NOISY GIRL

NOISY GIRL
AKHIR BAHAGIA


__ADS_3

Ardi menekan bel rumah mertuanya, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu dan menyuruhnya untuk masuk.


 


 


"Istri saya di mana Bi?" Tanya Ardi pada wanita paruh baya yang dipekerjakan untuk menemani mami mertuanya.


 


 


"Di ruang tv Den," jawab wanita itu kemudian pamit undur diri.


 


 


Ardi melihat Carla tampak memeluk putrinya, "sehat-sehat ya sayang, jaga cucu mami," ujar wanita itu setelah pelukannya terlepas.


 


 


Karin mengangguk, "iya Mi pasti aku jaga dengan baik, makasih mami udah mau ngerti keputusan aku," ucapnya seraya menoleh pada sang suami yang menduduki sofa di sebelahnya.


 


 


Setelah mendapat ciuman di punggung tangannya Carla tersenyum, "Mau minum Ar?" tawarnya pada sang menantu.


 


 


"Nggak usah Mi," balas pria itu.


 


 


"Yaudah kalo gitu kalian pulang gih, udah malem, soal Oma Rosita nggak usah dipikirin lagi, dia sama anak-anaknya udah dikasih bagian terus pulang lagi ke kotanya," tutur Carla menceritakan perihal perebutan harta yang sudah menemukan pangkal ujungnya, mereka pun tampaknya sudah berdamai. "Mas Hendrik seneng banget denger kamu hamil, katanya harus laki-laki, ah padahal mami maunya perempuan loh."


 


 


Karin dan juga Ardi tampak tertawa kecil, "apa aja deh Mi. Yang penting sehat," ujar Ardi, yang kemudian mendapat anggukan dari sang istri.


 


 


"Mau cowok atau pun cewek mereka tetep anak kita, nggak bakalan kita beda bedain Mi." Karin mengutarakan keinginannya.


 


 


"Harusnya emang gitu, kalian nggak usah ikut-ikutan Mas Hendrik ya, kasian nanti anaknya." Carla menasihati, dan dering ponselnya yang terletak di atas sofa membuat wanita itu menoleh, kemudian menerima panggilan. "Kalian kalo mau pulang, pulang aja ya, mami terima telepon dulu, penting," ucapnya, kemudian beranjak berdiri dan mencium kening Karin, setelahnya diapun beranjak pergi dari ruangan itu.


 


 


Karin menoleh pada Ardi yang juga menatapnya, "pulang?" tanya perempuan itu.


 


 


Setelah mengangguk Ardi beranjak berdiri dan mengulurkan tangan, pria itu mengusap perut sang istri sekilas saat Karin ikut berdiri, "Ayo kita pulang sayang," ujarnya pada sang anak yang masih berada dalam kandungan.


 


 


"Ayo Papi." Karin yang menjawab dengan suara dikecilkan, membuat keduanya jadi tertawa.


 


 


"Kamu mau minta apa?" tanya Ardi saat keduanya mulai melangkah ke arah pintu untuk keluar.


 


 


Karin menggeleng, "Nggak mau apa-apa," jawabnya.


 


 


"Jangan kaya Mbak Nena deh, ditanya mau apa jawabnya nggak mau tapi pas sampe rumah langsung minta sesuatu." Ardi jadi ingat cerita sang abang saat menghadapi istrinya itu tengah mengidam.


 


 


Karin tertawa, dia juga tau cerita itu. "Yaudah kalo gitu aku mau minta sesuatu," ujarnya.


 


 


Ardi menghentikan langkah, "apa?" tanyanya begitu antusias, bagi pria itu menuruti seorang istri yang mengidam adalah momen yang paling dia tunggu.


 


 


"Minta gendong aja," jawab Karin.


 


 


"Astaga, kenapa bukan makanan," tawarnya.


 


 


"Yaudah kalo nggak mau, ini udah malem loh Bang, kalo aku pengen makan rujak emangnya kamu mau cari?"


 


 


"Ya enggak rujak juga." Ardi mencubit hidung sang istri dengan gemas, kemudian sedikit berjongkok di hadapan perempuan itu, "Ayo naik, aku gendong sampe ke mobil," ujarnya menyanggupi.


 


 


"Beneran kuat?" Meski tidak terlalu yakin Karin naik juga ke punggung suaminya.


 


 


"Ya ampun berat banget kamu, Dek," keluh Ardi, berpura-pura melangkah dengan tertatih.


 


 

__ADS_1


Karin tertawa, "perut aku belum gede loh, Bang, masa gini aja nggak kuat," ledeknya.


 


 


Ardi terus melangkah dengan hati-hati menuju mobil, "kapan terahir kali aku gendong kamu, Dek?" tanya pria itu.


 


 


Sejenak Karin berpikir, "kayaknya pas aku Sma deh, pas jatoh itu," ujarnya dengan menerawang, "Nggak kerasa waktu berjalan begitu cepat ya, Bang, baru kemaren rasanya aku ditinggal kamu ke luar Negri."


 


 


"Sekarang udah jadi suami-istri," sambung Ardi yang membuat perempuan dalam gendongannya itu tertawa. Pria itu menurunkan sang istri tepat di depan pintu mobil kemudian membukakan benda itu. "Silahkan," ucapnya seraya menggerakkan tangan ala ajudan kerajaan.


 


 


Karin tertawa lagi, sejak tau dia hamil, suaminya ini gencar sekali memanjakan dirinya. "Buat dateng ke pernikahan Ipang Lisa mau pake baju apa?" Karin bertanya saat kendaraan yang mereka tumpangi melesat ke jalan raya, meninggalkan kediaman sang mami.


 


 


"Terserah kamu," balas Ardi.


 


 


Karin berdecak, "kebiasaan apa-apa terserah aku, tapi giliran aku yang pilih pasti kamu protes deh.


 


 


"Buat sekarang ini nggak bakalan protes, aku nurut aja sama kamu." Ardi mengusap rambut kepala sang istri setelah menghentikan laju kendaraannya saat lampu berubah merah, pria itu memberikan tatapan teduh, dari senyumnya yang tidak pernah menghilang terlihat sekali bahwa dirinya amat senang.


 


 


***


 


 


Setelah beberapa minggu yang lalu Adelina menghadiri pesta pernikahan sahabat kakaknya yaitu Ipang dan Lisa, kali ini gadis itu berada di gedung yang sama untuk menghadiri acara pernikahan kakaknya sendiri.


 


 


Agung dan Alya terlihat begitu bahagia duduk bersanding di kursi pelaminan, mereka selalu memamerkan senyum saat beberapa kamera mengarahkan fokus pada keduanya. Dan melihat itu Adelina ikut tersenyum.


 


 


"Teteh ternyata di sini dicariin tau." Anggi yang entah datang dari arah mana tiba-tiba berucap dan membuat Adelina sedikit terlonjak.


 


 


"Ngagetin aja kamu," balas Adelina.


 


 


 


 


"Dih ngarang, siapa yang menghindar," sangkal Adelina, dia memang sedikit menghindari pertemuan dengan Aldo, untuk itu dirinya mencari tempat yang agak jauh dari keramaian, dan Anggi justru malah menemukannya.


 


 


"Bentar lagi Teh Lia mau lempar bunga, ayo teteh ikutan, siapa tau nyusul abis ini nikah." Anggi sedikit menarik lengan kakak perempuannya itu agar mau mengikuti langkahnya menuju ke depan pelaminan, di sana, para gadis berkumpul menunggu sang mempelai wanita melemparkan buket bunga di tangannya.


 


 


Adelina yang protes kemudian sedikit meronta," ngapain si ah, teteh nggak mau Nggi," ujarnya.


 


 


"Udah teteh pokoknya harus ikut." Dengan kekeh Anggi terus menarik kakaknya menuju ke depan.


 


 


Adelina menangkap senyum di bibir Agung juga perempuan yang kini resmi menjadi kakak iparnya, gadis itu membalas senyuman dengan sedikit canggung, kemudian menoleh pada Anggi yang ikut antusias menunggu lemparan bunga. "Kamu ngapain ikutan di sini," ucapnya dengan menyenggol lengan adik perempuannya itu.


 


 


"Mau ikut nangkep buket bunga lah, Teh, masa antri sembako," balas Anggi.


 


 


"Dih anak kecil nggak usah ikut-ikutan, ntar kalo kamu yang dapet gimana, mau nikah sama siapa kamu?"


 


 


"Dapet bunga kan belum tentu cepet nikah, tapi nanti kalo aku yang dapet bunganya buat teteh biar cepet nikah." Anggi yang tertawa kemudian mendapat cubitan dari kakak perempuannya.


 


 


"Sembarangan, aku nikah sama siapa," balas Adelina dengan sedikit ketus, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, banyak tamu undangan saling berdesakan , tapi tidak ada Aldo di antara mereka, dan kenapa dia malah mencari sosok pria itu, bukankah dirinya tengah menghindar. Pikirnya.


 


 


Anggi menyenggol lengan kakak perempuannya yang tampak melamun, "jangan bengong Teh, bentar lagi bunganya di lempar ayo tangkep," ucapnya memberi tau.


 


 


Adelina menolehkan pandangannya ke arah pelaminan, di sana Alya dan kakaknya tampak memunggungi mereka semua.


 


 


"Siap? tangkap ya!" Seru Alya yang membuat suasana semakin ramai.

__ADS_1


 


 


Adelina sedikit terdorong saat disekitarnya  para gadis yang ingin menangkap bunga tampak berdesakan, dia sudah menebak pasti tidak akan mampu menangkap benda itu, namun entah kenapa lama sekali bunganya itu dilempar, dan gadis itu sedikit terkejut saat kedua mempelai membalikkan tubuhnya kemudian turun dari panggung pelaminan.


 


 


Lebih terkejut lagi saat mereka berdua menghampirinya, dan Alya mengangsurkan buket bunga pada dirinya, "eh? Kok?" Adelina sedikit kebingungan.


 


 


Agung mendekat, menyentuh pundak sang adik dan sedikit memutarnya untuk berbalik, di sana Aldo tengah berdiri dengan memegang kotak cincin berbentuk love yang terbuka, pria itu tersenyum.


 


 


Adelina yang merasa terkejut sedikit memundurkan tubuhnya, menutup mulutnya dengan telapak tangan tidak percaya, namun tanpa dipungkiri gadis itu benar-benar amat bahagia.


 


 


Suasana semakin riuh saat Aldo sedikit berlutut di hadapannya, Adelina semakin tidak menyangka saat pria itu mengutarakan ajakan menikah yang membuat surakan dari penonton di sana semakin meriah.


 


 


Sementara Aldo menunggu jawaban, Adelina malah menoleh pada Agung meminta persetujuan, dan saat kakaknya itu mengangguk, suasana berubah penuh keharusan.


 


 


"Iya aku mau." Adelina menjawab permintaan Aldo sebagai calon istrinya, dan pria itu beranjak berdiri untuk menyematkan cincin di jari manis gadis itu.


 


 


"Makasih Adel," balas Aldo dengan senyum merekah di bibirnya, keramaian di sekitar mereka seolah menghilang, dan yang ada hanya keduanya yang saling melempar pandang.


 


 


The end


 


 


 


 


Selesai atau tidaknya sebuah cerita. Semua akan berakhir sama, dibaca dan dilupakan. Buat kalian pembaca Noisy girl aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih udah mau mengikuti kisah ini aku sayang kalian.


 


 


Lahiran Karin masuk ke bonus chapter ya, jadi jangan hapus NG dari faforit ok. Aku minta kenang kenangan like sama spam komen yang banyak buat episode terahir ini 😍😍😍


 


 


***iklan***


 


 


Author: Apa kabar kalian para Netizenku, udah deket hari Raya begini toko-toko pakaian pada diserbu buat beli baju lebaran ya, padahal masih psbb, 😅 kalo aku sih nggak ikutan soalnya tiap hari juga pake baju lebaran.


 


 


Netizen: Widih, holang kaya 😆


 


 


Author: Ya abis gimana ya aku kalo pake baju sempitan suka nyesek gabisa napas. 😂


 


 


Netizen: 🙄😑😒 itu kelebaran thor bukan lebaran hari raya ya Sarboah.


 


 


Author: lah beda ya, 😅 bentar lagi idul fitri minta maaf lu sama gue banyak dosa.


 


 


Netizen: Ada juga elu thor yang minta maaf sama gue, lah dosanya banyakan lu 😒


 


 


Author: 😌 berhubung gw lagi seneng ya ngalah aja, buat para pembaca Noisy yang kadang suka bawel nagih nagih update, makasih ya aku semangat karena kalian. Mohon maaf lahir batin ya kalo ada kata kata yang menyinggung baik disengaja atau tidak disengaja.


 


 


Jangan lupa tinggalin vote terahir buat Noisy minggu ini, minggu depan pindah ke lapak bang bule.


 


 


Buat pemberitahuan, Itu Bang Bule yang di OMB ya, tapi emang udah agak mateng dong karena ceritanya beberapa tahun kemudian, wkwkwk.


 


 


Jangan sampe gak klik faforit ya biar kita bisa ketemu lagi di sana. Karena komen next kalian itu penyemangat buat diriku.


 


 


Ditunggu di cerita Gadis 100 juta ya, bantu like komen dan rate bintang 5 teman teman, votenya biar minggu depan aja. Salam haha hihi aku sayang kalian 😘😘😘😘😘


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2