
Abang ingin menjelaskannya padamu Fia. Tapi dengan keadaan mu sekarang ini. Abang nggak ingin membuatmu tertekan dan terguncang. Ini masalah kejiwaan mu dek. Bukan semata hanya karena Abang atau kamu sudah menjadi satu.
"Sebenarnya kenapa kamu ingin sekali hamil. Apa hanya karena istri Dafa hamil?" tanya Bang Sanca.
"Iya.. Fia mau buktikan kalau Fia juga bisa hamil dan.. Fia sangat bahagia dengan pernikahan Fia" ucapnya semakin lirih.
Bang Sanca menarik pinggang Fia dan mendudukkan istrinya di paha kirinya.
"Kenapa pikiran itu terlintas dalam pikiranmu? Hamil itu bukan ajang balap liar. Hamil itu harus bahagia, ikhlas dan siap menjadi orang tua. Bekal untuk anak, tidaklah main-main. Ada bekal pendidikan, agama juga mengajari ilmu sosialnya.. jadi nggak asal. Kalau kamu mau.. Abang bisa saja membuatmu hamil sekarang juga, kamu tutup mata.. Abang yang kerja. Tapi.. kamu belum siap dek"
"Fia sudah paham kok Bang. Seperti yang Abang lakukan kemarin khan?"
"Iya benar, seperti itu awalnya" jawab Bang Sanca sambil mengendalikan perasaan.
"Apa Abang menganggap Fia juga anak-anak?" Fia menatap mata Bang Sanca dengan lekat.
"Kamu sudah dewasa. Hanya saja ada beberapa poin penting yang terlewat dalam hidupmu. Tapi tidak masalah dek. Malah sebagai laki-laki, sebagai seorang suami.. Abang bersyukur akan hal itu" Bang Sanca begitu tulus mengatakannya dari hatinya yang paling dalam.
"Sekarang tidurlah. Abang temani kamu tidur"
"Bang.. Abang nggak mau cium Fia?" tanya Fia.
"Kenapa lagi kamu tanya begitu dek?"
"Biar cepet lah Bang..!!" Jawab Fia tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Bibir Abang sariawan dek" alasan Bang Sanca.
...
Setelah Fia tidur. Bang Sanca keluar kamar. Ia segera mandi dan merokok di belakang rumah. Tidur bersebelahan dengan Fia membuatnya tidak tenang. Sebenarnya sah saja jika dirinya ingin melampiaskan na*sunya. Tapi sekali lagi.. ia ingin segala proses terlewati dengan baik hingga Fia sendiri yang ikhlas melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
"Bang...!!!"
"Astagfirullah..!!! lho dek, kenapa kamu bangun?" Bang Sanca terkejut karena Fia sudah menyusulnya dan duduk di sampingnya.
"Fia takut Bang. Ranjangnya berderit. Di samping bilik seperti ada suara dan asap rokok masuk ke dalam kamar" kata Fia. Bang Sanca menoleh memastikan ucapan istrinya dan benar saja. Fia terlihat sangat takut.
"Ya sudah, ayo Abang temani" Bang Sanca menggandeng tangan Fia. Terasa dingin dan menggigil.
//
Bang Sanca menyelimuti istrinya. Ia belum berani masuk dalam satu selimut dan memilih memakai sarung sebagai penghalau dingin malam ini.
Saat Fia tidur, memang benar ada asap rokok yang masuk di sela bilik kamar mereka.
Tidak biasanya begini. Jangan-jangan ada orang iseng pengen intip istriku?.
__ADS_1
Masih berpikir keras, tangan Fia sudah memeluk dadanya. Kakinya pun menindih senjata laras panjang miliknya.
"Aduuuhh.. celaka..!! Kenapa posisinya waspada begini?" gumam Bang Sanca sambil sedikit menggeser posisi tidur Fia, tapi sialnya.. semakin Bang Sanca menggeser.. kaki Fia semakin bergesekan dengannya.
"Fia.. dek..!! Bangun dulu..!!"
Fia tidak menggubrisnya dan malah semakin memeluk Bang Sanca. Kaki Fia yang tidak bisa diam sudah memberi sensasi yang berbeda. Semakin lama, Bang Sanca semakin lemas dan pasrah. Lama kelamaan ia kelabakan, nafasnya memburu.. jantungnya berpacu cepat. Ia pun Mende*ah pelan.
Bang Sanca melirik dan memperhatikan istri kecilnya sudah benar-benar tidur atau belum. Tangannya mengibas kemiri dan kekanan.
"Amaaan..!!" gumamnya.
Senyumnya mengembang nakal.
"Maaf ya dek.. sedikiiiit saja" Bang Sanca mematikan lampu kamarnya dan hanya menyisakan remang cahaya bulan malam itu.
***
Bang Sanca ngotot mengajari Fia mandi besar padahal Fia tidak sedang selesai haid. Ibu Halimah hanya menggeleng mendengar keributan itu padahal hari masih subuh.
...
Fia hanya duduk saja di dipan panjang sambil membersihkan bahan untuk sambal.
"Kenapa ndhuk? Kalau masih ngantuk tidur lagi saja" kata ibu mertua Fia.
"Nggak Bu. Paha Fia sakit sekali sampai pegal rasanya" kata Fia mengadu pada ibu. Ia bergeser duduk sesekali memercing sakit.
"Memangnya kenapa nak?"
"Fia seperti mimpi di gerayangi sosok yang kekar. De****nnya buat Fia takut. Fia terkunci, nggak bisa nafas bu" bisik Fia pada ibu. Bang Sanca begitu kaget sampai tersedak minumannya sendiri.
Ibu yang mendengar pengaduan menantu polosnya itu seketika melirik Bang Sanca yang wajahnya sudah memerah salah tingkah.
"Oohh.. mungkin sosok kekarnya mau perkenalan. Nggak apa-apa. Dia baik kok" jawab Ibu sambil menatap Bang Sanca dengan gemas.
Fia mengangguk paham.
...
"Bang.. pulang aja yuk.. Fia takut"
"Kata ibu khan nggak apa-apa" jawab Bang Sanca.
"Tapi Bang.. sepertinya Fia tertindih dengan kencang karena...."
"Karena apa?"
__ADS_1
Fia berjinjit membisikan sesuatu di telinga Bang Sanca sampai Fia menangis.
"Uusshh.. ya sudah kita nginap di hotel aja. Jangan nangis dek..!! Makanya kalau mau tidur itu berdoa biar nggak mimpi di ganggu setan" jawab Bang Sanca.
Bang Sanca merasa sedikit menyesal karena semalam dirinya hampir menyerah dan merobohkan tembok pertahanannya. Fia yang merintih kesakitan membuatnya tidak tega dan menyadarkan dari khilafnya. Rasa yang hanya setengah jalan membuatnya migrain hingga pagi. Nyaris saja ia membobol gawang tapi kemudian ia sadar dan mengurungkan niatnya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu seberapa jauh ia melakukannya.
-_-_-_-_-
Setelah sarapan pagi dengan sambal tempe. Ibu mengijinkan putra dan menantunya pergi. Alasannya sungguh konyol tapi semua ini jelas karena ulah putranya itu.
...
Setelah malam tadi, Bang Sanca jadi terus penasaran. Ada getar rasa yang tidak bisa ia jabarkan, yang pasti.. rasa ingin memiliki sekaligus melindungi sang istri semakin terasa.
"Inikah namanya ikatan batin antara suami dan istri? Abang belum benar-benar menyelesaikannya dek. Tapi hadirmu.. sangat berarti di hidup Abang" ucapnya saat Fia tidur di dalam mobil. Bang Sanca sedikit menyingkap kerudung Fia lalu mengintipnya. Terlihat tanda merah yang begitu jelas di bagian dada.
"Apa semalam aku terlalu ganas?"
-_-_-_-_-
"Kenapa makanmu sedikit sekali?" tanya Bang Sanca.
"Bang, apa di sekitar sini aman?" bisik Fia berkedip-kedip polos tanpa dosa.
"Amaan..!! Tenang saja, kamu sama Abang. Kali ini Abang benar-benar jaga. Jangankan setan. Nyamuk aja nggak akan Abang ijinkan mendekat" jawab Bang Sanca meyakinkan.
"Oke Bang.." Fia melanjutkan makannya. Matanya waspada mengintai di sana sini.
Ya Allah Fia.. maafkan Abang ya dek. Karena Abang yang tidak bisa mengendalikan diri kamu terlihat seperti orang bodoh. Abang janji akan membimbingmu dan mengajarimu hal yang patut. Cepat atau lambat semua itu pasti akan terjadi. Entah Abang yang tidak sanggup lagi atau kamu yang meminta hak mu sebagai istri Abang.
"Bang.. Kapan............"
"Jangan tanya kapan hamil lagi" sambar Bang Sanca sudah cemas.
"Iihh Abang. Fia mau tanya, kapan kita ke apotek"
Bang Sanca menggaruk kepalanya karena bingung. Mana ada salep tau obat menghilangkan bekas 'senggolan' nya semalam.
Belum juga sepertiga Abang tanam, reaksimu sudah seperti ini dek. Bagaimana kalau Abang tanam semua. Opo nggak kejet komet girab-girab ra karuan.
"Itu nggak bisa pakai obat. Biar Abang yang obati" jawab Bang Sanca.
"Caranya Bang?
.
.
__ADS_1
.
.