
Ardi kembali mengecek penampilannya di cermin, sudah sempurna, jas pengantin yang disiapkan oleh penata rias tampak pas di badan. Nena menghampirinya, membantu memasangkan dasi agar terlihat rapi.
"Pake jas kaya gini kaya mau ngantor, Mbak."
Nena mendongak menanggapi adiknya yang berkomentar. "Cuma buat ijab kabul aja, nanti juga kamu disuruh ganti baju lagi di sana," balasnya.
"Berapa kali ganti baju?"
"Tergantung, bisa dua kali, bisa tiga kali, belum lagi acara di gedung besok malem, bakal capek kamu, jangan macem-macem dulu." Nena memberi nasihat, namun tidak berani bersitatap dengan sang adik di hadapannya, tangan wanita itu masih sibuk dengan kancing di pergelangan sang adik yang entah kenapa sedikit sulit dikenakan.
Ardi tertawa pelan, kemudian mencondongkan kepala, memperhatikan wajah sang kakak yang matanya tampak berkaca-kaca, "nangis-nangis aja, nggak usah ditahan-tahan," ujarnya mulai menggoda.
Nena mendongak, tatapannya berubah jengkel, dan pukulan di lengan tak ayal wanita itu lancarkan. "Kamu bisa nggak sih serius dikit?" Tanyanya kesal, dia bingung, adiknya ini beberapa jam lagi akan melangsungkan pernikahan, tapi bisa sesantai itu.
"Iya, Mbak, ini juga serius, kalo nggak serius mana bisa sejauh ini si."
Nena kembali menatap wajah sang adik yang tampak berseri, senyumnya tentu terlihat bahagia, ada sedikit gugup di sana. "Jadi suami yang baik, Ar," pesannya yang membuat pemuda di hadapannya mengangguk mantap, meraih dan mencium punggung tangannya meminta do'a.
Nena jadi terharu, air matanya tak kuasa meluncur ke pipi dengan sendirinya, bocah yang dulu sering mengikutinya kemana-mana, dan merengek jika meminta apa-apa, sekarang sudah dewasa, dan akan menikah. Wanita itu membawa sang adik ke dalam pelukannya.
"Sudah siap?" Seruan dari arah pintu penghubung ruang tamu membuat pelukan keduanya terlepas. Justin menghampiri adiknya, kemudian menepuk lengan pemuda itu.
Pada suaminya Nena izin kembali ke dalam kamar, memeriksa kedua putranya, dan mempersiapkan apa yang akan dibawa. Justin mengiyakan.
"Sudah hafal kan?" Tanya Justin.
Ardi mengangguk mengerti, membentuk hurup o dengan jarinya, "insyaallah," ucap pemuda itu.
"Jangan gugup, santai saja, aku di belakang kamu kalo butuh apa-apa."
"Nggak segugup pas dulu abang jadi wali buat Mbak Nena lah pokoknya," sindir pemuda itu yang membuat Justin tertawa pelan. Keduanya menoleh pada sang ibu yang tampak sibuk menyambut para saudara dan tetangga yang akan ikut besan.
"Ayo!" Ajak Justin, bersamaan dengan itu sang istri yang keluar dari kamar tampak bingung mencari salah satu putranya.
"Mas! Nino ke mana yah, dimana-mana nggak ada." Nena yang tampak kesulitan melangkah karena baju kebaya juga kain yang melilit di pinggangnya itu tampak panik.
"Tadi kan di kamar," ucap Justin tenang, anaknya tidak mungkin hilang, "coba cari di kamar mandi," titahnya kemudian.
Nena menjawab tidak ada, wanita itupun sudah mencari ke kamar lain, juga ke seluruh penjuru rumah tapi putranya yang tadi sempat menolak ganti baju itu tetap tidak ditemukan keberadaannya.
Dan limabelas menit setelahnya mereka habiskan untuk mencari keberadaan Nino Nakula, Ardi jadi pusing sendiri, dan sebuah panggilan dari Karin membuat dirinya semakin gelisah, calon istrinya itu bertanya kapan kelurga besar akan datang karena di sana mereka sudah tampak menunggu.
Nena menyentuh kepalanya yang terasa pusing, berjalan mondar-mandir di depan sofa ruang tamu yang di duduki Ardi juga Jino yang tampak seru bermain game di ponsel maminya.
"Gimana bisa ilang sih?" Marlina bertanya, dan mendapat gelengan dari ibu si kembar yang berdiri di hadapannya, wanita itu jadi ikut pusing sendiri.
"Kalo enggak kalian berangkat dulu aja, biar aku yang cari Nino." Nena memberi usul setelah mendapat berita dari Ardi tentang Karin yang sudah mengabarkan situasi di tempatnya.
__ADS_1
Justin yang juga berdiri melangkah menghampiri sang istri dan menyentuh pundaknya,"Nino pasti ada di sini, dia nggak mungkin kemana-mana," ucapnya yakin, masih ada waktu beberapa menit, kita cari sekali lagi."
Ardi menjambak rambut kepalanya, kemudian menyadarkan tubuhnya pada sofa dengan lemas, pemuda itu menoleh pada orang-orang di sekitarnya yang tampak sibuk mencari keberadaan sang keponakan yang entah ada di mana, kemudian dia menoleh pada Jino, lalu menegakkan tubuhnya mendekati anak itu. "Jino Sadewa," panggilnya.
"Hmm." Jino bergumam tanpa menoleh, anak itu tetap fokus pada game online di ponselnya.
Ardi merebut paksa benda di tangan keponaknnya hingga anak itu menoleh marah. "Balikin, Om," omelnya.
"Bang Nino ilang, kamu tau nggak dia ada di mana?"
Jino mengerutkan dahi. "Bang Nino ilang?" Tanyanya mengulang kalimat sang om yang terlihat sedikit berantakan di sebelahnya.
Ardi mengangguk, kemudian bertanya dengan tidak yakin, "kamu tau dia di mana?"
Jino tidak menjawab, malah kembali merebut ponsel dari tangan sang om yang kemudian diam saja, anak itu hendak kembali memainkan benda itu, namun melirik sebentar. "Biasanya Bang Nino kalo ngumpet di dalem lemari," ucapnya.
Ardi yang menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan kemudian reflek menoleh, dahinya mengerut dalam. "Lemari," gumamnya, kemudian beranjak berdiri dan berlari ke kamar si kembar dan membuka benda persegi berisi baju-baju itu di sana, dan benar saja, bocah itu duduk menyembunyikan wajah di lututnya.
"Anak setaaan."
*****
Suasana di dalam mobil pengantin tampak ribut dengan Marlina yang kembali merapikan penampilan putranya, jas yang sempat ia tanggalkan juga dasi yang nyaris ketinggalan di sofa membuat sang ibu terus mengomel sembari memasangkan lagi.
Di jok belakang, Nino yang menolak mengenakan jasnya tampak memberenggut kesal. Nena terus membujuk putranya, sejak anak itu ditemukan di dalam lemari oleh Ardi, dan digendong masuk ke dalam mobil oleh pemuda itu, Nino masih enggan membuka mulut untuk sekedar berkata tidak, akan setiap kepenolakannya.
Bocah itu memberikan tatapan sinis pada Ardi yang mendapat perhatian penuh dari oma Marlina, sepertinya anak itu masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa sang tante yang cantik jelita akan segera diperistri oleh omnya sendiri.
Ardi sedikit mendongak saat sang ibu memasangkan dasi di lehernya, lalu menoleh ke belakang dan mendapati tatapan benci dari sang keponakan yang membuatnya berdecih sinis. Ardi memberi gerakan menusuk kedua matanya dengan dua jari kemudian mengarahkan dua jari itu pada mata bocah yang terus menatapnya tajam. "Lo, gue, musuhan," ucapnya dengan percikan kejengkelan.
Nino melengos, dan ucapan terserah yang meluncur dari bibir mungilnya menjadi kata pertama yang keluar dari mulut kecil bocah itu sejak pagi tadi. Sesaat tatapan keduanya tampak kembali beradu, kemudian kembali melengos dengan kekesalan di hati masing-masing.
"Ok fix, kita nggak kenal."
***
Sesampainya di kediaman mempelai wanita yang adalah rumah besar Hendrik Gunawan, rombongan disambut dengan begitu meriah.
Suara petasan tampak bersahut-sahutan dengan detak jantung Ardi yang mulai berdebaran, padahal sebelumnya dia sudah merasa sangat percaya diri, tapi menatap keramaian yang setiap sorot matanya berpusat pada dirinya itu, dia sedikit merasa gemetaran.
Seseorang yang menepuk pundaknya membuat pemuda itu menoleh, sang abang berbisik menyalurkan ketenangan, entah pria itu yang begitu peka pada dirinya atau memang ketegangan di raut wajahnya terlalu dapat dibaca, tapi hal itu membuat kegugupan Ardi sedikit menguap.
Ardi tersenyum merekah saat prosesi palang pintu yang dibuat mengikuti adat warga setempat sesekali menyinggung dirinya sebagai mempelai pria, dia benar-benar jadi pusat perhatian sekarang.
***
Di satu sisi Nena mengamati adiknya dengan tersenyum, pernikahan adalah awal, mereka baru saja membuka pintu gerbang yang sesungguhnya. Kisah mereka adalah sebuah cerita panjang, yang bahkan paragraf awalnya belum selesai dituang.
__ADS_1
Nena merasa terharu saat Karin berhadapan dengan papinya, dituntun oleh Pak Penghulu, gadis itu meminta izin berupa restu pada sang papi, juga meminta maaf atas kesalahannya.
Wanita itu menoleh saat putra sulungnya beranjak dari duduk, "eh kamu mau kemana?" Tanyanya setengah berbisik, nadanya tampak geram.
Nino yang semula menoleh, kembali melengos, "pulang," ucapnya enteng, kemudian melangkah pergi.
"Eh." Nena beranjak berdiri dan mengejar putranya, takut bocah itu hilang lagi, pikirnya.
"Lepasin, Mi, aku mau pulang," rengek Nino saat sang mami menangkap pergelangan tangannya dan kembali mengajak putranya itu ke tempat duduknya semula.
Nena yang mengejar putranya nyaris sampai gerbang, kemudian kembali ke halaman rumah Hendrik yang dinaungi dengan tenda juga para tamu undangan yang berdesakan. Dan menyadari proses pernikahan adiknya sudah ke tahap ijab kabul, wanita itu tidak ingin melewatkannya.
"Diem jangan ke mana-mana, kalo nggak mami bakalan marah." Nena memberikan ancaman pada putranya yang tampak melengos dan bersidekap. Meskipun tidak mengangguk tapi wanita itu tau, putra sulungnya adalah anak yang penurut.
Nena kembali memfokuskan perhatian pada proses pernikahan, dia melihat Ardi sudah mulai menjabat tangan papi Karin, dan kalimat berupa ijab yang meluncur dari Hendrik tampak lancar, giliran Ardi yang mengucap kalimat berikutnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Karina Larasati binti Hendrik Gunawan dengan mas kawin tersebut tunai."
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah!" Nena mengucap syukur, menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya, dan saat dia menolah, putranya sudah tidak ada. "Eh?"
**iklan**
Netizen: Kenapa harus pake sudut pandang Nena, gak pake sudut pandang Ardi atau Karin. 🤔
Author: ya terserah gue lah ya 🙄
Netizen: nyesel nanya 😒
Author: Soalnya gue gak bisa menggambarkan perasaan mereka 😂 takut baper sendiri.
Netizen: Ada ya begitu, bilang aja bingung nulisnya kan. 😑
Author: nggak sebingung nulis episode selanjutnya lah pokoknya. 😔
Netizen: malem pertama yaa 🤭
Author :😭😭
Netizen: poin thor 😏
Author: 😍 semangat 💪
__ADS_1
Nb. Ini tolong yang baca minta komentar Nexnya biar aku semangat. Semangat juga ngumpulin poinnya buat kalian, belum up tapi ranking udah cantik, sayang banget aku sama kalian 😘😘 makasiih.