NOISY GIRL

NOISY GIRL
BERANI


__ADS_3

Dimas meletakan ponselnya di atas meja, menggaruk rambut kepala yang tidak gatal, dan hal itu mengundang pertanyaan gadis yang duduk di hadapannya.


 


 


"Kenapa sih, Kak?" Tanya Maya saat mendapati kekasihnya itu terlihat gusar.


 


 


Dimas membenarkan letak kacamata yang sedikit melorot kemudian mulai bercerita. "Pak Ardian masa suruh aku cari seribu karangan bunga ucapan selamat," ucapnya datar, pergerakannya semakin gusar. "Cari kemana coba, lagi lockdown begini, toko bunga pun banyak yang tutup pasti," imbuhnya amat frustrasi.


 


 


Maya tertawa, "banyak amat ampe seribu buat apa?" Tanyanya kemudian.


 


 


Pria yang masih menggeleng tidak percaya itu kemudian mengaduk mi pesanannya, "buat peresmian hotel istrinya, kamu kan temenan masa nggak tau."


 


 


Maya sedikit berpikir, "ah iya, Karin bilang sih seminggu lagi peresmian Larasati Hotel. Wah, seminggu loh, Kak. Mau cari kemana seribu bunga."


 


 


Dimas meletakkan sendok, "makanya itu, seribu karangan bunga di mana aku bisa dapat? Nggak sekalian suruh nangkep si covid aja, biar nggak meresahkan warga."


 


 


Maya kembali tertawa, "hati-hati Kak Dimas, harus dapet tuh, kalo kurang satu nanti kamu dikutuk jadi bunga ke seribu."


 


 


Dimas ikut tertawa, beberapa bulan lalu, dirinya yang diangkat menjadi asisten khusus bos mudanya itu tidak pernah menyangka, bahwa tugas yang akan ia emban teramat tidak terduga.


 


 


Setelah sedikit berbasa-basi sembari menghabiskan masing-masing semangkuk mi, Dimas kemudian menelepon atasannya, dan mulai bernegosiasi.


 


 


"Gimana katanya?" Tanya Maya.


 


 


Dimas menghela napas, kemudian mengangkat bahu. "Semampu aku aja katanya, yang penting lebih dari sepuluh."


 


 


"Semangat Kak Dimas," seru Maya, dan kekasihnya itu kemudian tertawa.


 


 


***


 


 


Beberapa hari setelah itu, Karin disibukkan dengan acara peresmian hotel baru, tidak adanya karangan bunga yang berjejer di halaman gedung hotel tidak lantas membuatnya berkecil hati, di sudut sana Oma Rosita juga orang-orangnya tampak puas dengan rencana mereka yang Karin dapat ketahui, sang papi menepuk pundaknya.


 


 


"Tidak apa, yang penting, kita resmikan saja dulu, gunting pita saja sudah cukup kan." Hendrik berucap memberi semangat, pria itu terlalu sibuk mengurus tamu undangan juga keamanan di sana.

__ADS_1


 


 


"Toko bunga yang waktu itu kita datangi membatalkan pesanan kita, Mas." Naya mengutarakan berita yang ia dapat dari orang-orang suruhannya.


 


 


Hendrik mengangguk, dia melirik pada sang tante yang tersenyum penuh kemenangan dan melangkah menghampirinya.


 


 


"Di mana suami kamu." Rosita bersidekap, melirik sinis pada Karin yang berdiri di hadapannya. Mereka sudah berkumpul di halaman hotel, menghadiri acara gunting pita yang juga akan meresmikan hak milik Larasati hotel yang jatuh ke tangan Karin.


 


 


Tentu saja Rosita tidak suka akan hal itu, dan belum sempat dia mendengar ucapan dari gadis muda di hadapannya, beberapa mobil mewah yang datang membuat perhatian semuanya teralihkan.


 


 


Ardi turun dari mobil, bersamaan dengan itu puluhan rangkaian bunga menyusul beberapa mobil berikutnya. Ucapan selamat dari rangkaian bunga yang diturunkan dari mobil-mobil orang suruhannya memenuhi halaman hotel. Dia tersenyum.


 


 


Rosita menyentuh dadanya yang sedikit sesak, bagaimana mungkin hal itu bisa mereka lakukan. Bahkan dia sudah mengeluarkan banyak uangnya untuk membayar orang-orang suruhan yang ia tugaskan menyuap toko bunga yang ada di seluruh kota.


 


 


"Oma." Syerli memegang lengan omanya yang terlihat syok, menahan wanita tua itu agar tidak limbung.


 


 


Rosita mengangkat tangannya, isyarat bahwa dia tidak apa-apa, tapi rasa kecewa membuatnya memilih pergi, tidak ikut menghadiri acara gunting pita yang sejak awal tidak ia setujui.


 


 


 


 


***


 


 


Karin tengah berjalan di koridor hotel saat tiba-tiba seseorang yang muncul sedikit membuatnya terkejut.


 


 


"Hay!" Sapa Syerli, menghadang langkah perempuan itu dan kemudian berjalan pelan memutarinya.


 


 


Karin yang merasa risi kemudian berdecak, "apaan si?" Tanyanya ketus.


 


 


Syerly terkekeh, "kamu nggak berubah ya, dari dulu masih tetep jutek sama aku," sindirnya.


 


 


Perempuan itu melipat kedua lengannya di dada, kemudian menghela napas, "Mau kamu apa sih?" Tanyanya tanpa basa-basi. Dia tau, sang sepupu menemuinya ini pasti bukan niat bersilaturahmi.


 


 

__ADS_1


Sempat tertawa pelan, Syerli kemudian berucap lagi. "Kamu masih muda tapi udah nikah, hamil duluan ya?" Tanyanya semi menuduh.


 


 


Tentu saja mendengar hal itu Karin semakin geram, namun dia tidak mau tersulut emosi, semakin dirinya tidak bisa mengendalikan diri, maka gadis di hadapannya itu pasti akan senang sekali. "Kalo kamu nggak ada hal yang penting buat diomongin, aku pergi," ancamnya, kemudian melangkah.


 


 


Dan Syerli kembali menghadang, "suami kamu boleh juga, kok bisa si kamu dapetin dia."


 


 


Karin berdecak, "Kenapa? Kamu suka sama suami aku?" Tanyanya dengan menekan rasa jengkel.


 


 


"Kalo iya emang kamu mau ngalah." Syerli menantang.


 


 


Dan perempuan di hadapannya itu tertawa mendecih. "Hidup kamu kasian banget sih, Syer, sekolah kamu tinggi tapi cita-citamu rendah," ucapnya. Meski Karin melihat gadis di hadapannya masih menunjukkan raut wajah yang biasa saja, tapi dia tau Syerly pasti amat kesal. "Jadi orang ketiga tuh ibaratnya kaya sebungkus kuaci tau nggak? Udah murah, nyampah." Karin menekankan kalimat terakhir, kemudian berjalan dengan sengaja menyenggolkan bahunya pada lengan gadis di hadapannya.


 


 


Syerly yang termundur satu langkah membuka mulutnya tidak percaya, ingin berucap namun tersendat oleh rasa kesal yang membuat ia kembali menelan kalimatnya, gadis itu tidak menyangka, sepupunya sekarang sudah berani membalas dirinya.


 


 


Karin menoleh, melontarkan tatapan sinis. Dan saat berbalik perempuan itu nyaris menubruk seseorang yang adalah suaminya sendiri.


 


 


"Aku nyariin kamu, Dek," ucap Ardi, terlihat begitu senang telah menemukan sang istri. Selepas dia pamit ke kamar mandi begitu lama, istrinya itu tidak juga kembali.


 


 


Karin menoleh pada Syerli yang masih menatap dirinya, kemudian balik menatap sang suami." Aku bahagia banget hari ini," ucapnya, lalu maju satu langkah dan memeluk suaminya dengan erat.


 


 


Tanpa curiga, Ardi balas memeluk, tertawa pelan dan mengusap puncak kepala perempuan dalam dekapannya. "Iya," balasnya.


 


 


Karin semakin mengeratkan pelukan pada tubuh sang suami, tatapan perempuan itu mengarah tajam pada Syerli, menegaskan tentang hak kepemilikan yang tidak akan pernah ia bagi-bagi.


Tolong dibantu ya temen-temen, masih butuh 600 member lagi buat sampe target. Nanti kalo sampe target bikin part candu deh tapi gk janji ya 😂 pokoknya yg belum gabung ayo buruan gabung grup chat segera. Caranya ada di postingan ig aku adeannisa66 klik beranda Noisy girl ada tulisan ayo chat  di bawah tulisan vote,  atau kalu belum ada berarti noveltoon nya harus diuodate dulu ya. Dan jangan lupa dukungan vote poinnya ya, komen nextnya selalu kutunggu. 


 


 


***iklan***


 


 


Author: ini konfliknya buat sementara udah kelar ya. Setelah ini mungkin cerita ringan-ringan aja.


Netizen: kemaren banyak yang ngadu gak bisa baca episode thor.


Author: iya itu katanya matiin dulu hpnya, atau klo masih gak bisa juga update ulang noveltoonnya.


Netizen: gak banyak hahahihi thor part ini. 🤔


Author: iya ini gw lagi sakit 🤧


Netizen: jan jangan corona thor. 🙄

__ADS_1


Author : Congor lu 😒 mit amit jan ampe.


__ADS_2