
Malam ini, pesta yang diperuntukkan bagi kalangan anak muda teman-teman Edo dan Nadia berjalan dengan meriah, banyak kuis dan game-game kecil berhadiah menarik yang diselenggarakan oleh panitia.
Di dalam mobil, Karin tersenyum-senyum memandangi buket bunga mawar merah di tangannya, bunga itu ia dapatkan dari pasangan pengantin, dan uniknya bukan dengan cara dilempar, melainkan dengan langsung diberikan pada dirinya. Biar cepet nyusul katanya.
Gadis itu menoleh saat pemuda yang duduk di balik kemudi menjawel dagunya.
"Senyum-senyum terus kamu," tegur Ardi, melirik sekilas pada sang tunangan yang duduk di sebelahnya, kemudian kembali fokus pada jalan raya di depan sana.
Karin tertawa pelan, "aku seneng, Bang," ujarnya dengan menunjukkan kotak kado berukuran sedang di tangannya.
Kado itu ia dapat langsung dari Nadia saat dia dan Ardi terpilih menjadi pasangan paling serasi nomor dua di pesta itu, setelah pasangan pengantin itu sendiri tentunya. Sepertinya hal itu memang sudah dipersiapkan.
"Coba aja buka, apa isinya." Ardi memberi usul.
Setelah meletakkan buket bunga di tangan ke pangkuannya, Karin beralih membuka kotak kado dengan hati-hati, di dalamnya ternyata sebuah dus kecil, gadis itu membukanya, "kotak musik," gumamnya kemudian menoleh pada sang tunangan di sebelahnya yang entah kenapa malah tertawa.
"Inget nggak pas kita dulu beli kado buat ulang tahun Nadia?" Tanya Ardi.
Karin yang langsung mengerti kemudian tertawa pelan, kotak musik ini adalah yang dulu mereka jatuhkan pilihan sebagai kado untuk perempuan itu.
"Mungkin Nadia dan Edo sengaja, memilih kita sebagai pasangan serasi nomor dua setelah mereka...."
"Biar bisa ngasih ini," lanjut Karin, kotak di tangannya ia buka, dan nada lembut mengalun dari sana.
Ardi mengangguk, mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap kepala gadis di sebelahnya itu dengan sayang. "Mampir ke rumah dulu ya?"
Karin menoleh, "mau ngapain?" Tanyanya sedikit waspada, sejak abangnya tau mereka sudah ditunangkan, pemuda itu tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan di manapun.
Melihat ekspresi kekasihnya itu Ardi jadi terkekeh, "tenang aja, rumah nggak sepi, ibu kangen katanya."
Karin berdecih, "kamu pernah, Bang, pake alesan itu, tapi boong," omel Karin.
Ardi menahan senyum, "kali ini nggak bohong, sayang," godanya, "sekalian ambil soufenir, nanti kita bawa ke rumah kamu," imbuh pemuda itu.
***
Nino tengah membaca buku di ruang tv saat kemudian seseorang yang datang membuat anak itu menoleh, wajahnya berseri-seri.
"Hay Nino ganteng," sapa Karin, gadis itu memang gencar sekali menggoda bocah kecil di hadapannya. Daripada Jino, Nino lebih sering tersipu saat dirinya mulai memuji.
"Hay," balas Nino. "Tante Karin cantik banget," pujinya balik, buku di tangannya ia taruh di atas meja.
"Makasih." Karin mencubit pipi bocah di hadapannya, kemudian menoleh pada Ardi yang tampak sibuk memindahkan kardus besar berisi soufenir ke dalam mobil.
"Om Ardi bawa apa, Tan?"
"Oh, itu soufenir."
Mata bulat bocah di hadapannya mengerjap, "apa tuh?" Tanyanya penasaran.
Karin sedikit berpikir, "emm, apa ya, semacam cindera mata buat dibagiin pas nikahan nanti," jawabnya dengan bahasa yang mudah dipahami.
Nino menguratkan dahi. "Om Ardi mau nikah?" Tanyanya.
Karin mengangguk, dan saat bocah itu bertanya menikah dengan siapa, gadis itu malah tertawa. "Sama tante lah sayang," jawabnya.
Nino sedikit terhenyak, raut wajahnya berubah keruh, "Nggak boleh!" Bentaknya yang membuat sang tante sedikit terkejut.
Ardi yang sudah kembali, ikut duduk di sebelah tunangannya. "Kenapa?" Tanya Ardi pada keponaknnya yang sudah beranjak berdiri, buku di pangkuannya terjatuh ke lantai.
"Pokoknya Om Ardi nggak boleh ambil Tante Karin dari aku!"
"Hah?" Ardi terlongo, belum sempat mencerna maksud bocah di hadapannya itu, sebuah tendangan mendarat di tulang keringnya.
Ardi mengaduh, dan bocah itu berlari pergi ke kamarnya, pemuda itu tampak tidak percaya, orang ketiga yang dipersiapkan sang penulis skenario adalah keponaknnya sendiri, masih kecil pula.
Karin beranjak berdiri, dan sang tunangan meraih lengannya yang membuat gadis itu menoleh. "Udah biarin aja, namanya juga anak kecil."
Karin kembali duduk, "tapi kayaknya dia kecewa banget, Bang," ucapnya sedikit khawatir. Selama ini Karin memang begitu dekat dengan Nino, bahkan bocah itu pernah berkata agar dirinya menunggu anak itu beranjak dewasa jika ingin menikah nantinya.
Karin pikir itu hanya bercandaan anak kecil saja, hingga kali ini dia melihat anak itu yang begitu kecewa, dia jadi merasa bersalah.
__ADS_1
***
Jino tengah main game di ponselnya saat suara pintu terbuka membuatnya terkejut dan reflek menyembunyikan benda di tangannya ke balik selimut. Namun saat mengetahui yang datang adalah abang kembarnya dia jadi menyesal sudah merasa was-was, dia pikir tadi sang mami atau papinya yang datang, karena orang tuanya itu pasti akan marah jika dia masih main game malam-malam begini.
Nino membanting tubuhnya ke atas kasur, tatapannya lurus pada langit-langit kamar, Jino yang melihat itu jadi ikut memperhatikan ke arah pandang sang abang, dan tidak menemukan apa-apa.
"Kamu kenapa?" Tanya Jino.
Nino menoleh, kemudian berdecak, "kamu masih kecil, nggak bakalan ngerti," ketusnya.
Jino jadi melengos, sekecil-kecilnya dia, hanya berbeda lima menit dua puluh tiga detik dengan sang abang yang memanggilnya anak kecil itu. "Kamu kayaknya lagi kesel," tebaknya, mencoba mengerti, kemudian ikut merebahkan diri di sebelah anak itu.
"Tante Karin mau nikah, sama Om Ardi." Nino berkata tanpa menoleh, entah kenapa menyadari hal itu dia jadi kesal, sebab kata sang papi menikah itu tentang menyatukan dua orang yang saling menyayangi dalam satu ikatan. Sedangkan Tante Karin itu kan sudah berjanji akan menunggunya. Patah hati tidak pernah se-dini ini Ya Tuhan.
Jino tertawa, "lucu kamu, Bang, emangnya Tante Karin beneran mau nungguin kamu dewasa?" Tanyanya setengah meledek, perihal itu, sang abang sudah pernah bercerita dulu.
Nino menoleh, "kata papi laki-laki itu harus mampu menepati janjinya, aku udah janji buat cepet dewasa biar Tante Karin nggak kecewa."
"Om Ardi itu gambaran dewasa yang sesungguhnya, kamu memangnya bisa bersaing, tingginya aja jauh." Jino yang masih merebahkan diri kemudian mengangkat tangannya, mengukur tinggi sang abang yang tidak lebih dari uluran lengannya sendiri.
Nino melengos," dewasa itu kan nggak diukur dari tinggi badan," sangkalnya.
Jino berdecak," Yaudah gini deh, kamu bisa nggak ke sekolah tanpa minta uang jajan sama mami kalo emang beneran udah dewasa?" Tantangnya.
Nino membuka mulut, namun seketika bingung dengan apa yang ingin anak itu utarakan, yang dibilang sang adik benar juga, "aku mau kerja sama papi nanti," tukasnya berapi-api.
Jino jadi tertawa, kemudian duduk bersila menghadap sang abang yang memberikan tatapan tidak suka. "Kita bahkan belum naik kelas dua, dan kamu mau kerja, terus orang dewasa di luar sana bisa apa?"
Sang abang melirik sebentar, kemudian melengos lagi, "kita emang nggak pernah kompak," ucapnya dengan melipat lengan di depan dada.
"Denger ya, Bang, jadi orang dewasa itu nggak enak tau, mereka malah banyak yang pengen jadi kaya kita." Jino berucap serius, kebanyakan bergaul dengan sang abang yang sok dewasa membuat dirinya ketularan gila. "Mereka ingin kembali menjadi anak-anak agar bisa melupakan masalahnya sejenak, kita ini masih ada di posisi pengen sesuatu tinggal minta, kurang enak apa coba?"
Nino ikut beranjak duduk, bersila menghadap saudaranya yang kata orang wajahnya itu bagai pinang dibelah dua."Kamu udah kerjain Pr belum, aku nggak mau ya, pas kita ngumpulin tugas terus kamu ngaku nama aku."
Jino tertawa, "besok aja di sekolah," balasnya enteng, dan hal itu membuat abangnya menggeleng.
Nino menengadahkan tangan, membuat saudara kembar di hadapannya itu mengerutkan dahi. "Mana jatah uang jajan yang dikasih mami buat aku?"
"Bohong, pas aku tadi tanya mami katanya aku udah minta, pasti kamu kan." Nino terus mengomel, menarik piyama yang dikenakan sang adik dengan kesal.
Jino nyaris kabur, namun saudara kembarnya itu malah menariknya hingga jatuh ke kasur. "Ampun, Bang, bercanda doang."
"Bercanda nggak tipu-tipu kaya gitu Jino!" Sang abang yang mengomel, dengan sigap memeriksa saku piyama yang dikenakan adiknya.
"Abis buat jajan tadi sore," ucap Jino dengan berusaha melarikan diri dari sang abang yang mulai menarik celananya.
"Nggak mau tau pokoknya balikin!"
"Nggak ada!!"
"Kalo gitu mobil remot kamu aku ambil."
"Jangaaan!"
Mereka terus bergulat, berdebat, memperebutkan gelar, siapa yang paling dewasa di antara keduanya.
Bagi orang dewasa itu sendiri, bersikap kekanak-kanakan mungkin sesekali perlu. Mencoba tidak memikirkan apa-apa, dan yang dikepala hanya seputar menghabiskan uang jajan yang dijatah orang tua, misalnya.
***
Di pinggir jalan Ardi menghentikan mobilnya, keduanya turun untuk membeli nasi goreng pesanan sang mami, sembari menunggu mereka duduk bersebelahan di bangku. Suasana ibu kota yang tidak pernah sepi padahal malam semakin larut menjadi pemandangan tersendiri.
"Dulu kita sering lewat sini kalo nganterin aku sekolah," ucap Karin memulai obrolan.
Ardi menoleh, "kamu dibonceng pake motor, pas ujan neduhnya di ruko kosong," ucapnya.
Karin mengerutkan dahi, memikirkan apakah ada sesuatu yang terjadi saat mereka berteduh, sepertinya tidak, "sekarang ruko kosong itu udah jadi foto kopi, Bang." Gadis itu menunjuk ruko yang tertutup dan ada spanduk bertuliskan foto kopi di sana, dulu belum ada.
"Jalanan di sini juga pada berubah, dulu di sana masih pemukiman warga, sekarang udah jadi fly over." Ardi menunjuk pilar besar yang menyangga jalan layang.
"Semuanya berubah, kecuali perasaan aku, Bang. Sejak dulu sampe sekarang aku suka sama abang," ucap Karin, kemudian menoleh, sang abang yang juga menatapnya tampak tersenyum.
__ADS_1
"Status kita juga sebentar lagi berubah, Dek." Ardi menatap gadis di sebelahnya itu penuh kasih sayang.
Belum sempat Karin menanggapi, tukang nasi goreng yang mengabarkan bahwa pesanan sudah selesai membuat keromantisan keduanya jadi terjeda, setelah membayar, mereka kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya.
"Ini ditaruh di mana?" Tanya Ardi saat sudah berada di kamar Karin dengan membawa dus berisi soufenir di kedua tangannya.
Karin menunjuk tempat kosong di pojok kamar, gadis itu beranjak ke jendela dan hendak menutupnya, namun dia malah tertegun di sana.
Sebuah pelukan dari belakang membuat Karin menoleh, gadis itu mengulas senyum, "kadang pas malem, aku selalu bayangin abang yang tiba-tiba ketok jendela ini."
Ardi meletakkan dagunya di puncak kepala gadis itu, "ngarep banget aku bakal dateng kayaknya."
Tanpa ragu Karin mengangguk, "setiap abang pulang aku selalu ngerasa kangen," ucapnya jujur.
"Abang juga kangen, Dek, kangen candu." Kalimat itu mendapat sikutan di perutnya, Ardi mengaduh, pelukannya sampai terlepas.
Karin berbalik menghadap pemuda di hadapannya yang tampak menahan tawa, gadis itu melipat lengannya di depan dada. Wajahnya tampak sebal." kamu ngerusak suasana ih," omelnya.
Ardi menyentuh lengan gadis itu hingga lipatannya terlepas, "ngerusak apa sih? Justru semakin romantis tau," ujarnya. Dan Karin melihat tatapan pemuda di hadapanya tampak berbeda, "boleh nggak?" Izinnya.
Karin berdecak, "Nggak boleh," tolaknya, lagian bentar lagi juga kita sah, abang sabar dikit lah," imbuhnya.
"Sejak kita resmi tunangan, kamu jadi pelit sama candu," komentar Ardi, dia memang merasa gadis itu sedikit menghindarinya.
Karin tertegun, Tatapannya jadi bimbang, kemudian melirik sang abang yang tampak memberikan pandangan menunggu. "Kata Mbak Nena, aku harus hati-hati sama kamu, soalnya belum sah."
Ardi tertawa berdecih, "astaga, Mbak Nena kamu jadiin panutan?" Tanyanya, kemudian tertawa pelan.
Karin mengangguk, dan setelah pemuda di hadapannya berkata 'yaudah lah', kemudian berbalik seperti marah, gadis itu menahan lengannya. "Sebentar aja tapi," ucapnya.
Ardi tersenyum miring, mengangkat sebelah alis, sepertinya dia sudah menang. "Nanti aja kalo udah sah," ucapnya jual mahal.
Gadis di hadapannya mengerjap ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi malu. Hal itu terlihat amat menggemaskan di mata pemuda itu.
"Tapi kalo kamu yang cium, aku nggak apa-apa."
Karin mengerjap lagi, seperti mencerna, dan kemudian mendekat dengan perlahan, berjinjit menjangkau wajah sang abang yang tampak tinggi, dia nyaris menyerah. "Nggak bisa, ketinggian kamunya," ucapnya kembali pada posisi semula.
Ardi menahan senyum, dengan gerakan cepat mencondongkan tubuhnya hingga gadis di hadapannya sedikit terkejut dan reflek memundurkan kepala. "Boleh nggak?" Izinnya sekali lagi.
Pemuda itu menyatukan bibirnya saat mendapat anggukan berupa persetujuan dari Karin, satu tangannya menyusup ke balik kaus yang gadis itu kenakan, memberikan usapan lembut dari pinggang sampai depan.
Karin mendorong pemuda itu hingga memberi jarak, tatapannya tampak mengancam.
Pemuda di hadapannya menggigit bibir dengan tersenyum, kemudian mengangkat kedua tangannya ke udara. Kembali mendekatkan wajahnya hingga ketukan di pintu membuat perhatian keduanya teralihkan.
"Karin! Mana nasi goreng pesenan mami?"
***iklan***
Author: untung gue inget tadi beli nasi goreng buat mami Carla. 🙄
Netizen: tadi mah kang nasi goreng gue bisikin aja biar ditambahin peptisida dikit. 😑
Author: metong lah mami mertua Bang Ar nya 😒
Netizen: kesel gue lama lama sama lu thor, fix poin gue tahan. 😑
Author: yaudah kalo gitu nikahannya gue tahan juga. 😏
Netizen: 😭😭😭😭
Buat seseorang yang tahun ini mau nikahan, tetaplah haha hihi walau resepsi ribet sekali 🤣🤣
Semangat ya ngumpulin poinnya. Nikahan Ardi besok kalian diundang tenang aja, amplopnya masuk rekening author 😂
__ADS_1