
Ardi menggulung lengan panjangnya sebatas siku saat pesanannya datang. Dia amat rindu jajanan di kantin biru ini, beberapa tahun tinggal di luar Negri nyatanya tidak membuat pemuda itu ganti selera. "Kenapa si? Ngliatin aja," ucapnya, kemudian tertawa pelan, membuat gadis yang kedapatan tengah mencuri pandang di hadapannya itu mengerjap gugup.
"Nggak, Bang." Karin beralih mengaduk makanan pesanannya sendiri. "Di sana nggak ada makanan kaya gini ya? Abang seneng banget kayaknya," sindir gadis itu.
Ardi tersenyum di sela mengunyah makanannya, "Gue seneng karena ketemu lo, bukan karena makanan ini sih."
Karin seketika menghentikan gerakannya, sedikit melirik sang abang yang ternyata tengah memandangnya juga. "Abang bisa nggak sih manggil nya aku kamu aja, kaya di telfon gitu."
Ardi tampak mengangguk, "Yaudah," ucapnya setuju.
"Tadi katanya abang udah ke rumah, kenapa nggak bawa mobil?"
Ardi masih mengunyah saat setelahnya kemudian menjawab. "Nggak ada orang , pak satpam juga nggak ada, pada kemana si? Kalo bukan si bibi yang baru pulang dari pasar aku pikir, pada pindah rumah kalian."
Karin tertawa, "makanya jangan kelamaan di negri orang, rumah sendiri aja lupa, pak satpam nya lagi mudik."
Ardi hanya tersenyum, tidak menanggapi, fokus dengan makanan di hadapannya sendiri.
"Abang kapan balik lagi ke sananya?"
Pertanyaan itu membuat Ardi menoleh, dia sedikit berpikir. "Ya nanti tiga harian kayaknya."
Karin mengangguk, "Abang semester akhir kan? Pulang nanti udah nggak kesana lagi kan?" Tanyanya penuh selidik.
Sejenak Ardi menghentikan kunyahannya, jika dia bilang pulang ke sini sekalian mau ngurus visa kerja, dan balik lagi lanjutin S2 kira-kira gadis di hadapannya itu akan marah atau tidak ya. Pikirnya.
Pemuda itu perlahan menggeleng," Nggak tau juga, kita kan nggak tau apa yang akan terjadi di masa depan," ucapnya memberi alasan.
"Ya tapi setiap orang kan punya rencana, rencana abang sendiri kedepannya apa?"
"Pengennya sih lamar kamu, tapi belum bisa ngumpulin duit, gimana dong." Entah bercanda atau tidak, nyatanya kalimat itu mampu membuat gadis di hadapannya merona.
"Lamar aku nggak usah pake duit, Bang. Yang penting warisan masih ada."
Ardi jadi tertawa, "nanti abang kerja dulu ya, Dek, bikin perusahaan gede, biar resepsinya bisa nyewa kapal pesiar."
Karin tertawa juga, "amiin jangan, Bang?" Tanyanya.
"Amin, lah."
Beberapa saat setelahnya mereka tampak diam, dan hal itu membuat Ardi leluasa menatap gadis di hadapannya yang tampak tumbuh berbeda, lebih cantik, dan sedikit terlihat bertambah sexi.
Saat pemuda itu kembali fokus pada makanannya, Karin pun mulai berpikir hal yang sama, meski tidak banyak perubahan dari sang abang selain bertambah ganteng saja, pemuda itu pun lebih terlihat gagah dari beberapa tahun sebelumnya.
"Papi kamu gimana kabarnya?" Tanya Ardi. Memecah keheningan.
Karin tersenyum, "setahun yang lalu, papi dapet donor ginjal, dan sejauh ini sih sehat. Pas baru tau papi sakit aku takut banget tau, Bang."
"Kenapa?"
"Karena waktu itupun aku baru tau kalo yang donorin ginjal buat aku tuh, Papi."
Ardi terdiam, dia sebenarnya sudah tau sejak lama, dan entah kenapa hal itu membuatnya merasa takut. Takut jika Karin akan terlalu menuruti keinginan papinya.
"Kamu mau kuliah di mana?" Tanya Ardi, mengganti topik pembicaraan.
Karin mengangkat bahu, "Papi maunya aku kuliah di Jakarta aja sih, nanti katanya mau dibeliin apartemen yang deket kampus gitu."
"Nggak tinggal di rumah, dong?"
"Sesekali pasti aku pulang kok, tapi dari kampus pilihan papi memang kejauhan kalo dari rumah."
Ardi tampak mengangguk, dan ucapan Karin berikutnya berhasil membuatnya terdiam.
"Nanti kalo abang udah lulus, anter jemput Karin ya, Bang. Kaya biasa." Diamnya sang abang membuat gadis itu terlihat bingung. "Bang?" tegurnya.
"Abang Ardiii...."
Mendengar itu perhatian keduanya teralihkan, Ipang tampak berlari dengan gerakan slowmotion dibuat-buat yang memaksa Karin memutar bola mata sebal.
"Abang, adek kangen banget, Bang." Ipang sudah akan memeluk sahabatnya itu namun malah mendapat toyoran di kening dengan telunjuk Ardi yang membuat pelukannya jadi terhenti.
"Aku nggak selebay itu ya, Bang Ipang." Karin yang merasa tersindir melancarkan protesannya.
Agung yang juga ikut bergabung menyalami Ardi kemudian kembali duduk, setelah berbasa-basi menanyakan kabar, mereka kembali saling diam. Mungkin terlalu lama tidak berjumpa, membuat suasana kumpul seperti ini terasa berbeda, ada kerinduan yang tidak mampu diucapkan dengan kata-kata.
"Ada drama apa nih dua tahun lebih nggak saling ketemu?" Tanya Ipang setengah menggoda. Pemuda yang memang sesekali menemui sahabatnya saat libur semester itu tampak biasa saja.
"Apaan, gue baru turun dari taxi aja langsung ditabok pake sepatu." Ardi menceritakan kejadian beberapa saat yang lalu.
Agung tertawa, "Gue pikir lo bakal muncul dari panggung, Ar, ngasih kejutan gitu." Agung mencoba bercanda.
"Itu yang aku pikirkan juga, Bang." Karin menimpali.
"Ya seenggaknya bawa bunga kek, lulusan ini pacarnya yaelah." Ipang ikut menyindir.
"Lebay," ucap Ardi, masih mengaduk mi yang belum habis di mangkuknya. "Gue nggak bisa romantis."
"Tapi sama mbak bule sebelah apartemen mah bisa ya," Kompor Ipang yang membuat Karin menoleh pada sang abang yang tampak tenang.
__ADS_1
"Mbak bule siapa, Bang?" Tanya Karin curiga.
"Ah, Ipang didengerin."
"Jan kompor lo, Pang, baru ketemu ini mereka, masa mau berantem aja." Agung jadi prihatin.
"Lagian siapa suruh pacaran jarak jauh, itu pacaran apa tendangan bebas," ledek Ipang yang mebuat Karin jadi tertawa.
Ardi juga ikut tertawa, "sialan," umpatnya. "Eh, lo berdua nggak pesen makan?" Tanyanya kemudian.
"Udah makan tadi," jawab Agung, mereka tengah berada di kantin kampus saat Ardi mengabari telah pulang dan berada di sekolah Karin, keduanya langsung menyusul.
Ardi mendorong mangkuk kosong di hadapannya, kemudian meminum es teh yang sisa setengah di dalam gelas. Bersamaan dengan itu kedatangan Edo dan Nadia membuat mereka menoleh.
"Wih, udah balik aja lo, perasaan baru kemaren dah lo pamit pergi, tau-tau udah beberapa tahun kemudian ya." Edo berceloteh setelah mengambil kursi dari meja sebelah, kemudian ia duduki.
"Apaan beberapa tahun kemudian, emangnya film, setengah mampus gue di sono," balas Ardi sedikit sewot.
Teman-temannya jadi tertawa. Nadia mengulurkan tangan pada Karin. Mengucapkan selamat atas kelulusannya.
"Ini nih, pasangan lengket, kapan si kalian sebar undangan, nggak sabar gue mau jadi pager bagus," sindir Ipang.
"Eh gue mah santai ya, ntar kalo gue ngundang lo berdua bingung lagi kondangan sama siapa." Edo melontarkan balasan.
"Sialan," umpat Agung, "Gue mah lagi fokus usaha dulu, pacar nomor sekian, abis gimana ya kalo punya pacar, nyari duit setengah mati ngabisinnya setengah sadar."
"Yhaaa, iya juga," balas Nadia.
"Makanya nyarinya yang kaya raya dong, Bang Agung. Yang harta bapaknya gak bakal abis tujuh turunan." Karin memberi saran.
"Yah, gue dapetnya turunan ke delapan mulu," balas Agung.
Edo tertawa, "udah enggak kebagian ya."
"Kebagiannya pas tanjakkan," sambung Nadia, "yah, berat," imbuhnya. "Tapi bagus sih kalo bisa setia mah."
"Emangnya si kutu loncat nih," tunjuk Ardi dengan melempar gulungan tisu pada Ipang di hadapannya. "Siapa aja dibaperin," imbuhnya, kemudian tertawa.
Ipang ikut tertawa, "ya namanya juga usaha."
"Nih, yang dibilang usaha nggak menghianati hasil mah nggak berlaku tuh buat dia, nihil mulu dapetnya."
"Ya abis mau gimana, wajar lah gue cepet jomblo, orang status di ktp aja belum kawin, berlakunya seumur hidup pula, nyumpain jadi bujangan sih gue rasa."
Ardi ikut tertawa bersama teman-temannya yang lain, hal seperti ini yang amat dia rindukan saat berada di tempat yang berbeda dengan mereka, di Sana dia memang punya teman, tapi yang seperti buronan Mitoha, belum ada. Bahkan mungkin tidak akan pernah ada gantinya.
***
Pagi ini, Ardi yang hendak mengambil air minum di dapur menoleh saat pintu kamar Karin terbuka, dan penghuninya yang keluar dari sana membuat pemuda itu membelalakkan mata.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ardi, menghampiri gadis itu yang tengah menutup pintu.
Karin yang semula menunduk sibuk dengan ponselnya kemudian mendongak. "Mau ngelatih senam, Bang, yaudah ya, aku udah kesiangan nih," ucapnya kemudian beranjak pergi.
"Eh tunggu." Ardi mencegah gadis itu dengan meraih lengannya. Membuat Karin melangkah mundur.
"Apa sih, Bang, aku udah kesiangan ini."
"Kamu mau keluar pake pakaian se minim ini, Dek?" Tanya Ardi tidak percaya. Gelas di tangannya ia letakkan di atas meja dekat mereka berdebat.
Karin menoleh pada celananya yang memang pendek, kemudian kembali melirik pada sang abang. "Atuh lah, Bang, mau senam ini masa pake sarung, dikira mau ngeronda dong."
Ardi berdecak, Pinter banget ngeles ni anak, "ganti," titahnya tanpa mau dibantah.
"Aduh, Bang udah siang akunya," rengek Karin sembari melirik jam di pergelangan tangan kirinya.
"Yaudah kamu nggak usah pergi." Ardi mengangkat sebelah kakinya ke arah kusen pintu penghubung ruang depan, menghalangi gadis itu untuk kabur.
Karin berdecak sebal, mencoba berpikir keras dengan apa yang akan dia lakukan, gadis itu pura-pura mengalah dan mundur beberapa langkah, namun saat sang abang menurunkan kakinya. Dia langsung berlari kabur.
"Anak setan!"
Ardi mengejar gadis itu, menangkapnya dari belakang kemudian ia angkat hingga kedua kakinya yang menggantung itu menendang-nendang udara.
"Abang turunin!"
Sepagi ini, bahkan kanjeng mami ataupun asisten rumah tangganya sekalipun, belum ada yang berkunjung ke dapur, dan mereka berdua terus bergulat tanpa seorangpun yang memisahkannya.
Ardi melepaskan gadis itu saat sudah sampai di kamarnya, Karin yang meloncat turun kemudian berbalik menyerang sang abang dengan tendangan kaki yang dengan mudah pemuda itu tangkap.
"Ampun, Bang lepasin lah." Karin menyerah, berdiri dengan satu kaki membuat dirinya nyaris pasrah. Namun masih bisa tertawa juga
"Nurut nggak lo," ucap Ardi memberi penawaran, masih memegang satu kaki gadis itu.
"Iya, Bang aku ganti nih, bajunya."
__ADS_1
Ardi melepaskan kaki Karin, melipat lengannya di depan dada. Tatapannya tampak tidak percaya. "Cuman beberapa taun nggak kepantau aja kamu udah seliar ini, Dek," omel Ardi. "Baju itu nggak pantes buat kamu bawa ke luar rumah," imbuhnya lagi.
Karin mencebik sebal, menirukan gerakan bibir, ketika pemuda di hadapannya itu mengomel. "Iya, elaah," ucapnya, "udah sana keluar, emang abang mau liat aku ganti baju?"
Ardi melengos, berjalan ke arah pintu kemudian membukanya, "Abang tungguin di depan nih, ntar dianterin kalo udah rapi."
Setelah kepergian sang abang, Karin kembali melirik jam di pergelangan tangannya, gadis itu mencari cara untuk keluar tanpa ketahuan pemud itu, tapi bagaimana, pikirnya.
"Dek udah belum?" Dari luar kamar, Ardi mengetuk pintu gadis itu, dan saat terdengar suara jendela terbuka pemuda itu menerobos masuk.
Karin baru meloloskan satu kakinya ketika sang abang yang tiba-tiba masuk memergoki kelakuannya, dan menangkap tubuh gadis itu.
"Mau kemana lo," gemas dengan tingkah gadis itu membuat Ardi kembali menggunakan bahasa gue, lo.
"Ampun, Bang, nggak jadi, tinggi juga ternyata." Karin menarik kembali satu kakinya, dan berniat kembali turun, namun bukan membantu gadis itu, sang abang malah mendorong Karin ke belakang, membuatnya tersangkut di jendela dengan dua kaki yang tergantung ke dalam, dua tangannya mencengkram kuat lengan pemuda itu. "Abang jatoh ini akunya."
"Lo sekarang bandel banget, Ya, Dek, gue lepasin juga nih." Ardi mengancam melepaskan pegangan tangannya dari ke dua lengan gadis itu.
"Jangan abaang, jatoh dari sini encok aku dong." Karin mencoba minta pertolongan, meski takut tapi gadis itu malah tertawa-tawa, dia tau sang abang pasti tidak mungkin membiarkannya terjatuh ke luar jendela, namun yang dia tidak tau, entah sampai kapan pemuda itu akan mempermainkannya."Ampun. Sumpah nggak gitu lagi, Abang."
Merasa sudah puas menggoda sang adik, Ardi menarik lengan Karin agar terduduk tegak di jendela, namun dia yang memilih berpegangan pada kerah baju membuat Ardi terseret dan merapat ke dinding di sela kedua kaki gadis itu.
Keduanya terdiam, dengan Karin yang masih mencengkram kerah baju sang abang, pemuda itu pun refleks menangkap pinggang gadis di hadapannya agar tidak terjatuh.
Ardi sedikit terkejut saat gadis yang nyaris merapatkan tubuhnya itu melingkarkan ke dua tangan di lehernya. Pemuda itu mengerjap gugup. "Jangan mulai, Dek," tegurnya dengan menahan senyum.
Karin tertawa pelan, perlahan menarik kembali ke dua lengannya di leher sang abang, namun pemuda itu mencegahnya.
"Boleh nggak?"
Karin menahan napas, pertanyaan itu yang bertahun-tahun ia tunggu, dan nyatanya mendengar langsung dari pemuda itu. Dia tidak pernah tidak merasa malu.
Ardi tersenyum saat gadis yang duduk di jendela berhadapan dengannya itu mengangguk, pemuda itu membiarkan saja saat Karin lebih dulu menyatukan bibirnya, menyalurkan rasa rindu yang bertahun-tahun tidak bertemu.
Pemuda itu memejamkan mata, dan kembali terbuka saat gerakan liar di bibirnya tiba-tiba terjeda, gadis itu menatapnya dalam.
"Abang kenapa diem aja?" Tanya Karin.
Ardi tersenyum kecil, "kalo gue yang mulai ntar nggak mau berenti."
Karin juga tertawa pelan, mengeratkan rangkulan di leher pemuda itu. "Abang tau nggak dulu waktu kecil cita-cita aku mau jadi apa?"
"Hn? Apa ya? Penulis?"
Karin menggeleng, "Jadi dokter, Bang. Karena aku pikir dengan begitu aku bisa bahagia, tapi sekarang udah nggak mau lagi."
"Kenapa?"
"Karena ternyata buat bahagia nggak sesulit itu, Bang. Aku bisa deket sama abang aja udah bahagia."
Ardi tertawa pelan, "bisa banget kamu, Dek," pujinya.
"Gantian dong, Bang."
"Apa?"
"Gombalin aku lah."
"Abang nggak bisa gombal, Dek."
Karin mencebik, "Bisanya apa sih kamu, Bang?"
Ardi menarik tengkuk Karin, menyatukan bibir keduanya, memberikan gerakan lembut hingga jantung gadis itu berubah ribut. Kemudian ia lepaskan.
"Ngulang candu," ucap Ardi memberi jawaban. "Mau lagi?" Tawarnya, dan kegiatan itu ia ulang kembali, saat gadis di hadapannya memberikan anggukan.
Begitu, berkali-kali, tanpa berhenti sepanjang pagi.
Ardi melepaskan pagutannya, menjatuhkan kening di pundak gadis itu, napasnya tampak memburu. "Ampun, Dek, abang gakunaaa...."
***
Netizen: Apaan gakuna thor, typo ya.
Author : masa lu nggak tau kepanjangan gakuna?
Netizen: kaga??
Author: tanya pembaca aja kali ada yang paham.
Karin: kalo mau ceritanya panjang jangan nuntut update tiap hari. Dan klo mau update tiap hari, jangan berharap tulisannya bakal panjang.
Saling mengerti aja kita ya nggak, author ngerti perasaan readers yang penasaran. Readers juga harus ngerti keadaan author yang kerepotan.
Coba dong absen next dikomen, pengen tau aja yang antusias ada berapa 😅
Ardi: Andai jengkol bisa mengurangi rasa jengkel, dan pete bisa menghilangkan rasa bete. Mungkin dunia ini akan lebih damai meskipun agak sedikit bau.
Votenya jangan lupa, ntar aku kabur ke LA 🤣🤣
__ADS_1