
Agung belum pernah segugup ini sebelumnya, berhadapan dengan keluarga Alya juga dengan membawa keluarganya sendiri, namun rasanya dia begitu bahagia.
Meski makan malam telah selesai nyatanya mereka tidak juga beranjak dari ruangan tersebut, hanya para asisten rumah tangga yang tampak sibuk merapikan piring-piring di atas meja, sedangkan mereka lanjut dengan memakan buah segar yang keluarga Agung bawa.
Sesekali Aldo melirik pada Adelina yang tampak tenang di kursinya, menutupi kenyataan bahwa kaki mereka sesekali saling menendang di bawah meja.
"Apa sih?" Adelina bertanya tanpa suara, hanya bibirnya yang tampak bergerak mengucapkan kalimat, juga dengan mata yang mengintai keadaan sekitar takut kalau-kalau ada di antara mereka yang memergokinya tengah bertengkar. Hanya Anggi yang sesekali menoleh, dan Adelina hanya tersenyum sebagai pengalihan.
Pak Azlan mengutarakan permintaan maafnya pada Agung atas kesalahpahaman yang terjadi antara pemuda itu juga anaknya. Dan Aldo hanya tersenyum setelah sesaat sebelumnya juga sempat meminta maaf pada pemuda itu.
Laila menanggapi dengan senyum balasan, dan berkata tidak apa-apa karena hal itu memang sebuah kesalahpahaman, "jadi kedatangan kami ke sini selain memenuhi undangan Pak Azlan juga ingin mengutarakan niat baik putra kami, yang ingin melamar Nak Alya untuk dijadikan istri."
Hening.
Alya mengerjap tidak percaya, menoleh pada kekasihnya yang tampak tenang di tempatnya, meskipun dirinya ingin meloncat kegirangan, tapi gadis itu hanya tersenyum sebagai tanda persetujuan.
Pak Azlan menerima itu dengan senang, pria paruh baya itu memang amat mengagumi sosok Agung dan alangkah senangnya jika pemuda itu ternyata mau menjadi menantunya.
Aldo tampak tidak fokus menyimak obrolan keluarga yang cukup serius menyangkut masa depan adiknya, pria itu kembali menendang kaki Adelina dan memberikan isyrata agar gadis itu mengikutinya. "Pi, Mi, Tante, aku mohon izin ke belakang sebentar ya," ucapnya yang mendapat anggukan dari tamu undangan, dan pertanyaan mau kemana dari sang ibu. "Bentar kok, Mi. Terusin aja ngobrolnya toh kehadiran aku nggak dibutuhkan juga," bisiknya pada wanita itu, kemudian melangkah pergi.
Tidak berselang lama, Adelina ikut berpamitan dengan alasan yang sama.
Anggi menoleh, "Teteh, Anggi ikut," ucap gadis itu.
"Udah kamu di sini aja temenin Umi, aku cuma bentar," tolak Adelina pada Anggi yang kemudian cemberut di kursinya, dia mengacak puncak kepala sang adik setelah berpamitan pada mereka.
Adelina menemui Aldo yang berdiri di belakang rumahnya, taman buatan yang nyaris penuh dengan bunga-bunga, gazebo di ujung sana juga kolam renang di tempat itu sesaat membuat Adelina tampak terpana, rumah abangnya memang besar sekarang, tapi kolam renang tentu saja tidak ada.
"Apa sih ngajak aku ke sini." Kalimat itu membuat Aldo yang memunggunginya kemudian berbalik.
"Hay, kamu sekarang nggak pernah bales pesan ." Aldo mulai berbasa-basi.
Adelina melengos, gadis itu pura-pura tidak peduli, bahkan dengan detak jantunya sendiri yang kecepatannya seperti habis berlari. "Kan udah putus. Ngapain lagi mau bales-balesan pesan," ucap gadis itu. Yang ada usaha move on mati-matiannya bisa gagal seketika, Imbuhnya dalam hati.
Aldo tersenyum, "kamu mungkin udah tau tentang kesalahpahaman aku sama Abang kamu kan, aku minta maaf ya Del."
Kalimat itu membuat Adelina menoleh, dan langsung teringat dengan makian yang ia tau dari adiknya, seketika kebencian itu kembali menyelimuti hatiya. Namun jika mengingat ketulusan pria itu yang mengakui kesalahannya, dia jadi tidak tega, gadis itu pun mengangguk, "bukan masalah yang besar, toh bukan aku yang di posisi itu."
__ADS_1
"Bukan masalah yang besar ya, tapi kamu sampe mutusin aku." Aldo melontarkan kalimat sindiran, tentang keputusan gadis itu sebenarnya masih menjadi sebuh pertanyaan. "Nggak bisa ya kita balikan?" Tanyanya.
Adelina terdiam, dia tidak mengerti bagaimana hukumnya jika antara saudara ipar ternyata saling mencintai dan menikah, yang dia tau pasti bingung bagaimana merajut cerita di antara mereka. Siapa yang menjadi kaka ipar siapa? Jelas A Agung adalah adik ipar Aldo, tapi jika dia menikah dengan pria itu, lalu apa? A Agung juga jadi kakak ipar untuk Aldo, benar-benar terdengar rumit, dan gadis itu menggeleng pelan sebagai jawaban.
Aldo tersenyum mengangguk, dia mengerti dengan situasi yang terjadi sekarang ini, "mulai besok mungkin kamu nggak bisa liat aku di kampus lagi."
Adelina yang sedikit terhenyak kemudian menoleh, tatapannya tampak menyiratkan sebuah kesedihan, dan hal itu membuat senyum di bibir pemuda di hadapannya itu seketika berkembang. "Kenapa?" Tanya gadis itu.
"Aku disuruh fokus sama perusahaan aja sama Papi, lagian aku kan cuman asisten Dosen aja, dan besok beliau udah masuk lagi jadi aku udah nggak di situ lagi."
Sadar bahwa raut wajahnya mungkin terlihat sedih , Adelina menunduk, mencoba untuk bersikap biasa saja." Kirain mau ngindarin aku," candanya.
Kalimat itu membuat Aldo tertawa mendengus," Salah satu alasan kuatnya itu juga sih," ucapnya, menoleh pada gazebo di sudut taman dan mengajak gadis itu untuk duduk di sana. "Cape dong berdiri terus."
Adelina mengikuti pria itu melangkah ke arah saung kecil yang minim penerangan, lampu yang ada di sana terkesan redup, yang mungkin sengaja untuk memberikan suasana romantis yang malah terlihat sedikit horor menurut gadis itu. "Jadi kita nggak bakal ketemu dong," ucap Adelina setelah duduk di sebelah mantan kekasihnya.
Aldo mengangguk, "kecuali kalo nanti kamu obserfasi di perusahaan papi aku, pasti kita ketemu."
"Sayangnya aku dikirim tugasnya ke perusahaanya Bang Ardi, temennya A Agung."
"Jujur ya, Del, aku tuh jarang serius menjalin hubungan sama seseorang, tapi giliran serius, malah salah orang." Aldo berucap pelan, kemudian menoleh pada gadis di sebelahnya.
Dipandang seperti itu membuat Adelina mengerjap gugup, gadis itu mengalihkan tatapannya ke arah lain," bisa banget modusny kamu, Ka," sindirnya.
"Nggak percaya yaudah," balas pria itu.
"Kita mungkin saling sayang, tapi nggak bisa saling memiliki, banyak kok yang kaya gitu, dan mereka masih baik-baik aja sekarang, bahkan sampai menemukan pasangan masing-masing."
Aldo mengangguk, seperti kisah cintanya yang sebelumnya berujung kandaspun sebenarnya hal ini sudah termasuk biasa, jadi seharusnya dia sudah tidak apa-apa, tapi rasa kecewa tentu ada."Semoga kamu dapetin pasangan yang lebih dari aku ya, Adelina. "
Gadis di sebelahnya itu tersenyum, mengamini kemudian berterimakasih, tidak lupa juga mendoakan hal yang sama untuk mantan kekasihnya itu, perpisahan mereka bukan karena permasalahan besar yang dapat memicu sebuah kebencian, keduanya memutuskan untuk baik-baik saja meskipun memilih untuk tidak berteman, karena nyatanya perasaan mereka yang kini tumbuh menjadi saling suka berawal dari sebuah pertemanan.
"Seenggaknya sama siapapun pasanganku nanti, aku bisa cerita kalo pernah punya mantan," ucap Adelina polos, dan hal itu justru terlihat menggemaskan.
Aldo jadi tertawa, baru sadar ada juga yang menganggap bahwa punya mantan itu adalah sesuatu yang dapat dibanggakan, Aldo memang tau bahwa Adelina belum pernah punya kekasih, batasan dari kakak laki-lakinya membuat gadis itu takut menjalin hubungan di sekolah saat remaja.
__ADS_1
Adelina menoleh saat pemuda di sebelahnya tampak diam saja, tatapannya tidak terbaca, dan satu gerakan mengejutkan membuat gadis itu terpaku di tempatnya.
Pemuda itu mencium bibirnya, selain mengerjap tidak menduga gadis itu tentu hanya bisa diam saja, dan gerakan-gerakan lembut setelahnya berhasil membuat dirinya memejamkan mata.
Aldo memundurkan kepala, bersamaan dengan itu kelopak mata gadis di hadapannya itu pun terbuka, tatapannya tampak kosong. "Bilangin sama pasangan baru kamu nanti, kalo kamu juga pernah dicium," ucap pria itu.
Adelina mengerjap tersadar, menyentuh mulutnya menggunakan telapak tangan, kemudian dengan kesal memukul lengan pemuda di sebelahnya. "Kak Aldo ngambil ciuman pertama aku iih," omelnya yang membuat pemuda itu seketika tertawa.
"Kalo tau bakal semanis ini, kenapa nggak dari kemaren-kemaren aja aku minta ya. Pas kita masih pacaran, siapa tau dapet lebih."
"Dih, ngarep!" Setelah mengomel lagi, gadis itu membuang muka, jujur dia masih syok dengan perlakuan mantan kekasihnya, jantung yang berdetak cepat menggambarkan bahwa perasaan itu tentu ada, tapi harus bagaimanapun keadaan mereka tidak memungkinkan untuk terus bersama.
Terkadang ada sebuah perpisahan yang terasa manis, karena tidak semua kenangan terhadap mantan akan menimbulkan sebuah kebencian.
**iklan**
Author: kisah Aa Agung di skip dulu ya gantian yang lain juga mau tampil. 🤭
Netizen: Bang Ipang dong thor, banyak readers yg nanyain tuh. 🤗
Author: iya bentar bentar aku mikir dulu. Ah iya ahir-ahir ini aku mungkin sibuk ya jadi ga sempet ngobrol ngobrol di grup chat apalagi mulung poin, tapi sesekali pasti nongol kok, lagi pengen fokus sama nulis dulu. 🙏
Netizen: Ada drakor yang lagi viral thor tentang pelakor gitu, lu nggak mau bikin siapa tau buming. 😅
Author: Gah!! Gue nulis adegan jahatnya boongan elu ntar komen jahatnya beneran. 😒
Netizen: ya sapa tau pengen ngerasain di maki maki kaya artis Korea yang akun ignya diserbu Netizen gara gara akting jadi pelakor. 🤔
Author: Iya gue tuh suka prihatin sama Netizen ya, mereka itu akting, jahatnya boongan nah elu bloonnya beneran 😆
Iklan diambil dari Dpo-nya Bang Bintang, komika, aku gamau ketawa sendirian 😆 salam haha hihi mohon dukungannya ya. Like vote komen selalu ditunggu makasiiih 🙏🙏🙏
__ADS_1