
Ardi tengah mengambil air minum di dalam kulkas saat sang abang menghampirinya dan mengajak berbicara.
"Rapi banget, mau ke mana?" Tanya Justin, melirik sang adik yang sepagi ini sudah tampak bersiap diri.
"Mau ke rumah mertua." Ardi menjawab sembari menuang air ke dalam gelas.
Justin bersidekap, "iya deh, yang punya mertua," sindirnya.
Ardi yang semula meminum air di dalam gelas jadi menoleh, kemudian tertawa pelan, meletakkan benda di tangannya ke atas meja. "Eh iya, abang nggak punya mertua ya," ledeknya.
Justin berdecak, "sialan," umpatnya, dia punya papa mertua, yang ternyata adalah orang yang mengurusnya sejak kecil, sama saja kan. "Jadi setelah ini, apa rencana kalian?"
Ardi berpikir, "maunya sih cuti sebulan," candanya, dan mendapat tendangan di kaki dari sang abang yang membuatnya refleks menghindar, lalu tertawa.
"Kerjaan kamu siapa yang urus." Justin mengomel.
"Kan ada abang," ucap Ardi, dan sebelum sebuah tendangan mendarat di kakinya lagi, dia sudah lebih dulu menghindari.
"Besok masuk dulu, ada klien yang mau ketemu, ini proyek besar, kamu jangan main-main." Justin mengingatkan.
Ardi mengangguk, mengambil gelas yang semula ia letakkan dan meminumnya lagi, "besok masuk tenang aja," janjinya.
"Setelah semuanya selesai, baru kamu boleh ambil cuti lagi," ucap Justin, merogoh saku celana dan menyerahkan apa yang ia ambil di dalamnya.
Ardi tertegun, di tangan kirinya yang tidak memegang gelas, sang abang meletakkan sebuah kunci. "Apa ini?" Tanyanya.
"Kado pernikahan, itu kunci apartemen- posisinya strategis, deket ke kantor kamu, juga hotel papi Karin," ucap Justin.
Ardi tersenyum, dia tau itu kawasan elite dan harganya pun selangit, tapi... "Abang ngusir ya?" Tanyanya dengan nada bercanda, siapa tau kan abangnya mau balas dendam gara-gara semalam.
Justin berdecak, "Terserah kamu mau berpikir seperti apa, menurutku itu bagus untuk infestasi, tidak ditinggali pun bisa dijual lagi kan," ucapnya, kemudian berbalik menghadap rak piring untuk mengambil gelas.
Ardi menubruk abangnya, memberikan pelukan dari samping, "makasih, Bang," ucapnya.
Justin melirik sekilas kemudian mengangguk, dan setelah adiknya melepaskan pelukannya dia berucap lagi. "Tadinya aku mu kasih tiket pesawat ke luar Negri, buat kalian bulan madu, tapi nggak jadi, di luar nggak aman."
__ADS_1
Ardi tertawa pelan, akhir-akhir ini memang terdengar kabar tentang virus yang mengakibatkan beberapa orang dilarang untuk bepergian ke luar Negri, mungkin untuk sementara waktu -atau entahlah, belum bisa dipastikan.
"Belum ada rencana ke mana-mana juga sih," ucap Ardi. "Mau tanya dong. Menurut abang aku harus gimana?"
Justin yang masih menggenggam gelas berisi air di tangan kanannya kemudian menoleh, "apa?" Tanyanya.
Ardi menghela napas, menarik kursi di dekat meja makan kemudian ia duduki, "setelah ini aku bingung mau tinggal di mana, Karin maunya tinggal di rumah maminya, tapi aku nggak setuju."
Justin menyandarkan tubuhnya pada meja dapur, setelah menaruh gelas -dia melipat tangannya di dada, "kamu kan kepala keluarga, kamu yang mengambil keputusan," ucapnya.
Ardi terdiam, sedikit berpikir, "Abang sendiri, tinggal di rumah ini atas kemauan abang atau Mbak Nena?" Tanyanya.
"Kamu tau kan dulu kita sempat beberapa bulan tinggal sendiri, dan setelah si kembar lahir, di sini mungkin tempat terbaik, karena Nena ada yg menemani."
"Nyaman nggak, Bang, tinggal sama ibu?" Ardi cukup penasaran, meskipun sang ibu adalah ibu kandungnya, tapi dia yang sejak lahir tidak bersama tentu rasanya akan berbeda.
Justin mengusap dagu, sedikit berpikir, "awalnya canggung, tapi lama-lama terbiasa, dan lagi mau bagaimanapun, ibu adalah orang yang melahirkan aku, berbeda kasusnya dengan kamu, Carla adalah orang lain sebelumnya," ucapnya yang malah membuat Ardi semakin dilema. "Untuk itu aku kasih kunci buat kamu, setidaknya kalian punya pilihan."
Ardi menimang kunci di tangannya, kemudian mengangguk, "makasih, Bang," ucapnya. Dan setelah Justin membalasnya dengan senyuman, pria itu menepuk pundak Ardi, kemudian pergi.
Ardi menghentikan mobil di depan rumah ibu mertuanya, sebelum turun dia mengambil tas di kursi belakang, isinya baju ganti, mungkin malam ini mereka akan menginap.
"Kenapa nggak sekalian bawa yang banyak bajunya," komentar Karin.
Ardi -yang tengah memasukkan ponsel ke dalam tasnya- kemudian menoleh, "Kan belum tentu tinggal di sini juga," ucapnya.
Karin tertegun, "jadi abang belum setuju?" Tanyanya sedikit kecewa. Dan saat melihat suaminya itu menggeleng dia menghela napas, kemudian beranjak turun.
Ardi menangkap pergelangan tangan Karin. Dia tau istrinya itu mungkin marah, tapi ini kan bisa dibicarakan baik-baik. "Masih dipertimbangkan dulu, Sayang," bujuknya, Karin bergeming.
"Aku nggak tau kenapa setelah nikah, kita malah sering nggak sependapat, apa pendekatan kita terlalu singkat?" Karin yang mengurunkan niatnya untuk turun kemudian berucap.
Ardi mengusap wajahnya gusar, melemparkan pandangan teduh pada sang istri yang juga tengah menatapnya. "Kita menikah bukan untuk memperdebatkan mau tinggal di mana setelah ini, itu masalah kecil, Dek," ucapnya yang membuat perempuan di hadapannya itu terdiam, "untuk beberapa hari kita coba dulu tinggal di rumah ini, liat aja nanti," imbuhnya lagi.
Karin tersenyum, kemudian mengangguk, perempuan itu mendapat usapan di kepala, dan dia selalu suka diperlakukan sedemikian rupa.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka, sang mami dan beberapa kerabatnya tampak asik bercengrama, mengobrol seru yang mungkin untuk acara nanti malam.
"Karin, sayang, Ardi -mantu mami-coba liat dulu deh, menurut kalian mami bagusan pake baju yang mana. Ini atau ini?" Tanya Carla, wanit itu mendekat, memamerkan baju pesta di kedua tangannya dengan bergantian.
Karin menunjuk baju brukat berwarna merah di tangan sebelah kanan, bersamaan dengan itu Ardi juga menunjuk baju yang berbeda warna di tangan kiri, keduanya saling pandang, reflek Ardi meralat pilihannya agar sama dengan yang ditunjuk sang istri, namun ternyata Karin juga melakukan hal yang sama, keduanya jadi terdiam.
"Ah, kalian gimana si, nggak kompak." Carla mengomel kecewa.
"Dua-duanya bagus ko, Mami Mertua," ucap Ardi.
Karin mengangguk setuju, "iya, apalagi yang pakek mami, pasti bagus," ucapnya.
Carla tersenyum, "ah, kalian bisa aja," ucapnya, kemudian kembali menemui saudaranya di sofa, setelah Karin dan Ardi memberi salam, mereka pamit undur diri untuk beristirahat, keduanya pergi menaiki tangga.
"Sini, Bang, aku susunin baju kamu." Karin mengambil tas dari tangan sang suami, membawanya ke depan lemari dan menyusunnya.
Ardi duduk di tepi ranjang, kemudian merebahkan diri, tatapannya menyapu penjuru kamar, cat berwarna Pink terang membuat matanya sedikit silaw, dia mengernyit, "kamu bisa tidur, terang begini?" Tanyanya.
Karin yang tengah menggantungkan tas sang suami - yang sudah kosong- di balik pintu, kemudian menoleh. "Kenapa emang?"
Ardi terbiasa dengan warna-warna kalem, putih sering ia jadikan pilihan untuk sebuah warna, tapi jika dia mempermasalahkan ini, pasti panjang urusannya.
Karin mendekat, duduk di tepi ranjang, dan suaminya itu malah menariknya untuk ikut berbaring, "Abaaang!" Pekiknya saat pria itu beralih menindih tubuhnya.
"Godain aku dong." Ardi berucap, tangannya bertumpu pada kasur agar tidak terlalu menindih perempuan di bawahnya.
Permintaan itu membuat Karin melengos, "Nggak," tolaknya.
"Dulu kamu gencar banget godain aku, mana gombalin terus, coba aku mau denger digombalin sama kamu sekarang."
Mendengar fakta itu Karin jadi malu, wajahnya bersemu, "itu kan dulu, aku masih belum ngerti apa-apa, dan kamu malah ngajarin yang nggak-nggak," ucapnya, memberikan serangan balik.
Ardi tertawa pelan, "siapa dulu yang maksa-maksa minta diajarin ciuman?" Godanya.
Karin membuang muka dengan mata terpejam, "itu kan dulu," ucapnya setelah kembali menoleh, menatap sang suami yang senyumnya terlihat begitu mesum, sepertinya kali ini dia tidak akan bisa lolos.
__ADS_1
Ardi meraih telapak tangan sang istri. Kemudian menautkan jemarinya, menaruh di atas kepala perempuan itu. Wajahnya mendekat, "Mau diajarin yang lain nggak?" Bisiknya.