NOISY GIRL

NOISY GIRL
UJIAN


__ADS_3

Karin tengah berada di kamar mandi, bimbang menimang benda di tangannya apakah akan ia gunakan kali ini atau besok saja, menurut petunjuk penggunaan, air seni yang didapat saat pagi akan lebih akurat. Tapi dia sudah begitu penasaran dengan hasil apa yang akan dia dapat.


 


 


Perlahan dan sedikit ragu, Karin memasukkan benda pipih yang merupakan alat tes kehamilan itu ke dalam mangkuk kecil berisi air seninya sendiri. Jantungnya berdebar-debar, apapun hasilnya nanti dia tidak boleh merasa kecewa, namun nyatanya saat dirinya mengambil benda itu dan melihat hasilnya dia menangis juga.


 


 


Negatif, dan rasa kecewa itu datang juga, hingga pelukan seseorang dari arah belakang di tubuhnya reflek membuat dia menghapus air mata.


 


 


Ardi menopangkan dagunya pada pundak sang istri, dari arah cermin besar di hadapan mereka, dia tau perempuan itu tengah menangis, dan benda di tangan wanita kesayanganya itu sudah cukup menjadi alasan kenapa dia tidak bertanya dengan apa yang telah terjadi pada istrinya.


 


 


Pria itu mengambil benda di tangan Karin kemudian melemparkannya ke dalam tong sampah di bawah mereka, "udah nggak usah sedih," tuturnya, memutar tubuh wanita di hadapannya itu untuk saling berhadapan, dengan ibujari pria itu menghapus bekas airmata yang mengalir di pipi sang istri. "Jangan nangis, kita coba lagi yah."


 


 


Karin diam saja, hingga sang suami menarik tubuhnya ke dalam dekapan pria itu, tangisnya kemudian pecah, "padahal aku udah telat tau, Bang. Nggak ngerti kenapa hasilnya selalu negatif," ungkapnya dengan sesenggukan.


 


 


Ardi mengusap kepala istrinya itu dengan sayang, menyesal kenapa dia pernah berkata amat mengharapka buah hati segera hadir di antara mereka, jika tau akan membuat perempuan itu sesedih ini, dia tidak akan pernah mengungkapkannya. "Untuk sekarang prioritas aku itu bukan mengharapkan momongan, tapi kebahagiaan kamu," ucapnya setelah melepaskan pelukan dari perempuan yang terus menunduk di hadapannya.


 


 


Karin mendongakkan kepala, "tapi bikin kamu seneng itu sebuah kebahagiaan buat aku, Bang," ungkapnya yang semakin membuat pria di hadapannya itu amat terharu.


 


 


"Bahagiain aku nggak harus dengan cara itu, kita bisa terus berusaha dan mencoba juga aku udah bahagia." Ardi tersenyum jahil, mencoba mencairkan suasana.


 


 


"Abang ih." Karin yang kesal kemudian memukul lengannya dengan gemas, namun kemudian tersenyum juga.


 


 


Ardi menangkap pergelangan tangan perempuan itu, tatapannya yang begitu teduh membuat Karin jadi terdiam. "Jangan terlalu bersedih saat apa yang Tuhan kehendaki ternyata  nggak sesuai dengan apa yang kamu harapkan, kita bukan nggak dikasih, tapi belum," ucapnya meyakinkan.


 


 


"Tapi Kayaknya kamu pengen banget, aku nggak tega," ucap Karin yang membuat pria di hadapannya itu kemudian menggeleng.


 


 


"Aku mungkin mau, tapi Allah lebih tau bahwa aku belum siap, menjadi seorang ayah bukan perkara mudah, dan aku takut tidak bisa menjalaninya."


 


 


Karin tertegun, tidak menyangka suaminya ternyata begitu bijaksana. Perempuan itu kemudian tersenyum.


 


 


"Denger ya, Sayang, kita ini masih muda, maaf kalo aku dulu nuntut kamu yang enggak-engak, sebenernya tujuan aku itu cuman pengen kamu tetep di rumah, nggak sibuk kerja," ungkap Ardi, "Mbak Nena aja hamil si kembar pas umurnya dua puluh delapan, dan kamu belum dua puluh lima, kita masih punya banyak rencana," Imbuhnya.


 


 


Karin kembali memeluk tubuh suaminya, "makasih, Bang," ucapnya.


 


 


"Mendingan sekarang kita pikirin mau liburan kemana," ucap Ardi mengingatkan, menarik sang istri keluar kamar mandi dan menghampiri laptopnya yang terbuka, banyak pilihan tempat wisata yang masuk ke daftar pencarian pria itu, dan kemudian ia tunjukkan pada istrinya.


 


 


Sejenak Karin memperhatikan gambar-gambar di layar, kemudian menoleh pada suaminya, "aku maunya ke pantai," ucap perempuan itu.


 


 


"Kalo gitu kita ke Bali, gimana?"


 


 


"Boleh juga, gimana kalo kita ajak temen-temen kamu juga, biar rame."


 


 


Ardi yang mengangguk kemudian meraih ponselnya, mengumumkan ajakan berlibur di chat grup buronan mitoha. Keduanya kembali fokus pada laptop di atas kasur, mencari tempat-tempat yang bagus untuk mereka kunjungi saat nanti berlibur, dan suara bel apartemennya itu mengalihkan perhatian mereka berdua.


 


 


"Siapa malem-malem bertamu?" Tanya Ardi.


 


 


Karin yang mengangkat bahu kemudian turun dari ranjang, "biar aku aja yang buka," ucapnya.


 


 


Ardi memilih untuk ikut menemani sang istri, menemui si tamu yang ternyata ibu mertuanya sendiri, mera bergantian menyalami wanita itu.


 


 


"Mami mau minum apa?" Tanya Karin setelah mempersilahkan maminya untuk masuk, belum sempat duduk, dia sudah menjawab tidak usah karena katanya tidak akan lama.


 


 


Karin merasa ada yang aneh dengan maminya, wanita itu seperti ingin menyampaikan sesuatu. "Mami–,"


 


 


"Bisa kita ngobrol sebentar Karin." Carla memotong ucapan putrinya.


 


 


Sebelum mengangguk, Karin menolehkan tatapannya pada sang suami yang masih berdiri di sampingnya, Ardi tampak mengangguk.


 


 


Carla mendekati putrinya, menoleh pada Ardi dan kemudian berkata." Bisa saya ngobrol sebentar dengan Karin, hanya berdua."


 


 


Sesaat Ardi terdiam, mulai berpikir ada perlu apa mertuanya itu sampai tidak membolehkan dirinya ikut serta dalam percakapan mereka, namun untuk menghormati permintaan ibu mertuanya, dia mengangguk juga.


 


 


Karin menangkap pergelangan tangan suaminya saat pria itu akan melangkah pergi, "Bang Ar itu suami aku, Mi. Jadi apapun yang mau mami bahas, suami aku berhak tau semuanya," ucap perempuan itu.


 

__ADS_1


 


Carla berdecak, wanita itu terlihat tidak senang, setelah menikah  putrinya sulit sekali dikendalikan. "Ok, mami nggak masalah kalo Ardi ada di sini, mami cuma mau nanya," jeda pada ucapan sang mami membuat Karin menebak-nebak kalimat berikutnya, belum sempat bertanya, wanita itu kembali melanjutkan ucapannya. "Bener kamu mengundurkan diri dari hak waris Larasati hotel?" Tanyanya dengan sekali tarikan napas.


 


 


Karin sedikit terhenyak, maminya kenapa bisa secepat itu tau dengan rencana mereka, perempuan itu mengerjap gugup, "gimana kalo kita duduk dulu, Mi, aku bikinin minum yah," ucapnya mencari pengalihan.


 


 


Carla yang menggeleng membuat Karin tau bahwa pembahasan itu tidak dapat ia hindari, wanita itu terlihat murka sekali.


 


 


"Denger ya Karin, susah payah mami mengusahakan kamu agar mendapatkan hak-hak yang seharusnya kamu miliki, dan kamu dengan bodohnya malah melepaskannya begitu saja," omel Carla, dari raut wajahnya yang kecewa, wanita itu sepertinya amat tidak menyangka.


 


 


Usapan di pundaknya membuat Karin menoleh pada sang suami, dan pria itu kembali mengangguk, memberikan dukungan.


 


 


" Jawab Karin, kenapa kmu bisa sebodoh itu," benak Carla tidak sabaran.


 


 


"Maaf, Mami," sela Ardi yang akhirnya memilih untuk angkat bicara karena sang istri yang tampak diam saja. "Karin tidak sepenuhnya melepas hak-haknya, hanya saja dia sudah tidak menjadi penanggung jawab di sana," ucapnya mencoba menjelaskan.


 


 


"Mami tanya sama anak mami, bukan kamu," tukas Carla yang membuat Ardi jadi terdiam.


 


 


Karin sedikit terhenyak, menoleh pada sang suami yang terlihat biasa saja, kemudian beralih pada wanita yang melahirkannya, "keputusan aku udah nggak bisa diganggu gugat, Mi, aku memutuskan untuk berhenti mengurus Larasati hotel, aku serahkan semuanya sama papi. Aku capek."


 


 


"Karin!" Bentakan sang mami sedikit membuat Karin terlonjak, tidak menyangka perempuan itu benar-benar marah terhadap keputusannya. "Mami nggak habis pikir sama kamu, Oma Rosita aja mati-matian pengen dapetin itu semua dan kamu dengan bodohnya malah melepaskannya, pikiran kamu di mana," omel Carla geram.


 


 


Karin tidak menangis, sebenarnya dia sudah menduga akan reaksi maminya itu seperti apa, tapi tidak secepat ini juga. "Itu udah jadi keputusan aku, Mi. Mami masih tetep dapet hak setiap bulannya dari papi dengan saham yang atas nama aku, semua buat mami," ucapnya.


 


 


Carla menggeleng, memijit keningnya yang ia rasa begitu pusing, "mami tidak butuh uang itu, yang mami butuhkan adalah sebuah pengakuan keluarga Gunawan, hanya itu Karin."


 


 


"Tapi aku nggak butuh itu Mi. Dari kecil apa aku dianggap keluarga sama mereka? Nggak Mi." Karin yang terbawa emosi kemudian mulai menangis, hal tersebut membuat Ardi semakin mengeratkan rangkulan di pundak perempuan itu.


 


 


"Untuk itu mami selalu memperjuangkan hak kamu, dan yang nggak habis pikir kok bisa-bisanya kamu memutuskan untuk melepaskan semua itu, kamu–,"


 


 


"Cukup Tante," sela Ardi.


 


 


Carla terhenyak di tempatnya, bukan karena nada suara sang menantu yang sedikit lebih tinggi, tapi panggilan tante terhadap dirinya yang membuat ia begitu terkejut.


 


 


 


 


Carla melengos, wanita itu menelan ludah beserta segala kekesalan dalam hatinya,"kalian benar-benar bodoh," omelnya, kemudian melangkah pergi.


 


 


"Mami Carla."


 


 


Panggilan Ardi membuat wanita itu menghentikan langkahnya kemudian berbalik.


 


 


"Kehilangan gelar Gunawan tidak akan membuat kami tidak bisa makan, bahkan kebutuhan mami bisa kami cukupi tanpa harus mengemis gelar pada  mantan suami mami, kami punya harga diri."


 


 


Carla mengerjap terkejut, tidak menyangka kalimat itu akan membungkam semua kata-kata yang tersusun di kepalanya, wanita itupun memutuskan untuk berbalik kemudian benar-benar melangkah pergi.


 


 


Ardi beralih pada Karin yang tampak melamun, dan saat dia menarik perempuan itu ke dalam dekapannya, tangis itu kemudian pecah. "Jika kamu merasa semua orang yang kamu sayang ternyata pergi dan menghilang, jangan lupakan aku, karena aku akan selalu ada buat kamu."


 


 


***


 


 


Agung beserta keluarga kembali pulang ke rumahnya. Saat sampai di halaman dan kendaraan yang mereka tumpangi sudah berhenti, Adelina keluar lebih dulu, tanpa berpamitan pada siapapun yang berada di mobil itu, sepertinya gadis itu tengah merasakan sesuatu.


 


 


"Kenapa teteh kamu?" Tanya Laila pada putri bungsunya saat mereka ikut keluar dari mobil.


 


 


Anggi mengangkat bahu, "tadi pas umi suruh cari, teteh lagi ngobrol sama mantan pacarnya, nggak tau ngomongin apa."


 


 


Agung terdiam, setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, pemuda itu memutuskan untuk menemui sang adik di kamar gadis itu.


 


 


"Nina lagi pengen sendiri, A," balas gadis itu saat Agung mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk.


 


 


"Na, aa mau ngomong sebentar." Agung mencoba membujuk adik perempuannya.


 


 


Sesaat kemudian pintu kamar itu terbuka, Agung masuk mengikuti Adelina yang kembali berbaring di atas ranjang.


 

__ADS_1


 


"Kamu kenapa?"


 


 


"Nggak kenapa-napa," jawab Adelina tanpa menoleh, sebenarnya tidak perlu bertanya, dari raut wajahnya yang terlihat murung sudah jelas keadaan gadis itu seperti apa.


 


 


Agung duduk di tepi ranjang, mengusap kepala sang adik dengan sayang. "Mau ikut liburan nggak?" Tawarnya.


 


 


Adelina reflek menoleh, "kemana?" Tanya gadis itu.


 


 


"Bali?"


 


 


Dengan semangat Adelina beranjak duduk, "Mau A, aku ikut," serunya yang membuat sang kakak kemudian tertawa.


 


 


"Yaudah jangan sedih lagi."


 


 


"Liburannya sama siapa aja?"


 


 


"Belum pasti sih, Ardi yang ngajakin, nanti dikabarin lagi."


 


 


 


 


 


 


***iklan***


 


 


Author: Mantau mereka yang pada masuk ranking author note nya serem-serem ya. 😅 Beragam cara buat mendulang poin. Kalo aku sih yang penting Iklas aja ya. Nggak ada janji apapun apalagi crazy crazyan gak sanggup saya.


 


 


Buat selingan aku up yang Oh My Boss, jangan lupa mampir ya. Tapi sumbangan vote buat noisy girl aja, kalo bisa yang banyak. 😅


 


 


Netizen: katanya tadi suruh Iklas tapi minta yang banyak gimana sih. 🙄


 


 


Author: ya udah banyak Iklas kan pahalanya lebih gede Iroh. 😁


 


 


Netizen: yaudah gausah mikirin ranking thor biar pembacamu aja yg mikirin. Mendingan kita bahas yang lagi viral.


 


 


Author: apaan yg viral.


 


 


Netizen: itu yang bagi-bagi sembako indomi isinya malah sampah. 🙄


 


 


Author: gue ke warung nih, liat kardus indomi isinya misedap aja kesel apalagi sampah, gak ada akhlak tu orang.


 


 


Netizen: Ada lagi nih kaum jempol jahat yang ngerusuh di akun ignya artis drama yang jadi pelakor. Dia kan perannya boongan, kenapa mereka keselnya beneran 🤔


 


 


Author: Gue kesel banget sama Haji Muhidin di film tukang bubur naik gaji, tapi nggak kepikiran buat maki-maki dia di akun ignya Pak Haji Latief Sitepu. 😌


 


 


Netizen: Monmaap thor naik haji. Nyang naik gaji tetangga sebelah. 😑


 


 


Author: Biarin gue lagi erosi. 😒


 


 


Netuzen: Gue juga kesel thor sama Mami Carla tapi nggak kepikiran buat maki-maki lu di kolom komentar. 🤣


 


 


Author: Wah provokator lu ya. 😌


 


 


Salam haha hihi, semoga puasanya masih kuat ya, sehat sehat buat kalian. Daripada nggak masuk ranking, aku lebih takut nggak bisa berimajinasi, percuma kalo ranking bagus tapi ceritaku gak bisa bikin kalian terhibur. Like vote komentar selalu aku tunggu. Makasih buat kalian 😘😘😘


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2