NOISY GIRL

NOISY GIRL
PULANG


__ADS_3

Beberapa Hari berikutnya Justin mengadakan pertemuan dengan Hendrik, pria itu tampak lebih hangat sekarang, mungkin karena kerja sama yang sudah mereka tanda tangani, atau mungkin juga karena banyak rekan bisnisnya yang berkumpul di sini. Namun Justin tampak tidak peduli dengan hal itu, tujuannya hanya satu, membawa Karin kembali ke rumahnya.


 


 


"Mungkin putri saya memang lebih bahagia di tempat Anda," ujar Hendrik, setelah menyalami Justin atas kerja sama mereka, meski Justin menangkap ada ketegaan di diri Hendrik telah mengorbankan putrinya, tapi entah kenapa Justin bisa melihat ketulusan di sana, pria itu seolah benar-benar ingin melihat putrinya bahagia.


 


 


"Hak asuh masih atas nama Anda, Pak," balas Justin setelah melepaskan jabatan tangannya. "Keputusan ada di tangan Karin, biar dia yang memilih ingin tinggal di mana," imbuhnya kemudian.


 


 


***


 


 


"Bang, Karin beneran bisa balik ke rumah abang, ya Ampun Karin seneng banget." Karin berucap heboh melalui ponselnya, gadis itu berguling kesana kemari di atas kasur saking senangnya, hp di tangan masih ia tempelkan di telinya. "Ok bang, siap," tambahnya lagi saat sang abang menyuruhnya untuk menyiapkan apa yang akan dia bawa.


 


 


Di tempat yang berbeda, Ardi yang sudah duduk di balik kemudi malah menjatuhkan keningnya bersandar pada benda itu. Tiga hari terhitung dengan hari ini, dia harus benar-benar pergi, tapi sampai saat ini pun pemuda itu belum berani mengatakannya pada gadis itu.


 


 


Ardi menyalakan mesin, berangkat untuk menjemput Karin malam ini juga, nanti dia pasti akan mengatakan semuanya pada gadis itu.


 


 


Sesampainya di rumah Hendrik, Ardi melajukan mobilnya sampai ke halaman depan saat satpam di sana membukakan pintu. Pemuda itu menelpon Karin dan mengabarkan dirinya sudah sampai di depan.


 


 


Ardi turun dari mobil saat Karin dengan diikuti Naya keluar dari pintu rumahnya. Pemuda itu mengambil tas Karin dan memasukkannya ke dalam mobil.


 


 


"Sering-sering main ke sini ya, mami pasti kangen sama kamu," ucap Naya, mengusap kedua pipi Karin dengan tangannya, setelah itu mencium gadis di hadapannya bertubi-tubi.


 


 


"Karin pasti bakal sering main kok, mi, salam ya buat Kalila," ucap Karin menyebut nama sang adik yang saat ini belum pulang dari lesnya. Dan Naya mengangguk.


 


 


Karin melangkah turun ke undakan anak tangga di teras rumahnya, dan bersamaan dengan itu kedatangan mobil sang papi, dan kemunculan pria itu di sana, membuat Karin tampak tegang, gadis itu menoleh pada Ardi yang terlihat biasa saja.


 


 


Hendrik yang baru turun dari mobil disambut oleh Naya yang mengambil alih tas dari tangan pria itu. Pria itu melangkah ke pintu, sempat menoleh pada Karin yang seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun ia abaikan dan kembali berlalu.


 


 


"Om," panggil Ardi dan membuat langkah pria itu jadi terhenti, kemudian menoleh lagi. Ardi menaiki anak tangga, mendekati Karin. "Nggak semua orang bisa menunjukan rasa kasih sayang sama orang yang emang dia sayang."


 


 


Karin menoleh pada sang abang, tidak paham dengan yang pemuda itu maksudkan. Dan saat Ardi sedikit mendorongnya untuk menghampiri sang papi, dia baru mengerti.


 


 

__ADS_1


Gadis itu berdehem gugup, melirik sang papi yang tampak menunggu di ambang pintu," Pi, Karin pamit," ucapnya ragu.


 


 


Hendrik melengos, menolak bersitatap dengan putrinya, "pergi lah," ucapnya lirih.


 


 


Karin kembali menoleh pada Ardi, pemuda itu tampak mengangguk, padahal mungkin dia tidak tau dengan apa yang Karin maksud, "Aku boleh peluk Papi nggak?"


 


 


Hening, perlahan Hendrik menoleh pada putrinya yang tampak menunggu jawaban, kemudian pria itu mengangguk.


 


 


Karin berjalan perlahan, menghampiri sang papi dan kemudian melingkarkan lengannya pada tubuh tegap Hendrik, pria itu tampak diam saja dengan lengan yang terkunci pelukan putrinya. "Papi sehat-sehat, Ya," pesan Karin.


 


 


Dan sesaat kemudian Hendrik melepaskan pelukan gadis itu, namun balik merangkulkan lengannya, membawa tubuh mungil putrinya itu ke dalam dekapan dadanya. "Kamu baik-baik di sana," pesannya tak terduga.


 


 


Karin sedikit tersentak dengan sikap sang papi yang berubah hangat, tiba-tiba, dia ingin menangis, "iya, Pi," ucapnya lirih, menahan air mata yang  nyaris terjatuh.


 


 


Ardi mendekat saat pelukan mereka sudah terlepas, dari tatapannya yang masih terlihat acuh, pemuda itu tau masih ada rasa tidak suka dari pria itu terhadap dirinya, dan satu-satunya tanda bahwa seorang Hendrik mulai melunak, saat Ardi mencium punggung tangannya, pria itu tidak menolak.


 


 


***


 


 


Ardi mengerang malas saat Karin menarik selimut dari tubuhnya, dengan kuat pemuda itu menarik benda itu kembali hingga Karin ikut tersungkur.


 


 


Ardi tertawa saat gadis itu menubruk tubuhnya, dan yang membuat Karin semakin kesal ketika dia hendak beranjak, abangnya itu malah menggulung tubuhnya dengan selimut hingga dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


 


 


"Abaaang! Mati ini Karin nggak bisa napas," omel gadis itu yang tergulung di dalam selimut.


 


 


"Bayi gede." Ardi menyingkap selimut di bagian kepala, hanya menyembulkan wajah gadis itu yang terlihat marah.


 


 


"Abang!" Bentak Karin kesal.


 


 


Ardi tertawa, memeluk gadis itu seperti guling, tubuh Karin yang terlilit seperti bayi dibedong amat menggemaskan hingga membuat pemuda itu mencium pipinya berkali-kali.


 


 

__ADS_1


"Ampun nggak?" Ardi mencoba memberi penawaran.


 


 


Karin menggeleng, "nggak!" Jawaban itu membuatArdi kembali melancarkan ciuman bertubi-tubi. "Iya Ampuun," teriak gadis itu menyerah.


 


 


Ardi menopang kepalanya dengan tangan kanan yang ia tekuk, berbaring miring menghadap gadis yang rambutnya terlihat acak-acakan. Pemuda itu merapikan helaian yang menutupi wajah Karin, menatapnya dengan diam.


 


 


"Abang kok belum siap-siap? Emang nggak kuliah?" Tanya Karin.


 


 


Ardi tertegun, bingung harus memberikan jawaban bagaimana, pasalnya dia memang sudah tidak masuk kuliah lagi, pemuda itu menggeleng, "nggak," jawabnya.


 


 


"Kenapa?"


 


 


Ardi mulai berpikir, mungkin ini saatnya dia mengatakan bahwa dirinya akan pergi, tapi.... "Dek, gue mau ngomong."


 


 


Karin yang semula sibuk berusaha melepaskan diri dari lilitan selimut di tubuhnya jadi menoleh, "apa?" Tanyanya.


 


 


"Tapi lo jangan marah ya?"


 


 


Karin mengangguk, "apa sih, Bang?"


 


 


"Gue...." Ardi tampak ragu. "Gue mau pergi, Dek, gue mau kuliah di luar Negri, cuman bentar kok, nanti pulang lagi, tunggu gue pulang, tolong jangan berpaling."


 


 


Hening, denting jam dinding yang terdengar lebih mendominasi bersahutan dengan detak jantung nya sendiri. Entah kenapa membuat suasana kamar di pagi hari itu terlihat sepi.


 


 


"Bang?" Tegur Karin, "katanya mau ngomong, kenapa diem aja si?"


 


 


Ardi mengerjap dua kali, tidak sadar ternyata dia malah berbicara dalam hati. "Nanti aja deh," ucapnya, meloncat turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.


 


 


"Abaaang, buka dulu ini selimutnya elaah."



Poinnya tolong kencengin ya, jan lupa, semangat ya ngumpulin poinnya.

__ADS_1



__ADS_2