NOISY GIRL

NOISY GIRL
OH NINO


__ADS_3

Sabtu sore, Nino yang tengah asik bermain game di ponselnya terus dipaksa minum susu oleh sang mami. "Nino nggak suka susu, Mi," tolaknya, menatap wanita di hadapannya itu dengan memelas.


 


 


"Dikit aja sayang, biar sehat kamunya." Nena terus menyodorkan segelas susu putih pada putra pertamanya.


 


 


Nino semakin cemberut. "Nino nggak suka, Mi," tolaknya sekali lagi.


 


 


Nena menghela napas, putranya itu sulit sekali disuruh minum susu, padahal dulu dia suka, "terus kamu maunya minum apa?"


 


 


Nino menggeleng, kembali fokus pada ponsel di tangannya.


 


 


"Apa sih, Mbak?" Ardi yang baru keluar dari kamarnya menemui mereka di ruang keluarga. Pemuda itu penasaran ada keributan apa antara ibu dan anak di hadapannya.


 


 


"Ini, Nino males minum susu," Nena beranjak berdiri, kemudian menyerahkan gelas berisi cairan putih itu pada sang adik yang reflek menerimanya. "Kamu bujuk tuh, sampe mau," ujarnya kemudian melangkah pergi.


 


 


Ardi terlongo di tempatnya, "Kenapa jadi aku si," gerutunya, kemudian melirik sang ponakan yang duduk di sofa panjang memainkan ponselnya.


 


 


Malasnya pemuda itu, selalu ada perdebatan ala orang dewasa jika dia memulai obrolan dengan seorang Nino Nakula, sebagai orang dewasa yang sesungguhnya, terkadang dia merasa malu kalah debat dengan bocah sekecil itu.


 


 


"Minum susu nih." Ardi yang duduk di sofa sebelah anak itu menyodorkan gelas di genggamannya.


 


 


Bocah kecil itu menoleh sekilas dengan wajah bosan, kemudian kembali fokus pada ponsel di tangannya.


 


 


Set, songong banget anak Bang Entin. Pikir Ardi. Pemuda itu menghela napas. "Nino sayang, minum susu sapi nih, biar Pinter," bujuknya sedikit lebih lembut, ditambah senyum pepsoden pula, kurang apa coba usahanya.


 


 


Nino berdecak, "aku nggak mau, Om," tolaknya mulai geram.


 


 


Ardi mencondongkan tubuhnya, melirik wajah tampan sang ponakan yang tampak fokus pada benda di tangannya. "Anak kecil itu harus rajin minum susu sapi, biar Pinter."


 


 


Nino menoleh, dan Ardi sedikit memundurkan kepala, usahanya membujuk anak itu mungkin akan membuahkan hasil.


 


 


"Om tau dari mana kalo minum susu sapi bisa bikin Pinter?" Tanya Nino.


 


 


Ardi jadi berpikir. "Ya kan emang banyak vitaminnya, pasti bikin Pinter lah."


 


 


Nino memberikan tatapan acuh ala sang papi, membuat pemuda itu bisa membayangkan bagaimana dulu abangnya masih seumuran ini. Lucu-lucu ngeselin lah pokoknya.


 


 


"Kalo susu sapi bikin Pinter, emangnya Om pernah liat, anak sapi jadi dokter?"


 


 


"Hah?" Ardi terlongo, "gimana?" Ulangnya.


 


 


Nino berdecak, kembali melengos pada ponsel di tangannya, "om aja yang minum, biar Pinter," tukasnya.


 


 


Eh, sialaaan! Ardi mengumpat dalam hati, sabar Ar sabar, ucapnya menghibur diri. Anak kecil ini, anak kecil, rapalnya tidak berhenti.


 


 


Belum sempat pemuda itu membujuk kembali, sang abang yang keluar dari dapur menghampiri mereka dan duduk di sebelah putranya, mencium kepala anak itu sekilas. "Jangan hape terus kamu," tegurnya lembut.


 


 


"Nino baru main, Pi," sangkal anak itu.


 


 


Justin tidak menanggapi, malah menoleh pada pemuda yang duduk di sebelah putranya. "Ngpain? Kurang gizi kamu?"


 


 


Ardi berdecak, menahan rasa ingin melemparkan gelas di tangan pada ayah dan anak di sebelahnya.


 


 


Menghadapi sepotong Nino saja dia sudah dibuat naik darah, ditambah lagi datang biangnya, kelar sudah hidup Ardian Rahaditia. "Nih, disuruh Mbak Nena buat bujuk anak abang minum susu," ucapnya sembari memberikan gelas di tangan pada Justin.


 


 


Pria itu mengusap kepala sang anak dengan tangan kiri. Dan menyodorkan gelas di tangan kanan pada putranya itu, "ayo kamu minum, papi mau liat."


 


 


Nino menoleh, "papi suka minum susu nggak?" Tanyanya.


 


 


Justin menggeleng, "Nggak," jawabnya, karena memang sejak dulu dia tidak pernah suka dengan rasa minuman berwarna putih itu.


 


 


"Yaudah berarti sama."


 


 


"Yhaaaa!" Ardi jadi tertawa, selain sifatnya, kebiasaan mereka juga ternyata sama.


 


 


"Tapi kan kamu masih dalam masa pertumbuhan, harus rajin minum susu," bujuk pria itu lagi.


 


 


Nino mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangan, beralih menatap sang papi yang terus merayunya, anak itu jadi kesal. "Gini aja deh, Pi, mending papi sama Om Ardi jawab game tebakan di ponsel aku, kalo bener nanti aku minum susunya, tapi kalo salah, kalian aja yang minum susu."


 


 


Ardi jadi tertarik, merasa tertantang, pemuda itu mencondongkan tubuhnya pada benda persegi yang dipegang sang keponakan. "Yaudah jadi," ucapnya menyetujui.


 


 

__ADS_1


"Papi ikutan nggak?" Tanya Nino memastikan.


 


 


Dengan malas Justin mengangguk. "Terserah kamu," ucapnya pasrah.


 


 


Nino memajukan ponselnya, agar sang papi juga omnya itu dapat ikut melihat game yang dia mainkan.


 


 


"Buset, level 107, kelas berat ini." Ardi berucap ngeri, terkadang dia penasaran anak ini IQ nya berapa si.


 


 


Sebuah pertanyaan muncul di layar, anak kelas satu sekolah dasar itu membacakannya. "Ada jalan raya tapi nggak ada mobilnya, ada hutan tapi nggak ada pohonnya, ada kota tapi nggak ada rumahnya?"


 


 


Ardi mengerutkan dahi, kembali membaca soal di layar dan tetap tidak bisa menemukan jawabannya, "apaan?" gumamnya, dan tiba-tiba dia penasaran, bukan dengan jawaban, tapi dengan kenyataan apakah bocah di hadapannya ini bisa menjawab, sedangkan dirinya saja kebingungan.


 


 


"Papi jawab dong." Nino menyodorkan ponselnya pada sang papi.


 


 


Justin melongok sekilas, kemudian berpikir. "Kota mati?" jawabnya.


 


 


Nino mengetikkan 'kota mati' di kolom jawaban. Dan muncul emot  cemberut bertuliskan salah. "Papi keseringan nonton fantasi nih," ledeknya.


 


 


"Om Ardi jawabannya apa?"


 


 


"Nyerah lah," jawab sang om yang malas berpikir.


 


 


Nino melengos, kemudian mengetikkan jawaban di ponselnya, sebuah emot tertawa muncul bertuliskan 'anda benar'.


 


 


Ardi jadi kepo, "apaan itu jawabannya?" Tanyanya penasaran.


 


 


"Peta," jawab Nino, kemudian tersenyum.


 


 


"Anj*r, iya juga." Ardi menepuk jidatnya sendiri, "Nggak kepikiran omnya, Dek."


 


 


"Bilang aja om nggak tau."


 


 


"Astaga."


 


 


Justin tertawa, kemudian mengacak rambut kepala putranya.


 


 


 


 


Justin menoleh pada sang adik yang ternyata juga menoleh padanya. "Kamu duluan," titah pria itu.


 


 


Ardi berdecak, "Abang dulu lah, kan tuaan," usulnya.


 


 


"Ayo papi minum, kan papi kalah," tuntut Nino.


 


 


Justin meminum susu di tangannya dengan mencubit ujung hidung, hanya seteguk, mencicipi rasanya yang sangat aneh, dia jadi sedikit mual. Pria itu memberikan gelas di tangannya pada sang adik.


 


 


"Ayo Om Ardi minum yang banyak," ucap Nino dengan melipat lengannya di dada.


 


 


Ardi menimang gelas di tangannya, kemudian mencari alasan. "Nggak mau, aku nggak biasa minum susu, apalagi pake gelas."


 


 


"Kalo nggak pake gelas pake apa?" Nino jadi bingung.


 


 


"Langsung dari sumbernya," canda Ardi yang kemudian mendapat tendangan di kaki dari sang abang yang wajahnya berubah garang. Pemuda itu mengaduh. "Yaelah bercanda," omelnya.


 


 


Nino yang masih bersidekap kemudian mengerutkan dahi, "Maksudnya langsung dari induk sapi?"


 


 


Mendengar tanggapan polos putranya, Justin tidak bisa untuk tidak tertawa, pria itu menepuk pelan puncak kepala anak itu.


 


 


Ardi mencebik, dengan terpaksa meminum susu di gelasnya, rasanya lumayan.


 


 


"Ada tiga buah cabe, yang satu berwarna merah, cabe ke dua berwarna hijau, cabe ke tiga berwarna kuning, cabe mana yang paling pedas?" Nino membacakan pertanyaan lagi.


 


 


"Cabe-cabean," jawab Ardi asal, dan saat sang abang akan menendang kakinya, pemuda itu reflek menghindar.


 


 


"Cabe merah," jawab Justin.


 


 


Nino menuliskan tebakan sang papi di kolom jawaban. Dan kemudian salah.


 


 


"Cabe ijo lah, rawit kan pedes." Ardi menjawab, sembari duduk di sofa sebelah sang abang.


 


 


"Salah, Om," ucap Nino setelah menuliskan jawaban.

__ADS_1


 


 


"Oh, ya berarti cabe kuning, ko bisa ya, belum pernah coba." Ardi memberi dugaan.


 


 


Nino menggeleng, kemudian menunjukkan layar ponselnya yang bertuliskan benar.


 


 


"Jawabannya apa?" Tanya Justin, entah kenapa dia ikut penasaran.


 


 


"Cabe yang paling pedas itu ya, cabe yang dimakan." Nino memberikan jawaban, bocah itu kembali mengotak atik benda di tangannya.


 


 


"Lah, anj*rr, iya juga." Ardi menggeleng tidak percaya.


 


 


Justin bergumam sendiri, "ya bener sih, klo nggak dimakan, mana tau cabe itu pedes."


 


 


Dengan terpaksa pria itu kembali meminum susu  yang tinggal setengah, dan Ardi pun melakukan hal yang sama. Hingga pertanyaan berikutnya membuat gelas miliknya kosong, anak itu merasa puas.


 


 


"Eh, Pinter banget sih kamu, dari tadi kok bisa bener terus?" Tanya Ardi penasaran. Tidak yakin anak sekecil itu dapat menjawab dengan begitu mudah.


 


 


Nino tampak cengengesan, "aku kan bisa nyari kunci jawabannya di Internet," ujarnya, kemudian mengambil gelas kosong di tangan salah satu dari mereka.


 


 


Justin menepuk jidat, merasa telah dibodohi putranya sendiri.


 


 


Ardi masih terlongo tidak percaya, "tunggu-tunggu, gue dikadalin ya," gumamnya tidak terima.


 


 


Nino tertawa, "Nggak Om, makasih ya, gelasnya udah kosong," ucapnya, kemudian berlari ke arah dapur, di ambang pintu bocah itu berpapasan dengan sang mami. "Mi susunya udah habis," ucapnya bangga.


 


 


Nena tampak bahagia, "Pinternya anak mami," pujinya.


 


 


Nino tersenyum, ke arah sofa yang masih ada omnya juga sang papi di sana, memperhatikannya.


 


 


Justin masih menahan rasa mual di perutnya untuk tidak ia muntahkan, dan Ardi tampak masih menggeleng tidak percaya


 


 


"Mau nambah lagi nggak?" Tawar Nena.


 


 


"Nggak, Mi. Udah kenyang."


 


 


Justin menoleh, "ponakan kamu," ucapnya lirih.


 


 


Ardi berdecak, "anak kamu itu, Bang. "


 


 


***iklan***


 


 


Netizen: Nino namanya Nino Nakula thor, kalo adeknya?


 


 


Author: ya Jino Sadewa. 😅😅


 


 


Netizen: terserah dah. Ah iya sekarang lagi musim virus corona ya, ikut prihatin thor.


 


 


Author: kemaren gue liat di Internet viral ada virus baru yg lebih mematikan dah.


 


 


Netizen: virus apaan thor. 🤔


 


 


Author: virus congorna tatangga. Nyerangnya pas kita dalam keadaan nganggur, nggak punya duit, udah gitu belum dapet jodoh. 😂


 


 


Netizen : seterah thor 😑😑


 


 


Author: yang penting poin aja kencengin. 😆😅😂


 


 


Terkhusus buat jomblo, tetaplah haha hihi walau valentine masih sendiri. 🤣


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2