil cengar cengir,  nggak ampe 20 menit kelar.


Hidup kadang setidak adil itu.


 


 


*Pas nunggu riview*


 


 


Author, "duh tulisan gue ngapa gak muncul muncul ya, padahal ngirim dari kemaren"


 


 


Netizen"thooooorr buruan update. Thoor nexx, thoorr lama banget si. Thoor Males ah."


 


 


*pas tulisan lulus riview*


 


 


Author: alhamdulilah moga nggak mengecewakan, trus yang komen banyak.


 


 


Netizen tipe 1 :asik muncul, abis baca cengar-cengir." kasih like ah, kasih komen biar semangat, kasih vote poin deh."


 


 


Netizen tipe 2:oh udah muncul, abis baca, senyum senyum, "nggak komen lah bingung mau nulis apa, gue kasih vote poin aja yang banyak biar author seneng."


 


 


Netizen tipe 3:akhirnya muncul juga ah udah gue tungguin juga, abis baca ngakak-ngakak, nggak komen ah Males, ngapain vote poin keenakan ntar penulisnya.


 


 


Ini tolong Netizen tipe 3 di ungsikan ke jalur gaza aja biar gue punya referensi buat nulis cerita azab ya Allah.


 


 


 


 


 


 



Ardi: Konflik itu nggak melulu orang ketiga, lo senyumin gue pas keadaan lagi sepi juga udah jadi konflik batin buat gue.


 


 


 



Karin: panas itu nggak harus adegan ranjang, aku di pepet dipojokan nggak nyampe di apa-apain juga udah panas buat aku. Ini tolong ya, buat Oh My boss nggak usah vote poin dulu, poinnya buat noisy girl aja, soalnya cerita noisy girl aku ikutin kontes. Makasiih.


 


 


 


 


Makasih buat dukungan kalian tanpa kalian tulisanku bukan apa-apa.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2