
Karin membuka mata, dan sedikit terkejut dengan telapak tangan yang menempel di pipinya. Ternyata sang abang belum pulang, gadis itu menoleh pada jam dinding, sudah pukul empat pagi.
"Bang," panggilnya pelan, pemuda di hadapannya itu perlahan membuka mata, namun kemudian menutup lagi. "Abang bangun udah pagi." Karin beranjak duduk, berlari ke pintu dan melongok ke luar, biasanya jam segini sang mami belum bangun, jadi masih aman.
Gadis itu berbalik dan mendapati sang abang yang sudah terduduk di tepi ranjang, dia menghampirinya.
"Lewat pintu aja, Bang, keluarnya, biasanya mami belum bangun."
Ardi berdehem, mengucek matanya yang sedikit perih. "Masih ngantuk akutuuh," keluhnya.
Karin menarik lengan pemuda itu, membuatnya berdiri, "ayo cepetan ntar ketauan mami."
Dengan malas Ardi mengikutinya, gadis itu membuka pintu, menoleh kanan kiri kemudian menarik sang abang ke arah tangga, perlahan mereka menuruninya.
Baru beberapa anak tangga berhasil mereka pijak, suara langkah kaki membuat keduanya terlonjak, Karin kembali menarik sang abang naik dan menyembunyikannya di balik guci besar yang ada di sana.
"Tumben kamu udah bangun." Carla yang menaiki anak tangga menyapa putrinya.
Karin menghampiri wanita itu, merangkulkan tangannya pada lengan sang mami, "ke atas mau ngapain, Mi?"
"Mami mau yoga, tadi lupa bawa minum," ucapnya sembari menunjukkan gelas berisi air putih di tangannya.
"Jangan ke balkon dulu, Mi, sini bentar deh, aku mau ngomong." Karin menarik sang mami menuruni tangga, setelah beberapa saat lalu melirik sang abang yang bersembunyi di balik guci, dia memberikan isyarat pemuda itu untuk pergi.
"Ngapain sih, kok kamu bawa mami ke dapur?" Carla jadi bingung dengan tingkah putrinya.
"Aku laper, bikinin roti bakar dong, Mi." Karin sengaja membuat sang mami jadi sibuk, berharap abangnya itu sudah pergi lewat balkon.
"Yaudah mami bikinin," ucap Carla, wanita itu menyibukkan dirinya dengan kompor dan spatula, dan Karin terus melongok ke arah tangga, takut-takut kekasihnya lebih memilih lewat sana.
"Nih, ayo makan, mami mau ke balkon dulu, nerusin yoga."
"Eh, Mi." Karin jadi panik, meraih lengan sang mami dan sedikit menariknya, "temenin aku sarapan dong."
Carla mengerutkan dahi, tumben sekali putrinya ini begitu manja, "kamu kenapa si?" Tanyanya curiga.
Karin merapatkan bibirnya, tersenyum canggung, kemudian menggeleng.
"Yaudah mami temenin tapi mau ambil hp dulu di balkon, ketinggalan tadi," ucapnya, kemudian melangkah pergi.
Karin beranjak berdiri, hendak mencegah wanita itu, namun sayang sang mami sudah berlalu ke arah tangga, dia hanya bisa berdoa semoga sang abang sudah pergi dari tempatnya.
Di satu sisi, Ardi yang disuruh bersembunyi di balik guci malah ketiduran, pemuda itu sedikit terlonjak, melirik jam tangan sudah berapa lama dia memejamkan mata, kemudian kembali masuk ke kamar Karin, membuka pintu balkon dan sedikit berpikir, semalam dia naiknya dari arah mana ya.
Sepagi ini tentu di luar masih tampak sepi, dan sepertinya suasana pun cukup aman untuk dia melarikan diri.
Baru meloloskan satu kakinya ke pagar pembatas, pintu balkon sebelah kiri terbuka, dan seseorang dari sana langsung memukulinya dengan apa saja yang dia ambil di atas meja.
"Heh, mau maling kamu ya!!" Carla mengambil kemoceng dari atas meja, tidak sempat berpikir siapa yang meletakan di sana, wanita itu langsung memukul punggung seseorang yang menyelinap ke kediamannya.
Ardi menghalau serangan brutal sang calon mertua dengan satu lengannya, tangan satu berpegangan pada balkon agar tidak terjatuh, "ampun Tante, ini aku," ucapnya yang membuat wanita itu menghentikan gerakannya.
"Kamu?" Carla terlongo tidak percaya. Kemudian menoleh ke arah pintu balkon kamar putrinya yang terbuka.
"Jangan Pukul Bang Ar, Mi." Karin yang berlari, berhenti di hadapan Ardi yang masih duduk di pagar pembatas balkon, pemuda itu kemudian beranjak turun.
Carla mengerjap tidak percaya, putrinya membawa seorang pemuda bermalam di kamarnya. "Kalian?"
***
Karin mengerjap gugup, berdiri berhadapan dengan Ardi yang memegang kedua telinga miliknya, dan gadis itu juga melakukan hal yang sama pada telinga pemuda itu.
Di sebelahnya, Carla dengan tampang galaknya duduk di kursi memperhatikan mereka berdua. "Ayo jewer," titahnya. Dan Karin menurut.
Ardi mengernyit, telinganya terasa sakit, diapun mengaduh, bertahan-tahun dia sekolah, belum pernah dirinya mendapat hukuman semacam ini, dia jadi tau perasaan si kembar yang sering dihukum macam begini oleh maminya.
"Maaf, Bang Ar," ucap Karin merasa bersalah, tatapannya tampak iba.
__ADS_1
Carla berdiri, mendekati mereka, "ayo kamu juga jewer kuping anak tante coba," titahnya pada Ardi, pemuda itu memang sedari tadi memegang telinga gadis di hadapannya, tapi tidak menyakitinya.
Ardi menelan ludah, di hadapannya Karin menyuruh melakukannya, dan bilang tidak apa-apa, tapi pemuda itu tentu tidak akan pernah tega."Aku nggak bisa, Tante," tolaknya.
Diam-diam Carla menahan senyum, "Kenapa? Kamu mau tante hukum kaya gitu sampe sore," ancamnya.
Ucapan sang mami membuat Karin menoleh, kemudian menggeleng, "jangan dong, Mami," rengeknya.
"Sampe besok juga nggak apa-apa, Tante," ucap Ardi yang mendapat pelototan dari gadis di hadapannya, pemuda itu tersenyum meringis saat merasakan pegangan gadis itu di telinganya semakin menguat. "Sakit sayang," bisiknya.
"Itu sih maunya kamu biar bisa berduaan terus sama anak tante kan," tuduh Carla, dan pemuda itu membalasnya dengan cengiran dan membuat Karin kembali menarik telinganya.
"Udah dong, Mi." Karin memohon pada sang mami. Dan wanita itu kemudian mengangguk. Karin melepaskan tangannya dari telinga Ardi, dan pemuda itu juga melakukan hal yang sama.
"Makasih, Mami." Gadis itu menubruk sang mami, memeluknya erat. "Mami nggak marah, Kan?"
Carla menggeleng, "mami mau nelpon papi kamu aja, ngaduin kelakuan kalian," ancamnya lagi.
"Mamii...." Karin kembali memohon.
"Kalian ngapain aja?" Tanya sang mami yang membuat Karin sedikit kelabakan, gadis itu menoleh pada kekasihnya.
"Sayangnya nggak sampe ngapa-ngapain, Tan, akunya ketiduran."
Karin membulatkan matanya saat kalimat itu terlontar dari mulut sang abang, memang benar sih, tapi nggak gitu dong alasannya.
Carla memicingkan mata, menatap pemuda di hadapannya dengan curiga." udah berapa kali kamu masuk ke kamar anak tante."
"Sering, sih."
Jawaban itu membuat Carla sedikit terlonjak, dan Karin dengan cepat mengelaknya.
"Bohong, Mi, baru kali ini aja kok." Karin beralih ke hadapan sang mami, sedikit menghalangi pemuda di belakangnya.
"Karin?" Carla beralih menatap putrinya.
Sang kekasih yang terlihat panik dan mengangkat ke dua tangannya membuat Ardi tertawa pelan.
"Enggak, Mi, enggak."
Carla jadi bingung, entahlah dia memihak pada siapa, dua-duanya terlihat tidak dapat dipercaya.
"Tante, anaknya aku lamar aja, ya, abis ngangenin, biar aku nggak manjat genteng lagi nih." Ardi memberi penawaran. Karin yang kebetulan sudah berdiri di sebelahnya itu dengan leluasa mencubit gemas pinggangnya.
Carla menyentuh kepalanya dengan dua tangan," udah-udah, mami pusing, " ujarnya yang membuat kedua anak muda di hadapannya itu berhenti berdebat. "Ardi kamu mandi abis itu sarapan baru pulang, nanti dicariin ibu kamu."
Ardi sejenak terdiam, kemudian menoleh pada Karin yang juga meliriknya. "Nggak usah mandi tante, aku nggak bawa baju ganti," tolaknya halus.
Carla melengos, "gimana si, nginep kok nggak bawa baju."
Ardi kembali menoleh pada gadis di sebelahnya, dan mendapati gerakan mengangkat bahu yang menunjukkan gadis itu tidak tau, dia pun kembali menatap wanita yang sering dipanggil mami oleh kekasihnya itu.
"Iya, Tante, besok-besok kalo mau nginep lagi bawa baju deh."
"Eh?"
***
"Kamu nggak siap-sip berangkat kantor Mas, udah mau siang loh." Nena mengingatkan sang suami yang tampak sibuk dengan laptopnya pagi-pagi, padahal belum mandi.
Justin yang duduk bersila di atas kasur memberikan isyarat pada sang istri untuk mendekat, dan setelah Nena sudah berada di sana, dia menggeser laptop dan mengarahkan pada wanita itu. "Liat nih adik kamu," ujarnya.
Padahal dia memeriksa rekaman cctv hanya untuk melihat pukul berapa adiknya itu keluar dari ruangannya, kenapa sampai sekarang belum pulang. Ponselnya juga tidak dapat dihubungi.
Nena melengos, menggeser laptop yang berupa rekaman cctv dalam ruangan kerja sang adik yang membuatnya malu sendiri, "adik kamu itu, Mas," ucapnya tidak mengakui.
__ADS_1
"Adik kamu, cueknya sama," kekeh Justin.
"Nggak itu adik kamu, mesumnya sama." Nena tidak mau kalah.
Justin berdecak pelan, melirik lagi pada laptop yang masih menyala dan kemudian mematikannya. Pria itu mengusap wajahnya gusar. "Jadi kita harus gimana?" Tanyanya.
Nena menghela napas, "ya gimana lagi, bilangin aja yang sebenernya."
Justin menggeleng, "mereka nggak tau bahwa mereka sudah ditunangkan saja sepanas itu, apalagi jika mereka tau," tutur Justin pelan, "bisa bikin anak mereka," imbuhnya kemudian.
"Ya makanya, daripada kita ikut dapet dosa, mending kasih tau aja," ucap Nena yang membuat sang suami jadi dilema.
Tapi pria itu tetap teguh dengan pendiriannya. "Belum saatnya mereka tau," ucapnya.
Nena menoleh pada sang suami, kemudian berucap lagi, "syarat dari Tante Carla buat datengin Alya aja mana? Nggak berjalan mulus, sekarang Alya malah nyerah," ucapnya, mengingat gadis cantik bernama Alya yang ditugaskan menjadi orang ke tiga. Tante Carla memang ada-ada saja, dia tidak tau Ardi sebucin apa pada putrinya. "Ardi itu memang harus ada pawangnya."
"Memangnya binatang buas pake pawang?"
"Lah, memang buaya nggak buas."
Justin berdecak, "kita harus pikirkan bagaimana caranya agar mereka berdua itu tidak terlalu lengket," ucapnya.
Nena menggeleng, "susah, Mas, Ardi itu memang sulit didekati, satu-satunya orang yang bisa membuat dia bersikap manusiawi ya cuman Karin."
"Bukannya dulu dia banyak pacarnya?" Tanya Justin heran.
Nena yang masih bersila kemudian menopang dagu, "Pacar mah cuman satu, cuman sering ganti-ganti aja kaya pake baju, itu juga aku rasa ceweknya yang nembak dulu, tapi pacarannya nggak pernah lama, lagian siapa sih yang bisa tahan sama sifat cuek dia."
"Tapi kenapa sama Karin dia nggak bisa cuek? Bahkan hubungan mereka sudah terjalin lama." Justin sedikit berpikir, menghitung mundur jarak saat dirinya membebaskan Carla, hingga muncul isyu bohong pertunangan yang padahal dirancang untuk mereka berdua, dan sampai sekarang mereka masih menjalin hubungan saja.
Dia pikir dengan isyu pertunangan itu mereka akan saling menjaga jarak. Nyatanya malah semakin mendesak. Pria itu jadi pusing sendiri, sang adik yang menjalin hubungan malah dia yang amat kerepotan.
"Aku juga nggak tau," ucap Nena yang membuat sang suami kemudian menoleh, "dulu Ardi kalo punya pacar nggak pernah lama, paling dua minggu aja, tapi sama Karin tuh beda."
"Dua minggu?" Ulang Justin heran. "kalah sama masa aktif kuota," imbuhnya kemudian.
Nena berdecak pelan, "ya terus ini jadinya gimana? Mau dikasih tau nggak tunangan Karin itu ternyata dirinya sendiri?" Tanyanya sekali lagi.
Justin menghela napas, "nanti aja, aku pikirin dulu."
***iklan***
Netizen: jangan lama lama thor bang entin mikirnya.
Author: yang mikir gue sih sebenernya.
Netizen: kenapa dah thor sekarang nggak pernah taroin foto lagi?"
Author: kalo pake foto ntar riviewnya lama, gue lagi ngejar poin sampe tanggal 15 nih, pengumuman doain napah.
Netizen: oh jadi ada maunya.
Author: ya eyalah biar kita sama sama enak, lu seneng poin gue kenceng. 🤣
Netizen: jadi gue harus nyumbang poin nih.
Author: ya usahain lah kencengin poinnya, biar rengking gak turun dan gue juga jadi semangat.
Netizen: semangat nulis thor.
Author :semangat begadangnya 😭😭😭
Ni aku kirim jam 04:20, kalo hari rabu udah muncul berarti beruntung, jangan lupa ditambahin poinnya ya.
__ADS_1