NOISY GIRL

NOISY GIRL
INGKAR


__ADS_3

Hampir setengah jam Ardi duduk di atas motor menunggu Karin di depan gerbang sekolahnya, tapi gadis itu tidak juga muncul, dan saat dia mengambil ponsel yang saat makan siang tadi ia sita dari kekasihnya itu, seseorang yang tidak ia kenal menghampirinya.


 


 


"Loh, Bang Ardi kok masih di sini?" Tanyanya, belum sempat pemuda itu menjawab gadis yang mengaku teman sebangku Karin kembali berkata. "Karin nya udah pulang dari tadi."


 


 


Setelah mengucapkan terimakasih dan pamit pergi, Ardi memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah, pemuda itu setengah berlari menuju kamar Karin, mengetuknya beberapa kali tapi tidak juga ada jawaban.


 


 


Ardi memutuskan pergi ke samping rumah, dan ternyata jendela kamar gadis itu sudah terbuka, seperti biasa diapun meloncatinya.


 


 


"Abang!!" Pekik Karin dengan mengeratkan lilitan handuk di tubuhnya.


 


 


Ardi reflek berbalik badan, "Gue nggak liat sumpah," ucapnya.


 


 


"Karin pake baju dulu, awas ya jangan ngintip!" Ancam gadis itu.


 


 


"Iya, elah buruan!" ucap Ardi, kemudian melirik kaca lemari di hadapannya dan tersenyum sendiri, pemuda itu memilih memejamkan mata.


 


 


"Abang ngapain si, masuk lewat jendela, kaya maling aja!"


 


 


"Iya, gue mau maling hati lo ini."


 


 


Tanpa dapat pemuda itu sadari, Karin tersenyum. "Basi, Bang. Gombalan sejuta umat," ledeknya.


 


 


Ardi tertawa pelan, membuka matanya dan melirik kaca lemari lagi, gadis itu tampak sudah rapi dengan kaus dan celana selutut, duduk di meja rias menghadap cermin.


 


 


"Lo marah sama gue?" Tanya Ardi berbalik badan menghampiri gadis itu dan menyandarkan tubuhnya di meja rias.


 


 


"Nggak," jawab Karin, dengan tangan yang sibuk mengoleskan krim siang ke pipinya.


 


 


Ardi mengambil satu lipstik di hadapan gadis itu, membukanya. "Tapi tadi siang lo ninggalin gue di kantin, terus tadi gue jemput lo juga pulang duluan," ucapnya, kemudian mengendus lipstik beraroma mint, lalu ia tutup kembali.


 


 


"Oh itu, Karin sebel sama abang, tapi nggak marah kok. Dan pas pulang kan abang taunya Karin ada ekskul, tapi gurunya nggak dateng jadi Karin pulang aja," ucapnya mengambil lipstik rasa strauberi dari tangan abangnya.


 


 


"Kok, lo nggak ngabarin?"


 


 


"Kan hpnya sama abang."


 


 


"Eh iya." Ardi meletakan kembali lipstik rasa chery, setelah tadi mengendus apel dan lemon, dia jadi berpikir peralatan make up perempuan harus sebanyak ini ya. Kaya tukang buah.


 


 


"Ngapain si, Bang? Kalo mau pake, pake aja," ucap Karin sewot, kembali merapikan koleksi lipstik di atas meja.


 


 


Ardi menunjukan satu lipstik rasa coklat, "gue belum nyobain yang ini nih," ucapnya.


 


 


Karin memicingkan mata, "emang abang punya lipstik juga?" Tanyanya.


 


 


"Nggak," ucap Ardi, kemudian tersenyum . "Nyobain langsung dari bibir lo maksudnya."


 


 


"Abaaang."


 


 


"Ahduh iya, enggak!" pekik Ardi, mengusap lengannya yang memerah setelah mendapat cubitan.


 


 


Pemuda itu menegakkan tubuhnya kemudian melangkah dan duduk di tepi ranjang, "maafin gue ya, soal yang tadi, gue nggak mangsud buat bikin lo ngerasa nggak diperjuangin," ucapnya sembari melepas sepatu.


 


 


Karin yang masih duduk di depan kaca rias kemudian memutar tubuhnya, menghadap pemuda itu, "Karin seneng banget tau, Abang udah berani bilang sama papi Karin kaya gitu."


 


 


Untuk sesaat Ardi terdiam, kemudian tersenyum. "Nanti juga kalo waktunya udah tepat gue bakal ngomong sama Bang Justin juga," ucapnya, kemudian beranjak berdiri, mengambil ponsel di saku kemejanya dan menyerahkan pada gadis itu.


 


 


Karin menerimanya, kemudian mulai membuka pesan-pesan yang masuk, dan saat Ardi berlutut di hadapannya ia jadi menoleh. Ardi menaruh lengannya di atas pangkuan gadis itu, mereka saling berhadapan.


 


 


"Tadi lo nggak balik sama Dewa, kan?" Tanya Ardi.


 


 


Karin berdecak sebal, "abang tuh kenapa sih Dewa mulu, padahal kan yang suka sama Karin bukan cuma Dewa."


 


 


"Oyah? Laku juga lo ya." Ardi menarik hidung mancung gadis di hadapannya. "Terus siapa yang nganterin lo?" Tanyanya kemudian.


 

__ADS_1


 


Karin mengusap hidungnya yang sedikit sakit, "pokoknya romantis lah orangnya, Karin dikasih helm kembaran."


 


 


Ardi mencebikkan bibir, "kayanya kang ojol jadi saingan terberat gue sekarang," ucapnya yang membuat Karin tertawa.


 


 


"Abang apaan si, nggak lucu."


 


 


"Nggak lucu tapi ketawa," ucap Ardi kemudian memejamkan mata.


 


 


"Abang kenapa?" Tanya Karin, sedikit memiringkan kepala melihat raut kusut pemuda di hadapannya itu.


 


Ardi menggeleng, tatapannya ia arahkan pada gadis di hadapannya yang tersenyum polos, "dulu gue kalo deket lo bawaannya emosi mulu," tuturnya.


 


 


"Terus sekarang?" Tanya Karin.


 


 


Masih berlutut di hadapan gadis itu, Ardi menaruh tangannya di ke dua pinggang Karin. "Pengen nyosor mulu," rengeknya.


 


 


Karin kembali tertawa, "mau dong disosor," ucapnya kemudian.


 


 


"Anak Setan!" Umpat Ardi, menjatuhkan keningnya di atas lutut gadis itu.


 


 


"Bang Ar." Panggil Karin yang membuat Ardi mendongakkan kepala.


 


 


"Hn?"


 


 


"Maafin papi Karin ya."


 


 


"Papi lo nggak salah kok, emang guenya aja yang harus sadar diri."


 


 


Karin berubah murung, "tuh kan gitu lagi ngomongnya."


 


 


"Maksudnya sadar diri buat berusaha ngasih yang terbaik," ucap Ardi menjelaskan, mengambil ke dua tangan Karin kemudian ia genggam. "Ayah mana coba yang pengen liat anaknya menderita, biar begitu papi lo masih mikirin masa depan anaknya biar dapet suami yang mapan."


 


 


"Abang jangan pernah nyerah ya," pinta Karin.


 


 


 


 


Karin lagi-lagi tertawa, ucapan abangnya meski mungkin setengah bercanda, tapi itu membuatnya amat bahagia. "Kita ngomongin apa si, Bang. Nggak jelas banget."


 


 


"Yang penting kan masa depan kita jelas, Dek." Ardi menghela napas. "Kita masih terlalu muda buat mikirin hal-hal yang belum tentu terjadi, lo tenang aja, selagi lo masih percaya sama hubungan kita, abang bakalan terus berusaha."


 


 


Sesaat denting jam dinding di kamar gadis itu lebih mendominasi ketika keduanya memilih diam, dan Karin lebih dulu memutus tatapan dari matanya, mendekati pemuda itu dan mencium keningnya lama.


 


 


Dan suara ketukan di pintu membuat Karin memundurkan kepala, kemudian menoleh. Seseorang berusaha membuka benda itu, "Kariin, kenapa pintunya dikunci."


 


 


Karin sedikit terlonjak, "Mbak Nena, Bang," bisiknya.


 


 


"Mati lah!" Ardi baranjak berdiri, berlari ke arah jendela dan kembali meloncatinya.


 


 


"Iya, Mbak! Bentar!" Seru Karin, setengah berlari menghampiri pintu dan membukanya.


 


 


"Kenapa pintunya dikunci?"


 


 


"Tadi Karin abis mandi, jadi dikunci dulu."


 


 


Nena terdiam, namun tidak langsung percaya, pandangannya menyapu kamar gadis itu. "Tadi mbak kayaknya denger Ardi pulang terus ngetok kamar kamu sekarang orangnya nggak ada, kemana dia."


 


 


Karin sedikit gugup, pasalnya dia tidak terlalu pintar berdusta, "nggak tau, Mbak Nena."


 


 


"Kok sepatu Ardi ada di kamar kamu?" Tanya Nena saat melihat benda itu tergeletak di lantai sang adik.


 


 


Karin jadi panik, "eu, itu, itu sepatu yang kemaren abang suruh cuci, mbak. Iya gitu."


 


 


Nena semakin curiga, dan saat seseorang mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah, wanita itu beranjak menghampirinya. Karin memilih masuk kembali ke dalam kamar.


 


 

__ADS_1


"Dari mana kamu?" Todong Nena pada Ardi yang sudah memasuki ruang tamu, wanita itu melirik kaki sang adik yang tidak mengenakan alas kaki, kemudian beralih pada rak di pojok pintu yang tidak ada sepatu milik sang adik di tempat itu.


 


 


"Tadi aku dari–"


 


 


"Dari kamar Karin?"


 


 


Ardi sedikit terlonjak, "kok Mbak tau si?"


 


 


"Ardiiii!! Kamu udah langgar janji." Nena menghampiri sang adik dan menjewer kupingnya.


 


 


"Aduh Mbak sakit, Mbak!" Rengek pemuda itu, yang mau tidak mau mengikuti langkah kakaknya memasuki kamar dengan membungkukkan badan. Kupingnya terasa panas.


 


 


Di depan kedua putra kembarnya yang entah kenapa tertawa-tawa, telinga sang adik ia lepaskan. Nena kembali mengomel. "Kamu jangan keterlaluan ya, Ar!"


 


 


Ardi mengusap kupingnya yang mungkin memerah, sekarang dia tau rasanya menjadi Upin Ipin yang punya kakak segalak Kak Ros. Dia mengalaminya.


 


 


"Keterlaluan apa sih, Mbak, mbak nih yang keterlaluan, masa kuping gue dijewer." Ardi jadi mengomel, menoleh pada si kembar yang masih tertawa sendiri, bahkan anak sekecil itu saja tau cara berbahagia diatas derita orang lain Ya Tuhan.


 


 


"Kamu ngapain di kamar Karin?" Tanya Nena.


 


 


Ardi duduk di tepi ranjang sang kakak, "nggak ngapa-ngapain yaelah, takut banget gue buntingin anak orang dah, heran," ucapnya acuh.


 


 


"Masa depan kalian tuh masih panjang, Ar, mbak nggak mau hal itu sampe terjadi."


 


 


"Tinggal nikah aja sih, Mbak, sambil kuliah punya istri enak banget udah hidup gue."


 


 


Nena reflek menendang kaki sang adik sampai mengaduh, "sembarangan kalo ngomong! Gue tuh dulu kerja keras banting tulang nyekolahin lo pake duit halal Ar, kenapa otak lo sekosong ini Ya Allah." Dengan gemas Nena menjambak rambutnya sendiri.


 


 


"Bercanda, Mba." Ardi menarik baju sang kakak, membuatnya mendekat. "Gue juga nggak bakalan sejauh itu sama Karin," ucapnya.


 


 


"Dengan lo belum bisa jadi apa-apa, nikah muda emangnya gampang, setelah lo nanti punya istri apa lo masih punya muka buat minta duit sama Mas Justin."


 


 


"Nggak, Mbak–"


 


 


"Dengerin gue dulu," potong Nena yang seketika membuat sang adik terdiam. "Lo sekarang boleh bilang nggak, tapi nanti kalo udah kejadian mau kata apa?"


 


 


Ardi masih diam, menunduk dalam, dia sadar selama ini memang dia sering kelepasan, sulit mengontrol dirinya sendiri. Padahal dengan pacar-pacarnya yang sebelumnya dia tidak pernah sesering itu.


 


 


"Meskipun Mbak ternyata bukan kakak kandung kamu, Ar, tapi mbak peduli sama masa depan kamu."


 


 


Mendengar ucapan sang kakak yang semakin terdengar serius, Ardi mendongak. "Mbak–"


 


 


"Lo boleh nganggep gue bukan siapa-siapa." Nena mendudukkan diri di sebelah sang adik. "Tapi yang harus lo inget itu pesan ayah, ayah selalu bilang sama gue buat terus jagain lo, lo tuh kebanggaan ayah, Ar."


 


 


Ardi sontak memeluk Nena erat, menyembunyikan matanya yang memerah di pundak kakak perempuannya itu.


 


 


Dulu sebelum mereka tau bahwa sang kakak adalah anak orang kaya, mereka pernah sama-sama berbagi sesuap nasi untuk mengganjal rasa lapar selama beberapa hari. Jatuh sakitnya sang ayah membuat kehidupan mereka kian susah, dan hanya Nena yang peduli dengan nasib sekolahnya, disaat sang ibu pun tidak bisa berbuat apa-apa.


 


 


"Jangan pernah bilang kalo Mbak Nena bukan siapa-siapa, Mbak adalah perempuan ke dua yang paling berarti dalam hidup aku setelah ibu."


 


Ardi tau. Perjuangannya nanti tidak akan pernah terasa mudah. Keringat dan air mata yang teras asin membuktikan bahwa tidak ada yang manis dari pengorbanan yang harus ia jalani.


"Kayaknya Mbak setuju kalo kamu lebih baik kuliah di Luar Negri," ucap Nena.


Ardi mendongak, melepaskan pelukannya, meski dia tidak menangis, tapi matanya yang memerah adalah bukti jika dia akan mulai bersungguh-sungguh. "Kuliah di Luar Negri itu nggak bisa menjamin seseorang akan sukses, Mbak," tukasnya.


Nena berdiri, melipat lengannya di depan dada, "tapi seenggaknya di sana kamu nggak pacaran terus."


"Siapa yang bisa menjamin aku nggak pacaran sama orang sana."


"Kalo itu sampe terjadi berarti kamu memang beneran buaya!" Tukas Nena."Nggak usah pulang aja kamu mendingan."


"Jahatnya."


 


 


 


 


***iklan***


Author: Episode kali ini lgi nggak ngelawak.


Netizen: Sedih thor??


Author: nggak. Gue lagi keabisan jokes njiiirrr


Netuzen: Sue


 


 


*


Karin: poinnya di tahan ya. kumpulin dulu buat mulai vote minggu depan. Minggu ini udah cukup kok. Makasiiih 😘😘😘


__ADS_1



Ardi: Bentar lgi abang kuliah ke luar negri. Dek. Biar cepet sukses, Kuliah disini pacaran mulu. Doain biar nggak kecantol sama bule 🤣🤣


__ADS_2