NOISY GIRL

NOISY GIRL
DUNIA AGUNG 1


__ADS_3

Selepas kepergian Ipang, Agung merogoh ponselnya di saku celana yang terus bergetar. Ada pesan wa dari Alya, berhubung pemuda itu masih sibuk, dia memutuskan untuk sejenak mengabaikannya, dan menaruh benda itu di atas meja.


 


 


Namun ponselnya itu terus bergetar, Agung tau kekasihnya itu tidak sabaran, namun bukannya marah dia malah tertawa, mengambil benda persegi itu dari atas meja kemudian membukanya.


 


 


Sayangku Alya.


 


 


Membaca nama kontak itu, Agung tidak bisa untuk tidak tersenyum, dia ingat gadis itu sendiri yang menyimpan nomor kontaknya.


 


 


Sayangku Alya: Sayang.


 


 


Sayangku Alya: Lagi apa?


 


 


Sayangku Alya: Sibuk ya?


 


 


Sayangku Alya: Bales dong.


 


 


Agung kembali tersenyum, kemudian mengetikan balasan, belum sempat terkirim pesan yang kembali masuk dari gadis itu membuatnya menggelengkan kepala.


 


 


Sayangku Alya: Kayaknya whatsuup harus bikin fitur pelampung deh, biar chat aku di hape kamu nggak tenggelam sama pesan yang lain.


 


 


Agung memutuskan untuk menelepon gadis itu, "Apa sayang," ucapnya setelah mendapatkan sambungan.


 


 


"Kangen."


 


 


Agung tertawa pelan. "Yaudah aku kesitu kalo boleh."


 


 


"Eh, beneran?"


 


 


Meski gadis di seberang sana tidak pernah tau saat dia mengangguk, Agung tetap melakukannya. "Mau nitip apa?"


 


 


"Kangen roti bakar kejunya."


 


 


Agung berdecak, "jadinya kamu tuh kangen aku apa kangen sama roti bakar keju?" Tanyanya pura-pura tersinggung. Tangan pemuda itu tampak sibuk melepaskan ikatan apron di belakang tubuhnya.


 


 


"Kangen kamu juga," balas gadis di seberang sana dengan nada manja, dan hal itu membuat Agung tertawa.


 


 


"Yaudah Otw," ucap Agung setelah menyangkutkan apron di tempatnya.


 


 


Di seberang telepon sana Alya tampak tertawa, "beneran Otw ya, jangan kaya Ipang bilang Otw tapi masih tiduran."


 

__ADS_1


 


"Mana ada aku tiduran." Di sama-samakan dengan sepupu gadis itu, Agung berlagak tidak terima. Pemuda itu melangkah keluar dari tempat biasa ia mengerjakan tugasnya, kemudian mengangkat sebelah tangan pada Ardi dan Edo yang tampak seru mengobrol duduk di sofa.


 


 


"Mau kemana?" Tanya Edo.


 


 


Agung yang sudah mengakhiri sambungan telepon dari kekasihnya kemudian menjawab. "Sebentar aja kok," ucapnya.


 


 


Edo mengangkat bahu, padahal dia bertanya mau ke mana, bukan lama atau tidak, dan jawaban sahabatnya itu tentu tidak berarti apa-apa. "Terserah lah," acuhnya.


 


 


Agung tersenyum geli, dia memang selalu menghindari seruan cie-cie dari teman-temannya saat dirinya kedapatan akan mengunjungi kediaman seorang wanita, terlebih itu adalah pacarnya. Pemuda itu tidak terlalu suka mengumbar kemesraan, juga memamerkan kedekatan-kedekatannya dengan siapapun.


 


 


Pria itu berpamitan pada salah satu karyawannya, menyuruh anak itu untuk mengurus pekerjaan sementara, tidak lupa juga menyuruh  untuk membuat roti bakar pesanan Alya untuk dia bawa.


 


 


***


 


 


Agung menghentikan kendaraannya di depan gerbang tinggi kediaman keluarga Alya, dan pak satpam di sana dengan sigap membukakakannya.


 


 


"Den Agung, lama nggak kesini," sapa Pak satpam.


 


 


Agung tersenyum, memberikan satu kotak yang ia bawa untuk pria berseragam itu hingga mendapat ucapan terimakasih. "Di rumah ada siapa aja, Pak?" Tanyanya.


 


 


 


 


Agung mengangguk, pemuda itu memang sudah banyak mendengar tentang kakak laki-laki kekasihnya yang kuliah di luar Negri. Meskipun seingatnya mereka belum pernah bertemu, entah kenapa rasanya dia terlalu segan pada sosok kakak dari pacarnya itu.


 


 


Setelah menekan bel pintu satu kali, Agung memilih untuk menunggu alih-alih menekannya lagi, dan suara pintu terbuka membuat dia yang berdiri memunggunginya kemudian berbalik. "Alya nya ada?" Tanyanya pada asisten rumah tangga yang membukakan pintu. Belum sempat wanita paruh baya itu menjawab, Alya yang sudah tau kekasihnya itu akan datang setengah berlari menghampiri mereka.


 


 


"Bi, tolong bikinin minum buat Kak Agung ya," ucap Alya, menepuk pundak asisten sang ibu dan mendapat anggukkan dari wanita itu.


 


 


"Siapa Lia?" Belum sempat mengajak kekasihnya itu masuk, sebuah pertanyaan kembali membuat Alya menoleh.


 


 


"Malam, Tante." Agung mendekat, kemudian mencium punggung tangan wanita paruh baya yang adalah ibu dari kekasihnya.


 


 


Wanita itu tersenyum, "masuk Nak Agung, kebetulan kita lagi nonton tv di ruang tengah," tawarnya ramah, orang tua Alya memang sempat tidak menerima dirinya dulu, namun seiring berjalannya waktu,  kesungguhan Agung dalam menjalankan usaha, membuat keduanya luluh juga.


 


 


Agung mengangguk, "makasih, Tante. Saya di sini aja, nggak lama kok," ucapnya sopan.


 


 


Wanita itu tersenyum, "Yaudah, jangan lupa bikinin minum," ucapnya pada sang putri yang tampak senyum-senyum sendiri, dan saat gadis itu mengangguk, dia berpamitan dan melangkah pergi dengan menenteng sekotak makanan yang pemuda itu berikan.


 


 


"Kak Agung kebiasaan, kalo ke sini pasti bawa banyak makanan." Alya berucap sembari melangkah ke arah sofa ruang tamu, menarik pemuda itu untuk ikut masuk dengannya.


 

__ADS_1


 


Agung meletakan kotak terakhir yang ia bawa jatah kekasihnya ke atas meja, kemudian duduk di sofa panjang bersebelahan dengan gdis itu, "kan di sini orangnya banyak," ucapnya.


 


 


Alya tersenyum, menyilangkan kakinya kemudian menopang dagu, tatapannya lekat pada pemuda itu.


 


 


Dipandangi sedemikian rupa, Agung tentu menjadi risi, dia jadi ikut tersenyum, "Kenapa si? Ngeri banget senyum-senyum sendiri," tegurnya.


 


 


"Seneng banget Liaa, Kak Agung mau main ke sini lagi," ucapnya, mengalihkan perhatian pada asisten rumah tangga yang membawakan mereka minuman, dia pun berterimakasih.


 


 


"Ya abis gimana, kamunya udah jarang ke cafe," ucap Agung.


 


 


Alya mengangkat kepala, senyumnya semakin lebar, "Kak Agung kangen ya sama Lia?" Godanya.


 


 


Tanpa diduga Agung langsung mengangguk, "Kangen banget," ucapnya jujur.


 


 


Alya sedikit terhenyak, pasalnya pemuda di sebelahnya itu jarang sekali mengungkapkan isi hatinya, dan entah kenapa kali ini kekasihnya itu mulai berani membuatnya jadi tersipu. "Aku juga kangen sama Kak Agung," balasnya.


 


 


"Kenapa sejak mengundurkan diri dari perusahaan Ardi, sekarang kamu jarang ke Cafe?"


 


 


Mendengar pertanyaan itu Alya menghela napas, kemudian menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Papa aku nyuruh belajar mengelola perusahaannya, Kak. Aku pusing akhir-akhir ini, capek juga."


 


 


Agung mengangguk, mengusap dagunya sekilas, "bukannya kakak kamu udah pulang?" Tanyanya.


 


 


Masih bersandar di sofa, Alya menolehkan kepala. "Justru itu, aku disuruh nemenin Kak Aldo di kantor papa," ucapnya, kemudian merapatkan bibir saat ia ingin mengatakan satu hal lagi.


 


 


Pemuda di hadapannya itu tampak menunggu, "terus?" Desaknya.


 


 


"Teruss, Kak Aldo juga nggak ngizinin aku keluar malem," jawab gadis itu hati-hati, namun bukannya kecewa, kekasihnya  itu malah tersenyum.


 


 


"Bukannya dari awal kamu emang nggak boleh pulang terlalu malem?"


 


 


"Ya iya sih, tapi kan dulu aku kerja di tempat Pak Ardi. Bisa pake alesan lembur buat kabur, sekarang kerja di perusahaan papa alasan aku apa?"


 


 


Agung jadi tertawa, menyentuh puncak kepal Alya dan mengacaknya dengan gemas, "jadi selama ini kamu boong? Nggak boleh gitu dong," ucapnya.


 


 


Alya memberenggut, "abisnya kesel, aku dilarang-larang terus kaya anak sekolah dasar."


 


 


Agung menautkan kedua tangannya di atas lutut, masih menatap gadis di sebelahnya dengan lembut, "mereka sayang sama kamu," ucapnya.


 


 


Belum sempat gadis itu menanggapi, suara langkah seseorang yang kemudian berhenti di belakang mereka membuat keduanya menoleh.

__ADS_1


***iklan**


Kisah Agung ini aku bagi jadi dua semoga munculnya barengan. Tapi sebelum baca kelanjutannya jangan lupa like dan komen next ya 😂


__ADS_2