NOISY GIRL

NOISY GIRL
PENDAPAT


__ADS_3

Sebelum Ardi menemui papi mertuanya, pria itu lebih dulu mencari Justin untuk meminta pendapat, meski kadang tutur kata abangnya itu sering kali membuatnya bingung, tapi semenjak meninggalnya sang ayah, hanya Justin yang dapat memberikan masukan saat dia tengah kesulitan.


 


 


Sore hari sepulang dari kantor Ardi main ke rumah sang ibu, dan kedatangannya disambut senang oleh Jino yang langsung melompat ke gendongannya.


 


 


"Om Ardi bawa apa?" Tanya Jino saat melirik paper bag di tangan omnya.


 


 


Ardi menunjukkan sesuatu yang ia pegang, dan  berkata bahwa anak itu pasti akan menyukai isinya. "Papi kamu udah pulang?" Tanyanya setelah menurunkan Jino dari gendongan, dan Ardi duduk di sofa.


 


 


Bocah yang sibuk memeriksa paper bag yang ternyata isinya kue mahal langganan sang mami kemudian menoleh. "Ada, tadi udah pulang."


 


 


Ardi mengangguk, menoleh ke arah dapur saat seseorang keluar dari sana.


 


 


"Ngapain?" Nino bersidekap di hadapan sang Om yang beberapa hari ini baru kelihatan.


 


 


Ardi berdecak, "main lah, emang nggak boleh," ucapnya dengan memberikan tatapan sebal, entah kenapa dengan bocah itu emosinya selalu saja terpancing, masa iya saat mabuk dia berkata menginginkan seorang anak yang seperti Nino, amat tidak mungkin.


 


 


"Maksudnya ngapain om dudukin Karya seni aku." Nino mengomel, kali ini dengan bertolak pinggang.


 


 


Ardi yang reflek berdiri baru sadar ternyata dia menduduki sesuatu, "yaelaaah, nempel dong," keluhnya kesal sendiri.


 


 


"Rusak deh, mana mau dibawa besok, Om duduknya nggak liat-liat." Nino kembali mengomel.


 


 


"Ngapain kamu taro di sofa, kan ada meja."


 


 


"Tadi aku Om yang mindahin dari meja, hehe." Jino mengaku dan membuat dua pasang mata yang saling melontarkan kekesalam itu beralih padanya.


 


 


"Kamu." Nino mengambil karya seni berupa gambar pemandangan yang ditaburi lem agar dapat menempelkan bahan-bahan lainnya, lalu menyerahkan pada sang adik. "Mana punya kamu, ganti aku nggak mau tau."


 


 


Jino kembali cengengesan, "punyaku belom dibikin," ucapnya yang membuat sang abang bertambah kesal.


 


 


Ardi menggelengkan kepala, mampir ke sini untuk mencari solusi nyatanya membuat dirinya bertambah pusing.


 


 


"Kapan datengnya Ar?"


 


 


Sebuah pertanyaan membuat pria yang masih berdiri itu menoleh. "Barusan."


 


 


Nena yang meletakan gelas air putih ke atas meja kemudian membalikkan tubuh sang adik, "kotor banget celana kamu?" Tanyanya.


 


 


Ardi menunjuk karya seni yang dipegang keponakannya, dan wanita di hadapannya itu malah tertawa. "Ngapain didudukin," omelnya.


 


 


"Nggak sengaja, Mbak."


 


 


Nena berdecak, "yaudah ganti sana," ujarnya sembari mendorong pria di hadapannya itu untuk ke kamar.


 


 


Teringat sesuatu Ardi kemudian berbalik, "Abang dimana?" Tanyanya.


 


 


Nena yang meraih paper bag dari atas meja kemudian menoleh, "di dapur sih tadi, lagi bikin kopi," ucapnya.


 


 


Ardi mengangguk, beranjak ke kamarnya untuk berganti baju, kemudian menuju ke dapur. "Bang, bisa ngobrol sebentar," ucapnya pada Justin yang sepertinya sudah selesai meracik kopi.


 


 


"Boleh," balas Justin, membawa cangkir kopi di tangannya ke atas meja dan duduk di kursinya. "Kapan datang?" Tanya pria itu.


 


 


"Barusan," ucap Ardi, kemudian duduk di kursi berhadapan dengan sang abang. Pria itu menceritakan tentang keinginannya menemui Hendrik Gunawan, untuk meminta Karin agar tidak lanjut bekerja.


 


 


"Kamu merasa terganggu jika Karin ingin kuliah lagi?" Tanya Justin, tatapannya tidak dapat ditebak, Ardi tidak tau apakah abangnya itu berpihak padanya atau malah membenarkan keputusan papi mertuanya itu.


 


 


Sejenak Ardi terdiam, "tapi Karin merasa tidak nyaman diatur seperti itu oleh papinya, dia bekerja mengelola hotelpun atas keinginan Mami Carla, aku ingin dia fokus sama aku, bukan malah mengurus keluarganya."


 


 


Justin tampak berpikir, dari pengamatannya selama ini dia tau, dengan menjadikannya Karin sebagai pewaris utama Larasati hotel tentu Carla merasa aman, tapi wanita itu  tidak sadar telah memaksakan kehendak. "kupikir Carla hanya butuh sebuah jaminan," ucapnya.


 


 


Dan kalimat itu membuat Ardi jadi berpikir, jaminan apa? "Tunjangan hidup maksudnya?" Tanya pria itu.


 


 


Justin mengangguk, "dia terlalu takut tidak bisa hidup dengan baik setelah putrinya tidak lagi memegang hak waris Larasati hotel, coba kamu pikir tunjangan kesejahteraan macam apa yang dapat membuat wanita itu merasa tenang."


 


 


"Gimana kalo kita jodohin aja sama Om Juan," ucap Ardi yang kemudian mendapat tendangan di kaki dari pria di hadapannya.

__ADS_1


 


 


"Itu bukan solusi." Justin jadi mengomel.


 


 


"Ya terus apa? Bukannya dulu mereka sempat akan menikah? Kalo Mami Carla benar menikah dengan Om Juan pasti hidupnya akan sejahtera, secara Om Juan itu kan duda kaya." Ardi berucap panjang lebar, meyakinkan bahwa idenya itu adalah yang paling benar.


 


 


Justin jadi berpikir, iya juga sih, tapi menyatukan kembali dua orang yang pernah didera rasa kecewa tentu akan sulit, dan jika memang masing-masing dari mereka masih ada rasa, tentu saat ini mereka sudah kembali bersama. Tapi nyatanya ini tidak. "Coba pikirkan ide lain," pintanya.


 


 


Ardi menyandarkan tubuhnya pada kursi, mencoba untuk mencari solusi, dan lirikan dari pria di hadapannya itu membuat dia curiga, "Apa?" Tanyanya.


 


 


"Bagaimana jika kamu berikan misal separuh penghasilanmu itu untuk mami mertua kamu," ucap Justin, menyumbangkan ide jitu yang malah membuat adiknya berdecak.


 


 


"Ide gila, harus separuh?" Ardi bertanya tidak percaya.


 


 


Justin menghela napas, "itukan hanya contoh, siapa tau mertuamu itu malah minta semuanya."


 


 


Bisa jadi sih, dilihat dari sepak terjangnya selama ini mami Carla memang lumayan gila harta, tentu hal ini harus dibicarakan lebih dulu dengan Karin, agar istrinya saja yang bernegosiasi dengan sang mami.


 


 


"Soal melanjutkan kuliah, aku harus gimana?" Ardi menopangkan sikutnya ke atas meja, dua telapak tangannya sudah memegang kepala, dia benar-benar merasa dilema.


 


 


"Karin itu istri kamu, hak kamu juga mau memberikan izin atau tidak, dan kamu juga berhak menyuruh dia untuk tidak bekerja," ucap Justin yang seketika membuat Ardi merasa lega, "tapi kembali lagi, kamu sanggup menanggung kebutuhannya tidak?"


 


 


Ardi menghela napas, "jika hanya untuk istriku, tentu saja aku mampu, masalah Mami Carla, nanti aku bicarain dulu dengan Karin," ucapnya.


 


 


Justin mengangguk, "kamu harus lebih tegas. Jika memang tidak suka katakan saja," pesannya.


 


 


"Kurasa Papi Hendrik terlalu mengendalikan putrinya setelah mendapat hak pewaris utama." Ardi memberi dugaan.


 


 


Justin tampak berpikir, "Kenapa tidak kalian berikan saja pada Hendrik untuk mengelola, anggaplah kalian hanya menaruh saham."


 


 


Ardi terdiam, sudah saatnya mereka belajar untuk membina keluarga yang bahagia, tanpa tuntutan dari mami dan papi mertuanya.


 


 


Merasa obrolannya telah usai, Justin beranjak berdiri, menepuk pundak Ardi yang membuat adiknya itu menoleh." Singa boleh saja raja hutan, tapi ingat, serigala tidak pernah bermain sirkus," ucapnya, mengambil cangkir kopi di meja untuk dia bawa. "Kamu tinggal pilih mau jadi singa atau serigala," imbuhnya, kemudian melangkah pergi.


 


 


 


 


Justin yang berhenti di ambang pintu kemudian menoleh." Hn?" Tanggapnya.


 


 


"Abang sendiri, serigala atau singa?" Ardi bertanya.


 


 


Justin tertawa mendengus, "tergantung situasi dan kondisi," ucap pria itu, dan saat mengurunkan niatnya untuk berbalik dia berucap lagi. "Aku serigala yang punya pawang," imbuhnya kemudian.


 


 


"Nggak jelas." Ardi mengumpat saat pria yang mengobrol dengannya benar-benar beranjak pergi. Dia jadi bingung, meminta solusi pada pria itu malah disuruh memilih  menjadi binatang buas, apa maksudnya.


 


 


Ardi beranjak, menuju ruang tv untuk menemui Nena yang saat itu tengah membantu sang anak merapikan karya seni yang tidak sengaja dia rusak. "Pawang serigala," panggilnya.


 


 


Nena yang semula fokus pada Nino kemudian menoleh, "manggil siapa si?" Tanyanya bingung.


 


 


"Siapa aja yang nengok," ucap Ardi asal, pria yang sudah mengganti baju juga celana selutut itu mendudukkan diri di sofa.


 


 


Nena melengos, merasa menyesal sudah menoleh. "Udah ketemu sama Mas Justin?" Tanyanya, masih membantu kedua  putranya merapikan karya seni untuk dibawa besok ke sekolah.


 


 


Ardi mengangguk saat kakak perempuannya itu kembali menoleh. "Aku di suruh pilih jadi singa atau serigala," ucap Ardi tiba-tiba.


 


 


Nena mengerutkan dahi, "kamu mau imigrasi ke ragunan?" Tanyanya.


 


 


Ardi berdecak, turun dari sofa dan berjongkok di sebelah kakaknya, ikut menempelkan benda-benda tugas si kembar ke selembar buku gambar. "Kata abang gini. Singa mungkin raja hutan, tapi serigala tidak pernah bermain sirkus, maksudnya apa, Mbak."


 


 


Nena menoleh, "masa kamu nggak ngerti," ucapnya meremehkan.


 


 


"Males mikir."


 


 


"Tanya sama yang tau."


 


 


"Ini aku lagi nanya."


 


 

__ADS_1


"Kubilang tanya sama yang tau."


 


 


"Mbak Nena tau nggak sih?"


 


 


"Nggak."


 


 


"Yhaaa, gabener."


 


 


Nena jadi tertawa, "maksudnya gini, seberapapun tinggi kedudukanmu, jika masih dapat dijinakkan, atau dikendalikan orang lain, itu tidak akan berarti."


 


 


Ardi ber oh tanpa suara, bukannya memikirkan tentang kedudukan, dia malah berpikir, "emang serigala nggak main sirkus?"


 


 


Nena menoleh kesal, "kamu pernah denger nggak ada pawang serigala?"


 


 


"Pernah," jawab Ardi yang membuat Nena menoleh, "tadi abang bilang dia serigala yang punya pawang."


 


 


"Pawangnya itu Mami." Nino yang masih fokus pada tugas-tugasnya ikut menanggapi.


 


 


Nena jadi menoleh, "kok mami?" Tanyanya.


 


 


"Kan pawang papi itu mami, siapa lagi."


 


 


Nena berdecak, tapi mengiyakan juga, dia jadi tersenyum.


 


 


"Pawang apa si? Yang suka dipake Oma masak?" Tanya Jino.


 


 


Nino melengos, "bawang itu," balasnya.


 


 


"Tukang cireng depan sekolah namanya Bawang."


 


 


"Bambaaang."


 


 


Kedua adik beradik itu kemudian berdebat, Ardi jadi tertawa. Sejenak pria itu berpikir, bahwa untuk kali ini dia tidak mau lagi dikendalikan oleh orang lain, termasuk kedua mertuanya.


 


 


**iklan**


 


 


Author: Selain mikirin alur, kadang gue juga jadi mikirin iklan 😌


 


 


Netizen: Netizen nanya thor katanya kalo dia komen dibaca nggak sih.


 


 


Author: dibaca dong, komen kalian yang lucu-lucu itu bikin aku terhibur. Setiap like di komen itu dari aku.


 


 


Netizen: terus kapan mau bikin cerita baru thor.


 


 


Author: sebenernya pengen bikin cerita baru tapi gak ada yg nyemangatin, mana blom kontrak mah gak dapet duid 😌


 


 


Netizen: Author doyan duid juga ternyata. 😒


 


 


Author: atuh gimana scincare gue mahal. 😌


 


 


Netizen: Sombong amat.  😒


 


 


Author: tapi nggak bikin glowing 😌


 


 


Jan lupa jaga kesehatan, sering cuci tangan gausah mandi, kemana mana pake masker jan pake baju.


 


 


Netizen: eh gimana gimana, ngapa jadi iklan layanan masyarakat si. 😂


 


 


Author: bercanda. Biar berfaedah dikit iklan gue.


 


 


Jan lupa haha hihi, vote like komen ditunggu ya. Doakan bumi kita lekas pulih.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2