
Menjelang malam, Ardi sudah berada di Cafe Agung, pria itu duduk bersandar sendirian di sofa tempat biasa, menunggu kabar dari sang istri yang beberapa saat lalu ia kirimi pesan dan sampai sekarang belum mendapat balasan.
18:47
Me: Sayang
19:03
Me: Jan lupa makan
19:35
Me: Kangen candu
"Sendiri aja lo?"
Pertanyaan itu membuat Ardi menoleh, Agung mengantarkan kopi pesanannya, kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan sahabatnya itu.
Ardi mengangguk, menegakkan duduknya untuk meraih secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas, mencium aromanya terkadang membuat hatinya lebih tenang. "Ipang mana? Nggak liat dia gue dari tadi," Tanyanya, mendongak dari secangkir kopi, pada Agung yang tampak sibuk pada ponselnya.
"Jemput Lisa," jawab Agung, "lo sendiri, Karin kemana?" Tanyanya.
"Ada kerjaan dia." Ardi menjawab setelah meletakkan kembali cangkir ke atas meja.
Agung tampak mengangguk, "sibuk ya dia, hari minggu masih kerja," komentarnya.
Ardi mengangkat bahu, terlihat sekali bahwa pria itu tampak terganggu. "Kalo nanti lo nikah, lo ngizinin istri lo kerja nggak, Gung?" Tanyanya.
Agung yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu tampak mengangkat alis, kemudian tertawa pelan. "Gue orangnya nggak suka beranda-andai, seandainya nanti gue nikah, gue nggak bisa nentuin boleh kerja apa nggak istri gue," jawabnya.
Ardi berdecih, "itu lo beranda-andai, Nyet!" umpatnya.
Agung tertawa, dalam situasi seperti ini, sahabatnya itu mudah sekali terpancing emosi. "Kenapa? Lo nggak suka istri lo kerja, hah?" Sindirnya.
Alih-alih menanggapi, Ardi kembali meraih secangkir kopi dan menyesapnya sedikit, rasa pahit membuat wajahnya seketika mengernyit. "Gue pribadi maunya istri gue di rumah," curhatnya, masih fokus pada secangkir kopi di tangannya. "Tapi kalo dengan kerja dia merasa lebih bahagia, yaudah lah," imbuhnya, kembali menyesap cairan hitam di tangannya yang terasa semakin pahit.
Agung mengusap dagu, belum sempat menanggapi, kehadiran Ipang mengalihkan perhatian keduanya.
"Jadi bulan madu mau pada kemana?" Ipang bertanya, kemudian mendudukkan dirinya di samping Ardi, menepuk lututnya pelan, membuat pria itu sedikit bergeser.
"Orang yang bulan madu lo yang repot, Pang." Agung berkomentar, menoleh ke samping saat Edo mendudukkan dirinya dan meletakn secangkir kopi ke atas meja. "Lo juga belum keliatan bikin acara honeymoon, ya."
Edo menoleh, "belum sempet, sibuk terus bulan ini," ucapnya.
"Udah nggak usah bulan madu bahasanya, kita liburan aja rame-rame." Ipang memberi usul.
"Boleh juga tuh, udah lama juga kita nggak liburan bareng," balas Edo, melirik Ardi yang sedari tadi diam saja memandangi ponselnya. "Lo ikut Ar?"
Pertanyaan itu membuat Ardi mendongak, "ikut apaan?"
"Yhaaa." Ipang berseru dengan menyandarkan punggulnya pada sofa.
"Kebanyakan mantap-mantap jadi **** dia." Edo berucap sok tau.
Ardi berdecak, "kaya lo nggak aja," balasnya ngawur.
"Eh gue punya aturan, ya," sangkal Edo.
Ardi berdecih, sahabatnya itu seperti tau sekali jika dia tidak punya aturan dalam hal semacam itu. "Aturannya gimana tuh?" Tanyanya dengan nada bercanda, sama-sama sudah menikah, obrolannya sedikit berbeda.
"Pagi, siang, sore malem ya." Agung ikut nimbrung.
"Set, dah kaya minum obat." Ardi menyahut sambil tertawa.
Edo ikut tertawa. "Kalo kuat aja mah, nggak masalah," balasnya.
Ipang menegakkan duduknya, "eh tolong ya, pembahasannya gausah tag matur, gue masih di bawah sumur," ucapnya.
"Umur, woy," ralat Agung.
Ardi melirik keki pada pemuda di sebelahnya, "di bawah umur apaan, ngadoin gue aja tisu magic," adunya.
Edo reflek menoleh, "eh kirain gue doang yang dapet kado tisu ajaib," ucapnya.
"Tisu apaan si?" Agung bertanya bingung.
Ipang tertawa, "beneran ajaib nggak?" Tanyanya.
Edo mengangkat bahu, "belom pernah gue pake," ucapnya, kemudian menoleh pada Ardi. "Tanya dia tuh."
Ardi melengos. "Nggak usah pake begituan gue mah," sangkalnya, padahal dia hanya tidak tau cara pemakaiannya seperti apa.
__ADS_1
"Yah, payah." Ipang meledek.
"Emangnya lo tau, Pang." Agung yang sudah mendapat penjelasan dari Edo perihal kado ajaib, kemudian berkomentar.
"Justru gue mau nanya, efeknya bagus apa nggak."
"Setaaan!" Ardi yang duduk di sebelah Ipang reflek meninju pemuda itu main-main.
Edo menggeleng kan kepala, "siall, dijadiin kelinci percobaan kita," ucapnya yang membuat Ardi tertawa.
"Ya kalo efeknya bagus kan gue mau nyoba." Ipang berucap santai.
Ardi juga Edo melirik pemuda itu dengan tatapan curiga. Namun yang bertanya malah Agung.
"Lu nyoba ama siapa, Pang. Istri aja lo belom punya."
"Eh iya, lupa." Ipang berucap sok polos dengan tampang cengengesan.
Ardi tertawa, "Nggak jelas banget emang si Ipang mah. Kaya chanel tv ikan terbang," komentarnya.
Edo menoleh, "Nggak jelas kenapa emang chanel itu?" Tanyanya.
"Pagi, siang, sore acaranya sinetron hidayah, pas malem dangdutan." Agung yang menjawab, dia tau jokes itu dari status wa seseorang.
"Lah, iya juga." Edo menanggapi sambil tertawa.
Mereka kembali melanjutkan obrolan tidak penting yang seolah tidak ada habisnya. Juga membahas liburan untuk minggu yang akan datang. Ardi sesekali masih mengecek ponselnya. Berharap mendapat balasan dari sang istri. Dan satu pesan masuk membuat bibirnya tersenyum.
Aset candu: maaf sayang baru bales, setengah jam lagi jemput aku ya.
Setelah mengetikkan balasan pria itu mendongak, mendapati Lisa yang sudah berdiri di hadapannya. Ardi menyikut Ipang yang masih tertawa-tawa tanpa menyadari keberadaan kekasihnya.
Ipang menoleh, kemudian beranjak berdiri menghampiri perempuan itu. "Kenapa, Sayang. Katanya mau ngobrol sama Nadia," ucapnya.
"Tadi aku ke kamar mandi, dan ternyata aku dapet, padahal nggak bawa pembalut." Lisa dengan santainya bercerita.
"Alhamdulillah," balas kekasihnya.
Edo menutup mulutnya meredam tawa, dan mendapat teguran dari Agung berupa sikutan atas kelancangannya.
Lisa mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan tanggapan teman-temannya. "Kenapa sih, kalian belum pernah denger perempuan menstruasi?" Tanyanya.
"Belum pernah denger gue, Alya nggak pernah ngadu." Agung menanggapi.
Lisa berdecak, "istri-istri lo belom pernah dateng bulan emang," sindirnya pada kedua pria teman pacarnya yang sudah menikah.
"Udah Lisa," ucap Edo, kemudian melirik pada Ardi yang masih menahan senyum.
"Kalo gue mah belom, jangan dulu deh."
Lisa berdecih sebal, meminta kekasihnya untuk mengantar ke mini market untuk membeli keperluannya.
"Gue minjem motor, Ar."
Ardi mengambil kunci di saku jaket, dan memberikannya pada Ipang. "Jangan lama-lama, bentar lagi gue balik," pesannya.
***
"Nyari yang kaya gimana sih? Ini kan banyak. " Ipang yang mengikuti kekasihnya mencari barang yang ia perlukan itu bertanya heran. Semua yang di rak tampak terlihat sama, apa bedanya.
Lisa mengambil satu bantal berwarna Pink. Membaca keterangannya kemudian ia taruh lagi." Aku nyari yang tipis, anti kerut, terus nggak gampang bocor, buat malemnya yang 29 cm biar tidurnya enak," terangnya panjang lebar, dan kekasihnya malah melongo di tempatnya.
"Ribet yah jadi cewek, beli barang buat dibuang aja banyak syaratnya." Ipang mengambil satu bantal berwarna hijau, "ni bagus, ada antiseptiknya." Dia memberi usul.
Lisa menoleh, kemudian menggeleng. "Nggak ada sayapnya."
Astaga, sayap? Apa lagi coba. "Yaudah aku tunggu di luar aja ya," ucapnya.
Setelah mendapat anggukan dari kekasihnya, Ipang melangkah keluar, menghampiri motor dan mendudukinya.
"Ipang?"
Seruan itu membuat Ipang yang sibuk dengan kaca spion menoleh. Kemudian terkejut.
__ADS_1
"Ya, ampun aku kangen banget sama kamu." perempuan cantik yang sebenarnya ia kenali itu memberikan pelukan.
"Winda." Ipang sedikit mendorongnya, kemudian beranjak berdiri. Dan sedikit terkejut saat menoleh ke arah pintu kaca minimarket, Lisa sudah berdiri di sana menatapnya.
Sibuk memperhatikan pacarnya yang mulai melangkah mendekat, Ipang lengah dengan perempuan yang kembali merapat memberikan pelukan. Dan pria itu kembali mendorongnya.
"Kita itu udah nggak ada hubungan apa-apa, Win. Kamu yang udah ninggalin aku kan." Ipang berucap sedikit panik, terlebih Lisa sudah semakin mendekat.
Perempuan bernama Winda itu tertegun sejenak, "iya, dan aku nyesel, aku pengen kita balikan."
Belum sempat Ipang menanggapi dengan sebuah penolakan, perempuan itu dipanggil teman perempuannya yang tampak terburu-buru, dan menariknya masuk ke dalam mobil.
Ipang sempat bernapas lega, menoleh pada Lisa yang nyaris mendekatinya.
"Pang! Apartemen aku masih alamat yang lama, dan selalu Sepi kaya biasanya, dateng ya, aku tunggu."
Anji*rr, sialaaan. Ipang mengumpat dalam hati, dan mobil di hadapannya itu kemudian melaju pergi. Dia kembali menoleh pada Lisa. Dan perempuan itu melangkah mendahuluinya.
"Yang, aku bisa jelasin." Ipang mengejar kekasihnya dan menghadang langkah perempuan itu.
Lisa berusaha memberikan tatapan acuh, "jelasin apa, udah jelas kok," ucapnya, kemudian membuang muka. Mempunyai kekasih mantan playboy yang sering bergonta-ganti pasangan, seharusnya dia sudah terbiasa akan hal itu. Namun sama saja, rasanya tetap sama. Sakit.
"Mungkin kita emang sempet deket beberapa bulan, tapi aku udah nggak ada hubungan apa-apa sama dia." Ipang mencoba meraih tangan kekasihnya, dan perempuan itu menghindar.
"Dari obrolan kalian, aku bisa menyimpulkan kalo kamu mungkin sering main ke apartemen dia, iya kan?" Lisa bertanya, tatapannya tampak kecewa. Dan dia butuh sebuah penyangkalan.
Ipang terdiam beberapa saat, "pernah. Sekali," jawabnya.
"Bohong!" Tukas Lisa.
"Dua kali." Ipang meralat jawabannya.
"Tuh, kan, kamu pasti bohong."
"Iya, aku minta maaf."
"Segitu mudahnya kamu minta maaf?"
"Ya terus minta maaf yang susah itu kaya gimana?"
"Ipang!" Lisa mendorong pria di hadapannya, kemudian melangkah pergi.
Ipang kembali menyusul kekasihnya, meraih lengan perempuan itu hingga langkahnya terhenti. "Kamu tau masa lalu aku, Lis. Kamu tau seberapa buruknya aku di masa itu, kamu tau," tuturnya dengan menekankan kalimat terakhir, dan perempuan di hadapannya membuang muka. "Tapi itu dulu, sekarang aku udah nggak kaya gitu," Imbuhnya.
Lisa memberanikan diri untuk menatap kekasihnya, "iya aku tau, dan aku benci mendapati hal itu masih terbawa hingga sekarang."
"Nggak, Sayang. Aku udah nggak ada hubungan." Ipang kembali meyakinkan, bahwa hanya perempuan itu yang saat ini menjadi satu-satunya wanita yang ia sayangi, bahkan tidak dengan ibu kandungnya sendiri yang memilih pergi. "Kamu boleh benci sama aku, boleh benci sama masalalu aku. Dan semua yang ada dalam diri aku, tapi satu. Tolong jangan benci hati aku," ucapnya sungguh-sungguh.
Lisa menghapus airmata yang dengan bodohnya meluncur begitu saja, dia memberanikan diri menatap kekasihnya dan bertanya."Kenapa?"
"Karena di situ ada kamu."
Lisa terdiam, sialaaan. Hanya dengan kalimat itu, dan pria di hadapannya sudah termaafkan, segitu saja pertahanan hatinya.
"Kok nangis sih?" Ipang berucap dengan nada menggoda, menghapus air mata di pipi perempuan itu dengan tangannya.
"Aku bukan termasuk perempuan yang sok pura-pura kuat, kalo itu nyakitin, ya aku nangis."
"Yaudah aku minta maaf." Ipang membawa perempuan di hadapannya ke dalam pelukan, dan tidak mendapat penolakan, dia tau dirinya sudah dimaafkan.
**iklan**
Author : komentarnya banyak yang nyuruh nulis adegan panas secara lengkap, nggak nyuruh bikin tutorialnya aja sekalian 😒
Netizen: Tutorial apa dah thor 😅😅
Author: Tutorial cara memasukkan benang ke dalam lubang jarum, yang dijilat-jilat dulu biar tegak. 😑
Netizen: eh gimana-gimana 🤔🤔
Author: Benang ama jarum, Jamal. 😑 Kesel gue lama-lama. 😒
Netizen: nggak usah lama-lama thor, sekarang aja gue udah kesel sama lu 😂
Author: Seteraaah 😑😑
__ADS_1