NOISY GIRL

NOISY GIRL
MOMEN


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Ardi sudah duduk di motor menunggu Karin di depan gerbang sekolahnya.


 


 


Sesekali pemuda itu menggerakkan kakinya yang semalam sempat terkilir, sepertinya sudah benar-benar sembuh saat Justin, abangnya nyaris membuat kakinya terputus tadi malam.


 


 


Pengalaman pertama Ardi diurut dengan begitu brutal. Meski langsung sembuh, dia tidak ingin lagi menunjukkan bagian tubuh manapun pada sang abang jika nanti terkilir lagi. Sakitnya kaya dighibahin mantan, anjirr.


 


 


Pemuda itu beranjak berdiri saat mobil mewah berhenti agak jauh di hadapannya, kemudian mendekat.


 


 


"Bang!" Panggil Karin saat gadis itu menuruni mobil, namun kemudian di hadang oleh orang suruhan sang papi yang mengawalnya ke sekolah.


 


Ardi berdecak, adegan ini dia hafal sekali, seperti adegan dalam film-film mafia kan, masa iya pengen ngobrol aja meski baku hantam dulu, bukannya dia takut, males aja jadi tontonan.


 


 


"Gue pengen ngomong bentar sama majikan lo," ucap Ardi santai saat satu pria berbadan besar dengan seragam hitamnya itu juga menghadang dirinya.


 


 


"Maaf, bos saya bilang Non Karin dilarang menemui pemuda bernama Ardian," jawab pria itu kaku.


 


 


Ardi berdecak, melengos kesal kemudian menoleh lagi, "Nama gue Bambang, bukan Ardian, masih boleh ngomong nggak," pintanya memaksa.


 


 


Karin yang sebenarnya merasa sedih malah memilih untuk tertawa, abangnya itu ada-ada saja, pikirnya.


 


 


Pria bertubuh tegap di hadapnnya itu membuka ponselnya, menyamakan wajah di foto dengan pemuda di hadapnnya.


 


 


Dan hasilnya sama, pria itu menggeleng. "Maaf ya Bambang Ardian, anda tidak bisa menemui majikan kami," ujarnya setengah meledek.


 


 


Setan! Umpat Ardi dalam hati, menoleh pada Karin yang digiring masuk ke area sekolah, beberapa murid di sana tampak berkerumun mulai menonton, dan Ardi memilih untuk mengalah.


 


 


"Bilangin sama Bos lo, jangan lebay!" Ardi jadi kesal, dan diabaikan oleh mereka yang malah mengobrol dengan satpam di sana.


 


 


Pemuda itu menaiki motornya, bersiap pergi saat melihat gadis yang ia kenal sebagai teman sebangku Karin turun dari motor ojolnya.


 


 


"Temen sebangku Karin!" panggil Ardi, yang membuat gadis bernama Maya menolehkan kepala.


 


 


"A, abang ada apa?" Tanya Maya, entah kenapa dia jadi gerogi sendiri.


 


 


Ardi menuruni motor, melepas helm kemudian mendekati gadis itu. "Lo temen sebangku Karin kan?" Tanyanya memastikan, dan saat Maya menganggukkan kepala, dia hendak berucap lagi, tapi menyadari dua pria suruhan Hendrik yang membuatnya jadi muak malah ikut menyimak dia menggantungkan ucapannya.


 


 


"Sini lo gue bisikin."


 


 


Maya reflek mundur saat abang temannya itu mencondongkan kepala,  "jangan bisik-bisik, Bang. Nanti akunya baper," tolaknya.


 


 


Ardi kembali menegakkan tubuhnya, menghela napas, beneran teman sebangku Karin, dia nggak mungkin salah, gesreknya sama soalnya. "Yaudah minjem buku sini," pintanya.


 


 


Maya mengangguk, mengambil buku tulis dari dalam tas dan membukanya di halaman yang kosong.


 


 


Ardi mengambil pulpen dari dalam tasnya, kemudian menuliskan sesuatu. "Tolong kasih Karin ya," ucapnya.


 


 


Maya membentuk hurup o dengan jari, "ok, Bang," ucapnya, kemudian melambaikan tangan saat motor abang temannya itu pergi.


 


 


Gadis itu mengambil pulpen hitam yang pemuda itu tidak sengaja tinggalkan di bukunya, kemudian ia genggam. "Nggak bakalan gue balikin, nggak bakalan gue balikiin," rapalnya sepanjang jalan menuju kelas.


 


 


"Kenapa lo, May?" Tanya Karin saat mendapati temannya itu senyum-senyum sendiri.


 


 


Maya menduduki kursi di sebelah Karin yang menopang dagu di atas meja. "Nih ada pesan dari abang lo," ucapnya menyodorkan buku pada teman sebangkunya itu.


 


 


Karin membuka benda di tangannya, langsung pada bagian kertas yang terlipat, kemudian tersenyum sendiri, menoleh pada Maya yang tampak menimang-nimang pulpen yang kemudian ia rebut.


 


 


"Eh, itu udah jadi hak milik gue." Protes Maya.


 


 


"Ini tuh pulpen gue." Karin menunjukkan kertas kecil bertuliskan nama dirinya dengan diakhiri bentuk love yang melingkar di dalam benda tersebut.


 


 


Maya mengernyit, "dih, bucinnya, pulpen aja dinamain nama lo masa," sindirnya yang membuat Karin tertawa.


 


 


"Bukan, ini emang pulpen gue si, waktu itu dia minjem."


 


 


Maya mendesah kecewa, "gagal dong gue dapet kenang-kenangan dari si abang ganteng," ucapnya yang mendapatkan toyoran di kepala.


 


 


"Nikung si terang-terangan." Karin jadi kesal, dan Maya kemudian tertawa.


 


 


"Nanti kalo lo putus sama abang lo langsung bilangin gue ya, gue bakal jadi orang pertama yang gantiin," tekad Maya.


 


 


Karin berdecih, "sialaan!" umpatnya kesal. Temannya ini waktu kecil di suntik vaksin apa nggak si, ngeselin.


 


 


"Pesan abang lo apaan tuh, boleh tau dong gue." Maya mencondongkan tubuhnya pada Karin yang merobek kertas berisi tulisan dari Ardi.


 


 


"Emangnya lo belum baca?" Tanya Karin.


 


 


Maya terdiam, "iya ya, kenapa tadi nggak gue baca aja ya, abisnya gue kesenengan dapet pulpen dari si abang," tuturnya. "Apa dong tulisannya, penasaran gue," desaknya kemudian.


 


 


Karin berdecak sebal, "yaudah nih gue bacain," ucapnya, kemudian kembali membuka lipatan kertas di tangannya. "Karin sayaang, pulpen yang aku pinjem udah dititipin temen kamu ya, love you, muah muah."


 


 


"Dih amit-amit, najis." Maya mengumpat kesal. "Udah gitu doang? Rugi banget buku gue selembar, balikiiin," omelnya dengan menarik seragam Karin dengan buas.


 


 


Karin tertawa, mengabaikan keadaan hatinya yang masih merana, apalagi jika melihat orang suruhan sang papi yang terus mengawasinya di depan kelas.


 


 


Dia jadi berpikir keras, bagaimana dirinya bisa menemui sang abang sepulang sekolah nanti, sesuai permintaan pemuda itu yang tertulis dalam buku.


 


 


"Nomor lo nggak aktif ya, Rin?" Tanya Maya saat mereka sudah mulai belajar, berhubung guru yang mengajar pamit pergi sebentar, teman sebangkunya itu malah memulai percakapan.


 


 


"Hp gue disita sama papi," Jawab Karin, menyalin catatan di papan tulis ke dalam bukunya. Semalam mereka memang sempat bertukar cerita lewat pesan wa tentang keadaan gadis itu. Dan saat akan berangkat sekolah sang papi malah mengambil ponselnya.

__ADS_1


 


 


Maya menyentuh pundak temannya itu, "sabar ya Rin, istirahat nanti gue traktir deh biar lo nggak sedih."


 


 


Dengan antusias Karin menoleh, "traktir apa nih?"


 


 


"Gue beliin ketoprak rahasia."


 


 


"Rahasia apa?"


 


 


"Pokoknya rahasia lah, nggak dikasih tahu," canda Maya yang terkesan garing.


 


 


Tapi entah kenapa Karin bisa tertawa, "tapi gue maunya pake tahu, gimana dong."


 


 


"Yaudah, nanti kita cari tahu," tukas Maya, ikut menyalin catatan di papan tulis.


 


 


Karin tertawa lagi, terkadang dia sadar, ternyata dia tidak punya banyak teman, hanya ada satu Maya. Tapi dia juga sadar, bahwa hanya dengan satu, seorang Maya, ternyata bisa mewakili semuanya.


 


 


***


 


 


Saat bel pulang sekolah berbunyi, Karin berjalan di koridor sekolah sendirian, dan satu pria berbadan besar suruhan sang papi itu terus mengekorinya. Terkadang dia malu menjadi tontonan, dan rasanya ia ingin lari dan bersembunyi sampai tidak bisa lagi ditemukan.


 


 


"Om, aku mau ke toilet dulu yah," ucap Karin, dan setelah mengangguk patuh, pria berseragam hitam itu mengikuti anak majikannya menuju kamar mandi.


 


 


Di depan pintu ruangan bertuliskan kamar mandi perempuan, Karin mengambil satu masker dari dalam tas, kemudian mengenakannya.


 


 


"Kenapa Non Karin pake masker?"


 


 


"Ah iya, soalnya kamar mandinya bau, aku nggak suka," jawab Karin, setelah itu masuk ke dalam ruangan kamar mandi yang disambut oleh Maya.


 


 


Pada temannya, Karin bercerita tentang isi tulisan dalam kertas tadi pagi yang sebenarnya. Dan Maya bersedia membantu.


 


 


Setelah bertukar tas dan sepatu, maya menguncir rambutnya menggunakan ikat rambut Karin, tidak lupa juga mengenakan masker untuk mengelabuhi orang suruhan papi temannya itu.


 


 


Maya pun keluar lalu melangkah pergi, dan bodohnya terus diikuti oleh bodyguard suruhan sang papi, Karin jadi tertawa sendiri.


 


 


Gadis itu berlari ke belakang sekolah, sebuah jalan rahasia tempat anak bandel bolos pelajaran dengan melewati tembok pembatas area sekolah yang sudah roboh.


 


 


Di sana Ardi sudah siap duduk di atas motornya, menyerahkan helm pada gadis itu.


 


 


"Kita mau kemana, Bang?" Tanya Karin saat pelindung kepalanya itu sudah terpasang dengan sempurna.


 


 


"Nganterin lo pulang," Jawab Ardi enteng.


 


 


"Pulang ke mana?"


 


 


 


 


Karin melongo, "ke rahmatuloh aja sekalian, Bang," omelnya kesal, bagaimana tidak, dengan melanggarnya ia untuk tidak bertemu dengan pemuda itu, pulang ke rumah sang papi sama saja mengantarkan nyawa. "Kirain abang mau culik Karin, terus umpetin di mana gitu."


 


 


Ardi tertawa kecil, mengusap pipi gadis di hadapannya dengan sayang, "bersembunyi bukan cara terbaik buat menyelesaikan sebuah masalah," ucapnya menasihati, kemudian mengambil sebuah amplop berukuran besar dan memberikannya pada gadis itu. "Kalo papi lo mau mukul lagi, kasih ini aja, bilangin. Ini Negara hukum, mukul anak sendiripun ada pasal dan undang-undangnya, gue yakin papi lo pasti lebih ngerti masalah kaya gini."


 


 


Karin menerima benda itu, kemudian naik ke atas motor saat sang abang sudah menyuruh. "Beneran pulang?" Tanyanya ragu.


 


 


"Lo pegangan yang kenceng ya."


 


 


"Kenapa emang."


 


 


"Pokoknya pegangan aja."


 


 


Di tempat berbeda, Maya sedikit takut saat pria berbadan besar pengawal Karin itu mengikutinya, tapi dia ingin tertawa juga.


 


 


"Non Karin, mobilnya di sana," ucap pria berseragam hitam itu menunjuk parkiran sekolah. Dan Maya mengabaikannya.


 


 


Saat sampai di depan gerbang, dua orang pengawal Karin yang menunggu di sana ikut menghampiri gadis itu, kini Maya semakin takut saat dihadang tiga orang sekaligus.


 


 


Gadis itu melepaskan masker di wajahnya, dan berhasil membuat ketiga pengawal Karin terkejut. "Maaf, Om ada urusan apa ya? Kok dari tadi ngikutin saya?" Tanyanyanya.


 


 


"woy!" Seru Ardi, yang membuat ketiga ajudan gadis di boncengannya menoleh terkejut. "Tuan putri lo gue culik," imbuhnya kemudian yang membuat mereka kelabakan, mengejar keduanya sampai ke jalanan. Namun kemudian berbalik lagi mengambil mobil yang terparkir di area sekolah.


 


 


Setelah tadi menancap gas saat dua pengawal menghampirinya, Ardi menghentikan motornya di pinggir jalan.


 


 


"Kenapa berenti si, Bang? Nanti kita ketangkep."


 


 


"Kita tungguin aja, mereka pasti bingung  Tuan Putrinya mau dibawa ke mana."


 


 


"Woy! Berhenti." Salah satu pengawal Karin berteriak lewat kaca mobil yang terbuka.


 


 


"Kejar Om!" Ardi kembali menancap gas, membuat gadis di boncengannya mengeratkan pelukan pada pemuda itu.


 


 


Karin tertawa, sesekali berteriak saat sepeda motor abangnya meliuk-liuk di antara pengendara lain, belum lagi ajudan sang papi terus mengejarnya dengan mobil. Sungguh, pengalaman semenegangkan ini baru pertama kali dia alami.


 


 


Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya,  kemudian memejamkan mata. Jika ini hanya mimpi, dia memilih untuk tidak kembali terjaga.


 


 


Ardi terus melajukan motornya saat gerbang rumah Karin sudah dibuka, para pengawal yang mengejarnya di belakang sempat tidak percaya saat pemuda itu berbelok memasuki kediaman bosnya. Tak ayal, mereka merasa lega.


 


 


Karin sangat takut saat mendapati sang papi berdiri di undakan anak tangga depan teras rumahnya, dan Ardi malah menghentikan kendaraannya di hadapan pria itu. Mati lah.


 


 


"Siang, Om," sapa Ardi setelah menuruni motor, Karin yang melakukan hal yang sama tampak menunduk mencengkram lengan jaket abangnya, membuat pemuda itu menoleh.


 

__ADS_1


 


"Masuk!" Bentak Hendrik pada putrinya.


 


 


Karin sedikit terlonjak, menoleh pada abangnya yang tampak mengangguk, mau tidak mau gadis itu pun melangkah masuk.


 


 


"Masih berani kamu mendekati anak saya?" Tanya Hendrik, meski nadanya tampak tenang tapi maknanya begitu mengancam.


 


 


Ardi tersenyum. "Cuma nganterin pulang, Om," ucapnya. "Biasanya juga gitu."


 


 


Mendapati pemuda di hadapannya yang bersikap menjengkelkan, Hendrik jadi naik darah, dengan gerakan tiba-tiba iya melakukan tendangan memutar berniat mengincar kepala pemuda itu.


 


 


Ardi reflek menghindar. Jurus itu ia hafal, dan saat pria berwajah galak itu kembali melancarkan serangannya, dia kembali menghindar, mundur satu langkah, kemudian tersenyum tenang.


 


 


Hendrik sedikit terkejut, tendangannya berkali-kali bisa pemuda itu hindari, usianya yang tidak lagi muda membuat napasnya cepat terengah.


 


 


"Sabuk apa kamu?" Tanya Hendrik saat dapat membaca gerakan pemuda itu menghindari serangannya.


 


 


Ardi cengengesan, "masih kuning, Om," jawabnya berbohong.


 


 


Hendrik tentu tidak percaya, dia juga tidak pernah menyangka bahwa anak muda di hadapannya itu ternyata murid Shinto gendeng. Sialaan.


 


 


"Duelnya lain kali aja, Om," ucap Ardi sopan, kemudian menunduk hormat, "saya masih ada urusan," imbuhnya setelah itu beranjak pergi dengan motornya saat pria calon mertua nya itu menolak bersalaman.


 


 


Di balik jendela, Karin tertawa sendiri, abangnya itu ternyata hebat juga, dan saat melihat sang papi menoleh, dengan cepat ia beranjak pergi.


 


 


"Tunggu, kamu!"


 


 


Seruan sang papi membuat Karin menghentikan langkah kemudian berbalik, merapalkan kalimat jangan takut seperti yang diajarkan oleh abangnya.


 


 


"Saya kan sudah bilang, kamu jangan pernah lagi berhubungan dengan anak itu," bentak Hendrik, Karin sedikit mengernyit. Dan saat melihat tangan papinya itu sudah mengepal dan sedikit terangkat, gadis itu reflek mundur.


 


 


"Papi nggak boleh lagi pukul aku," tantang Karin dengan mengcungkan amplop dari abangnya, sebenarnya dia tidak tau isinya apa, tapi melihat wajah keras sang papi beranjak melunak, dia jadi lega. "Kalo Papi pukul lagi nanti Karin aduin sama Kak Seto," imbuh gadis itu tidak sepenuhnya ngaco.


 


 


Hendrik menghela napas, mengurut pangkal hidungnya, pusing menghadapi dua remaja yang hampir membuatnya jadi gila.


 


 


***


 


 


Siang ini Ardi menepati janjinya pada sang abang untuk menemui pria itu di kantornya.


 


 


"Mbak Indira, saya mau ketemu sama bos, ada nggak?" Tanya Ardi pada sekretaris Justin yang duduk di meja depan ruangan sang kakak.


 


 


"Pak Justin nya pergi, tapi dia bilang kalo Mas Ardi dateng disuruh nunggu aja," ucap sekretaris abangnya itu yang memang cukup mengenal pemuda di hadapannya.


 


 


Ardi mengangguk, memasuki ruangan besar Justin yang tampak kosong, kemudian duduk di sofa, tidak lama kemudian pintu ruangan itu kembali terbuka.


 


 


"Hey, coba lihat siapa di sini?" William menghampiri Ardi dan mengacak rambutnya.


 


 


Ardi berdecak. Pria bule sahabat abangnya  itu selalu saja menganggapnya anak-anak.


 


 


"Bagaimana Karin?" Tanya William, Ardi menceritakan bahwa gadis itu masih di rumah papinya. Dan pria bule itu mengangguk-anggun.


 


 


William sebenarnya sudah tau dari Justin, bahkan pria bule itu ikut menyelidiki kelemahan perusahaan Hendrik Gunawan.


 


 


William duduk di sebelah Ardi, "bagaimana kalo kita culik saja Karin, bawa ke LA, sekalian kamu kuliah di sana," ucap pria bule itu mulai mempengaruhi.


 


 


Ardi tersenyum lebar menanggapi ide gila sahabat sang abang . Jika kakak kandungnya ini adalah William, dan bukan Justin yang kaku, dia mungkin sudah bahagia. Surga dunia pikirnya.


 


 


"Bang Will tolong jangan gila."


 


 


William tertawa, menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Kalian sudah sejauh mana?" Tanyanya kemudian.


 


 


Ardi mengeruthan dahi, kadang arah pembicaraan pria bule itu seringkali membuat dirinya sakit kepala. "Nggak jauh-jauh kok, masih kecil, takut kesasar," jawabnya.


 


 


"Kan ada petunjuk arah, coba-coba bermain ke tempat baru boleh juga."


 


 


Ardi menghela napas, mulai tidak mengerti dengan apa yang mereka tengah bahas.


 


 


"Kata ibu mainnya nggak boleh ke tempat yang nggak dikenal, takut diculik."


 


 


William kembali tertawa, mengacak rambut kepala Ardi gemas, "Justin, Justin," ucapnya. Pria bule itu selalu tidak percaya, pemuda di sampingnya ini benar-benar titisan sahabat nya, sulit dipengaruhi.


 


***iklan***


Author: gue mau tanya\, kalian para netizen sebenernya tau nggak ya sistim update mangatoon. Nggak kaya aplikasi wat*p*d yang gue kirim sekarang\, satu detik kemudian langsung muncul.


Di sini ada sistim riview ya jubaedaah sayang, jadi di riview dulu, alias diperiksa atau apalah namanya, gw gk paham. Kalo lolos baru update.


Kalo lagi angot niya, gue ngirim pagi lulus nya siang, gue ngirim siang lulus nya sore, kalo lagi angot itu. Kalo lagi alot niyah, gue ngirim jam tujuh pagi aja lulus riview nya besok siang. Jadi jangan tarik urat ke saya monmaap.


Netizen: jadi ntor kaga update tiga hari blom lulus riview, kejem amat tim mangatoon thor.


Author: oh mon maap, kalo itu emang gue yng kaga ngirim-ngirim naskah, hehe.


Netizen: author kampret 😒😒


 


 


 


 



Karin: makasih poinnya. Sisain buat hari senin ya.  Buat yg nunggu rencana Justin sabar.



Ardi: muridnya sintho gendeng, jan macem-macem. Kasih poinnya jangan pelit pelit ya 🤣



Justin: monmaap gue blom ngasih penjelasan, iya Visul Justin di OMB gue ganti soalnya kemudaan. Netizen pada komplen.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2