
Saat sang papi mendekat, Karin membuka kaca mobil, tetesan air hujan yang masih lumayan deras terciprat ke wajahnya yang tampak pucat.
Hendrik sedikit merunduk, melongok ke kursi kemudi, "kamu," pekiknya pada seseorang yang tampak tersenyum tenang di hadapannya.
"Hay, Om." Ardi mengangkat telapak tangannya, menyapa pria berwajah dingin yang adalah papi Karin.
Pria itu melengos, dari gengamannya yang terlihat mengerat pada payung di tangan kanannya Ardi tau, Hendrik pasti sangat marah.
"Keluar kamu!!" Bentak Hendrik pada putrinya, membuka pintu mobil dan menarik gadis itu dengan paksa.
Ardi ikut keluar, berjalan mendekati pria itu, Karin tampak menunduk di sebelah papinya. "Om, tolong jangan kasar, Karin itu anak, Om," ucapnya yang tidak di hiraukan oleh pria berwajah galak yang kemudian mengambil payung yang sempat ia buang tadi untuk ia genggam.
"Berani kamu boongin saya, di mana Irfan." Hendrik yang tampak murka mengomel pada putrinya.
Karin mendongak, menoleh sekilas pada sang abang yang semakin mendekat, gadis itu memberikan isyarat pada pemuda itu untuk pergi. Kemudian mengusap wajahnya yang basah terkena tetesan air hujan.
" Jawab!" Bentak sang papi yang membuat Karin sedikit terlonjak, bahkan suara petir yang entah kenapa tidak muncul di hujan yang sederas ini pun kalah menakutkan dari Bentakan papinya.
"I, Irf–,"
"Irfan itu teman saya Om." Ardi memotong ucapan Karin yang tergagap, membuat dia dan papinya juga ikut menoleh.
"Teman?" Tanya Hendrik semakin marah, "jadi kalian bersekongkol!" Bentaknya lagi dengan mengangkat payung yang masih terikat rapi di tangan kanannya.
Karin mengernyit, mengangkat ke dua tangannya untuk menutupi wajah, menghalau pukulan sang papi agar tidak mengenai bagian kepalanya.
Tapi pukulan itu tidak kunjung ia rasakan, saat gadis itu membuka mata, sang abang berdiri di hadapannya dan menangkap payung yang sudah teracung dari tangan papinya.
"Berani kamu sama saya." Hendrik menarik payung di tangannya dengan paksa.
Ardi mengusap wajahnya yang terkena tetesan air hujan. "Tolong jangan pukul Karin, Om," pintanya.
"Terus siapa yang harus saya pukul, kamu?"
"Kalo memang dengan cara memukul, om bisa merasa puas, pukul saya saja."
"Abang," protes Karin, menarik lengan sang abang yng memunggunginya. Kaus putih lengan pendek yang dikenakan pemuda itu sudah basah terkena hujan.
Hendrik tertawa sinis, "kamu menantang saya?" remehnya. "Baik kalo kamu mau seperti itu, biar kamu yang saya pukul atas permintaan diri kmu sendiri."
"Jangan Pi, aku mohon." Karin berlari ke arah Hendrik, dan pria itu mendorongnya kasar, nyaris tersungkur jika Ardi tidak menangkapnya. Gadis itu menangis.
Ardi menghadap Karin, mengusap airmata gadis itu kemudian memasangkan hoddie ke kepalanya, dan pukulan di punggung tanpa aba-aba dari pria di belakangnya itu membuat ia sedikit terkejut, kakinya maju satu langkah.
"Bang." Karin semakin menangis, menoleh pada sang papi yang tampak mengacungkan payung di tangannya lagi. Dan Ardi tampak menggeleng di hadapannya, membuat gadis itu semakin dilema.
__ADS_1
Sabetan kedua ia rasakan lagi, namun Ardi masih bisa tersenyum di hadapan kekasihnya yang terus menangis.
Setelah kejadian pembullyan beberapa tahun yang lalu. Belum pernah pemuda itu mendapatkan pukulan bertubi-tubi seperti ini, mungkin hanya pelatih taekwondo yang pernah memukul bagian tubuhnya, itupun tidak sebanyak yang ia rasakan seperti sekarang ini.
Ardi ingat, dulu sewaktu dirinya masih kecil, sang ayah selalu melarangnya bermain hujan, ayahnya selalu bilang. Jangan main hujan nanti kamu sakit. Dan jika ayahnya itu masih ada dia hanya ingin bilang.
Ayah, maaf, kali ini aku main hujan, tapi sakit ini bukan karena hujan, maaf telah membiarkan orang lain memukul tubuhku yang bahkan kamu belum pernah melakukan itu.
"Papi, aku mohon, Pi." Karin menghampiri sang papi, menangis tersungkur memegangi kaki pria itu, "udah," ucapnya sesenggukan.
Hendrik mendengus kesal, membnting payung yang sudah patah di tangannya itu sembarangan, entah berapa kali dia memukulkan benda di tangannya itu pada pemuda yang masih saja berdiri memunggunginya, seolah pukulan yang ia berikan tidak bisa membuatnya merasa jera. Pria itu menyentakkan kakinya hingga pegangan Karin terlepas, kemudian melangkah pergi.
"Om Hendrik," panggil Ardi yang membuat pria yang hendak melangkah pergi itu menoleh.
Hendrik sedikit terhenyak melihat tatapan pemuda di hadapannya itu yang tampak mengancam. Namun dirinya berusaha untuk tidak terpengaruh.
"Saya boleh saja diam om pukuli seperti ini, tapi jika nanti saya mendapati memar yang sama ada pada tubuh Karin, Om orang pertama yang akan saya cari."
Hendrik tertawa sinis, "kamu mengancam saya, kamu mencoba menakuti saya?" Tanyanya tidak percaya.
Saat pemuda di hadapannya itu maju satu langkah, entah kenapa kakinya juga reflek mundur, Hendrik berusaha untuk tetap tenang, dia tidak mungkin takut pada bocah ingusan di hadapannya itu. Meskipun tatapannya seperti akan membunuh, dia tidak akan pernah terpengaruh.
Hendrik kembali terhenyak, dia merasa sudah salah berbicara, brengsek, umpatnya dalam hati.
Ardi terus menghujamkan tatapannya pada pria di hadapannya yang tampak diam saja. Dari geggamannya yang semakin erat pada payung yang ia gunakan sebagai pelindung di tangan kiri. Dia tau lelaki itu masih marah. Dan setelah mendengus kesal Hendrik melangkah pergi meninggalkannya.
Ardi memejamkan mata, rasa perih dan pegal luar biasa di bagian punggung semakin membuatnya sulit bernapas.
"Bang Ar." Karin yang beranjak berdiri menghampiri Ardi dan mencengkram kaus pemuda itu dibagikan pinggang, dia masih menangis.
Ardi kembali memasangkan hoddie ke kepala Karin yang sempat terlepas, dan kemudian ditepis oleh gadis itu. "Ini nggak penting, Bang," bentaknya marah. "Karin nggak suka abang sok jagoan kaya gini, Karin nggak suka," omelnya dengan sedikit mengguncang tubuh abangnya.
Ardi tertawa lemah, "emang gue jagoan, gimana dong," ucapnya mencoba bercanda, dan untuk kali ini Karin tidak merasa bahwa hal itu terdengar lucu, dan dia tentu tidak bisa tertawa.
Karin mengusap air matanya sendiri dengan punggung tangan, hujan yang mulai mereda tidak bisa menyembunyikan betapa banyak dirinya menumpahkan air mata.
Dia bingung apa yang harus ia katakan, bertanya apakah sang abang baik-baik saja pun percuma, pemuda itu tentu dalam keadaan tidak baik-baik saja sekarang. Dan gadis itu hanya bisa menangisinya.
"Gue nggak apa-apa, Dek." Ardi berucap lemah, menyentuh pipi Karin untuk menghapus airmatanya.
"Abang boong, abang boong sama Karin, pasti sakit kan?"
__ADS_1
Ardi tertawa pelan, "iya, Dek, sakit banget ini punggungnya, patah deh sayap abang," ucapnya kembli bercanda, dan gdis itu tidak menanggapinya. "Buat saat ini, kita nggak bisa terbang."
"Bang Ar!" Karin mengerang frustrasi, pemuda di hadapannya ini selalu saja membuatnya kesal dalam situasi apapun, dan panggilan dari sang papi membuat gadis itu merasa takut.
"Sana lo masuk, basuh kepala lo biar nggak sakit," ucap Ardi menasihati.
Karin menggeleng, "Karin mau ikut abang aja, Karin takut."
"Lo nggak usah takut. Papi lo nggak bakalan nyakitin lo, dan kalopun itu terjadi, lo bilang aja sama gue, gue bakal langsung jemput lo malem ini juga."
"Ayo Non masuk, tuan udah marah besar," ucap Pak satpam dengan memegang lengan Karin, pria berseragam putih itu memayungi anak majikannya.
Saat Karin menatap Ardi yang tampak pucat, pemuda itu mengangguk, tersenyum samar menyembunyikan rasa sakitnya.
Gadis itu berbalik, melangkah pergi, namun kemudian menoleh lagi, dan berlari menghampiri abangnya.
Ardi diam saja saat gadis yang berlari menghampirinya itu menarik wajahnya dan memberi ciuman singkat di bibir.
"I love you, Bang." Karin berucap lirih.
Ardi mencoba tersenyum, "love you too, " balasnya sedikit bergetar, "love you too anak setan gue, kanjeng ribet."
Karin membungkam mulutnya dengan punggung tangan, kembali terisak, kemudian melangkah pergi.
Saat pintu gerbang tinggi di hadapannya itu tertutup rapat, Ardi jatuh terduduk, kakinya bergetar hebat, sakit di punggungnya menjalar ke seluruh tubuh, bahkan untuk sekedar berdiripun dia merasa sudah tidak mampu.
Pemuda itu terbatuk-batuk, memegang dadanya yang terasa sesak. Dan yang terlintas dalam benaknya hanya sang ibu.
Pohon yang kokoh tidak akan tumbang dalam sekali tebang, bertahan sedikit tidak apa-apa, kamu bisa. Anak ibu nggak boleh lemah.
"Buuu..," rintihnya. "Mati dah anak ibu."
***
Di sini banyak bgt yg blum tau caranya vote aku ajarin ya.
1. Pertama kalian harus update dulu mngatoon ke versi terbaru.
2. Buka pusat misi buat ngumpulin poin.
3.kalo udah dapet poin, buka noisy girl trus kasih vote deh.
Sejauh ini paham ya, aku minta bantuannya buat vote, like sama komen, soalnya noisy girl ini aku ikutin kontes, doain ya moga dapet 😘😘
Dan yang belum ngucapin happy newyear buat OMB sama NG kayaknya tgl 31 terakhir ya.
Ardi: selamat tahun baru 😘😘
__ADS_1
Karin: Selamat tahun baru ya netizen ku 😘😘