NOISY GIRL

NOISY GIRL
CEMBURU


__ADS_3

Dering ponsel membuat Ardi yang kembali tertidur setelah solat subuh kemudian terjaga, matanya menyipit, membaca nama kontak yang menyala-nyala di hapenya.


 


 


"Hmm." Sapanya saat tau nama si penelepon.


 


 


"Iya-iya, assalamualaikum," ralat pria itu saat seseorang di seberang sana kemudian mengomel.


 


 


"Iya Nanti, Mbak Nena," tukas Ardi, kemudian mematikan sambungan, setelah mengiyakan saat sang kakak menyuruhnya main ke rumah.


 


 


Ardi menoleh pada jam dinding, pukul tujuh pagi, dan istrinya tidak ada di kamar mereka, setelah ke kamar mandi dan mencuci wajahnya, pria itu beranjak turun dari tangga dan mencari sang istri di dapur, sudah satu minggu mereka menempati apartemen pemberian sang abang, dan selama itu juga mereka memulai kehidupan baru hanya berdua.


 


 


Karin tengah mengaduk masakannya saat tiba-tiba dari arah belakang seseorang melingkarkan lengannya di pinggang, dia menoleh dan mendapati wajah sang suami yang sudah menopang dagu di pundaknya,  hal itu kemudian membuatnya reflek tersenyum. "Udah bangun?" Tanyanya basa-basi.


 


 


Pria itu mengangguk, masih  memperhatikan sang istri meniupi kuah dalam sendok dan kemudian menyodorkan padanya. "Kurang asin," ucap pria itu berkomentar.


 


 


Karin tertawa, "padahal aku udah taroin banyak loh dari tadi," ucapnya.


 


 


Ardi melepaskan rangkulannya, bersandar pada meja dapur dan menghadap perempuan itu. Setelah kembali membubuhkan garam pada masakannya, Karin  menyodorkan sendok lagi pada sang suami yang malah mengerutkan dahi.


 


 


"Ayo cobain lagi," pintanya.


 


 


Ardi yang menurut kemudian membuka mulut, dan istrinya itu tersenyum senang.


 


 


"Kurang apa, Bang?" Tanya Karin.


 


 


Bukan menjawab, pria itu malah meraih tengkuk sang istri dan mencondongkan kepala, menyatukan bibir mereka. Dan istrinya yang meronta memukulkan telapak tangan ke lengannya.


 


 


"Menurut kamu kurang apa?" Ardi bertanya menggoda.


 


 


"Kurangajar," jawab perempuan itu sambil tertawa, kembali memukulkan tangannya yang berhasil ditangkap oleh pria yang cengengesan di hadapannya itu.


 


 


"Oh, kurang lama, sini-sini ayo ulang."


 


 


"Abang!"


 


 


Ardi kembali mendapat tabokan di lengan, dan dia jadi tertawa. "Kdrt terus kamu sama aku," rengeknya.


 


 


Bukan menanggapi Karin malah mencebikkan bibir. "Bang, kenapa ya ibu tuh kalo masak perasaan gak pernah dicicipin tapi langsung pas gitu," ucapnya setelah kembali membubuhkan penyedap rasa pada masakan di hadapannya. "Aku kalo masak dicobain terus sampe sayurnya mau abis."


 


 


Mendengar itu Ardi jadi tertawa, kemudian mengacak puncak kepala sang istri di hadapannya. "Tapi enak kok masakan kamu," pujinya.


 


 


"Iya tapi lama, nyari yang bener-bener pasnya tuh makan waktu banget, sampe rasanya aku kenyang duluan."


 


 


"Nanti belajar lagi sama ibu, kalo nggak mami kamu, siang nanti kita disuruh main," ucap Ardi, kemudian menegakkan tubuhnya, mencium kepala sang istri sekilas lalu beranjak ke ruang tv, "aku tunggu di sofa," ucapnya.


 


 


Karin menoleh, dia jadi berpikir kenapa harus di ruang tv sedangkan di belakangnya itu ada meja makan. Setelah mematikan kompor, perempuan itu menuangkan sup ayam masakannya ke dalam mangkuk. Lalu membawanya menuju sang suami.


 


 


"Kenapa nggak di meja makan aja si, Bang?" Tanya Karin saat meletakan mangkuk di hadapan pria itu.


 


 


Ardi yang masih mengganti chanel dengan remot tv di tangannya, kemudian menoleh. "Aku mau nonton berita," ucapnya, kemudian meletakan benda di tangannya ke atas meja.


 


 


"Mau pake nasi?" Tanya Karin saat suaminya itu meraih mangkuk yang masih mengepulkan uap panas.


 


 


Ardi menggeleng, "ini aja, cukup," balasnya.


 


 


Belum sempat Karin bertanya pendapat sang suami saat menyuapkan sendok pertama, suara bel di pintu membuat keduanya menoleh. "Biar aku aja, Bang."


 


 


Ardi mengangguk, kembali fokus pada berita di televisi yang mengabarkan situasi terkini dari virus yang masih meresahkan akhir-akhir ini. Pria itu menoleh saat sang istri membawa tamunya masuk, dia tau gadis itu bernama Syerli, sepupu Karin yang katanya baru lulus kuliah dari luar Negri.


 


 


"Pagi kakak Ipar," sapanya kemudian duduk di sofa berhadapan dengan pria itu tanpa diminta. "Kakak Ipar makan apa, kebetulan aku bawa makanan loh, buat kalian." Syerli meletakan paperbag yang ia bawa ke atas meja, kemudian membukanya.


 


 


Karin yang duduk di sebelahnya tampak cemberut, dan melihat itu Ardi jadi menahan senyum.


 


 


"Ayo kak, cobain dong, aku yang masak loh." Syerli beralih duduk di sofa tunggal mendekati suami sang sepupu, menyodorkn satu sendok nasi goreng berniat menyuapi pria itu.


 


 


Ardi sedikit memundurkan kepala,  melirik sang istri yang tampak mengeratkan cengkraman pada ujung roknya, raut wajahnya tampak keki dan terlihat amat menggemaskan sekali.


 


 


"Aku bisa sendiri."


 

__ADS_1


 


Ardi yang meletakan mangkuk sup untuk meraih satu kotak berisi nasi goreng semakin membuat Karin merasa kesal, dia benci, suaminya itu lebih memilih masakan orang lain daripada olahannya.


 


 


"Oh, ok." Syerly tersenyum semanis mungkin, apalagi saat pria di hadapannya itu menyuapkan masakannya ke dalam mulut. "Gimana kak?" Tanyanya, tampak sekali meminta pujian.


 


 


Ardi meletakan makanan di tangannya ke atas meja, setelah menelan kunyahannya dia berkomentar. "enak."


 


 


Syerli semakin girang, menoleh pada Karin yang sedari tadi tampak diam saja. "Karin, aku tamu loh di sini, kamu nggak bikinin minum?"


 


 


Ardi menoleh pada istrinya yang mengerjap tersadar, kemudian beranjak berdiri. Pamit ke belakang untuk membuatkan tamunya minuman, pria itu sejenak berpikir, tidak ada stok sianida di dapurnya, jadi masih aman.


 


 


"Kakak Ipar nggak kerja?" Syerli bertanya setelah menyelipkan rambut ke telinga. Entahlah apa maksudnya.


 


 


Ardi menggeleng. "Libur bulan madu," jawabnya yang membuat gadis di hadapannya itu mengerjap canggung.


 


 


"O, ooh," ucap Syerli terbata, bingung harus memberi tanggapan seperti apa. "Makan lagi dong kak, katanya nasi gorengnya enak. Kok dianggurin."


 


 


Ardi melirik makanan di atas meja, kembali menoleh pada gadis di hadapannya, "kata ibuku, tidak boleh berkata tidak enak pada makanan yang kita makan, jadi meskipun rasanya biasa saja, katakanlah itu enak untuk sekedar menghargai pembuatnya."


 


 


Mendengar itu, Syerly kembali mengerjap canggung, beruntung Karin yang datang membawa segelas air putih dapat mengalihkan suasana." Makasih ya Karin," ucapnya. Dan tiba-tiba dia penasaran dengan rasa sup buatan sepupunya itu, "aku mau coba dong masakan kamu."


 


 


Karin menoleh pada suaminya yang tampak memainkan remot di tangan, sesekali mengganti saluran untuk mendapatkan berita yang ia inginkan.


 


 


Pria itu menoleh, "ambilin gih, biar sepupu kamu bisa bedain masakan yang cara buatnya pake perasaan."


 


 


Karin tertawa pelan, kemudian beranjak berdiri, "selain sup kamu mau apalagi? Biar aku nggak bolak-balik terus nih," ucapnya sedikit ketus, dan hal itu membuat gadis di hadapannya menjadi kesal, dia menjawab tidak, sebelum sepupunya beranjak ke dapur lagi.


 


 


"Kakak Ipar kok suka sih sama Karin, dia itu–,"


 


 


"Aku suka sama dia karena apa yang ada pada dirinya, nggak ada pada orang lain." Ardi memotong ucapan gadis itu.


 


 


Syerli tertegun, dia terlihat gusar. Duduk dengan tidak nyaman saat sorot dingin dari pria di hadapannya terasa menghujam. "A, aku...."


 


 


"Kamu ngingetin aku sama uang koin." Ardi berucap setelah meletakan remot ke atas meja, kemudian bersandar di sofa.


 


 


 


 


"Iya, koin," ucap Ardi, menatap gadis di hadapannya penuh arti. "Bermuka dua dan nggak terlalu berharga," imbuhnya.


 


 


Dan Syerli terhenyak di tempatnya, gadis itu tidak pernah menyangka, setelah beberapa hari lalu dikatai seperti kuaci, hari ini malah dibilang seperti koin, Apa-apaan, bahkan masuk angin saja butuh uang bundar itu untuk kerokan, tidak terlalu berharga apanya, tukang parkir saja menerima uang koin sebagai upah jasa.


 


 


Syerli merasa kesal sekali hari ini, jika bukan karena misi dari ibunya mana mau dia merendahkan diri seperti ini, jauh-jauh dirinya kuliah di luar Negri hanya untuk disandingkan dengan kuaci yang harganya bisa dibeli dengan uang koinan, benar-benar memalukan, untung tampan, jika tidak dia pasti sudah meludah saking kesalnya.


 


 


Gadis itu membuka mulut, belum sempat berucap, pria di hadapannya itu kembali bersuara.


 


 


"Saya dan istri saya ada jadwal Rebahan setelah ini, arah pintu keluar di sebelah sana." Ardi menunjuk ke arah di mana benda persegi yang dapat dibuka dari dalam tapi terkunci dari luar itu dapat ditemukan.


 


 


Dan dengan bodohnya Syerli ikut menoleh. "Ta, tapi kan aku belu–,"


 


 


"Setelah keluar mohon ditutup kembali." Lagi-lagi Ardi memotong ucapan gadis itu hingga wajah cantiknya terlihat jengkel. Dia beranjak berdiri.


 


 


"Aku permisi," ucapnya kemudian melangkah pergi.


 


 


Tidak begitu lama, sang istri yang kembali dari dapur dengan semangkuk sup di tangannya membuat pria itu menoleh.


 


 


"Mana orang gila yang tadi?" Karin bertanya dengan kesal.


 


 


"Orang gila yang tadi?" Dengan geli suaminya itu mengulang pertanyaan sang istri sembari menahan tawa, "sudah pulang," imbuhnya.


 


 


Tidak berkata apa-apa Karin kembali berbalik ke dapur, dan Ardi mengejarnya.


 


 


"Eh, kenapa di buang," seru Ardi saat istrinya itu akan meletakkan mangkuk berisi sup ke dalam tempat cuci piring, pria itu mengambilnya dan meletakan di atas meja dapur.


 


 


Karin masih merasa jengkel saat melontarkan pandangan pada pria di hadapannya, "Kenapa nggak boleh dibuang, kamu kan lebih suka makan nasi goreng masakan Syerli. Makan aja sana," ucapnya, kemudian menghadap keran dan menyalakannya, perempuan itu mulai mencuci piring dengan sedikit  kesal.


 


 


Ardi tertawa pelan, Tatapannya teduh mengarah pada sang istri yang sedikit memonyongkan bibirnya. "Dicemburuin sama istri rasanya kaya gini ya," godanya.


 


 


Karin melirik tidak suka, kemudian mematikan keran di hadapannya. "Siapa yang cemburu," sangkal perempuan itu, masih mencuci piring dengan tangan yang penuh busa.


 

__ADS_1


 


"Apa susahnya sih bilang iya?" Tanya Ardi, dan tidak mendapatkan tanggapan dari sang istri.


 


 


Pria itu meraih kedua tangan Karin yang penuh busa, menyalakan keran untuk membasuhnya. "Orang ketiga itu pasti ada, tergantung diri kita mau ngasih jalan atau nggak," ucapnya sembari menggenggam kedua tangan sang istri dengan lembut. "Kesetiaan itu datang dari diri sendiri," imbuhnya lagi.


 


 


Karin tertegun, mengedipkan kelopak matanya dengan perlahan, dia seolah tersadar, untuk apa dirinya kesal. Perempuan itu menatap tangan di genggaman sang suami. Kemudian mendongakkan kepala menatap wajah tampan pria di hadapannya." Bang?"


 


 


"Hn?"


 


 


"Aku cemburu."


 


 


Ardi tertawa pelan, dia senang mendapat pengakuan dari sang istri.


 


 


"Malah ketawa." Karin jadi kesal sendiri dan gelak pria di hadapannya malah semakin menjadi. "Kok Syerli bisa pulang?" Tanyanya.


 


 


"Aku bilang masih ada jadwal Rebahan pagi ini, makanya dia pulang." Ardi menjawab dengan senyum penuh arti.


 


 


Dan Karin malah mengerutkan dahi. Belum sempat menanggapi, pria itu sudah mengangkat tubuhnya dan  mendudukkan di atas meja makan, kemudian mengunci dengan kedua lengan." Jatoh ini akunya, Bang." Dengan kuat, Karin mengeratkan pegangan pada kaus yang dikenakan sang suami.


 


 


Bukannya diturunkan suaminya itu malah melancarkan serangan pada wajah dan lehernya. Karin yang meronta kewalahan tidak sengaja menyenggol keranjang sendok di tengah meja hingga jatuh berantakan. "Abaaang," dia jadi tertawa.


 


 


Ardi memundurkan kepala, memberi jarak antar bibirnya untuk mengambil napas banyak-banyak, kening keduanya saling menempel. "Laper, abang, candu baru nggak bikin kenyang."


 


 


 


 


***iklan***


 


 


Author: monmaap lahir batin ini telat banget updatenya, pala akoh masih kleyengan maap-maap nih typo bertebaran. 🤧


 


 


Netizen:kenapa harus ada orang ketiga sih thor, kesel gue bacanya. 😑


 


 


Author: ya biar jiwa julid Bang Ar keluar aja, gaenak gak ada yg dijudesin 😂


 


 


Netizen: bodo amat thor itu ngapa kaga dilanjutin si nanggung banget elah 😒


 


 


Author: bentar-bentar mau mungutin sendok dulu gaenak ambak-ambakan 😂


 


 


Netizen: tar gue buang tu sendok 😑


 


 


Author: jangan. Entar abang makan sop ayam pake apaan, masa diuyup 😌


 


 


Netizen: bodo amat. 😒


 


 


Author: serah lu nyang penting poinnya ditambahin jan lupa. Hari senin udah bisa masuk grup chat ya. Buruan gabung biar Bang Ar nangkring di banner. 🤗


 


 


Netizen: candu baru tapi. 🙄


 


 


Author:😑😑😑 lu kapan kena corona kira-kira.


 


 


Netizen: amit-amit 🤧


 


 


Yg komen kependekan tolong dikondisikan, dan yang bilang lebih panjang iklannya entar gue sleding bibirnya 😑, isi cerita ini 1800 kata ya Jubaedaah, dan iklannya 120 kata doang lebih dikit, yakalo gak suka ya gausah dibaca, gitu aja repot lu Rope'ah. Mendingan lu komen Next aja ketauan biar daku syemangat. 😌


 


 


Buat kalian yang gak punya pilihan dirumah aja, jan lupa pake masker ya, karena sakit corona lebih berbahaya daripada sakit karenanya. Semoga kalian sehat selalu 😘


Salam haha hihi.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2