
Karin melangkah di lobby sendirian, setelah tadi keluar dari ruangan besar si bos yang adalah abang angkatnya sendiri, pikirannya jadi kian kacau, dia tentu tidak pernah menyangka akan hal itu, dan sekarang yang terpenting adalah makan dulu, dia begitu amat lapar, dan rasa haus di tenggorokannya membuat dia nyaris dehidrasi.
Gadis itu menoleh pada seseorang yang baru saja melewatinya, kemudian fokus lagi pada langkahnya sendiri, namun dia seperti ingat sesuatu, dan kembali menoleh pada seseorang yang juga menoleh ke arahnya.
"Karina Larasati!" Pekik seseorang yang membuat Karin berbalik, melangkah cepat ke arah pintu.
'Plis Bang Bule, tolong pura-pura nggak liat aku aja bisa nggak si,' rutuknya dalam hati, gadis itu tampak merasa tidak enak karena beberapa orang yang berada di Sana sudah menoleh ke arahnya.
"Hey! Kau kemana saja? Ya Tuhan, aku merindukanmu." William berseru senang, menghadang langkah gadis cantik yang tampak menunduk di hadapannya, "berapa tahun kita tidak berjumpa? Kamu semakin cantik saja."
Karin tersenyum tipis, sedikit mengedarkan tatapanya pada keadaan sekitar, yang tampak menoleh dengan tatapan penasaran ke arahnya. "Bang Bule, apa kabar," ucapnya berbasa-basi.
Setelah mengacak puncak kepala gadis di hadapannya, William tersenyum. "Aku baik, kau sendiri?" Tanyanya balik.
Karin mengangguk canggung, kembali tersenyum tipis, "baik juga, Bang Bule, kalau gitu aku duluan ya," pamitnya kemudian melangkah.
William kembali menghadang gadis itu, "buru-buru sekali kamu, ah iya satu minggu lagi aku mengadakan pesta kamu datang ya," ucapnya.
Karin memberanikan diri mengarahkan tatapan matanya pada wajah pria bule yang sudah ia anggap abang nya sendiri, kemudian bertanya. "Pesta apa?"
William tertawa kecil, "aku akan menikah," jawabnya.
Karin tampak ikut senang, "akhirnya ya, Bang. Selamat."
William mengangguk, "kau harus datang, nanti ku siapkan baju khusus untukmu," ucapnya.
Karin tersenyum senang, "bener, Bang?" Tanyanya tidak percaya, dia merasa seperti menjadi bagian dari keluarga jika begitu. "Abang nikahnya sama Mbak Lily, kan?" imbuhnya kemudian.
William sesaat terdiam, kemudian menggeleng, "bukan, tapi dengan orang lain," ucapnya, pria bule itu tampak memberikan senyum dengan terpaksa.
Karin ikut tertegun mendengarnya, merasa sedikit kecewa, apakah kisahnya dengan Bang Ar nanti juga akan berakhir sama. Bertemu di pelaminan menjadi tamu undangan, entah siapa yang akan lebih dulu mengisi daftar tamu di antara mereka berdua.
Belum sempat Karin merespon, seseorang yang baru datang dan menjadi pusat perhatian kemudian menghampiri mereka. "Bang Justin," ucapnya kemudian meraih tangan pria itu untuk diam cium.
"Kamu di sini?" Tanya Justin santai.
Karin mengangguk canggung, "aku nggak tau kalo ternyata ini perusahaan baru abang," ucapnya.
Justin tersenyum sekilas, "ini perusahaan Ardi," ucapnya memberi informasi.
Karin kembali merasa canggung, berada di antara mereka, membuat dirinya merasa telah menjadi penghianat, dan tiba-tiba saja, kepalanya mulai pusing, "Yaudah. Deh, aku istirahat dulu," ucapnya, kemudian kembali menyalami ke dua pria itu satu-satu, dan pamit undur diri setelah itu.
Belum sempat melangkah lebih jauh, seorang wanita dengan dua anak kembarnya yang masih mengenakan seragam TK kemudian membuka pintu utama.
Karin kembali terkejut, belum sempat dia berbalik dan menghindar, si kembar malah memanggil namanya.
"Tante Ariiiin!!"
Karin tersenyum canggung, dilihatnya Mbak Nena tampak terkejut melihat keberadaannya, dan kepala gadis itu semakin pusing, terasa berkunang-kunang kemudian gelap.
"Mamiii Tante Arin pingsan!!"
***
__ADS_1
Justin melipat tangannya di depan dada, di sebelahnya sang adik tampak khawatir memperhatikan gadis yang berbaring lemah di atas kasurnya.
"Bagaimana, Dok, keadaan adik saya?" Tanya Ardi pada dokter keluarga yang dia panggil untuk memeriksa keadaan gadis itu.
Dan sang dokter mengatakan tidak apa-apa, hanya kelelahan dan juga kelaparan, pria berseragam putih itu menduga jika gadis di hadapannya itu kehabisan tenaga, dan belum terkena makanan juga.
Ardi mendesah lega, namun tampak menyesal kenapa hal ini bisa terjadi pada mantan pujaan hatinya yang sampai sekarang masih cinta , apa Gadis itu terlalu keras bekerja, atau tidak ada yang memperhatikannya, lalu apa gunanya dia punya tunangan. Ardi menggerutu dalam hati. Dan sebuah tendanga di kakinya membuatnya refleks mengaduh dan menoleh. "Apa sih, Bang," omelnya.
"Bagaimana bisa kamu membiarkan Karin bekerja sekaras itu, belum makan juga dari pagi, kamu gimana sih, Ar."
Ardi berdecak, kembali mengalihkan tatapannya dari sang abang, "aku nggak tau."
Justin menggeleng, mengusap wajahnya dengan telapak tangan, jika Hendrik tau tentang hal ini adiknya pasti sudah mati. "Bagaimana bisa kamu setidak peduli itu, katanya sayang tapi perhatian pun tidak ada, jika nanti dia sudah menjadi istri kamu bisa-bisa anak itu mati terlantar," omelnya panjang lebar, dan sedikit terdengat berlebihan bagi pemuda itu.
Ardi melengos, sedikit kesal karena sudah dipersalahkan, ya mana dia tau, dan lagi jika nanti memang mereka akan menikah juga pasti dia akan memberikan perhatian, eh tapi, gimana-gimana?
Justin berdehem saat sang adik memberikan tatapan penuh selidik pada kalimat yang ia ucapkan barusan. Sepertinya dia telah kelepasan. "Kamu urus," titahnya, kemudian berbalik pergi.
Ardi menghampiri Karin, entah obat apa yang dokter tadi berikan pada gadis itu, dia hanya bilang bahwa gadis di hadapannya akan tertidur sampai malam.
"Jangan sakit ya, Dek. Cukup hati abang aja yang sakit, kamu jangan ikut-ikutan." Ardi mengusap kening gadis itu, kemudian menciumnya sekilas.
Tatapannya beralih pada bibir Karin yang terbuka secelah, dan pemuda itu menelan ludah, sejenak memejamkan mata, "sialaan," rutuknya.
***
Karin menghela napas berat, perlahan membuka kelopak mata, dan sedikit mengernyit saat cahaya lampu di dalam kamar yang tidak asing itu mengganggu penglihatannya.
Dan suara air dari arah kamar mandi membuat dia menoleh, apa mungkin dia berada di rumah ibu Marlina, jika benar kenapa sampai dia berada di sini, seingatnya dia tadi masih di kantor, dan lebih terkejutnya lagi saat melirik ke arah kaca jendela, suasana di luar tampak sedikit gelap.
Karin turun dari ranjang, tubuhnya yang masih terasa lemas membuat pergerakannya kian limbung, namun dia berusaha untuk melangkah lagi, dan sedikit terlonjak saat pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.
Ardi keluar dengan rambut basah, bertelanjang dada hanya mengenakan handuk putih yang ia lilitkan ke pinggangnya, dan hal itu membuat Karin reflek membuang muka, berlari ke arah pintu.
"Tunggu, Dek!" Ardi mengejar gadis itu, berlari ke atas kasur hingga menginjak benda itu, melompat ke bawah dan malah menubruknya.
"Aduh, Bang Ar kepala aku sakit." Karin yang terdorong ke tembok membuat kepalanya sedikit terbentur.
"Maaf abang kesandung." Ardi tertawa pelan, "kamu mau kemana? Istirahat dulu," ucapnya kemudian.
Karin membuang muka, risi melihat pemuda yang begitu dekat dengannya bertelanjang dada, aroma shampo mint yang menyegarkan menguar ke mana-mana.
"Aku mau pulang."
"Aku anterin."
"Nggak usah, Bang, aku naik ojol aja," ucap Karin, masih menolak menolehkan kepala. Namun mendapati pemuda di hadapannya malah terdiam dia jadi merasa tidak enak.
Ardi meletakkan telapak tangannya pada tembok, mengurung gadis itu dengan ke dua lengannya."Sampe kapan kamu mau menghindar dari aku? Bisa nggak sih kita kembali aja kaya dulu."
Berada di bawah kungkungan tubuh sang abang, Karin semakin menciut, rasanya ia ingin melesak ke balik tembok dan kemudian kabur, "aku nggak menghindar, Bang."
"Kamu beda, kamu berubah."
__ADS_1
Karin memberanikan diri mengarahkan tatapannya pada manik mata pemuda itu, yang terlihat sayu dan penuh luka, "kamu maunya aku kaya gimana? Aku udah punya tunangan, di luar sana ada hati yang harus dijaga."
"Sebelum kamu tau siapa tunangan kamu yang nggak jelas itu, biarin kita kaya dulu," pinta Ardi, pemuda itu menyatukan kening mereka, membuat kepala gadis itu dengan pelan kembali membentur tembok di belakangnya. "Dukung abang buat meyakinkan papi kamu, Dek. Abang nggak bisa berjuang sendirian."
Karin sekuat tenaga untuk tetap menatap wajah pria Yang nyaris tak berjarak di hadapannya, gadis itu menggeleng. "Itu cuman akan nyakitin hati kamu, jika kenyataan nanti kita harus pisah, seenggaknya kita udah belajar untuk terbiasa, Bang."
Ardi memundurkan kepala, menegakkan tubuhnya. "itu nggak masalah, Dek, abang siap sakit hati buat ke dua kali."
"Tapi aku nggak mau liat kamu sakit hati lagi." Karin berucap lirih, menatap pemuda di hadapannya dengan lekat, luka itu semakin jelas terpancar di sana.
"Jika memang harus patah berkali-kali, jatuh lagi dan lagi, bahkan ditusuk bertubi-tubi, mati pun asal kamu yakin bahwa nama kamu nggak akan terganti, nggak apa-apa abang, Dek. Nggak apa-apa."
Karin semakin gusar, bibirnya mulai bergetar, sekuat tenaga dia menahan laju airmatanya. Dan saat pemuda itu menyatukan bibir mereka, dia memilih diam saja.
Ketukan di pintu membuat Karin mendorong dada abangnya, pemuda itu selalu saja tidak peduli dengan keadaan sekitar jika sudah begini.
"Iya." Ardi berjalan ke arah pintu, kemudian membukanya.
Nena tampak mengerutkan dahi, kemudian menoleh pada Karin yang juga menatapnya. "Kamu udah bangun, ayo makan dulu, baru nanti pulang," ucap Nena.
Karin mengangguk, "iya, Mbak Nena," ucapnya, kemudian melangkah ke luar kamar.
Nena masih berdiri di tempatnya melirik pada sang adik curiga.
"Ganggu aja lo," omel Ardi.
Nena mendecih, "ngapain lo," omelnya balik.
Ardi hanya mencebikkan bibir sebagai tanggapan, dan dengan gemas sang Kakak malah mencubit perut pemuda itu.
"Pake baju," omelnya.
"Iyaaaa."
***iklan***
Netizen: kenapa nggak ada adegan anduk mlorot thor, gue nungguin padahal.
Author: yaudah lu bayangin aja sendiri sesuai imajinasi.
Netizen: ragara kemaren lu nulis bang Ar nunggu ditikungan, gue jadi ikut nungguin thor, mana ujan, disemutin, dilalerin, kaga nongol juga Bang Ar nya.
Author: Derita lu itu mah.
Kanjeng ribet: tetangga sebelah misuh misuh minta poin di lapaknya rengking gue jadi ketikung ini. Apa gw juga harus ikutan misuh misuh juga 🤣🤣
Nggak deh, gw mah nyemangatin aja, gw tau ngumpulin poin susah, segini juga udah alhamdulillah, ya bersyukur aja dulu siapa tau ditambah. Semangat ya. Bantu vote yg banyak biar rengking ku kembali. Tetep 🤣
Kanjeng rusuh: banyak yang nggak suka sama sifat gw yang berubah, berubah bucin sama kanjeng ribet. Ya namanya manusia pasti ada berubahnya, mungkin dulu gw cuek karena emang nggak suka, tapi sekalinya suka sama orang nggak bisa kelain hati. Itu sifat gw yang di terapkan sama author. Jadi jan salahin gw, salahin author aja.
Makasih kritikannya, semangat ya ngumpulin poinnya.
Buat yang mau join grup di noveltoon versi terbaru udah ada ya.
__ADS_1