NOISY GIRL

NOISY GIRL
DUA GARIS


__ADS_3

Setelah pagi tadi sampai di apartemen dan memilih tidur, siang ini Karin mengajak Ardi untuk bermain ke rumah Ibu Marlina untuk mengantarkan oleh-oleh, mereka yang baru sampai di teras rumah sudah disambut oleh Jino yang berlari menerjang omnya.


 


 


"Ya Ampun beratnya," keluh Ardi saat bocah sekolah dasar bernama Jino Sadewa itu meloncat ke punggung dan berpegangan pada lehernya.


 


 


"Om, kalo orang ganteng jadi jelek orang jelek jadi apa, Om?" Jino melontarkan tebak tebakan.


 


 


Ardi yang merasa tercekik karena pegangan Jino di lehernya yang begitu kuat sedikit menarik lengan anak itu, "jadi ganteng kaya aku?" ucapnya mencoba menebak.


 


 


Jino yang menggeleng dapat tertangkap oleh pandangan Ardi yang sedikit melirik kan matanya ke belakang. "Salah," balas anak itu.


 


 


"Kalo orang ganteng jadi jelek, orang jelek jadi jelek banget dong." Karin ikut menjawab.


 


 


"Salah Tante Karin," balas Jino yang semakin mengeratkan pegangannya pada leher sang om, karena pria itu terus melangkah ke dalam rumah.


 


 


"Terus apaan jawabannya," desak Ardi, yang kemudian membanting anak itu ke atas sofa.


 


 


"Ayo tebaak!" Jino melompat-lompat di atas sofa, tangannya menengadah. "Bagi duit dulu om nanti aku kasi tau," ucapnya yang mendapat serangan di tubuhnya dari sang om, anak itu meronta.


 


 


"Wah, malak kamu ya," ucap Ardi gemas dengan terus menggelitik perut anak itu.


 


 


"Ampun, Om!" Jino terus meronta.


 


 


Ardi mengeluarkan dompet dan mengambil selembar uang limapuluhan dan anak itu langsung mengambilnya.


 


 


"Yeee makasih Om," ujarnya kemudian melompat ke belakang sofa dan berlari, sebelum jauh Ardi berseru menanyakan jawaban anak itu. "Kalo orang ganteng jadi jelek, orang jelek jadi banyak kaya Om."


 


 


"Sialaaan!" Ardi mengumpat kesal.


 


 


Setelah menjawab, Jino berlari pergi ke luar rumah, dan berpapasan dengan maminya.


 


 


"Eh kamu mau ke mana?" tanya Nena dengan membawa segelas air putih di tangannya untuk Nino.


 


 


"Jino ke maret maret dulu, Mi." Anak itu menjawab sambil lalu.


 


 


"Sama bibi, jangan sendiri," teriak Nena.


 


 


"Iyaa!" Balas putranya.


 


 


"Kamu tuh kebiasaan banget anak aku dikasih duit terus," omel Nena sembari meletakkan segelas air putih di atas meja, kemudian duduk di sofa sebelah Nino yang tengah sibuk membaca buku.


 


 


Ardi ikut duduk, "pengenalan sejak dini, biar Pinter entar nyari duitnya," ujar pria itu.


 


 


Nena berdecak, akhir-akhir ini anaknya yang satu itu lebih suka uang daripada makanan, "pinter malak."


 


 


Karin mendekat, duduk di sebelah sang suami setelah memberikan bingkisan pada sang kakak di hadapannya. "Oleh-oleh," jawabnya saat Nena bertanya itu apa.


 


 


"Ah iya yang kemaren dari Bali, gimana liburannya seru nggak?"


 


 


"Capek." Ardi menjawab, kemudian beranjak berdiri, pria itu pamit pergi ke bekas kamarnya untuk beristirahat lebih dulu.


 


 

__ADS_1


Ditinggal berdua bersama Nena, Karin menceritakan keseruannya selama berlibur di Pulau Bali, terlebih Villa sang abang yang mereka tempati ternyata bagus sekali.


 


 


Kehebohan mereka membuat Nino yang tengah belajar jadi terganggu, "Mami, Tante, pliss deh ngobrolnya bisa biasa aja nggak si, berisik," omelnya dengan melipat tangan di depan dada.


 


 


Nena dan Karin reflek menutup mulut, namun keduanya kembali meneruskan cerita yang belum usai dengan sedikit berbisik hingga Nino berdecak sebal.


 


 


"Aku ke kamar aja," ucap Nino beranjak berdiri dengan membawa buku yang ia pelajari, tidak lupa juga segelas air putih yang maminya itu ambilkan tadi.


 


 


"Kamu kok pucet banget deh, Rin, kaya orang lagi ngidam." Nena memberi dugaan saat melihat adik iparnya itu begitu sayu.


 


 


Karin tersenyum, "mungkin kecapean aj kali Mbak, aku kan baru pulang tadi pagi," ujarnya.


 


 


Nena mengangguk, namun perempuan itu masih merasa penasaran, "tapi pucetnya beda, Rin." Nena beralih ke sofa yang di duduki sang adik, menyentuh kening perempuan itu dengan punggung tangannya. "Norml tapi," ujarnya.


 


 


"Akhir-akhir ini emang aku sering kecapean, Mbak. Padahal lagi nggak kerja."


 


 


"Terakhir kamu dapet kapan?"


 


 


Karin berpikir, "dari tanggal seharusnya aku dapet sih ini udah lewat tiga mingguan, tapi beberapa hari yang lalu aku tes hasilnya Negatif kok," tuturnya mulai bercerita.


 


 


"Negatif atau samar?" Tanya Nena.


 


 


Karin yang bingung kemudian menggeleng, dia hanya sempat melihat satu garis saja setelah itu suaminya datang dan membuang benda itu ke dalam tong sampah, Karin pun menceritakan semuanya pada Nena.


 


 


"Kamu tes lagi deh coba, diemin dulu agak lma," saran Nena.


 


 


 


 


Dan setelah Nena mengiyakan, juga meyakinkan perempuan itu bahwa hasilnya pasti sesuai dengan yang mereka  harapkan, keduanya beranjak ke kamar mandi di rumah itu dan melewati dapur di mana sang ibu tengah dibantu oleh asistennya untuk memasak makan siang.


 


 


Kehadiran Karin membuat Marlina merasa senang, lalu menyuruh menantunya yang terlihat pucat itu untuk segera beristirahat.


 


 


"Tuh kan kata ibu juga kamu tuh keliatan beda, udah sana periksa." Nena mendorong Karin yang membawa tespek di tangan kanannya untuk mendekat ke arah pintu kamar mandi.


 


 


Marlina bertanya pada Nena dengan apa yang tengah mereka rencanakan, dan putrinya itu menjelaskan tentang Karin yang telat tiga minggu dan begitu mencurigakan.


 


 


Marlina mengangguk, "oh," ucapnya tanpa banyak komentar, meskipun di dalam hati dia berdoa semoga hasilnya sama seperti yang dia harapkan. "Ah iya Na tadi belanjaan kamu yang dari pasar di mana kamu taronya?" tanya wanita itu.


 


 


Nena mendekat dan membuka kulkas, mengambil belanjaan yang tadi pagi ia taruh di dalam sana, perempuan itu menyebutkan nominal yang tadi pagi ia bayaran ke tukang sayur.


 


 


"Kok mahal banget sih?" Marlina menggeleng tidak percaya.


 


 


"Ya emang segitu, Bu, lagi pada naik katanya."


 


 


"Ibu biasa beli nggak segitu, ini pasti kamu dimahalin sama penjualnya," ucap Marlina begitu yakin.


 


 


Nena berdecak malas. "Ya Abis gimana, emang segitu kok," balasnya.


 


 


"Kalo begini ceritanya suami kamu dilarang keras buat jatuh miskin, soalnya kamunya nggak Pinter nawar cabe." Marlina terus mengomel, menyayangkan sikap putrinya yang tidak jago menawar harga, dan Nena hanya tertawa.


 


 


Perdebatan keduanya teralihkan oleh suara pintu kamar mandi yg terbuka, dan Karin keluar dari sana. "Kalo kaya gini gimana Mbak?" tanya perempuan itu.

__ADS_1


 


 


Nena dengan cepat melangkah mendekat, begitu juga dengan Marlina yang terlihat begitu penasaran. "Tuh kan apa aku bilang, selamat ya Karin."


 


 


Marlina mengambil benda yang dipegang oleh putrinya, "ini kalo begini emang artinya apa?" tanya wanita itu.


 


 


"Garis dua Bu, itu artinya Karin positif hamil." Nena menjelaskan.


 


 


Marlina yang begitu senang menoleh pada Karin yang sedari tadi hanya tersenyum, wanita itu menyerahkan pisau di tangan kirinya pada Nena, dan berlari menuju kamar putranya. "Ar! Akhirnya ibu dapet cucu baru," pekiknya heboh sendiri.


 


 


Mendengar kegaduhan di luar, Ardi yang memang belum tertidur memutuskan untuk keluar dari kamarnya, dan benar saja sang ibu dengan setengah berlari begitu heboh menghampirinya. "Akhirnya ibu dapat cucu baru," begitu katanya.


 


 


Ardi mengerutkan dahi, "cucu baru apa? Mbak Nena hamil lagi?" tanya pria itu.


 


 


"Kok Nena, ya istri kamu dong, Ar."


 


 


Ardi yang masih tidak percaya menoleh pada Karin yang baru datang bersama kakak perempuannya, dia tampak menahan senyum. "Bener kamu hamil?" tanya pria itu, langkahnya terus mendekat.


 


 


Karin mengangguk, "iya, Bang. Kayaknya kemarin aku salah deh, soalnya–," belum sempat istrinya itu menyelesaikan kalimatnya, sang suami sudah mengangkat tubuh perempuan itu dan mengajaknya berputar-putar saking senangnya.


 


 


"eh, eh!" pekik Nena juga sang ibu, khawatir dengan apa yang dilakukan pria itu terhadap istrinya.


 


 


"Jangn gitu bahaya." Marlina memukul lengan putranya gemas.


 


 


"Tau." Nena ikut menanggapi, "Nggak boleh terlalu seneng, masih baru, pamali tau," Imbuhnya menasihati.


 


 


Ardi yang cengengesan bergantian memeluk sang ibu. "Ardi mau jadi ayah, Bu," ucap pria itu yng membuat wanita di hadapannya jadi terharu.


 


 


 


 


***iklan***


 


 


Author: tolong bantu vote dong noisy girlnya, masa bentar lagi tamat tapi ranking nya Merosot kaya kolor kendor 😭


 


 


Netizen: Jadinya Noisy tamat beneran thor 😭 Alhamdulillah nggak Nyaingin kang bubur naik gaji.


 


 


Author : 😑😑 insya Allah senin besok aku kasih episode terakhir, dan mungkin lebih dari satu. Dan tolong vote sebanyak banyaknya buat kenang kenangan 😭


 


 


 


 


Netizen: Senen besok masih vote Noisy girl thor? 🤔


 


 


Author: Harus dong, kalo nggak vote ntar ranking minggu ini mubazir, kan diitungnya dua minggu sekali. 🤧 Jadi hari senin besok tolong vote ya nanti aku kasih bonus foto foto.


 


 


Netizen: foto kamu thor?


 


 


Author: foto kang parkir pasar senen 😑 ya foto Bang Ar sama baby boynya atuh Jumadi.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2