
Agung beranjak ke arah pintu saat bel di rumahnya terdengar amat nyaring, dia kemudian membuka benda itu. Dilihatnya sang adik yang tampak melambai ke arah jalan raya, sepertinya dia diantarkan oleh seseorang, dan Agung tau orang itu siapa.
Adelina masuk ke dalam rumah dan mencium punggung tangan abangnya, kemudian tersenyum. "Maaf kemaleman," sesalnya.
Agung berdecak, "kamu kenapa makin lengket aja sama Aldo si, mentang-mentang aa diemin," protesnya.
Adelina melirik sekilas, terus melangkah menuju kamarnya, "emangnya kenapa si, kita kan temenan," ucapnya.
Agung mengikuti gadis itu, "temenan nggak sedeket itu Nina," tegas pria itu.
Sang adik yang hendak membuka pintu kemudian berbalik, "aa kenapa si? Aku udah nggak pacaran sama Ka Aldo masih aja dirusuhin," omelnya kesal.
Agung mengusap wajahnya gusar, "kamu punya status sama anak itu aja aa khawatir kamu dibawa-bawa, apalagi cuma temen doang, kalian kemana aja coba sampe selarut ini?" tanyanya mulai curiga.
"Aa jangan mikir yang aneh-aneh deh, orang cuma jalan doang."
Agung terdiam, kemudian menghela napas, "kalian masih menjalin hubungan kan?" tanyanya pelan.
"Kalo iya emang kenapa sih A, lagian nggak ngaruh juga buat hubungan aa sama Alya, toh kita bukan saudara."
Deg!
Sesaat Agung merasa detak jantungnya sempet terhenti, kalimat itu yang selama ini dia takuti, sebuah pengakuan bahwa mereka terlahir bukan dari rahim yang sama, pria itu terdiam seribu bahasa.
Adelina yang merasa telah kelepasan berbicara benar-benar merasa tidak enak, gadis itu terlihat sekali merasa bersalah, "A, maksud aku–," kalimat itu terputus saat pria di hadapannya memilih pergi. "Aa!" Dia mengejarnya.
Agung yang kecewa melangkah cepat menuju kamarnya, kemudian berbalik saat Adelina menarik lengannya dengan keras.
"Aa dengerin Nina dulu," pinta gadis itu.
Agung memandang gadis di hadapannya dengan tatapan teduh, sorot mata itu tampak terluka, "aa emang nggak berhak ngatur kamu kok, kita kan bukan siapa-siapa," ucapnya lirih yang membuat Adelina semakin merasa bersalah.
Gadis itu menangis, "Aa maaf," ucapnya dengan tersendat.
Agung mengangguk, mengusap kepala Adelina dengan sayang. "Aa juga minta maaf udah sering ngatur," ucapnya yang membuat gadis itu menggelengkan kepala. "Aa capek, istirahat dulu ya, kamu juga." Setelah mengatakan itu Agung melepaskan cekalan lengan gadis di hadapannya kemudian masuk ke dalam kamar.
Tangis Adelina semakin pecah, dia lebih suka abangnya itu marah-marah saat dirinya berbuat salah, tapi jika sudah begini dia bisa apa, nada lembut dari pria itu benar-benar membuat dirinya merasa takut, dia berlari ke kamar uminya.
Laila sedikit terkejut saat mendapati Adelina yang menghambur ke dalam pelukannya, wanita yang tengah merapikan selimut itu kemudian duduk di tepi ranjang, dengan sang putri yang menangis di atas pangkuannya. "Ada apa?" tanyanya lembut.
Adelina yang masih tersedu kemudian menceritakan tentang dirinya yang telah salah berbicara, dan wanita yang ia panggil umi itu untuk sesaat diam saja, "Nina harus gimana, Nina takut aa marah," ucapnya.
Laila bingung harus berkata apa, kenyataan bahwa Adelina bukanlah anak kandungnya selalu membuat putra sulung wanita itu merasa marah, Agung tidak suka jika ada yang bilang bahwa mereka bukan saudara, baginya Adelina dan Anggi memiliki status yang sama sebagai adik kandungnya, dan kali ini malah gadis itu sendiri yang menegaskan bahwa mereka bukan siapa-siapa.
"Kamu inget nggak, dulu pas pertama kali kamu tinggal sama umi, orang yang paling senang dengan kedatangan kamu itu aa," tuturnya dengan mengusap kepala Adelina di pangkuannya.
__ADS_1
Adelina semakin tersedu, dia tentu tidak ingat karena dulu masih sangat kecil, tapi yang ia tau, ibunya adalah adik dari Umi Laila, dan saat ia berusia tiga tahun kedua orangtuanya itu meninggal karena kecelakaan, Adelina mulai tinggal bersama Umi Laila.
Gadis itu menggeleng, "Nina nyesel Mi, Nina nyesel udah ngomong gitu sama aa," ucapnya.
"Yaudah, nanti kalo udah reda, dan kamu udah siap, kamu omongin sama aa, kamu juga tau aa orangnya baik, dia pasti mau kok maafin kamu," saran Laila.
Adelina merasa sedikit lebih tenang, gadis itu mendongakkan kepala, dan wanita di hadapannya itu mengusap kedua pipinya.
Belum sempat Laila mengutarakan kalimat berikutnya, suara ketukan di pintu, juga gerakan membuka dari benda itu berhasil membuat perhatian keduanya teralihkan.
Anggi masuk ke dalam kamar, sedikit bingung dengan keadaan kakak perempuannya yang terlihat menyedihkan, tapi dia ingat ingin mengutarakan sesuatu. "Umi, tadi Anggi liat aa pake jaket bawa kunci mobil, mau kemana ya malem-malem gini, pas Anggi tanya dia cuman bilang keluar sebentar," ucapnya.
Adelina seketika beranjak berdiri, berlari keluar kamar uminya untuk mencari sang kakak, namun belum sampai ke depan pintu, suara deru mobil tampak melaju meninggalkan halam rumah itu, Adelina yang terduduk lemas di lantai kemudian menangis.
"Nggak apa-apa paling cuma ke Cafe, bentar lagi juga aa pulang," ucap Laila menenangkan.
"Aa beneran marah sama aku Umii."
***
Cafe Agung memang sudah seperti rumah ke dua bagi pria itu, banyak barang-barangnya yang tersimpan di kamar lantai atas, untuk itu dua hari tidak pulang pun, dia tidak sampai kehabisan baju untuk ganti.
Agung menoleh, merebahkan kepalanya pada sandaran sofa, kemudian menggeleng. "Besok aja," ucapnya.
Melihat itu Ardi menghela napas, "Nggak ada yang salah dari ucapan Adek lo Gung, coba misal lo yang di posisi dia, kalian saling mencintai tapi nggak direstuin, lo pasti tau lah rasanya."
Sejenak Agung berpikir, "mungkin gue emang terlalu egois, entah kenapa sejak Aldo maki-maki gue dulu gue masih ngerasa nggak terima," ujarnya.
Ardi menepuk pundak sahabatnya, "biar Gimana pun juga dia calon abang ipar lo, dia aja rela kok adeknya lo pacarin."
"Dia rela juga karena mau minta hak yang sama sih gue rasa." Agung mengutarakan dugaannya, tentang kebaikan Aldo yang ia rasa ada maksud tertentu di balik itu.
Ardi tertawa pelan, "Kalo pun emang begitu, itu tandanya dia serius sama adek lo Gung, buat cowok sekelas Aldo, gampang banget dia buat nyari perempuan yang mau dipacarin, tapi kenapa dia tetep bertahan, karena dia serius sama Adek lo," ucap Ardi menjelaskan, sempat kenal dengan pria itu di luar Negri, sedikit banyaknya dia tau bahwa Aldo itu bukan pria sembarangan.
"Terus gue mesti gimana Ar?" Agung bertanya lirih tanpa menoleh, tatapannya kosong menghadap langit-langit. "Denger dia bilang bahwa kita bukan siapa-siapa jujur hati gue sakit banget, tapi gue sadar sih, hubungan kita emang nggak berpengaruh apa apa Kalo pun Aldo mau serius sama Nina," jeda setelahnya membuat Agung sejenak berpikir, "dia emang bukan adek kandung gue," ujarnya semakin lirih.
"A Agung." Adelina yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapan mereka membuat keduanya sedikit terkejut, gadis itu mendekat dan duduk di sebelah abangnya. "Aku minta maaf, Aa pulang dong," rengeknya dengan mengguncang lengan Agung yang sudah menegakkan duduknya.
"Udah sih jangan nangis, malu sama Ardi." Agung berkata dengan sedikit meledek, menghapus airmata di pipi sang adik.
Ardi jadi tersenyum, "Nggak tau gue nggak liat," balas pria itu dengan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Bang Ardi bilangin dong, A Agung suruh pulang," pinta Adelina pada sahabat abangnya itu.
Ardi menyenggol lengan Agung yang diam saja, "balik sono," ujarnya kemudian beranjak berdiri, "Gue balik duluan Gung, jemput Karin di rumah maminya," pamit Ardi, tidak lupa juga berpamitan pada Adelina yang mendapat anggukan dari gadis itu.
Selepas kepergian Ardi, Agung kembali memusatkan tatapan teduhnya pada Adelina yang duduk di sebelahnya, gadis itu terlihat canggung.
"Nina minta maaf, A," ucapnya lirih.
Agung menghela napas, "minta maaf buat apa? Kita kan emang bukan–,"
"Aa!" Adelina memotong ucapan pria di hadapannya, "tolong jangan bahas itu lagi Nina bener-bener minta maaf," ucapnya.
Memilih untuk tidak menanggapi, Agung pun bertanya hal lain, "kamu ke sini sama siapa?"
"Sendiri," jawab gadis itu.
"Udah bilang sama umi?"
Adelina menggeleng, "umi sedih banget aa nggak pulang," ucap gadis itu.
Agung tersenyum kecil, "kalo gitu ayo kita pulang," ajaknya yang membuat gadis kesayangannya itu tersenyum senang.
***iklan***
Netizen: katanya episodenya lebih dari satu thor gimana si.
Author: iya ini monmaap ternyata daku sibuk 🤣 episode berikutnya nyusul agak siangan ya. Aku minta sumbangan vote terakhir kalian buat noisy girl minggu ini dong. Minggu depan ganti vote cerita baru.
Netizen: udah ada thor?
Author: udah, cerita tentang Bang Bule. Jangan lupa mampir klik faforit biar nggak ketinggalan update terbaru. Jangan vote dulu ya votenya senin depan aja pas lebaran wkwkwk 😆
Netizen: Judulnya Gadis 100 juta itu ya?
Author: iyaaaa 😆 nanti di NG aku kasih bonus chapter deh kalo sempet jadi tetep faforitin NG ya.
Salam haha hihi. Sumbangan vote terahir buat NG minggu ini ditunggu, jangan lupa faforit in lapak bang bule ya tunggu kelanjutan ceritanya dan gausah vote dulu, votenya buat NG aja 😆
__ADS_1