NOISY GIRL

NOISY GIRL
PERMAINAN


__ADS_3

Ardi membalikkan jam pasir di hadapannya, pemuda itu kini berada di ruangan kerja sang abang, pria yang masih tampak sibuk dengan laptopnya itu seperti sengaja membuat dirinya menunggu.


 


 


"Mau kerja apa kamu?" Tanya Justin, dan hal itu membuat tatapan Ardi yang semula fokus pada benda-benda di atas meja sang abang kemudian mendongak.


 


 


"Ada si, aku ditawari temen."


 


 


Justin menautkan jemarinya, bertumpu pada meja untuk menopang dagu, tatapannya seolah berkata-kata, dan entah kenapa Ardi merasa dihakimi. "Dulu waktu saya seumuran kamu, nggak pernah berpikiran buat kerja, fokus pada kuliah, memangnya kamu bisa membagi waktu."


 


 


"Bisa kok, Bang. Udah biasa," jawab Ardi, lirikan matanya tidak berani menatap balik sang abang yang penuh selidik.


 


 


"Kamu fokus kuliah aja lah, Ar, nggak usah mikirin kerja, lagian buat apa, uang yang selama ini saya kasih memangnya kurang.


 


 


Ardi menggeleng, kemudian menoleh pada pergerakan sang abang yang berdiri dari kursinya."Aku nggak enak sama abang, ngrepotin terus."


 


 


Justin yang berdiri, menunpukan kedua tangnnya pada meja, menatap pemuda di hadapannya. "Kamu masih menganggap saya orang lain?" Tanyanya yang sontak membuat Ardi menggeleng cepat.


 


 


"Bukan gitu, Bang. Eu, gimana ya, akutuuh pengen punya pengalaman kerja aja."


 


 


Justin mengangguk, melangkah ke belakang kursi dan mengambil beberapa buku tebal di sana. "Ini buku saya, kamu bisa pelajari," ucapnya sembari menaruh benda itu di atas meja, pria itu mendorongnya untuk mendekat pada sang adik, "lebih bagus kalo kamu bisa berpikiran buat bikin perusahaan sendiri."


 


 


Ardi tersenyum miring, meremehkan diri sendiri. "Mana bisa aku bikin perusahaan gede kaya abang," ucapnya pesimis.


 


 


Justin menyandarkan tubuhnya pada meja, melipat lengannya di dada, dan di hadapannya sang adik tampak sibuk memperhatikan buku yang dia berikan. "Serajin-rajinnya kamu bekerja, kamu memajukan perusahaan orang lain, lebih baik membuka usaha sendiri, kemampuan kamu sepenuhnya untuk diri kamu sendiri," ucapnya menasihati, menegakkan tubuhnya kemudian beranjak pergi.


 


 


Ardi menoleh ke arah pintu yang abangnya itu lewati, dia bingung kenapa selalu ditinggal sendiri, mungkin pria itu membiarkannya untuk sejenak berpikir, namun yang ada di kepala pemuda itu hanya.


 


 


"Buset dah, ni buku tebel amat," keluhnya sembari memperhatikan tiga buku yang bertumpuk di hadapannya. "Ngalahin kitab sucinya guru Tong samcong ini, asli."


 


 


***


 


 


"Jadi menurut ibu gimana?" Ardi meminta pendapat pada sang ibu yang tampak sibuk menyiangi sayuran di meja makan. Pemuda itu menanyakan perihal dirinya yang ingin melanjutkan S2 di sana.


 


 


"Sambil kerja? Emangnya kamu bisa?" Tanya Marlina tanpa bermaksud meremehkan kemampuan putranya, "kamu dengerin abang kamu aja, fokus kuliah dulu."


 


 


Ardi menghela napas, beranjak berdiri dan mengambil setoples cemilan di lemari makanan, kemudian menyandarkan tubuhnya pada meja dengan memeluk benda di tangannya. "Nggak enak Ardi ngrepotin abang mulu, Bu. Aku mau bantuin bayar kuliah," ucapnya sedikit ragu.


 


 


"Kamu bisa lulus kuliah dengan gelar terbaik aja abang mu udah cukup seneng, Ar," ucap sang ibu, beranjak berdiri untuk mengambil bumbu. "Jangan sampe kamu bekerja malah jadi ganggu kuliah kamu, dia bakal kecewa."


 


 


Ardi memasukkan cemilan dari dalam toples ke mulutnya, mengunyah sambil berpikir. "Gitu ya," ucapnya semakin bimbang.


 


 


"Dan satu lagi, Ibu saranin, kamu mending jujur sama Karin soal niatan lanjut study itu, kalo mau berangkat tuh pamit dulu jangan main pergi aja, kamu nggak tau gimana kacaunya Karin pas bangun pagi ternyata kamu udah nggak ada, nggak tega ibu."


 


 


Ardi menoleh," dia yang larang aku buat nggak bangunin, ya aku nggak bangunin," ucapnya membela diri.


 


 


"Ya itulah bodohnya kamu, perempuan itu apa yang dia inginkan terkadang sering berbeda dengan apa yang dia utarakan, belajar peka dong Ar." Marlina yang mulai mengiris bawang membuat pemuda itu menjauh, menyadarkan tubuhnya pada meja dapur.


 


 


"Ya siapa suruh ribet banget, tinggal ngomong yang dia mau aja apa susahnya sih."


 


 


Marlina menghela napas, menggelengkan kepala sekilas, "terserah kamu lah," ucapnya, bersamaan dengan itu seorang bocah kecil berlari menghampiri mereka, kemudian berdiri di depan kulkas.


 


 


Ardi menjulurkan kakinya untuk menahan pintu kulkas yang berusaha dibuka keponaknnya itu, membuatnya kesal dan jadi merengek.


 


 


"Om Aliiiii," ucapnya berteriak marah.


 


 


Buset nama gue jadi Ali, Ardi tertawa pelan, menarik kakinya yang menahan benda itu, dan Salah satu dari si kembar yang dia tidak tau yang mana, berhasil membukanya.


 


 


"Escim, Om," tunjuknya, berusaha meminta bantuan.


 


 


Ardi menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan, "masih pagi bocah, sakit perut ntar kamu," tolaknya.


 


 


"Aaah," keluh anak itu. Kemudian beralih menghampiri Marlina dan menarik bajunya. "Omaaa amilin dong."


 


 


Ardi jadi tertawa, "ngomong dulu yang bener," ledeknya, menaruh toples ke atas meja dan berjongkok di hadapan keponakannya. "Ambiliin,"


 


 


"Amiliin."


 


 


"Kamu siapa si, Jino apa Nino?"


 

__ADS_1


 


"Dino, Om."


 


 


Ardi tertawa, "anak Mbak Nena nambah satu, Bu?"


 


 


Marlina ikut tertawa, "Jino, dia belum bisa bilang D, masa kamu nggak bisa bedain Nino sama Jino," ucapnya.


 


 


Ardi beranjak berdiri, membuka kulkas dan mengambilkan makanan yang anak itu mau, "ya aku kan jarang ketemu," ucapnya.


 


 


Anak itu naik ke atas kursi, duduk tenang memakan makanannya.


 


 


"Bedanya apa sih, Bu. Mukanya sama dah."


 


 


"Kalo Jino ini Pinter ngerayu."


 


 


"Wah, calon buaya," ucap Ardi dan mendapat pelototan dari sang ibu.


 


 


"Hus, kamu tuh, maksudnya Pinter bujuk loh, kamu aja sampe mau ngambilin es cream."


 


 


Ardi tertawa, iya juga, pikirnya. "Pinter kamu, Dek," ucapnya, kemudian menoleh saat satu anak yang memiliki wajah yang sama menghampiri mereka dan membuka kulkas.


 


 


"Ambil," ucapnya dengan menatap Ardi yang masih berdiri di sebelah benda yang ia buka.


 


 


"Hah?" Ardi yang tidak mengerti kemudian melirik pada sesutu yang anak itu tunjuk. "ini?" Tanyanya mengambil es cream yang sama dengan yang ia berikan pada saudara kembarnya.


 


 


Anak itu menggeleng, "cucu," ucapnya. Kemudian kembali pergi setelah Ardi memberikan apa yang dia minta.


 


 


"Nah kalo itu, Nino," ucap Marlina.


 


 


Ardi berdecak, "itumah duplikat abang," ucapnya, kemudian tertawa.


 


 


***


 


 


Menjelang sore, di kamarnya Ardi tampak gusar memikirkan bagaimana dia berbicara pada Karin tentang kepergiannya besok, pemuda itu memutuskan untuk keluar kamar. Mencari Karin yang ternyata berada di ruang keluarga bersama Nino.


 


 


 


 


Bocah yang belum genap berusia tiga tahun itu mengerjap lucu, memperhatikan sang tante yang sibuk sendiri. Mereka sebenarnya tengah bermain head quiz di hpnya, quis berupa tebak gambar yang sedang viral di kalangan remaja.


 


 


"Ah, payah nih, Nino." Karin jadi kesal sendiri, ternyata bermain dengan anak balita itu tidak terlalu asik, untung mereka lucu-lucu.


 


 


"Main apaan si?" Tanya Ardi, ikut bergabung duduk di karpet, pemuda itu menoleh pada Nino yang kemudian kembali sibuk dengan mainannya.


 


 


"Ini, Bang, aku lagi main tebak gambar gitu, seru deh, mau coba," ucap Karin setengah memaksa.


 


 


"Cara mainnya gimana?"


 


 


"Jadi gini, aku arahin kamera ke abang, nanti di atas kepala abang bakal muncul gambar hewan gitu, dan abang harus bisa nebak, nanti aku kasih clue nya deh."


 


 


"Yaudah, " ucap Ardi setelah mengangguk.


 


 


Karin mengarahkan kamera pada abangnya, dan di atas kepala pemuda itu muncul satu gambar binatang. "Sejenis unggas, Bang," ucapnya.


 


 


Ardi mengerutkan dahi, "Ayam?"


 


 


Karin menggeleng dengan masih memegang hp, "bukan-bukan."


 


 


"Apaan si, soang ya?"


 


 


"Bisa jadi-bisa jadi." Karin tertawa. Dan tanpa dia sadari saudara kembar Nino yang agak sedikit rese telah datang, anak itu berdiri di belakang Karin, dan melihat gambar sang om, dengan tambahan gambar binatang di atas kepalanya.


 


 


"Bebek oom," Seru Jino.


 


 


"Yaah malah dikasih tau, gagal deh."


 


 


Jino ikut tertawa bersama Ardi yang juga sama gelinya, padahal bocah itu belum tentu tahu tengah menertawakan hal apa.


 


 


"Yaudah sini gantian kamu yang nebak." Ardi merebut hp dari tangan Karin, mengarahkan kamera pada gadis itu, kemudian muncul gambar binatang di atas kepalanya, dan dia malah tertawa sendiri.


 

__ADS_1


 


"Kenapa ketawa si, apa clue nya?" Desak Karin.


 


 


Ardi berdehem, "Neng, ikut abang dangdutan, yuk."


 


 


"Buaya!" Tebak Karin kemudian tertawa, membuat Jino yang tampak menyimak ikut tertawa juga.


 


 


"Coba tebak yang lain," ucap Ardi, namun Karin merebutnya.


 


 


"Gantian dong sekarang giliran abang." Karin mengacungkan kamera ke wajah sang abang, hingga gambar seekor binatang yang lucu muncul di atas kepalanya, dia jadi gemas sendiri.


 


 


"Apaan clue nya?"


 


 


"Pokoknya lucu banget, Bang, cantik, imut gemesin."


 


 


"Kamu, dong," jawab Ardi cepat. Membuat gadis di hadapannya itu jadi tersipu.


 


 


Karin menggaruk rambut kepalanya sekilas, "Iya juga sih, tapi masa aku disamain sama hewan."


 


 


Ardi tertawa, kemudian Jino yang beranjak berdiri dari duduknya menghampiri Karin dan melongok pada hp.


 


 


"Meong, Om," adunya.


 


 


"Ah, curang dikasih tau terus." Karin pura-pura mengomel.


 


 


"Yaudah kalo gitu mainnya yang truth or dare aja." Ardi memberi usul.


 


 


Karin yang kemudian setuju mengarahkan kamera pada sang abang, "truth or dare, Bang?" Tanyanya.


 


 


"Truth," jawab Ardi, kemudian muncul sebuah tulisan di atas kepalanya pada kamera ponsel Karin.


 


 


"Ada kah satu hal yang kamu sembunyikan pada pasangan kamu?" Karin membacanya.


 


 


Sejenak Ardi berpikir, "ada," jawabnya kemudian.


 


 


Karin tertegun, "apa?" Tanyanya.


 


 


"Aku nggak bermaksud sembunyiin, cuman belum bilang aja."


 


 


"Apa tuh?"


 


 


"Abang mau lanjut S2, Dek, boleh nggak."


 


 


Hening, tidak ada kalimat yang mampu keluar dari tenggorokan gadis itu setelahnya.


 


 


Si kecil Jino yang kebingungan melongok pada hp yang masih dipegang tantenya, "gak da gambal," ucapnya polos. "Antee, nggak da gambal," adunya kemudian.


 


 


Karin tidak menanggapi, dan malah menangis, membuat bocah kecil itu reflek memeluknya. "Antee, ngak papa ante, ntal bilang ayah, ntal kita beli," hiburnya yang malah membuat tangis sang tante semakin tersedu. Gadis itu memeluk keponakannya dengan erat.


 


 


Sayangnya, tidak ada rindu yang mampu untuk dibeli, pertemuan sementara untuk sebuah perpisahan selanjutnya nyatanya menorehkan luka yang lebih dalam. Gadis itu tenggelam dalam kubangan rasa kecewa yang sama seperti sebelumnya, lebih dalam dan menyesakkan.


 


 


Dan pemuda di hadapannya tidak mampu berbuat apa-apa selain diam. Meski membuat gadis di hadapannya itu kecewa bukanlah pengalamannya yang pertama, namun dia masih tidak mampu untuk menenangkannya.


 


 


 


 


 


 



Karin: minta bantu votenya ya.


 


 


 


 



Ardi: semangat ya ngumpulin poinnya, vote lah meski hanya sepuluh, karena itu sangat berarti buat kanjeng ribet.


 


 


 



Jino - Nino: ini cuma visual ya, apapun yang terjadi sama kehidupan mereka di dunia nyata, gak ada sangkut pautnya sama isi cerita, bayangin aja sikembar emang selucu ini.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2