
"Persaan dari tadi hp lo tang tung mulu, Pang. Pusing pala gue." Agung yang duduk di sebelah temannya itu saat berada di mobil menuju pulang dari Bogor merasa terganggu.
"Gue lagi chat gebetan," ucap Ipang yang kemudian membuat Karin yang duduk di sebelah kursi kemudi jadi menoleh ke belakang.
"Siapa, Bang? Mbak Heny?" Tanya Karin yang membut Ardi ikut melirikkan matanya pada teman-temannya di belakang lewat spion dalam.
"Bukan," jawab Ipang, "gue ditolak sama Heny," tambahnya.
"Buset, gercep lo, Pang. Kapan nembaknya." Ardi berkomentar, dengan masih fokus pada kemudi.
"Udah lama sih, eh Sivia sendiri gimana? Katanya dia hubungin lo lagi, Gung?" Tanya Ipang pada pemuda disebelahnya yang jadi melengos kesal.
"Udah lah, nggak usah dibahas, kata dokter hati gue masih rapuh, tersisa sedikit rindu, dan dilarang jatuh cinta dulu." Agung mulai berpuitis, dan mendapat cibiran dari kedua teman laki-lakinya.
Alih-alih membahas celotehan Agung. Karin malah lebih tertarik dengan, "kenapa Bang Ipang ditolak Mbak Heny? Abang kan cakep," ucapnya polos, dan mendapatkan tabokan lembut dari punggung tangan Ardi di bibirnya, pemuda itu tampak tidak senang. Namun Karin tidak ambil peduli.
"Soalnya dia tau gue kadang chat sama cewek lain."
"Abang sih, chatnya sama banyak cewek, wajar sih ditolak Mbak Heny."
Ipang tertawa pelan, menaruh ponselnya di saku kemeja saat pesannya tidak kunjung dibaca. "Kalo cowok chatan sama banyak cewek tuh wajar, kenapa? soalnya cowok kan butuh banyak makmum. Kalo cewek chatan sama banyak cowok itu baru nggak wajar, karena dimana-mana, imam itu cukup satu. Sampe sini paham, Dek?" Ipang memberi penjelasan panjang lebar yang membuat kedua teman laki-lakinya tertawa.
Karin mencibir, masa gitu sih, pikirnya.
"Kalo gue sih, paham." Ardi ikut berkomentar. Dan cubitan di pinggang dari gadis di sebelahnya tidak bisa ia elakkan. "Iya enggak," ampunnya lalu menggenggam tangan Karin dengan tangan kiri. Dan membawa ke bibirnya untuk dia cium, "bercanda sayaang."
"Gue rada mual gitu apa mabok kendaraan kali ya." Agung menyindir.
"Jangan-jangan kamu hamil." Ipang menanggapi.
"Masa iya. Kan dibuang dilur ya."
"Kamu si lupa minum pil."
Percakapan yang semakin ngaco membut Ardi ingin sekali menabrakkan mobil yang ia bawa ke semak-semak saking gelinya. Namun komentar Karin yang sejak tadi mengerutkan dahi malah ingin membuatnya bunuh diri saja.
"Emangnya, Bang Agung bisa hamil ya, Bang Agung cewek apa cowok si?"
Tawa di dalam mobil pun pecah, dan Karin semakin bingung, gadis itu kembali menghadap jalan dengan memberenggut.
"Ketampanan gue diragukan njiir." Agung mengusap sudut matanya yang berair.
"Diamah, Dek, siang doang namanya Agung, kalo malem mah ganti jadi Anggun." Ipang menjelaskan, dan gelinya Karin malah percaya.
"Ooh, gitu ya."
"Sialaaan!" Umpat Agung menonjok temannya main-main.
Ardi yang masih tertawa menoleh sekilas pada Karin, kemudian menepuk kepalanya pelan, setelah itu kembali fokus pada jalanan.
"Abang pernah nggak. Pura-pura bego di depan orang, eh malah dikira bego beneran." Karin berucap pelan.
Ardi menoleh, "jadinya lo bego beneran apa pura-pura?" Tanyanya.
"Karin tau kok, Bang Agung cowok tulen," ucap Karin, kemudian menoleh ke belakang, menatap pemuda bernama Agung yang masih memamerkan deretan gigi putihnya. "Tapi diliat-liat cantik juga sih," Tambahnya yang kembali membut Ipang tertawa geli.
Ipang menepuk pundak Agung, "coba ntar lo gue beliin bedak, kalo cantik ntar gue pacarin," ucapnya.
__ADS_1
"Setan!" Agung jadi mengumpat.
Ipang memajukan tubuhnya mendekati Ardi yang tengah fokus dengan kemudi. "Ar, pacaran sama cewek sepolos ini enaknya dimana?" Tanyanya.
"Hn?" Ardi bergumam, membelokkan kemudi memasuki komplek perumahan. "Enaknya ngajarin mulu," jawabnya yang mendapat tabokan di pundak dari gadis remaja di sebelahnya. Pemuda itu tertawa, begitu juga dengan teman-temannya.
"Jangan mau Rin diajar-ajarin sama Abang lo, nggak bener dia." Agung menasihati.
"Sialaan!" Umpat Ardi, kemudian menghentikn mobilnya di depan pagar rumah orang tua Ipang.
"Gue turun disini juga, Ar." Agung berucap, ikut membuka pintu.
"Kenapa emang, biar gue anterin ke rumah lo aja."
"Motor gue di titipin di sini soalnya," jawab Agung saat sudah berdiri di luar.
Ipang menggkat tangan, berpamitan saat Ardi mulai melajukan mobilnya pelan.
Agung melakukan hal yang sama, "langsung pulang lo, Ar," teriaknya.
Ardi yang jendela pintu mobilnya masih terbuka hanya mengangkat tangan dengan tertawa.
Sisa perjalanan mereka menuju rumah dilalui dengan banyak diam, Ardi tampak fokus pada jalanan.
Beberapa menit kemudin, mereka yang telah sampai di depan gerbang rumahnya membut Ardi menghentikan kendaraan, kemudian melipat tangannya di atas kemudi, menjatuhkan kepalanya di sana.
"Kenapa Bang?" Tanya Karin.
Masih dengan kepala yang menempel di atas kemudi, pemuda itu menoleh, "capek," jawabnya.
Ardi tertawa pelan, mengangkat kepalanya, kemudian terdiam. "Di rumah kita ada satpamnya sekarang, jadi males pulang."
Karin yang tumben langsung mengerti ikut tertawa, "maksudnya Mbak Nena?"
Ardi mengangguk. "Nggak bebas pokoknya."
"Biarin aja, biar abang kurang-kurangin mesumnya."
Ardi mencebikkan bibir, "sekarang aja ya," izinnya, menyentuh dagu Karin dan sedikit ditariknya mendekat.
Karin mengelak, "nanti ada yang lewat," ucapnya, sembari menolehkan kepala pada jalanan yang tampak sepi, karena memang sudah semakin malam.
"Nggak, Dek," ucap Ardi, meraih tengkuk gadis itu dan menariknya. Mengecup bibirnya sekilas kemudian ia ***** dengan lembut.
Dan dering lagu nada telepon dari ponsel abangnya membuat gadis itu memundurkan kepala. "Hp abang bunyi," ucapnya memberi tau.
Ardi tampak tidak peduli, "Biarin aja," balasnya, kembali menyatukan bibir mereka.
Namun suara berisik dari ponsel Ardi membut Karin merasa terganggu, gadis itu mendorong sang abang dan kembali menyuruhnya untuk mengangkat panggilan.
Dengan malas Ardi mengambil hpnya dari tas kecil yang ia letakan di belakang jok yang ia duduki. Melihat nama si penelepon dia mengerutkan dahi.
"Siapa?" Tanya Karin.
"Mbak Nena," jawabnya, kemudian mengedarkan pandanga pada penjuru mobil, "ni mobil ada cctvnya juga nih jangan-jangan," tebaknya curiga.
Bukannya takut, Karin malah tertawa. "Yaudah buruan angkat, takut penting."
__ADS_1
Ardi menerima panggilan, dan menempelkan benda persegi itu di telinganya. "Apaan," jawabnya.
Karin tidak mengrti saat abanggnya menjawab, "gue udah sampe rumah," ucapnya. "Iya," tambahnya lgi kemudian menaruh benda itu di tempat semula.
"Kenapa, Bang?" Tanya Karin penasaran.
"Mbak Nena nitip beli makanan," jawabnya. Kemudian menoleh.
Merasa belum cukup puas, Ardi kembali mendekatkan kepalanya pada gadis itu, namun suara klakson mobil dari arah depan membuat mereka reflek menghindar, dan mengernyit silau saat lampu mobil di depan sana mengarah pada mereka berdua.
Justin yang duduk di balik kemudi menatap keduanya tanpa ekspresi.
Mampus! Ardi mengumpat dalam hati, dan saat klakson kembali dibunyikan untuk ke dua kali. Pemuda itu membuka pintu.
"Bang." Karin menyentuh lengan Ardi, ikut merasa khawatir.
Sebelum turun pemuda itu menyempatkan diri untuk tersenyum. "Kalem aja," ucapnya yang membuat Karin berdecak sebal.
Ardi turun dari mobil, kemudin membuka pintu gerbang rumahnya.
Karin memperhatikan sang abang, pemuda itu bisa-bisanya bersikap tenang. Padahal jantungnya sendiri sudah nyaris meloncat, saking takutnya.
Gadis itu melihat Justin memberikan isyarat mendekat pada Ardi, dan hal itu membut Karin nyaris memejamkan mata, mereka terlibat sedikit percakapan, dan saat Ardi menoleh ke arahnya, pemuda itu tersenyum. Karin jadi semakin penasan.
Ardi membuka pintu mobil, kembali duduk di kursi kemudi.
"Bang Justin marah ya, Bang?" Tanya Karin.
Ardi tertawa pelan, kemudian menggeleng. "Lo tau nggak kalau ternyata kaca mobil kita nggak bisa diliat dari luar?" Tanyanya.
"Nggak tau, Karin lupa."
"Sama, gue juga lupa," ucapnya kemudian tertawa lega, kepalanya ia benturkan ke atas kemudi. "Gini amat si yaelaaah, sport jantung nih gue, lemes sumpah."
Karin ikut tertawa, "tadi abang dipanggil ngapain?"
"Gue disuruh beli nasi goreng dulu di depan. Lo turun deh, gue sendiri aja."
Karin mengangguk, kemudian bergegas turun.
Terkadang, bukan hanya kebahagiaan yang akan datang pada waktunya, sebuah rasa kecewa, juga memilih waktu untuk mendatangi siapa saja.
**iklan**
Netizen: jadi kapan ketauannya thor.
Author: sabar ngapa, semua akan nyesek pada waktunya.
Netizen: gue pengen baca ampe tamat thor.
Author: ntar gue tamatin lo nya ngamuk, emang netizen maha benar.
Karin : Setiap penulis berperan menjadi Tuhan atas karyanya. Buat yg minta buru-buru ditamatin, bisa aja aku kasih scen kecelakaan terus pemeran utama mati semua. Tamat kan?
Nikmatin aja dulu alurnya, naik turun, susah senang, nangis ketawa. Biar bapernya berasa 🤣🤣
Ardi: Poinnya di tahan ya, kumpulin dari sekarang buat vote minggu depan. Setiap minggu diperbaharui soalnya.
__ADS_1
Karena biasanya, untuk memulai sebuah usaha, selalu butuh dukungan yang lebih kuat dari sebelumnya. Semangaaat. Sun jauh jangan? 😘😘😘