
Ardi panik? Tentu. Pria itu menghubungi siapa saja, mengerahkan siapapun untuk mencari seorang Nino Nakula.
Rekaman cctv di tempat kejadian tidak menangkap sosok sang penculik, juga plat mobil yang ia tumpangi. Ardi Marah, marah pada dirinya sendiri yang terlalu lengah.
"Di mana Nino?" Todong Ardi pada Dominic, pria pertama yang dia curigai.
Domi mengerutkan dahi, berdiri dari kursinya dan menghampiri pria yang beberapa saat lalu ia temui, dan sekarang kembali mencarinya lagi. "Nino siapa?" Tanyanya dengan raut wajah yang entah bingung atau memang sengaja dibuat sepolos mungkin agar tindakannya tidak diketahui.
Karin yang menyusul suaminya itu menarik lengan Ardi hingga pria itu menoleh, "nanyanya baik-baik dong, Bang," ucapnya yang tidak mendapat tanggapan dari suaminya.
Domi yang terlihat bingung kembali bertanya. "Ada apa? Karina?"
Ardi melengos, merasa tidak senang mendengar panggilan pria di hadapannya itu terhadap sang istri.
Karin menjelaskan bahwa Nino, keponakannya yang tadi datang bersama sang suami kemungkinan diculik, dari caranya yang memaksa anak itu masuk ke dalam mobil hitam, jelas itu adalah tindakan kejahatan.
"Sungguh. Aku tidak tau, sejak tadi aku di sini." Domi memberi alasan, dari raut wajahnya yang terlihat sungguh-sungguh, siapapun pasti akan percaya. Dan Ardi memilih untuk diam saja.
"Mau kubantu carikan? Aku punya banyak kenalan." Kembali Domi memberikan penawaran.
Ardi menggeleng, "tidak, terimakasih," ucapnya, kemudian melangkah pergi.
****
Jino mengeratkan genggamannya pada pegangan mobil saat sang papi menyetir dengan kesetanan. Anak itu merasa berada dalam kendaraan yang tengah mengikuti aksi balapan liar, begitu brutal dan tanpa peraturan.
Di usianya yang bahkan belum mencapai kepala satu, baru kali ini dia merasa sayang pada nyawanya sendiri, sang papi seperti tengah uji nyali, bahkan maminya yang biasa selalu rewel saat kendaraan yang ia tumpangi terlalu kencang membelah jalan raya, saat ini tampak berbeda, wanita itu terus merapalkan doa untuk saudara kembarnya. Mereka tidak tau, sesungguhnya dirinya adalah orang yang paling terancam keselamatannya.
Jino kembali mengeratkan pegangannya, kali ini bahkan dengan kedua tangan, saat sang papi membelokkan kendaraannya memasuki rumah yang pagarnya sudah terbuka. Dengan tergesa pria itu juga sang mami langsung meloncat keluar mobil dan meninggalkannya.
Meskipun pusing di kepala masih terasa berputar-putar, Jino dapat bernapas lega, baru kali ini dia merasa amat berterimakasih pada sang Pencipta, dan perlahan bocah itu turun dari mobil dengan sempoyongan.
"Den Jino tidak apa-apa?" Tanya Satpam yang menghampiri anak itu. Dari wajah sang anak majikan yang terlihat begitu pucat, pria paruh baya itu tampak khawatir.
Belum sempat Jino menjawab, dia menutup mulutnya dengan telapak tangan, tiba-tiba dirinya merasa mual, dan kemudian memuntahkan isi perutnya.
"Den Jino tidak apa-apa?" Pak satpam kembali mengulang pertanyaannya.
Jino menggelengkan kepala. "Aku nggak apa-apa," jawabnya berusaha baik-baik saja.
***
Ardi tengah mengobrol dengan seseorang lewat sambungan telepon genggam, saat kemudian pria yang tiba-tiba menarik kerah bajunya menumpahkan sebuah omelan.
"Di mana anakku." Justin yang terlihat amat marah menyongsong adiknya yang langsung dilerai oleh sang ibu.
Ardi mengangkat kedua tangannya, setelah beberapa jam lalu mendapat omelan lewat telepon kali ini pria itu hanya bisa memejamkan mata saat sang abang menyemburkan amarahnya langsung di depan muka. "Maaf, Bang," sesalnya.
"Sudah!" Marlina menarik lengan Justin, membuat pria itu mundur satu langkah. Anaknya yang satu itu biasanya bisa mengendalikan amarah, "ini musibah. Lebih baik kita cari cara bagaimana agar cucu ibu bisa ditemukan."
Justin menghela napas, memijat keningnya dengan tangan kanan, kepalanya terasa pusing, pria itu mengambil ponsel dari saku celana dan menghubungi seseorang. "Mencari satu anak kecil saja kau tidak becus!" Bentaknya.
Nena masih menangis, di sebelah wanita itu Karin merangkul sang kakak dengan sama kalutnya. "Nino, Rin," ucapnya sedikit bergetar. Wanita itu tentu sangat takut, putranya diculik, bagaimana jika anak itu dijual atau diambil organ tubuhnya, membayangkan saja dia tidak pernah merasa sanggup.
Jino duduk di samping sang mami, dan langsung mendapat pelukan dari wanita itu. "Abang kamu—," ucapnya terputus, kemudian kembali menangis.
"Bang Nino pasti baik-baik aja, Mi." Jino mencoba menghibur. Anak itu menunjukkan jam tangan canggihnya yang bisa menghubungi seseorang. Namun sayangnya sang abang sedang di luar jangkauan. "Kita tunggu Bang Nino telepon balik," ucapnya.
***
Di tempat berbeda, Jino yang duduk di kursi dengan tangan terikat ke belakang tampak bosan melihat pria bertopeng di hadapannya itu mondar-mandir dan kebingungan.
__ADS_1
"Mau Om apa sih?" Tanya Nino berani, bagi anak seumuran dirinya diculik tentu adalah momok yang menakutkan, tapi ternyata tidak untuk seorang Nino Nakula. Anak itu malah lebih merisaukan perutnya yang masih lapar, dalam benaknya bayangan makanan yang masih banyak tersisa di piring tampak berputar-putar di kepala. "Om ganggu aku makan deh," ucapnya dengan kesal.
Pria yang kemudian memilih duduk di kursi berhadapan dengan anak itu kemudian mengerutkan dahi. Bocah macam apa yang sekarang ini tengah menjadi korban penculikan dirinya, kenapa anak itu terlihat biasa saja.
"Eh, anak kecil, kamu lagi diculik loh. Nggak merasa takut? Orang tuamu jauh dari sini," ucap si penculik yang belum membuka identitasnya.
Nino memutar bola matanya malas, "kayaknya Om deh yang takut sama aku," ucapnya acuh.
Merasa diremehkan, pria di hadapannya itu tampak terhenyak, "sembarangan, hn." Pria itu tertawa berdecih. "Siapa yang takut sama kamu? Anak kecil."
Nino menghela napas, "kalo nggak takut kenapa aku diiket, aku cuma anak kecil loh, Om."
Pria yang masih mempertahankan topeng yang menutupi sebagian wajahnya itu tampak berpikir, "aku ikat kamu bukan karena takut sama kamu, tapi takut kamu kabur."
Nino tertawa. Dan hal itu membuat pria di hadapannya jadi mengerutkan dahi. Apa yng lucu? Begitu pikirnya.
"Denger ya, Om. Kalo om jadi aku, jauh dari orang tua begini terus mau lari ke mana?" Nino coba mengelabuhi, jam tangan canggih yang melingkar di pergelangannya terus saja bergetar. Pasti orang rumahnya tengah mengkhawatirkan dirinya, anak itu jadi ingat pada sang mami.
"Bener juga sih, nggak diikatpun kamu nggak bakalan menang lawan aku." pria di hadapannya itu berucap sembari melepaskan ikatan pada tangan anak kecil di hadapannya itu.
Dan yang seorang Nino semogakan, sang penculik ini tidak sadar bahwa jam tangan canggihnya bisa berfungsi layaknya telepon genggam. "Nah, gitu dong, Om." Nino mengusap tangannya yang terasa kebas.
"Ingat, jangan pernah kabur, karena semakin jauh kamu berlari, hanya akan semakin membuat dirimu tersesat."
"Gimana mau lari, kaki aku aja diiket." Nino kembali berucap, dan terkejut saat pria di hadapannya itu langsung membuka ikatan di kakinya. Setelah itu mereka duduk berhadapan.
"Aku tidak bermaksud menyakiti kamu," ucap pria itu sembari membuka topeng di wajahnya, dan Nino tidak mengenalinya. "Hanya ingin sedikit memberi peringatan sama ayah kamu aja."
"Om siapa? Ada urusan apa sama papi aku."
"Tidak penting aku siapa," ucapnya sembari memasang topeng di wajahnya lagi, dan Nino jadi tertawa, "Kenapa?" Tanya pria itu lagi.
"Om ngapain topengnya dipasang lagi, kan aku udah liat." Nino melipat tangannya di depan dada, setelah menyalakan GPS di jam tangan canggihnya, dia hanya perlu mengulur waktu hingga sang papi benar-benar datang.
Pria di hadapannya itu terlihat menyesal, kenapa dia menampakkan wajahnya, jika nanti dirinya kembali ke kantor dia pasti akan dikenali. "Kita nggak akan ketemu lagi," ucapnya, yang memang berniat akan mengundurkan diri.
"Kalo Om nggak ketemu sama papi aku, mungkin kita bakal jumpa lagi, kemungkinan masih hidupnya cukup besar soalnya."
Pria di hadpannya itu sedikit terhenyak, namun kemudian tertawa sumbang, maksudnya apa, jika aku bertemu dengan papinya maka aku akan mati, begitu?
"Aku akan mengundurkan diri, sebelum Pak Ardian tau bahwa aku yang menculikmu."
Nino kembali tertawa, ternyata selain ceroboh, pria di hadapannya ini juga bodoh.
Entah sejak kapan tawa bocah di hadapannya menjadi sesuatu yang mengancam bagi si pria bertopeng, dia merasa di balik tawa anak itu mengandung banyak arti yang berbahaya. Dan sialnya dia tidak bisa menduga.
"Om Karyawan baru ya?" Tanya Nino.
Pria itu menoleh, "iya, kenapa kamu tertawa?" Tanyanya.
Nino menghela napas, "Om Ardi itu bukan papi aku," ralatnya.
"Jadi?" Tanya pria di hadapannya itu dengan mendadak tercekat. Kalimatnya kembali tertahan di tenggorokan.
"Jadi Om itu salah orang, Om Ardi belum punya anak, bahkan mereka baru menikah."
Pria itu berdiri, dia memang baru beberapa hari bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh bosnya yang arogan, dan untuk pertama kali juga dia mendapat makian yang membuat hatinya menjadi panas, dan menculik anaknya untuk efek kejut sementara nyatanya malah dirinya yang sport jantung. "Jadi kamu anak siapa?" Tanyanya.
__ADS_1
"Papi Justin."
Matilah, dia banyak mendengar nama pria itu yang katanya lebih kejam dari bosnya yang sekarang. "Aku akan menghubungi keluargamu, tunggu saja di sini mereka pasti jemput kamu."
"Nggak perlu, Om. Papi aku bentar lagi pasti datang."
Belum sempat pria itu menanggapi, suara deru mobil yang terdengar berramai-ramai mendekati gedung kosong yang kini mereka tempati, dan hal itu membuatnya sedikit terlonjak. "Kamu?"
"MENYERAHLAH, ANDA KAMI KEPUNG!"
Sebuah kalimat yang keluar dari pengeras suara di luar sana semakin membuat pria itu merasa panik, belum pernah dia berada di posisi seperti ini. Dan belum sempat melarikan diri, dobrakan di pintu berhasil membuatnya mundur beberapa langkah.
Laki-laki berpakaian rapi yang terlihat marah dengan cepat menghampiri dirinya, memberikan pukulan bertubi-tubi hingga pria bertopeng itu terkulai lemas di lantai tidak berdaya.
"Papi!"
Justin menghentikan hujaman di wajah pria itu dengan kepalan tangan saat Nino memanggilnya. Dia beranjak berdiri, menendang sekali lagi kemudian menghampiri putra sulungnya untuk memeriksa keadaan anak itu.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" Tanyanya dengan khawatir, berlutut agar sejajar dengan tinggi sang anak yang berdiri di hadapannya.
Nino menggeleng, mengambil tas punggungnya di lantai kemudian memakainya, "untuk menghadapi satu orang bodoh saja papi sampai seheboh ini?" Tanyanya menyindir.
Justin menoleh pada pasukan yang dia bawa, mereka tampak sibuk meringkus satu pria yang sudah tergolek tidak berdaya. "Papi panik, sayang," ucapnya.
"Aku lapar."
Dan kalimat itu membuat Justin sontak tersenyum. Mengacak rambut kepala si sulung yang tidak tampak sedikitpun ketakutan di wajahnya. "Ayo kita pulang. Mami kamu nangis terus," ucapnya sembari mengangkat Nino ke dalam gendongannya.
Ardi baru keluar dari mobil. Dan Saat mendapati keponakannya sudah berada dalam gendongan sang abang tanpa luka, dia benar-benar merasa lega.
Dia mendekati kerumunan, ikut melihat pria yang terduga pelaku penculikan.
"Kamu kenal?" Tanya Justin.
Ardi mengangguk, "salah satu karyawan aku, yang beberapa hari lalu ada masalah, namanya Jumadiraja."
"Dia kesel katanya sama, Om. Makanya om, jangan julid." Nino memberi saran.
Ardi berdecak, kemudian mengacak rambut kepala anak dalam gendongan abangnya, "mendingan kamu nggak usah ditemuin aja sekalian," omelnya gemas, dan menghindar saat sang abang melancarkan tendangan. "Masih pedesaan papi kamu, aku terus dimaki-maki dari tadi," Imbuhnya lagi.
Nino tertawa, mengeratkan rangkulan pada papinya, "aku lapar," ucapnya.
***
Author: Part ini agak aneh, ya iya sih aku tuh penulis komedi yang kadang gagal lucu, gak bisa nulis adegan baku hantam aku tuh. 🤧
Netizen: Rip Jumadi thor. Kenapa jadi dia si 😒 nyesel kan kemaren gw ngaku nama bapak gue Jumadi. 😑
Author: akoh juga kesian sama yang kemaren ngaku-ngaku sodaranya Jumadi, ternyata kriminal ya. 😂
Banyak yg komen bagusan cerita awal saat Karin masih abg, ya atuh gimana masa akoh bikin tingkah Karin kaya anak kecil lagi, kan gak pantes 🙄 apa akoh tamatin aja nih ya. Gimana menurut kalian?
__ADS_1