NOISY GIRL

NOISY GIRL
SUSUN STRATEGI


__ADS_3

Ardi pulang ke rumah dini hari dan disambut oleh omelan kanjeng mami yang amat khawatir dengan anak bujangnya itu.


 


 


"Kamu itu kemana aja sih?" Tanya Marlina, saat Ardi mampir ke dapur untuk mengambil air dingin di dalam kulkas.


 


 


"Aku ketiduran di kantor, Bu." Ardi tidak sepenuhnya berbohong, di memang sempat ketiduran di kantor kok, tapi setelah itu mampir ke rumah pacarnya.


 


 


"Bohong, Bu." Nena yang entah datang dari mana kemudian berucap, "dia abis nyelinap ke kamar Karin tadi maminya ngadu."


 


 


"Ar? Kok anak ibu begitu sih kelakuannya." Marlina tampak tidak percaya.


 


 


Nena mencibir, tidak tau saja sang ibu dengan kamera cctv yang bertebaran di mana-mana, dan merekam kelakuan putranya.


 


 


"Nggak ngapa-ngapain, Bu." Ardi mengelak, memberikan tatapan kesal pada sang kakak. "Sumpah deh, cuma tidur doang, tadinya mau pulang eh kebablasan."


 


 


Marlina menggeleng, "kamu kok bisa masuk?"


 


 


"Iya manjat atap rumahnya, kebetulan pagar pembatasnya itu jaraknya deket sama genteng."


 


 


"Bisa itu kamu manjat?"


 


 


"Bisa lah, Bu, buat apa aku sering benerin genteng rumah ini kalo manjat genteng rumah orang aja nggak bisa."


 


 


Marlina menggeleng, "ya tapi jangan disalah gunakan juga ilmunya, ibu nggak enak sama maminya Karin."


 


 


Sejenak Ardi terdiam, kemudian mengangguk, "besok-besok aku masuk lewat pintu aja."


 


 


"Ardi!"


 


 


Nena juga sang ibu berteriak hampir bersamaan, pemuda itu nyaris menutup telinganya dengan kedua tangan.


 


 


"Udah lah, ibu beli sayur dulu." Marlina berucap lagi, kemudian melangkah pergi.


 


 


Nena yang ditinggal berdua melirik adiknya tidak suka. "Bohong kalo kamu nggak ngapa-ngapain sama Karin semaleman," tuduh sang kakak, tatapannya tampak curiga.


 


 


Ardi berdecak pelan, nggak percaya an banget si, pikirnya, namun alih-alih memberikan alasan berupa sangkalan, pemuda itu malah sengaja memanas manasi wanita itu. "Ngapain kek, udah gede ini," ucapnya yang mendapat tabokan di lengan.


 


 


"Inget, Ar, Karin itu udah punya tunangan, kamu mau di cap cowok nggak bener gara-gara terus godain dia." Nena mulai memanas-manasi.


 


 


Ardi bersandar pada meja dapur, meletakkan gelas di tangannya ke atas meja, "emang selama ini aku pernah bener," ucapnya. "Biar sekalian aja nggak bener," tambahnya kemudian.


 


 


Nena menghela napas, kemudian menoleh saat sang ibu telah kembali membawa beberapa sayuran, "cepet amat, Bu," ucapnya.


 


 


"Iya kebetulan si abang tadi lewat di depan," ucap Marlina, dan keduanya terlibat percakapan.


 


 


Ardi memanfaatkan kondisi itu untuk melarikan diri, namun ternyata sang kakak menyadarinya.


 


 


"Mau kemana kamu, aku belum selesai." Nena mengomel dengan menarik lengan baju sang adik, pemuda itu menghentikan langkahnya.


 


 


"Mau mandi ini akunya, belom mandi dari kemaren." Ardi memberi alasan.


 


 


Nena berdecih, kemudian menoleh pada sang ibu, "nih, Bu ajarin anaknya, masa Karin udah punya tunangan dia masih godain aja," ucapnya melangkah dan berdiri di hapan wanita itu.


 


 


Marlina tertegun, "emang beneran yah Karin udah tunangan, gagal jadi mantu ibu dong," ucapnya malah ikut berduka.


 


 


"Hah?" Nena terlongo tidak percaya. Dan diam diam Ardi menjulurkan lidah ke arahnya.


 


 


Pemuda itu menghampiri sang ibu, mencoba menghibur wanita itu. "tenang aja, Bu, nanti Karin aku culik ditikungan doain aja," ucapnya yang membuat wanita di hadapannya menoleh senang.


 


 


Nena melipat lengannya di dada, menyaksikan sejauh mana percakapan bodoh itu mereka teruskan.


 


 


"Doain biar tunangannya Karin jelek. Terus dia nggak mau." Ardi menggenggam tangan sang ibu, keduanya tampak khusuk meminta sesuatu.


 


 

__ADS_1


"Ibu doain biar nanti Karin milih kamu." Marlina menyentuh kedua pipi putranya.


 


 


Ardi mengangguk, "semoga nanti tunangannya Karin itu males, suka tiduran, nggak rajin kaya aku," ucapnya sungguh-sungguh.


 


 


Nena yang mendengar itu nyaris tertawa, namun dia berusaha untuk diam saja, sampai pembahasan berikutnya membuat wanita itu tergelak tidak kuasa.


 


 


"Semoga tunangan Karin itu panuan, kapalan, kudisan, cantengan, apa aja deh biar dia nggak suka, terus berpaling sama aku yang sempurna."


 


 


Nena berpegangan pada kulkas di hadapannya, sebelah tangan wanita itu menahan perutnya yang mulai terasa keram terlalu banyak tertawa. Dan hal itu membuat Ardi juga sang ibu menoleh tidak suka.


 


 


"Kenapa sih, Mbak. "


 


 


Nena menggeleng, masih tertawa, kemudian menepuk pundak pemuda itu dengan tangannya. "Nanti kalo kamu udah mulai gatel-gatel bilangin, ntar aku siapin salep obat kurap," ucapnya kemudian melangkah pergi setelah kembali menepuk pundak sang adik dua kali.


 


 


Ardi memicingkan mata, "Nggak jelas banget," omelnya, kemudian kembali menoleh pada sang ibu, meraih ke dua tangan wanita itu dan menciumnya berkali-kali.


 


 


"Ibu doain biar kamu dapetin Karin, anak ibu harus semangat." Marlina yang tidak tau apa-apa terus memberi dukungan.


 


 


Ardi mengangguk mantap, "doain biar aku selamet di tikungan, bawa Karin pulang," ucapnya, kemudian menggaruk pundak. "Yaudah ya, Bu, aku mau mandi dulu ini udah gatel-gatel."


 


 


***


 


 


Alya kembali melihat alamat yang diberikan saudara sepupunya saat menginjakkan kaki di sebuah Cafe bernuansa kekinian, "nama Cafenya Buronan Mitoha? aneh amat." Gadis itu bergumam sendiri, kemudian melangkah masuk pada pintu kaca yang bertuliskan 'dorong aja' dia mengerutkan dahi lagi.


 


 


Di dalamnya begitu luas, ada tempat-tempat nongkrong anak muda yang bagus untuk dijadikan objek foto dan dimasukkan ke sosial media, namun bukan hal itu yang membuat Alya terpesona, tapi barista tampan yang tengah meracik kopi dengan mesin yang dia tidak tau apa terlihat begitu istimewa.


 


 


"Boleh juga si Ipang nyari karyawan, ganteng banget, yaiyalah pengunjungnya betah." Gadis itu melangkah menghampiri, membuat pemuda ber apron putih dengan tulisan buronan Mitoha itu kemudian mendongak. "Hay," sapanya.


 


 


"Mau pesan sesuatu?" Tanya pemuda itu, "ada buku menu, silahkan," ucapnya sopan.


 


 


Alya menggeleng, "aku cari yang punya Cafe ini, masih saudara," ucapnya.


 


 


 


 


"Nah, iya," ucapnya membenarkan, namun kemudian sadar akan sesuatu, "eh, nggak sopan banget kamu manggil nama, pelayan di sini kan?" Tanyanya, yang kemudian membuat pemuda itu tertawa pelan.


 


 


"Saya Agung," ucapnya sembari meletaan telapak tangannya di dada, "iya, saya pelayan," imbuhnya kemudian.


 


 


Alya tampak mengangguk, berusaha mengontrol debaran jantungnya, tawa pemuda di hadapannya itu ternyata menular, dan dia jadi suka, namun gengsinya ternyata terlalu tinggi untuk mengakui itu semua. Ah, masa dia naksir pelayan, begitu pikirnya.


 


 


"Ipang belum datang," ucap Agung, "duduk aja dulu, mau minum apa biar saya buatkan."


 


 


Alya menggeleng, "Nggak usah, saya nunggu di sana aja," ucapnya, kemudian melangkah pergi, namun belum sampai jauh gadis itu menoleh lagi, dan si pemuda kembali sibuk dengan tugasnya sendiri. "Eh sory-sory," pekiknya saat tidak sengaja menabrak seseorang.


 


 


"Ngapain kamu ngikutin saya sampe sini."


 


 


Alya mendongak, lah, bos julid, "bapak yang ngapain di sini."


 


 


Ardi melipat tangannya di dada, memperhatikan asisten magangnya itu dengan seksama. Belum sempat berkomentar Ipang sudah datang menghampiri mereka.


 


 


"Wey, kalian udah kenal?" Ipang merangkulkan tangan kanan pada Alya saudaranya, dan tangan kiri merangkul pundak Ardi. "Dia sepupu gue Ar," ucapnya.


 


 


"Hah?" Ucap keduanya nyaris bersamaan.


 


 


Ipang menarik mereka berdua untuk duduk di sofa tempat biasa buronan mitoha menghabiskan waktu bersama. Pemuda itu memperkenalkan sepupunya pada Edo yang sudah duduk di sana. Beberapa penjelasan tentang Ardi yang mengenal gadis itu pun sempat menjadi pembahasan.


 


 


Mereka terlibat percakapan, hingga Agung datang dengan membawa nampan dan beberapa cangkir kopi untuk teman-temannya. Pemuda itu melepaskan apron dan memberikannya pada satu pelayan.


 


 


Alya mengerutkan dahi, kenapa pelayan yang satu ini begitu dihormati, kok bisa ya dia bergabung dengan majikannya sendiri.


 


 


Dan yang membuat gadis itu bingung, Ipang memberikan kertas entah apa pada pemuda itu, dan mereka tampak serius membahas ya bersama. "Etunggu, kamu bukannya tadi bilang cuma pelayan ya?" Tanyanya.


 


 


Ardi adalah orang pertama yang tertawa, pemuda itu menepuk pundak Agung dan merangkulnya. "Dia owner di sini."

__ADS_1


 


 


"Hah?"


 


 


Ipang mengacak rambut sepupunya gemas, "lo dikibulin kayaknya," ucap pemuda itu.


 


 


Agung ikut tertawa, "tapi dia percaya si pas gue bilang pelayan, sedihnya." Agung pura-pura kecewa.


 


 


Alya memberenggut kesal, "ya abisnya gimana, muka kamu muka-muka orang susah si," ucapnya.


 


 


Kemudian hening.


 


 


"Susah dilupain maksudnya," imbuhn gadis itu spontan.


 


 


"Cieeee!"


 


 


Teriakan dari mereka membuat gis itu tersenyum malu, Agung tampak tenang di tempatnya.


 


 


"Pepet, Gung, gue bagi nih nomornya." Ardi beriniiatif menawarkan, pemuda itu tentu tau karena dia adalah asistennya.


 


 


Dan teman-temannya yang lain ikut memojokkan mereka, Alya jadi berpikir, ternyata bos ya itu sekoplak ini jika di luar kantor. Dan merasa terus menjadi bulan-bulanan mereka, gadis itu melarikan diri dengan alasan pamit ke kamar mandi.


 


 


Ardi mengirimkan kontak Alya pada ponsel sahabatnya, "buat pendekatan," ucapnya memberi dukungan, belum sempat mendapat respon ari teman-temannya, pemuda itu berucap lagi. "Gue mau minta bantuan kalian dong."


 


 


"Bantuin apa?" Tanya Edo.


 


 


"Si Karin ditunangin sama orang."


 


 


Hening.


 


 


"Lo serius?" Tanya Ipang.


 


 


Ardi mengangguk, "pas gue tau lo ditunangin gue pikir lo adalah tunangan dia, tapi ternyata bukan," ucapnya.


 


 


"Ya terus lo mau minta tolong apaan?" Desak Agung.


 


 


"Bantu gue buat nikung tunangan si Karin."


 


 


"Yah gitu doang mah kecil, emang kerja di mana dia?" Tanya Agung.


 


 


"Jabatannya apa?" Edo ikut menimpali.


 


 


"Atau pengusaha kali ya."


 


 


Mendengar tebakan mereka, Ardi menggeleng, "Gue nggak tau, dan Karin juga belum dikenalin tunangan y siapa."


 


 


"Yhaaa," ucap mereka nyaris bersamaan dengan kecewa.


 


 


"Gaib sih gue rasa."


 


 


"Demit jan jangan."


 


 


Ardi menghela napas, "bisa jadi," ucapnya melas.


 


 


**iklan**


 


 


Author: maaf ya kalo banyak typo, ngantuk ini 🤣🤣


 


 


Besok mungkin mau istirahat sehari gak up, tapi kalo poinnya kenceng bisa dipertimbangkan 🤣


 


 


Makanya semangat ya, biar aku juga semangat. Poinnya jangan lupa.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2